
"Kamu mau kemana kak? tumben masih pagi gini sudah rapih" tanya Alisya heran melihat putri sulungnya sudah duduk di ruang makan dengan pakaian rapihnya, biasanya kalau libur gini putrinya malas mandi.
"Reva mau pergi sama om Max ma" jawab Reva sambil menyuapkan roti kedalam mulutnya.
"Mau ngapain?" tanya Alisya lagi.
"Mau bermain ke taman hiburan" jawab Reva boring.
Arsen menuruni tangga dengan menggendong putrinya yang baru selesai ia mandikan.
Lalu Arsen mendudukan Rachel di baby chair.
"Ngapain ke taman hiburan sama om Max, sama papa saja mau tidak? " tawar Arsen tanpa curiga sedikitpun.
"Tidak mau, lebih seru sama om Max dan om Nino ketimbang sama papa, kalau sama papa pasti banyak aturan, nda boleh naik ini, nda boleh naik itu" ujar Reva.
"Sayang om Nino sudah mau menikah, jadi Reva tidak bisa ajak om Nino main" keluhnya.
Bukan banyak aturan, Arsen hanya tak ingin terjadi sesuatu kepada putrinya, apa lagi kalau kulitnya sampai lecet, dan meninggalkan bekas luka.
"Bukan begitu kak, kamu kan anak perempuan, ya kali nanti kakinya burik banyak bekas luka." Arsen posesif.
"Kan papa banyak uang, jadi papa bisa bawa Reva ke dokter" sahut Reva
Arsen menggaruk kepalanya yang tak gatal, yang di ucapkan putrinya ada benarnya juga, kan dia bisa datangkan dokter kulit terbaik untuk menghilangkan bekas lukanya.
"Selamat pagi tuan, nyonya" sapa Max yang baru saja tiba di mansion Arsen.
"Pagi Max, sini gabung...Sarapan dulu" aahut Alisya menawarkan Max untuk sarapan bersama.
"Terima kasih nyonya, tapi saya tadi sudah sarapan di Apartement" tolak Max halus.
"Yasudah, kamu bisa tunggu Reva di ruang tamu, nanti ada bibi yang akan membawakanmu kopi" ucap Alisya.
"Terima kasih nyonya" ucap Max setelah itu pergi meninggalkan ruang makan lalu menuju ke ruang tamu.
Tak lama acara sarapan mereka selesai, Reva pamit sama kedua orang tuanya dan juga adiknya.
"Ma, Reva pergi dulu ya sama om Max " pamit Rva sambil mencium punggung tangan Alisya.
"Hati-hati dan nurut apa kata om Max, jangan menyusahkannya" peringatnya sambil mencium kening putrinya. Reva mengangguk patuh.
Setelah itu giliran dia pamit sama papanya.
"Kamu ngga mau pergi sama papa saja girl? " tanya Arsen yang belum rela putrinya pergi bersama Max.
"Tidak, Reva mau sama om Max saja" kekeuh Reva sambil mencium punggung tangan papanya.
Arsen menghela nafas panjang, putrinya makin hari makin besar, dan sudah bisa menolak ajakannya.
Dia lebih suka pergi sama Reynand, dan para bodyguardnya.
"Dadahhh... kak Reva pergi dulu" pamit Reva sambil melambaikan tangannya kepada ketiga adiknya.
"Itut ata' itut" teriak Rachel sambil berontak dari kursinya, ketika melihat kakanya mulai menjauh darinya.
Reva tak menghiraukan teriakan adiknya, dia melanjutkan langkahnya ke ruang tamu menemui Max.
"Nanti Rachel pergi sama mama ya, kakaknya mau main dulu sama om Max" Ucap Alisya seraya mengangkat tubuh putrinya dari tempat duduknya, ia mencoba menenangkan putrinya.
"No, itut ata' hiks...hiks" tolak Rachel sambil mencodongkan badannya ke depan seolah meminta mamanya untuk menyusul kakaknya.
"Cup.. cup. cup... pergi sama papa ya, sama abang juga liat burung di kebun binatang" ucap Arsen lembut sambil mengambil putrinya yang menangis dari gendongan istrinya.
"Bersiap-siaplah mam, kita akan membawa mereka pergi jalan-jalan" titah Arsen kepada istrinya, kebetulan dia juga sudah lama tidak mengajak istrinya keluar jalan-jalan.
"Tunggu sebentar pa, mama ganti baju dulu" ucap Alisya langsung bergegaa pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Ia juga tidak tega melihat putrinya yang terus menangis ingin ikut kakanya.
"Ayo om" ajak Reva ketika sudah berada di dekat Max.
"Sepertinya non Rachel nangis ingin ikut" ucap Max.
"Biarin saja, kan ada papa sama mama yang menenangkannya" sahut Reva.
Mereka berdua pun keluar dari rumah. dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
Max mulai menginjak pedal gasnya, mobil pun mulai melaju meninggalkan mansion megah milik Arsen.
"Kalau capek non Reva bisa tidur dulu, nanti om Max bangunkan kalau sudah tiba di lokasi" Saran Max.
"Baik non Reva" ucap Max masih kagok.
"Maaf Reva, Om Max belum biasa" ralat Max.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya Reva memutuskan untuk tidur. dia bosan karena sejak tadi tak kunjung tiba di lokasi.
Max menyetir mobil sambil mendengarkan musik yang ada di mobilnya, untuk mengusir kebosanannya.
Citttttt......
Tiba-tiba Max mendadak mengerem mobilnya. membuat Reva terbangun karena kejedot.
"Aduhhh... om Max bisa nyetir ngga sih" gerutu Reva sambil mengusap keningnya.
"Maaf sayang, tadi ada orang yang tiba-tiba berdiri di tengah jalan mencegat mobil kita" jelas Max.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba kaca jendela Max di ketuk oleh seorang perempuan dengan penampilannya yang berantakan.
"Buka om kaca jendelanya, sepertinya onty itu butuh pertolongan" perintah Reva.
"Kita tidak boleh percaya begitu saja dengan orang baru, apa lagi di hutan seperti ini, biaa saja mereka perampok" ucap Max waspada sambil melihat ke arah spionnya.
Tok
Tok
Tok
"Tolong saya tuan" ucap gadis asing tersebut.
"Itu kasihan onty nya om, coba om Max lihat dulu" ucap Reva tak tega melihat tatapan memohon dari gadis asing itu.
"Baiklah, om Max akan turun... kamu jangan keluar dari mobil" ucap Max sambil menyiapkan senjatanya yang selalu ia bawa di bawah jok kemudinya.
"Om Max bawa pistol" kaget Reva.
"Tenang sayang, Om Max membawa pistol hanya untuk berjaga jaga saja, seperti sekarang ini" ujar Max.
Setelah itu ia membuka pintu mobilnya, lalu keluar dari dalam mobil.
"Tolong saya tuan, saya tidak ingin di jual oleh orang itu" pinta gadis asing itu dengan penuh harap, sambil sesekali melihat ke belakang.
Dia membulatkan matanya, ketika melihat tiga orang laki-laki berpakaian hitam dan bertubuh tegap yang tadi sempat menyekapnya.
"Itu tuan, mereka datang" ucap gadis itu seraya menunjuk ke belakang dengan badan gemetar sambil memegang tangan Max.
Max menoleh ke arah yang di tujukan oleh gadis tersebut.
"Saya mohon tuan, tolong selamatkan saya sebelum mereka menangkap saya kembali" ucapnya memohon.
Max yang sudah lama berkecimpung di dunia hitam pun, tentu sudah sangat hafal berbagai trik yang banyak di lakukan oleh para penjahat, jadi dia tidak akan percaya begitu saja. Apa lagi dengan orang asing.
Banyak perampok menggunakan perempuan untuk mengelabuhi korbannya.
Max menelisik kedua mata gadis asing itu, ia mencari kebohongan dari tatapan matanya, tapi yang ia lihat justru rasa takut dan kesedihan yang terpancar dari bola matanya.
"Jangan kabur kamu bit*h" teriak salah satu orang itu.
"Cepat masuk kedalam mobil" perintah Max.
Gadis itu langsung saja membuka pintu mobil Max lalu masuk ke dalam. ia duduk di kursi penumpang belakang kemudi.
Max bergegas masuk kedalam mobil, langsung saja ia menginjak gas nya pergi meninghalkan mereka.
Bukan Max takut untuk menghadapi mereka, akan tetapi dia tak mau mengambil resiko karena di dalam mobil ada Reva.
Kalau dia sendiri sudah pasti dia akan menghadapinya.
Bersambung
Happy Reading guys🙏
Jangan lupa like, koment vote.💕