
Di dalam mobil Alisya hanya diam saja tak bersuara sama sekali. Ia memilih memejamkan matanya, Arsen menarik bahu Alisya lalu menyandarkanya ke bahunya.
"Tidurlah, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai rumah" bisik Arsen seraya mengecup pucuk kepala Alisya.
Sedangkan Reva di jok belakang sedang sibuk dengan mainan barunya, ia tak menghiraukan kedua orang tuannya.
Arsen fokus menyetir sambil sesekali mengusap kepala Alisya supaya istrinya terlelap.
Satu jam perjalanan mobil Arsen mulai memasuki pekarangan rumahnya. Reva yang sudah tak sabar langsung saja keluar dari mobil setelah mobil yang di kemudikan Arsen berhenti.
"Hati-hati sayang, nanti kamu jatuh" Arsen memperingati putrinya yang memaksa turun sendiri dari mobil.
"Iya papa" sahut Reva, dengan hati-hati gadis kecil itu keluar dari mobil sambil membawa mainannya.
Arsen mencoba membangunkan istrinya yang masih terlelap.
"Bangun baby, kita sudah sampai" ucap Arsen yang dengan iseng meniup niup mata istrinya supaya bangun.
"Gendong honey, aku malas jalan kaki " gumam Alisya yang masih memejamkan matanya sambil bersandar di bahu Arsen.
"kenapa istriku ini manja sekali hmm" sahut Arsen seraya mengecupi bibir merah istrinya. Alisya pun mulai protes dengan tingkah suaminya.
"Kamu menganggu tidurku honey" kesal Alisya.
"Makanya bangun, jangan jadi pemalas" seloroh Arsen sambil terkekeh melihat Alisya menjauhkan wajahnya dari jangkauannya.
Arsen akhir nya keluar dari mobilnya, ia berjalan memutari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Alisya.
Arsen tak membiarkan istrinya tertidur, pasalnya istrinya belum makan malam juga karena tadi Alisya tak mau di ajak makan terlebih dahulu.
"Ayo bangun baby, nanti setelah makan malam baru kamu bisa tidur lagi" bujuk Arsen seraya menepuk nepuk pipi istrinya.
Alisya akhirnya membuka matanya yang masih terasa berat. Dengan perlahan Alisya keluar dari mobil, ia berjalan dengan menghentak hentakan kakiknya sambil memanyunkan bibirnya...Arsen tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang tak beda jauh dengan putrinya.
"Dia sangat menggemaskan, sungguh aku tak sabar ingin menerkamnya" ucap Arsen di dalam hati.
Di dalam rumah Reva sedang mencari omanya, ia ingin menunjukan mainan barunya.
"Oma yang cantik, Leva sudah pulang ini" teriak omah sambil kaki kecil nya melangkah kesana kemari mencari keberadaan omanya.
"Bibi oma na Leva kemana" tanya Reva kepada pelayan di rumah.
"Kan oma ada di ruang tv nona" jawab bibi.
"Nda ada bibi, tadi Leva sudah mencalinya" kekeh Reva, tadi gadis kecil itu sudah ke ruang tv tapi tidak melihat omanya.
"Ayo coba cari kesana lagi, bibi temani" saran bibi, pelayan merasa yakin tadi melihat nyonya nya yang sedang tiduran di sofa sambil menonton tv.
Bibi membawa Reva ke ruang tamu sambil menggandeng tangan kecilnya.
"Itu oma sayang, sedang tiduran di sofa" tunjuk bibi kepada Reva ketika sudah berada di dekat ruang tv.
"Tadi Leva cudah kesini bibi tapi Leva nda liat, suell Leva nda bohong" kekeh Reva tak mau kalah, padahal tadi Reva cuma lewat doang ngga ngecek ke sofa, dan Belinda sengaja diam untuk mengerjai cucunya itu.
Reva menghampiri omanya yang sedang rebahan di sofa, sedangkan bibi sudah kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Oma ngeljain Leva ya" tuduh Reva kepada Belinda yang ketahuan sedang menahan tawanya.
"Tadi Leva sudah kesini manggil oma tapi kok oma tidak menyahut, pasti oma ngumpet dali Leva kan" cerocos Reva penuh selidik. Akhirnya tawa Belinda pecah melihat wajah lucu Reva.
"utuuukkk...utukkk cucu oma menggemaskan sekali, kamu dari mana sayang? Apa yang Reva pegang?" tanya Belinda sambil menguyel nguyel pipi Reva.
Belinda tahu kalau Alisya tak bermaksud melarangnya, tapi menantunya itu tak suka kalau putrinya itu berlebihan dalam membeli mainan.
"Ck, dasar tukang ngadu" sahut Alisya yang baru masuk bersama Arsen.
Reva menoleh mendengar suara mamanya.
"Mama nda boleh malah, kalena mama tadi nda bolehin Leva beli mainan banyak-banyak" ucap Reva belepotan yang membela diri.
"Sudah baby, kamu ini gak pernah mau mengalah sama anaknya" sela Arsen sebelum Alisya kembali menjawab ucapan putrinya.
Arsen langsung merangkul Alisya lalu membawanya ke ruang makan.
"Benar yang di bilang mama sayang, Reva ngga boleh beli mainan banyak-banyak, kalau mau beli mainan..... Bagaimana kalau mainan lama Reva yang sudah tidak di pakai kita sumbangin ke panti asuhan" Belinda mengajari Reva untuk berbagi, biar mainan yang sudah tidak terpakai tidak mubadzir.
"Panti asuhan apa oma" tanya Reva yang tak mengerti.
"Panti asuhan itu tempat tinggal anak-anak yang kurang beruntung sayang, nanti oma akan ajak Reva mengunjungi panti asuhan" jawab Belinda. Reva mengangguk seolah mengerti yang di katakan Belinda.
Belinda menggendong cucunya ke meja makan menyusul Arsen dan Alisya yang sudah terlebih dulu duduk di sana.
Mereka makan dengan dengan tenang, tak ada obrolan sama sekali.
Setelah selesai Alisya membawa putrinya ke kamarnya. Ia membersihkan tubuh putrinya serta membantu putrinya menggosok gigi, usai itu Alisya memakaikan baju tidur putrinya.
Kini Alisya menepuk-nepuk bokong putrinya supaya tertidur. Tak butuh lama putrinya pun terlelap dengan memeluk bantal gulingnya, Alisya menyelimutinya
"Good night sayang," ucap Alisya seraya mencium kening putrinya.
Arsen selesai membersihkan tubuhnya, ia baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang di lilit di pinggangnya memperlihatkan perut sixpack nya.
Ceklek Alisya membuka pintu kamarnya.
Masuk kamar Alisya langsung di suguhkan pemandangan yang menggoda imannya.
Gluk
Alisya menelan salivanya melihat pemandangan di depannya.
Dia terpesona dengan perut kotak-kotak suaminya yang terlihat sangat seksi di matanya.
"Kenapa baby" tanya Arsen dengan senyum smirk di bibirnya. Arsen tahu kalau istrinya sedang melihat perutnya.
"Kau bisa memegangnya baby" bisik Arsen di telinga Alisya seraya menggigitnya.
Arsen menarik pelan tangan Alisya yang dari tadi berdiri mematung di depan pintu. Mau tak mau Alisya mengikuti suaminya yang membawanya menuju ke sofa yang ada di kamarnya.
Tanpa aba-aba Alisya langsung mendorong suaminya hingga terduduk di sofa. Arsen menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan setengah berbaring. Ia ingin tahu apa yang akan di lakukan istrinya yang sudah tidak polos lagi.
Alisya berlutut di depan suaminya, ia mengulurkan tangannya meraba perut berotot suaminya. mengusap dengan perlahan perut kotak-kotak suaminya. Hingga membuat Arsen memejamkan matanya menikmati sentuhan nakal dari tangan istrinya itu.
Bersambung
"Kalau ada yang bilang Revanya lebay amat cadel begitu bla bla....ingat guys kondisi setiap anak beda-beda, tidak bisa di pukul rata. Apa lagi ini novel yang tak mungkin menjadi mungkin.🙏
Happy reading guys🙏
Next....siapkan kipas supaya tidak panas😂