
Tiga bulan berlalu, pagi hari saat bangun tidur Reva langsung lari ke kamar mandi, dia merasa perutnya begitu mual.
Hoek....
Hoek...
Hoek....
Reva terus mengeluarkan isi perutnya di dalam kamar mandi, Reynand yang sedang tidur langsung bangun saat mendengar suara istrinya yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.
Reynand beranjak dari tempat tidur dan langsung menyusul istrinya yang ada di dalam kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa" tanya Reynand sambil memijit tengkuk leher istrinya.
"Aku tidak tahu honey, perutku rasanya neg sekali" sahut Reva yang sudah lemas.
Reynand membersihkan mulut istrinya, setelah itu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Lalu Reynand merebahkan tubuh Reva dia atas tempat tidur.
"Kita ke rumah sakit ya. Aku takut kamu kenapa-napa" pinta Reynand mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Ayo honey, siapa tahu aku hamil kan, kata mamah orang hamil itu suka muntah-muntah" sahut Reva begitu antusias, bahkan dia yang sebelumnya lemas langsung terlihat bugar.
Reynand menepuk keningnya, ada aja tingkah istrinya.
"Bisa saja kamu masuk angin sayang, orang masuk angin kan suka muntah-muntah" sahut Reynand, bukan maksud mengecilkan hati istrinya, namun Reynand hanya takut tidak sesuai ekspektasi istrinya saja.
"Kita coba saja honey, siapa tahu aku beneran hamil" kekeuh Reva penasaran.
"Kalau ternyata tidak hamil bagaimana?" tanya Reynand.
"Kalau tidak hamil kita bisa buat lagi honey, pokoknya kita jangan lelah untuk terus membuatnya" jawab Reva membuat Reynand gemes.
Reynand men ci um bibir istrinya dan me lu matnya dengan lembut.
Mereka berdua lumayan lama saling me lu mat satu sama lain hingga akhirnya mereka berdua melepas tautan bibirnya.
"Ganti baju dulu, setelah itu kita langsung ke rumah sakit" ucap Reynand sambil mengusap bibir basah istrinya.
"Gendong honey, aku masih lemas" pinta Reva dengan merentangkan kedua tangannya.
Reynand pun menuruti permintaan istrinya, dia menggendong istrinya di depan seperti koala dan membawanya keruang ganti.
"Kita ngga mandi dulu sayang" tanya Reynand yang lupa kalau dirinya dan juga istrinya belum mandi.
"Tidak usah honey, nanti lama kalau kita mandi dulu, kita pakai minyak wangi aja yang banyak" sahut Reva tidak mau mandi.
"Kamu ini ada-ada aja" ucap Reynnad sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai berpakaian, mereka berdua keluar dari kamarnya menuju ke lantai bawah.
"Kalian berdua mau kemana, kenapa sudah rapih begitu" tanya Renata yang melihat putra serta menantunya seperti akan pergi.
"Kita mau ke rumah sakit mom" sahut Reva.
"Memangnya siapa yang sakit" tanya Renata lagi.
"Hah? Kamu sakit sayang" ucap Renata panik sambil mengecek kening Reva.
"Yang sakit bukan sana mommy, tapi Reva mau periksa kehamilan, tadi Reva muntah-muntah siapa tahu Reva hamil, makanya Reva mau ke rumah sakit" ucap Reva.
Renata menganga dengan ucapan menantunya, bagaimana bisa menantunya itu begitu percaya diri kalau dirinya itu muntah karena hamil, bisa saja karena masuk angin atau sakit lambung.
Meskipun begitu dia berharap kalau ucapan menantunya itu benar.
"Kalau begitu mommy ikut, mommy juga ingin lihat kamu hamil atau tidak." ucap Renata.
"Cia juga ikut mom, Cia juga ingin melihatnya siapa tahu di perut kak Reva sudah ada ponakan Cia yang lucu-lucu" teriak Cia yang tak sengaja mendengar percakapan mereka.
Reva dan Reynand hanya bisa menghela nafas sabar, niatnya dia hanya ingin memastikan saja. Tapi kalau sudah begini dia jadi takut kalau tidak sesuai dengan harapan mertuanya.
"Mom Reva kan baru ingin memastikan beneran hamil atau tidak, lebih baik mommy di rumah aja Reva takut mommy kecewa dengan hasilnya" ucap Reva.
"Kalau belum hamil ya tidak apa-apa, kalian kan menikah juga belum lama, mommy aja dulu setahun baru hamil" sahut Renata tak terlalu mempermasalahkannya.
Reva mengangguk, dia bernafas lega ketika mendengar jawaban mertuanya.
Akhirnya mereka berempat pergi ke rumah sakit, Renata melupakan suaminya yang masih tidur di kamarnya.
Setibanya di rumah sakit mereka berempat langsung menuju ke ruangan dokter obgyn untuk memastikan Reva hamil atau tidak.
"Ada yang bisa saya bantu tuan, nyonya?" tanya dokter ketika melihat mereka masuk kedalam ruangannya.
"Saya ingin memastikan menantu saya hamil atau tidak, katanya tadi pagi dia muntah-muntah" sahut Renata membuat dokter itu tersenyum geli.
"Kapan terakhir kali anda haid" tanya dokter kepada Reva.
Reva tak langsung menjawab, dia mencoba mengingat ingat kapan dia terakhir kali haid.
"Sebulan yang lalu dok" bukan Reva yang menjawabnya tapi Reynand.
Tentu saja Reynand jauh lebih tahu dari Reva, pasalnya sudah sebulan ini dirinya tak pernah absen mengerjai tubuh istrinya.
"Kok kamu tahu honey" tanya Reva polos.
"Apa kamu tidak ingat kalau tiap malam kita selalu melakukan itu hmm" bisik Reynand di telinga Reva.
"Hihihihi....aku lupa honey" sahut Reva cekikikan, Renata menggelengkan kepalanya mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Ayo berbaring terlebih dahulu, saya akan memeriksanya" titah dokter.
Dengan di bantu Reynand, Reva membaringkan tubuhnya dia atas brankar yang ada di ruangan itu.
Dokter mulai memeriksa Reva, saat mengecek denyut nadi Reva tiba-tiba dokter tersenyum.
Bersambung
Jangan lupa like, komen, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏