
"Bocah tengik, kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu" ketus Arsen.
"Halusnya om Alsen telima kasih sama Ley, bukan malah usil Ley" ucap Reynand.
"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan, sampai menyuruh om berterima kasih" ucap Arsen mengerutkan dahinya.
"Kalena Ley sudah menjaga Leva ikut dengan onty yang tadi ke kantol polisi," jawab Rey jumawa.
Arsen melengoskan wajahnya, apa yang di ucapkan Reynand ada benarnya juga, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan putrinya, minimal ada Reynand yang bisa menemani putrinya. Ya...meskipun Arsen tidak bisa berharap terlalu banyak pada bocah tengik itu, memangnya apa yang bisa di lakukan bocah umur empat tahun.
"Yasudah sekarang kamu boleh pulang, kan Reva sudah di rumah...jadi kamu tidak usah menjaganya lagi" ucap Arsen masih berusaha mengusir Rey secara halus.
"Ngucapin telima kasih dulu, balu Ley mau pulang" ucap Rey santai sambil memainkan game nya.
Arsen mendengus kesal, Arsen yang memiliki gengsi yang begitu tinggi, tentu tidak akan mau mengucapkan terima kasih pada Reynand yang notabennya musuh bebuyutannya. Bisa turun harga dirinya.
"Ayo, kalian harus ganti baju dulu...setelah itu mama akan menyiapkan makan untuk kalian" lerai Alisya. Suaminya tidak akan mau mengalah dengan keponakannya itu.
"Siap mama" ucap Reva segera beranjak dari tempat duduknya.
"Onty Alisya" panggil Rey sambil turun dari sofa.
"Iya sayang?" tanya Alisya.
"Onty Alisya ada lencana mau ganti suami nda?, daddy Ley punya banyak teman yang tampan dan kaya, nanti Ley akan suluh Daddy buat ngenalin temannya sama onty Alisya kalau mau" ucap Rey, membuat nafas Arsen naik turun menahan emosi.
Alisya terbelalak mendengar tawaran dari Reynand, dirinya sedang hamil besar bisa-bisanya di suruh nyari suami baru.
"REYNAND PUTRA ADDISON, ngga ada otak nya kamu ya" teriak Arsen emosi, hidungnya juga ikut kembang kempis.
Reynand sudah lebih dulu menghilang dari pandangan Arsen, menyusul Reva naik ke lantai atas untuk mengganti pakaiannya.
Meskipun mereka masih kecil namun Alisya dan orang tua Rey sudah mengajarkan mereka untuk mandiri, kalau hanya untuk sekedar ganti baju saja mereka sudah bisa. Kalau untuk mandi terkadang Alisya masih membantunya, ia masih khawatir tidak bersih.
Sedangkan di bawah Arsen mencoba menetralkan emosinya. Sungguh kalau bukan keponakan pasti dia sudah menenggelamkan bocah itu ke dasar bumi.
"Ponakanmu sungguh ajaib, honey" ucap Alisya.
"Ajaib apaan, yang ada mah selalu membuatku jengkel" kesal Arsen.
"Kamu nya saja yang emosian, sepertinya kamu harus cek tensi darah mu honey, aku takut kalau kamu punya penyakit darah tinggi" saran Alisya semakin membuat Arsen kesal.
"Baby, kenapa kamu juga ikut membuatku kesal, hmmm" ucap Arsen sembil menguyel nguyel pipi chubby istrinya.
Alisya berusaha menjauhkan wajahnya dari suaminya.
Setelah lepas dari Arsen Alisya bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju ke ruang makan.
"Kamu duduk saja, baby, biar bibi saja yang menyiapkan makanan untuk kita. Aku ngeri melihat kamu mondar mandir dengan perut buncitmu itu" cegah Arsen sambil menahan tangan Alisya yang hendak melangkah pergi.
Alisya duduk kembali di sisi suaminya.
"Baby, kapan kita akan pergi berziarah ke makam orang tuamu? Sepertinya kamu sudah lama tak berziarah ke makam mereka" tanya Arsen yang juga ingin mengenal mendiang mertuanya, karena semenjak menikahi Alisya, istrinya itu belum pernah mengajaknya ke makam orang tuanya.
"Kata siapa aku tidak pernah kesana, bahkan setiap sebulan sekali aku berziarah ke makam mama dan papa" sahut Alisya.
"Lalu kenapa kamu tak pernah mengajakku baby" tanya Arsen mencebik.
"Karena kau sangat menyebalkan" jawab Alisya asal sambil menahan tawanya melihat wajah manyun suaminya.
Bukan Alisya tak mau mengajak Arsen, namun dia tidak tahu kalau ternyata suaminya juga ingin ke makam orang tuanya.
"Ck, alasan macam apa itu, kamu semenjak hamil malah tambah menyebalkan baby" ucap Arsen sambil memencet hidung istrinya.
"Tapi aku juga makin seksi bukan" goda Alisya sambil menaik turunkan alisnya.
......................
Lampu utama di mansion Arsen terlihat mulai redup dan berganti dengan lampu dinding.
Para pelayan sudah mulai kembali ke tempat istirahat mereka yang berada di belakang mansion, hanya tinggal satu kepala pelayan yang berada di mansion Arsen, karena untuk memudahkan Arsen jika sewaktu waktu membutuhkan pelayan, maka ada satu kepala pelayan yang akan selalu standbye jika di perlukan.
Alisya dan Arsen sudah berada di atas ranjang dengan posisi Arsen yang merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya.
Reva sudah terlelap di kamarnya, sedangkan Reynand sudah di jemput sopirnya pulang setelah makan malam tadi.
Arsen menyibak pakaian Alisya ke atas, sehingga memperlihat kan perut buncitnya. Arsen mengusap usap dan sesekali menciumi perut istrinya.
"Hai babies, kalian sedang ngapain di dalam sana" tanya Arsen.
"Aku sedang bermain bola papa" sahut Alisya seraya menirukan suara anak kecil.
Arsen terperangah ketika melihat perut istrinya berkedut, seolah calon anak-anaknya merespon dengan ucapan Arsen.
"Baby, perutmu berkedut" pekik Arsen tanpa menyingkirkan tangannya dari perut Alisya.
"Ssssttttt....." desis Alisya yang merasakan tendangan dari bayinya yang ada di dalam perutnya.
"Kamu kenapa baby" ucap Arsen panik.
"Mereka bergerak , honey,......sepertinya mereka sedang meresponmu honey" ujar Alisya tersenyum .
"Really" ucap Arsen tak percaya.
"Iya honey," Balas Alisya.
Arsen kembali mengelus perut Alisya seraya mengajaknya berbicara.
"Babies, kalian jangan nakal ya, jangan membuat mama kesakitan sayang, kalau kalian nakal appa akan menghukum kalian nanti." ucap Arsen
Mereka pun berhenti bergerak seola mereka takut dengan ancaman yang di lontarkan oleh papanya. Arsen begitu takjub dengan apa yang barusan di lihatnya.
"Baby, mereka sudah tidak bergerak lagi.... Mereka sangat pintar bukan" adunya bangga.
"Ya...mungkin mereka takut kamu hukum honey" ucap Alisya terkekeh.
Arsen juga ikut tertawa, dia sudah tidak sabar menyambut kelahiran calon anak-anaknya.
"Aku berharap di antara mereka ada princess nya baby. Aku tak bisa membayangkan jika semuanya laki-laki, Reagan aja selalu kewalahan dengan kenakalan Reynand, apa lagi ini tiga sekaligus, sepertinya rambutku akan cepat memutih baby" ucap Arsen.
"Apapun jenis kelaminnya kita harus tetap menyayanginya honey, bukankah kita tidak bisa memilih ingin" ujar Alisya.
"Tentu saja aku akan menyayanginya, baby, aku hanya berharap di beri princess satu untuk menemani Reva" kekeuh Arsen
Alisya menggelengkan kepalanya, bagi dia laki-laki sama wanita sama saja, buktinya Reva perempuan juga sering membuatnya jengkel, dan suka ngeyel kalai di kasih tahu.
Bersambung
Jangan luoa
Like
Koment
Vote
Gift
Happy reading guys🙏