Baby Girl

Baby Girl
BAB 85



"Saya sudah menikah lama dengannya, namun selama ini saya memang tak pernah mempublikasikan keluarga saya ke publik, terutama istri dan juga putri saya" jawab Arsen tanpa ragu.


Alisya mengangkat wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca melihat ke arah suaminya yang sedang tersenyum kepadanya. Arsen mengelus lembut tangan istrinya yang ada di gengamannya.


"Apa putri anda juga akan mengikuti anda sebagai pembisnis tuan" tanya lagi.


"Saya tidak akan memaksakan anak-anak saya kelak untuk menjadi pembisnis seperti saya, kami sebagai orang tua hanya akan mengarahkannya saja. Selagi cita-cita mereka baik buat mereka maka kami sebagai orang tua akan mensupportnya.


"kalau kalian kurang puas dengan jawaban saya, anda bisa tanya langsung kepada putri saya" lanjutnya.


Wartawan kini beralih melihat ke arah Reva yang berdiri sambil mengang salah satu jari tangan Arsen, "Nona muda, apa cita-cita nona setelah besar nanti" tanya wartawan kepada Reva.


Reva menatap wartawan tersebut dengan mata bulatnya yang nampak menggemaskan "Leva om bukan nona muda, Leva mau jadi doktel om waltawan, supaya Leva bisa menyembuhkan semua olang yang sedang sakit" jawab Reva dengan suara cadelnya. Sambil kakinya tak bisa diam.


Semua terkekeh mendengar Reva yang protes dengan nama panggilannya, tamu undangan juga nampak terharu dengan cita-cita mulia gadis kecil itu.


Arsen tak pernah memaksakan Reva untuk menjadi apa. Tapi diam-diam Arsen sudah menyiapkan sejumlah saham atas nama Reva, namun dia tak ingin mengumumkannya ke publik. Biarkan semua orang beramsumsi kalau putrinya itu tak akan mewarisi perusahaannya, karena dia takut kalau keluarga Dinata tahu mereka akan mendekati sekaligus memperalat putrinya demi tujuannya.


Erik tak menyangka meskipun Arsen bukan ayah kandung Reva, tapi dengan bangganya dia justru mengakui kalau Reva adalah putrinya. Berbeda dengan dirinya dulu yang menolak mati-matian darah daging nya.


"Pantas saja tuan Arsen menyerahkan 20% sahamnya kepada Alisya, ternyata tuan Arsen merupakan suami Alisya sendiri Dad, David takut kalau Alisya akan membalas perbuatan keluarga kita kepadanya dulu Dad" ceplos David khawatir.


"Dad, sepertinya kita bisa menggunakan Reva untuk mendekati tuan Arsen, bagaimanapun juga di tubuh Reva mengalir darah keluarga Dinata" bisik Siska namun masih di dengar oleh telinga Aldrik.


"Benar yang di bilang istrimu son, kita harus menjalin tali silaturahmi dengan mereka sebagai keluarga kandung Reva, dengan begitu posisi kita di perusahaan akan aman, Alisya dan Arsen akan mikir seribu kali untuk menghancurkan kita kalau kita sangat dekat dengan putrinya itu" sahut Aldrik memberikan analisanya.


David nampak memikirkan perkatakan istri dan daddy nya itu. David berpikir kalau ucapan mereka ada benarnya. Kalau Alisya menghancurkan keluarga Dinata sama saja dia menghancurkan hati putrinya sendiri, begitulah pemikiran mereka.


Setelah menjawab beberapa pertanyaan wartawan Arsen menggendong Reva dan tangan satunya lagi menggandeng tangan Alisya mengajak nya turun dari atas panggung.


Arsen membawa istrinya bergabung dengan bundanya.


Semua tamu undangan berbincang sambil menikmati beberapa hidangan yang tersedia, banyak juga para pembisnis lain yang juga mencari relasi baru untuk memperkuat perusahaannya.


Siska mengajak David dan juga mertuanya menemui Alisya yang terlihat sedang duduk dengan kerabat Arsen.


"Selamat malam tuan Arsen, boleh kami bergabung? Ada yang ingin kami obrolkan" sapa David ketika sudah berada di dekat Arsen.


Arsen tersenyum smirk lalu menoleh, dia sudah menebak kalau yang menghampirinya adalah keluarga Dinata "Silahkan" jawab Arsen singkat, dia ingin tahu maksud keluarga Dinata menghampirinya.


"Kamu..." kaget Siska yang melihat Belinda duduk di sebelah kiri Arsen, sedangkan Alisya duduk di sebelah kanan suaminya, kalau Reva lebih milih duduk bersama Reynand.


"Tolong yang sopan nyonya, dia bunda saya" tegur Arsen dengan nada dingin. Sedangkan Belinda menatap sinis Siska


Siska menelan ludahnya kasar, dengan perasaan kikuk Siska duduk si kursi kosong yang ada situ.


"Katakan" ucap Arsen dengan wajah datar.


"Kami kesini ingin memberi tahu anda, kalau Reva adalah cucu kami, dia anak Erik putra sulung kami." ucap David.


Mereka mengira kalau Arsen belum mengetahui semuanya.


Arsen terkekeh mendengar ucapan David "Terus maksud tuan Dinata apa" tanya Arsen santai.


"Kenapa baru sekarang,? Kenapa tidak dari dulu anda mencari cucu anda" tanya Arsen.


"Kami sudah dari lama mencari keberadaan dia dan juga Alisya, namun kami tak mengetahui keberadaanya.


"Lantas kenapa anda begitu yakin kalau putri saya adalah cucu anda" tanya Arsen tersenyum tipis.


David bungkam, dia merasa dirinya terjebak dengan ucapannya sendiri.


Alisya jengah dengan penuturan David "Bukankah anda sendiri yang tak ingin mengakuinya tuan, terus kenapa anda sekarang mengakuinya sebagai cucu anda, apa anda lupa dengan surat perjanjian itu" sindir Alisya sambil menggengam tangan Arsen di bawah kolong meja.


Arsen tahu kalau istrinya sedang mencari kekuatan kepadanya, dia pun menggenggam balik tangan istrinya.


"Bukankah semua orang pernah melakukan kesalahan nak, begitupun kamu...mommy yakin kalau di masa lalau pasti kamu juga pernah melakukan kesalahan seperti kami" sahut Siska yang melihat suaminya terdiam.


Dia menyebut dirinya sebagai mommy karena Reva adalah cucunya dengan begitu dia menganggap Alisya juga putrinya. Sungguh menjijikan bukan😏


"Apa tadi anda bilang Nyonya? Mommy? Sungguh terdengar menggelikan di telinga saya" ejek Alisya.


"Iya, Reva cucu mommy, otomatis kamu juga putri mommy meskipun kamu tidak menikah dengan Erik" ujarnya penuh percaya diri.


Alisya tersenyum mengejek menatap Siska "Saya tak mempunyai mommy nyonya, saya hanya mempunyai bunda yaitu bunda Belinda bukan anda" ucap Alisya dengan penuh penekanan.


Siska mengepalkan tangannya di bawah meja, dia merasa tersinggung dengan ucapan Alisya, dia sudah mencoba sebaik mungkin tapi malah tak di hargai.


"Mari kita lupakan masa lalu, dan mulai dengan menjadi keluarga, kami minta maaf kalau sudah mempunyai banyak salah sama kamu Alisya, kami sudah menyesal..kami berharap kamu mau memaafkan kami" ucap Aldrik bijak, tapi ntah yang ada di dalam hatinya.


"Saya sudah memaafkan keluarga anda, tapi bukan berarti saya lupa dengan perlakuan anda terhadap saya dulu" balas Alisya.


Dia tidak mau memaafkan mereka begitu saja, ada harga mahal yang mesti mereka bayar untuk kesalahannya.


Sedangkan Reva dan Reynand sedang berbisik melihat Siska.


"Leva bukannya nyonya itu mak lampil yang waktu itu nalik lambutmu" bisik Reynand yang masih di dengar oleh Reagan.


Reagan diam saja mendengar percakapan dua bocil itu.


"Iya Ley, sampai kepala Leva satit telus Leva nangis" sahut Reva yang ingat wajah Siska.


"Ini tidak bisa di bialkan, kita halus balas nenek lampil itu" sengit Reynand.


"Bagaimana calanya Ley" tanya Reva.


Kemudian Reynand membisikan sesuatu ke telinga Reva, Reva terlihat mengangguk ngngguk seolah mengerti.


Reagan memicingkan matanya melihat kedua bocil sesang berbisik merencanakan sesuatu.


"Kalian lagi apa? Tanya Reagan


Bersambung


Happy reading guys🙏