Baby Girl

Baby Girl
BAB 41



Arsen melihat anak-anak sudah keluar dari dalam kelas nya. Ia melihat Reva yang berjalan bersama Rey, Arsen mendengus kesal dengan kedeketan kedua bocil itu, dirinya aja tidak boleh dekat-dekat Alisya dulu, sedangkan mereka malah bergandengan tangan terus sudah kek mau nyebrang saja.


Reva dan Reynand berjalan santai menghampiri Arsen sambil bergandengan tangan, Arsen menilai kalau Reva baik-baik saja meskipun di tinggal bekerja mama nya.


"Rey kamu sudah di jemput belum" tanya Arsen.


"Nda tau om, sepeltina belum" jawab Reynand sambil mengedarkan pandangannya ke semua penjuru dia tak menemukan mobil Daddy nya.


"Si Reagan ini kebiasaan suka telat menjemput anak nya, giliran di culik nanti nangesss" gerutu Arsen kesal dengan kelakuan sepupunya itu.


"Ya sudah ikut om sama Reva aja ya" ajak Arsen, karena tak mungkin Arsen meninggalkan keponakannya sendirian.


"Ciap om Alsen" sahut Rey antusias, Arsen megacak rambut Reynand karena gemas.


Arsen membantu Rey dan Reva masuk ke dalam mobilnya. Usai itu Arsen langsung menyalakan mobil nya, Arsen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena jalanan agak sedikit rame.


"Belhenti om belhenti" pekik mereka berdua secara bersamaan.


"Ada apa" tanya Arsen mengerutkan dahinya sambil menoleh ke belakang setelah menepikan mobilnya.


"Itu om, tita mau beli cilok dulu sama batagol" ucap Reva mewakili sambil menunjuk ke arah kang cilok dan kang batagor yang bersebelahan gerobak nya.


"Hah, mainan apaan itu" ucap Arsen yang tak ngerti, karena Arsen lama tinggal di Luar Negeri jadi dia banyak tidak tahu aneka jajanan di tanah air. Reva sama Reynand kompak menepuk keningnya karena ketidaktahuan om dantengnya itu.


"Tok mainan, itu matanan om Alsen" sahut Rey sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Makanan apa, mana ada makanan nama nya apa tadi" ucap Arsen yang lupa namanya


"Cilok om Alsen cilok, danteng doang tapi payah" ledek Reva.


"Hai, mana ada om Arsen payah, om Arsen hanya tidak pernah makan jajanan seperti itu" ucap Arsen tak terima.


"Belantem telus jadhi nda ini belina" sela Reynan yang sudah tak sabar ingin memakan cilok.


"Itu tidak higienis sayang, beli yang lain saja ya, nanti kalian sakit perut" larang Arsen. Arswn memang jarang membeli makanan di pinggir jalan, bahkan hampir tidak pernah.


"Nda mau, nanti Leva aduin te mama Leva nih, talau Leva nda di tacih matan cama om Alsen" ancam Reva dengan senyum liciknya. Mata Arsen membola, bisa-bisa gadis kecil itu selalu mengancamnya dan bodohnya Arsen takut dengan ancaman gadis kecil itu. Bisa gagal menikahi Alisya jika gadis kecil itu ngadu sama mamanya.


"Ok ok, om Arsen belikan, kalian tunggu di sini saja biar om Arsen yang kesana" ucap Arsen pasrah. Reva dan Reynand bertos ria sambil tersenyum penuh kemenangan.


Arsen keluar dari mobil, lalu melangkahkan kakinya menuju ke penjual cilok. Arsen membeli cilok dan batagor masing-masing tiga bungkus. Setelah itu ia kembali lagi ke mobilnya.


"Matacih om Alsen yang danteng" ucap mereka berdua secara bersamaan setelah menerima jajanan yang mereka inginkan. Arsen selalu di buat kesal sama mereka berdua jika sudah bersama pasti ada aja tingkahnya.


Mereka berdua langsung menyantap cilok yang di berikan Arsen. Mereka tak menghiraukan Arsen yang sedang menyetir.


Arsen melirik mereka dari kaca spion, ia melihat mereka berdua makan cilok dengan begitu lahap, Arsen menelan salivanya.


"Om Arsen mau nda" tawar Reva.


"Memangnya enak" tanya Arsen sedikit ragu.


"Lasanya sepelti jadi ilonman" seloroh Reynand sambil tertawa cekikikan.


Reva melihat tatapan penasaran di wajah Arsen, akhirnya ia menyodorkan satu cilok ke mulut Arsen.


"Aaaa..., buta mulutna om" titah Reva, Arsen oun spontan membuka mulutnya, Reva memasukan cilok ke dalam mulut Arsen. Arsen mengunyahnya dengan pelan seraya menikmati rasa dari cilok tersebut.


"Enak tan" ucap Reva.


"Enak sayang, om Arsen mau lagi dong" pinta Arsen yang ketagihan.


Reva pun menyuapi Arsen lagi hingga cilok yang Reva pegang habis. Bebarengan dengan mobil Arsen yang tiba di gedung perusahaan Global Group milik nya.


"Om Arsen maish ada pekerjaan sayang, nanti oma akan menjemputmu kecini."jawab Arsen sambil melepas seatbelt nya.


Arsen menggendong mereka dengan kedua lengannya, semua karyawan yang melihatnya tentu saja terkagum kagum dengan bosnya itu.


Arsen membawa mereka menuju ke ruangannya. Lalu ia menurunkan mereka berdua dari gendonganya.


"Kalian main di sini ya, om Arsen akan kembali bekerja" ucap Arsen di balas anggukan dari keduanya dengan patuh.


Arsen pun kembali mengerjakan semua berkas yang tertunda, dia membiarkan kedua bocah itu main.


Arsen yang sedang fokus kerja pun merasa curiga dengan keheningan kedua perusuh itu, Arsen menaikan wajahnya, Arsen kaget dengan kondisi ruangan nya yang berantakan karena ulah mereka berdua. Arsen berdiri sambil berkacak pinggang.



"Apa yang sedang kalian lakukan ha" ucap Arsen.


"Tita ladhi main bebek-bebekan om" jawab mereka, sambil memegang hiasan bebek yang mereka ambil dari rak yang ada di ruangan Arsen.



"Ya ampun, kalian nakal sekali sih" keluh Arsen memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


Ceklek..Tak lama Belinda membuka pintu, dia bingung dengan situasi yang ada di dalam.


"Ada apa ini boy" tanya Belinda bingung sambil melihat ruangan Arsen yang berantakan.


"Tanyakan saja sama cucu bunda itu" ketus Arsen.


"Ada apa sayang" tanya Belinda kepada mereka berdua.


"Memangna ada apa, dali tadi nda ada apa-apa oma, ya tan Ley" jawab Reva polos, yang memang tak mengerti dengan kekesalan Arsen. Belinda menahan tawanya melihat kekesalan putranya yang mendengar jawaban polos dari Reva.


"Sudah ayo kalian ikut oma saja ke arisan" ajak Belinda.


"Bund" Arsen hendak protes, ia tak setuju kalau bundanya mengajak kedua bocah itu ke arisan, bisa terkontaminasi nanti otak kecilnya mendengar ghibahan dari genk emak-emak sosialita itu. Namun sebelum Arsen protes kedua bocah itu sudah menyahut dengan sangat antusias.


"Mau oma, Ayo Ley tita itut oma caja bialin om Alsen bekelja sendili" sahut Reva.


Tanpa menunggu persetujuan putranya Belinda sudah menggiring kedua perusuh itu keluar dari ruangan Arsen. Kaki kecil mereka melangkah mengikuti sang oma.


Belinda mengajak mereka ke sebuah restoran bintang lima namun bukan milik Alisya.


Tiba di Restoran Belinda langsung membawa kedua perusuh itu masuk ke dalam restoran menemui teman-teman Belinda. Belinda menepati janjinya yang akan pamer kedua cucunya kepada teman sosialitanya.


"Hai Jeng, kamu bawa siapa" sapa teman Belinda yang melihat keberadaan Reva dan Rey di samping Belinda.


"Tentu saja aku membawa cucuku" jawab Belinda sinis.


Tiba-tiba ada seorang wanita baruh baya yang menghampiri Belinda, ia juga termasuk genk sosialita Belinda.


"Hai Reva" sapa wanita paruh baya itu yang mengenal Reva.


"Tamu capa" tanya Reva sambil memiringkan kepala nya mengamati wajah wanita baruh baya itu.


**Bersambung


Bayar author pake like dan koment guys🙏


Happy reading🙏**