Baby Girl

Baby Girl
S2~8



"Hah? kamu menghajar Brian girl?" tanya Arsen terperangah, ia tak percaya putrinya bisa membuat Brian babak belur, terlebih Brian seorang pria.


"Ya, karena aku melihatnya sedang mencium pipi gadis itu, makanya aku langsung menghajarnya, percuma saja selama ini Rachel belajar bela diri kalau tidak di praktekan bukan" sahut Rachel sambil memasukkan buah apel yang sudah di kupas oleh mamanya kedalam mulutnya.


Erik, Arsen serta Reynand mengepalkan tangannya, mereka marah mendengar kalau Brian berani mempermainkan Reva. .


"Kenapa kau tidak mengajak uncle girl. coba ada uncle di sana, sudah pasti uncle akan membuatnya cacat seumur hidup" marah Erik, ia tak terima anaknya di sakiti.


"Sepertinya masalah Reva ada hubungannya dengan dia om" ucap Reynand yang tiba-tiba menyahut.


Ia mengutarakan pendapatnya, menurut Reynand, Reva termasuk orang yang cerdas, jadi dia tidak akan melakukan hal konyol seperti ini kalau tidak ada pemicunya.


Mengetahui selama ini hanya di manfaatkan saja oleh kekasihnya, sekaligus di selingkuhi di belakangnya, tentu membuat Reva marah sekaligus kecewa akan kebodohannya selama ini.


Di tambah lagi dia mengetahui kenyataan kalau dia bukan anak kandung papanya, sudah pasti membuat kecewa di hati Reva menjadi berlipat lipat.


Sesakit apapun sebuah kejujuran, akan lebih menyakitkan ketika kebohongan terungkap.


Kembali ke obrolan.


"Apa kamu yakin Rey, kenapa kamu bisa sampai berpikiran seperti itu" tanya Arsen.


"Rey juga tidak tahu om, Rey hanya menebak saja, karena Rey sendiri belum tahu penyebab kenapa Reva bisa seperti ini" sahut Reynand.


Arsen manggut-manggut mengerti, Rey memang belum tahu masalah sebenarnya yang di hadapi sahabatnya itu, orang tuanya juga belum menceritakannnya.


"Apa kalian tahu, siapa terakhir kali orang yang di temui kak Reva" tanya Arsen kepada kedua anaknya.


"Rachel tidak tahu pa, yang Rachel tahu si Brian ulang tahun" sahut Rachel.


"Sepertinya kita memang harus menyelidiki semua ini Rik. Apa ini berkaitan dengan Brian atau memang ada orang lain yang ingin menghancurkan keluarga kita" ucap Arsen.


Erik tampak mengangguk setuju.


Alisya sejak tadi membiarkan mereka berbincang, tapi dia sendiri lebih memilih menemani putrinya.


Baru saja Alisya akan beranjak dari kursinya, tiba-tiba ia mendengar suara orang melenguh.


"Eughhhh... "


Allisya yang penasaran langsung mendudukan tubuhnya kembali, ia ingin memastikan pendengarannya.


"Mama... " lirih Reva yang masih memejamkan matanya.


Alisya kembali menajamkan pendengarannya. ia takut ini hanya halusinasinya saja.


"Mama... "


"Iya sayang, ini mama..." ucap Alisya sambil menitihkan air matanya. lalu menggengam tangan putrinya.


Secara perlahan Reva mulai membuka matanya.


"Mama, maafkan Reva" ucap Reva lirih.


Alisya terharu, karena pertama kali orang yang putrinya sebut adalah dirinya.


"Pa panggil dokter pa, Reva sadar pa" ucap Alisya mengagetkan mereka yang sedang asik berbincang.


Mereka secara bersamaan menghentikan obrolannya, mereka bangkit dan mendekati ranjang Reva.


"Cepat pa, panggil dokter" pinta Alisya tak sabaran.


"Biar Rey yang panggil dokternya om" ucap Rey, setelah iti ia keluar dari ruangan Reva untuk memanggil dokter.


Saking senang sekaligus panik membuat mereka melupan tombol nurse call ayngbada di dekat ranjang pasien.


Tak butuh waktu lama dokter dan Reynand datang ke ruang rawat Reva.


Ceklek.....pintu terbuka


Dokter dan Reynand masuk kedalam ruangan Reva.


"Tolong menyingkir dulu dari pasien, saya akan memeriksanya terlebih dahulu" pinta dokter.


Mereka langsung mundur menjauh membiarkan dokter memeriksa Reva.


"Bagaimana dok" tanya Alisya setelah dokter selesai memeriksa putrinya.


"Berapa lama kaki pasien bisa sembuh normal dok" tanya Arsen.


"Kurang lebih 3 bulan pasien akan bisa kembali berjalan." jawab dokter.


Setelah itu dokter pergi meninggalkan kamar pasien.


"Mama, maafkan Reva sudah marah sama mama" lirih Reva sambil meneteskan air matanya.


"Reva tidak salah sayang, mama yang slaah, mama minta maaf sama Reva," sahut Alisya sambil menghapus sudut mata putrinya.


"Reva jangan memikirkan yang berat-berat dulu ya, Reva harus banyak istirahat dulu supaya cepat sembuh" ucap Alisya.


"Sssttttt.... "Desis Reva, ia merasa sakit di bagian kepalanya.


"Jangan banyak bergerak dulu sayang, kepala kamu baru sjaa selesai di operasi" kata Alisya sambil mencegah putrinya yang ingin bangun.


"Haus mama" ucap Reva.


Alisya memberi Reva minum dengan menggunakan sendok.


Setelah minum, Reva kembali memejamkan matanya. Alisya membenarkan selimut yang menutupi tubuh putrinya.


Erik mendekati putrinya, lalu mengecup keningnya. ia menatap wajah cantik putrinya, rasanya ia ingin memindahkan rasa sakitnya ke tubuhnya, Erik tidak tega melihat putri kesayangannya kesakitan.


"Pulanglah dulu Rey, kamu pasti lelah habis perjalanan dari jerman, Reva juga sudah sadar, jadi kamu tak perlu cemas lagi" ucap Arsen.


"Baiklah, Rey pulang dulu om, nanti malam Rey akan kembali kesini lagi" pamit Reynand.


Reynand memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu, tubuhnya merasa lelah setelah bolak balik jakarta-jerman.


"Kaliam juga pulanglah, bawa Gavin sekalian, kalian juga perlu ganti baju" titah Arsen kepada putra putrinya.


"No, Gavin nda mau pulang, Gavin mau jagain kak Leva" tolak Gavin.


"Kak Revanya sedang tidur boy, Gavin juga harus tidur siang dulu" ucap Arsen memberi pengertian kepada putranya.


"Gavin malas di lumah sama kak Lavin" sahut Gavin ngeyel.


"Cih, aku juga malas di rumah sama kamu, bocil ngeselin" timpal Ravin tak terima.


Gavin mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya.


Arsen menghela nafas sabar, kedua putranya itu tak pernah akur.


Ceklek


Revan membuka pintu, ia baru saja pulang dari sekolahnya lalu mampir ke rumah sakit untuk menjeguk kakaknya, sebelumnya Rachel sudah memeberi tahu kamar Reva kepadanya.


"Kebetulan kamu datang boy, kamu ajak adiknya pulang gih, kasihan belum tidur siang"ucap Arsen.


Revan mengangguk patuh.


"Ayo pulang" ajak Revan kepada Gavin.


Gavin mengerucutkan bibirnya, selain takut sama Reva, Gavin juga takut sama Revan.


"Gavin mau pulang, tapi ntal antal Gavin kesini lagi"


"Iya, nanti Gavin kesini lagi sama oma"


Akhirnya setelah banyak drama akhirnya bocah kecil itu menurut, dia pulang bersama triplet, Alisya sama Arsen juga tak memperbolehkan Gavin terlalu lama di rumah sakit.


Sedangkan di rumah sakit yang sama, namun berbeda ruangan, terlihat Brian sedang di obati lukanya oleh dokter.


"Bagaimana dok? apa ada luka dalam" tanya Listy.


"Tidak ada non, tuan hanya mengalami luka luar saja, tapi luka di kepalanya cukup dalam, jadi perlu di jahit" ujar dokter.


"Baiklah dok" sahut Listy.


Bersambung


Happy reading guys🙏