
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Nino langsung saja masuk kedalam ruangan Arsen, Arsen mengangkat wajahnya menatap Nino jengkel.
"Bisa tidak sih No, kalau mau masuk tuh ketuk pintu dulu, bikin orang kaget saja" gerutu Arsen seraya menghentikan pekerjaannya.
"Maaf tuan, saya lupa" jawab Nino santai.
"Ada apa kau kemari" tanya Arsen sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Saya mau minta tolong sama anda dan juga Nyonya Belinda untuk membantu saya melamar Dewi tuan" jawab Nino.
Arsen tercengang mendegar permintaan mendadak asistennya itu, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba menyuruh dirinya untuk melamar anak gadis orang.
"Memangnya kapan kau akan melamarnya" tanya Arsen.
"Besok malam tuan" jawab Nino.
tak
Suara pulpen melayang mengenai kepala Nino. Nino mengusap kepalanya.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang bodoh, memangnya kamu sudah menyiapkan semuanya ha," jengkel Arsen.
"Kamu itu mau melamar anak gadis orang Nino, kamu harus menyiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu," ucap Arsen gemes.
"Tapi saya sudah menyiapkan semuanya tuan, anda sama Nyonya Belinda tinggal datang saja ke rumah Dewi" ujar Nino.
Plakkk
Lagi-lagi Nino kena pukul Arsen.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu kita No, apa kamu masih belum menganggap aku dan Bunda keluargamu hah, kenapa kamu tidak meminta tolong sama kami, kamu malah menyiapkan segala sesuatunya sendiri" marah Arsen.
"Maaf tuan, saya hanya merasa tidak enak saja jika terlalu merepotkan anda dan juga nyonya Belinda" sahut Nino menunduk.
Bagaimanapun keluarga Arsen sudah terlalu baik padanya, jadi dia merasa segan merepotkan keduanya.
Arsen mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya lewat mulut.
"Apa kamu sudah yakin ingin menikahi Dewi No? jangan sampai di kemudian hari kamu menyakitinya. pasalnya jika kamu menyakitinya aku juga akan terkena imbasnya nanti, istri cantikku itu bisa berubah jadi singa jika tahu sahabatnya kau sakiti" tanya Arsen, lalu meyakinkan hati Nino.
Karena sejatinya pernikahan itu bukan permainan, jika kau belum yakin mending di tunda dulu, daripada nanti malah saling menyakiti.
"Saya sebelumnya sudah memikirkan ini semua tuan, saya yakin Dewi bisa menjadi istri yang baik untuk saya. " jawab Nino yakin.
"Jika ini sudah menjadi keputusan mu, saya hanya bisa mendoakanmu No, supaya kamu tidak menyesali keputusanmu nantinya, dan jangan sampai kamu melukai hati istrimu kelak" ucap Arsen bijak.
"Nanti setelah pulang dari kantor, datanglah ke rumah, dan ajak sekalian Dewi calon istrimu itu" lanjutnya.
"Baik tuan" sahut Nino.
Setelah usai ber bi icara dengan Arsen, Nino langsung beranjak dari ruangan Arsen, ia ingin cepat menyelesaikan pekerjaanya, setelah itu menjemput Dewi dan membawanya ke rumah arsen.
"semoga kamu bahagia Nino" batin Arsen.
Tumbuh bersama seraya membesarkan perusahaan Global Group, membuat Arsen tahu betul perjuangan Nino hingga ketitik seperti ini.
Menjadi asisten pribadi Arsen tentu saja tak sedikit gaji yang ia dapat .Sukses di usia muda tidak menjadikan Nino sombong dan melupakan jasa keluarga Davidson yang selama ini tengah menolongnya.
...****************...
Pukul 5 sore, usai pulang dari kantor Nino bergegas menjemput sang pujaan hati di restoran tempat ia bekerja.
Bunyi klakson dari mobil Nino.
Dewi melambaikan tangan ketika melihat mobil kekasihnya.
Dewi mendekati mobil kekasihnya, lalu membuka pintu mobil dan kemudian masuk ke dalam.
"Kita ke rumah tuan Arsen dulu ya sayang" ucap Nino sambil mengelus kepala Dewi sayang.
"Ngapain" tanya Dewi seraya menoleh ke arah Nino.
"Kita minta restu sama nyonya Belinda terlebih dahulu sebelum kita menikah, bagaimanapun juga dia sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri" jawab Nino.
"Yasudah ayo, tunggu apa lagi memangnya" ajak Dewi tak keberatan. Nino tersenyum manis kepada Dewi. Nino senang karena Dewi sangat mengerti dirinya.
Sebelumnya Nino sudah menceritakan tentang masa lalu dirinya, jadi Dewi tahu peran Belinda dan Arsen di hidup Nino.
Nino menginjak gas mobilnya menuju ke rumah Arsen.
Hanya butuh satu jam mobil yang di kendarai Nino sudah sampai di depan gerbang rumah Arsen yang menjulang tinggi.
Penjaga membukakan gerbang untuk Nino.
"Tuan Nino" sapa penjaga rumah.
"Nyonya Belinda ada pak" tanya Nino setelah menurunkan kaca jendelanya.
"Ada di dalam tuan" jawab penjaga.
"Kalau begitu saya masuk dulu ya pak" pamit Nino kepada penjaga rumah Arsen.
Mobil Nino sudah terparkir di depan rumah Arsen. Terlihat mobil Arsen juga sudah terparkir di depannya.
Nino keluar dari dalam mobil begitu juga Dewi.
Mereka berdua bersama memasuki rumah Arsen.
"Assalamualaikum bi" ucap Nino ketika sudah di bukakan pintu oleh pelayan di rumah Arsen.
"Waalaikumsalam Den Nino" sahut bibi.
"Langsung ke atas aja tuan, kebetulan ada tuan Reagan juga sedang mau menjemput den Rey" saran sang bibi.
"Baiklah bi, kalai begitu Nino ke atas dulu ya bi" pamit Nino. sang bibi pun mengangguk.
Karena sering datang ke rumah Arsen membuat Nink akrab dengan beberapa pekerja yang ada di rumah Arsen.
Nino menggandeng tangan Dewi sambil menaiki tangga menuju lantai atas.
"Kenapa wajah kamu begitu sayang" tanya Nibo ketika melihat wajah cemas calon istrinya itu.
"Aku hanya gugup saja sayang" lirih Dewi.
"Jangan takut, Nyonya Belinda baik kok" ucap Nino menenangkan calon istrinya. Dewi pun mengangguk kecil.
Mereka pun melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
"Selamat malam semuanya" sapa Nino ketika sudah sampai di atas.
"Selamat malam Nino" sahut Belinda mewakili.
"Tumben kesini malam-malam No? mau ketemu Arsen ya" tanya Belinda.
"Tidak bund, Nino kesini mau ketemu sama bunda" jawab Nino kemudian duduk di sofa yang masih kosong, Dewi pun ikut duduk di sebelah Nino.
"Ada apa Mbak" bisik Alisya kepada Dewi, dia kepo dengan tujuan Nino membawa Dewi menemu mertuanya itu.
"Mau minta restu katanya" jawab Dewi lirih.
"Hah? untuk apa" ucap Alisya kaget, tak sadar meninggikan suaranya.
"kamu kenapa baby" tanya Arsen kepada istrinya.
"Eh, tidak honey, tadi hanya kaget saja" jawab Alisya kikuk, pasalnya dia jadi pusat perhatian semua orang di ruangan itu, termasuk anak-anaknya.
"Mama gaje" ceplos Reva.
"Apa itu gaje sayang" tanya Arsen.
"Artinya ngga jelas papa, begitu saja tidak tahu, papa kudet" jawab Reva mengejek papanya.
"Bahasa apa lagi itu kudet" tanya Arsen bingung.
Semakin besar membuat putrinya itu banyak mengetahui kosakata baru.
"Makanya gaul om, biar tahu" timpal Reynand.
"Papa Reva memang payah Rey" sahut Reva, membuat bibir Arsen mencebik.
"Kalian diamlah, biarkan om Nino berbicara" lerai Belinda jengah melihat perdebatan mereka.
Bersambung
Happy reading guys 🙏
Jangan lupa like
koment
vote
gift