Baby Girl

Baby Girl
BAB 131



Suara kicauan burung membangunkan wanita cantik, ibu dari empat anak itu perlahan mulai membuka matanya. Alisya bangun dari berbaringnya lalu duduk sambil bersandar di headboard ranjang seraya mengumpulkan nayawanya.


Alisya menoleh ke samping melihat suaminya masih terlelap bersama putri sulungnya. Kedua orang antara anak dan ayah itu tidur dengan saling memeluk. Semalam Reva merengek ingin tidur bersama orang tuanya dan juga adik-adiknya.


Alisya bangkit untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu agar terasa lebih segar.


Keluar dari kamar mandi Alisya masih mendapati suami dan anak-anaknya tertidur, suaminya itu enggan bangun, mungkin karena semalam ikut begadang menenangkan kembar.


Alisya di bantu oleh Bibi membawa triplet berjemur di halaman belakang.


Sementara di kamar Arsen terbangun, dia melihat kesamping sang istri sudah tidak ada bersama ketiga bayinya. ia tersenyum melihat Reva tidur sambil memeluk tubuhnya dengan mulut yang menganga.


"Sayang, bangun" panggil Arsen sambil menepuk pelan pipi Reva.


"Lima menit lagi pa, Leva masih ngantuk ini" gumam Reva sambil merubah posisinya membelakangi Arsen.


"Tidak, kamu harus sekolah" larang Arsen seraya bangun dari baringnya lalu mengangkat tubuh putrinya kedalam gendongan dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Arsen memandikan putrinya mandi terlebih dahulu, Reva di mandikan dengan mata terpejam, ia tidak terusik sama sekali membuat Arsen berdecak kesal.


"Bangun sayang, sudah siang ini...nanti kamu telat" Arsen membangunkan Reva lagi. Kali ini Reva bangun dengan bibir yang mengerucut.


"Masih pagi tidak boleh cemberut seperti itu, mau kamu nanti rejekinya di patok ayam" ucap Arsen asal.


"Ayam siapa? Leva kan nda puna ayam" sergah Reva.


"Ayam tetangga lah," sahut Arsen.


"Iya aja deh, Leva masih ngantuk jadi nda mau beldebat sama papa" ucap Reva.


Setelah selesai Arsen membungkus tubuh putrinya dengan menggunakan handuk, lalu menggendongnya.... Arsen memakaikan seragam sekolah Reva dan menyisiri rambutnya. Usai selesai semua Arsen mmeinta putrinya keluar terlebih dahulu.


"Reva keluar dulu ya sayang, papa mau mandi dulu" titah Arsen, Reva mengangguk tanda mengerti.


Tak lama setelah Reva keluar dari kamar, Alisya masuk ke kamarnya ingin mengecek suaminya. Alisya mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, mungkin suaminya sedang mandi, pikir Alisya.


Alisya ke walk in closet mengambil pakaian kerja untuk suaminya dan menaruhnya di atas ranjang. Sebisa mungkin Alisya membagi waktunya untuk memperhatikan suaminya.


Arsen keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang di lilit di pinggangnya. Sehingga memperlihatkan tubuh seksinya.Arsen melihat istrinya sedang menyiapkan baju ganti untuknya dengan posisi membelakangi dirinya.


Arsen memeluk tubuh istrinya yang sedang berdiri membelakanginya.


"Akhhh...honey" pekik Alisya kaget.


"Kamu sedang apa hmm" tanya Arsen.


"Sedang menyiapkan pakaian untukmu, honey" jawab Alisya lalu membalikan tubuhnya menghadap suaminya.


"Morning kiss, baby" pinta Arsen sambil memanyunkan bibirnya minta di cium.


Alisya tersenyum lalu memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir suaminya sambil mengalungkan ke dua tangannya ke leher kokoh suaminya.


Arsen ******* bi bir istrinya lembut, mereka larut dalam ciuman, Alisya menikmati lidah suaminya yang mengobrak ngabrik di dalam mulutnya. Ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi panas dan menuntun, tangan Arsen sudah bertengger di dada Alisya.


Arsen menggiring istrinya ke atas ranjang, ciuman Arsen turun berpindah ke leher jenjang Alisya.


"Eughhh.... Sayang" lenguh Alisya.


"Hmm.." gumam Arsen tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Sayang..." panggil Alisya lagi, namun Arsen tak menghiraukan panggilan istrinya.


"Honey...kamu harus puasa dulu selama 40hari" teriak Alisya kesal, sambil mendorong dada suaminya.


Arsen menghentikan aktivitasnya dengan nafas yang masih memburu, hasratnya sudah di ubun-ubun dan istrinya menyuruhnya berhenti.


"Baby, yang benar saja, bahkan dia sudah berdiri tegak" ucap Arsen frustasi sambil menunjuk adik kecilnya.


"Memang begitu, kamu puasa dulu selama 40hari" tekan Alisya.


"Akhhhh....terus bagaimana dengan dia, baby" ucap Arsen sambil meremas rambutnya frustasi.


"Stock sabun di kamar mandi masih banyak, Honey, sementara kamu bisa menggunakannya dulu sesukamu" teriak Alisya sambil keluar menutup pintu kamarnya.


"Huft, awas aja jika aku sudah bisa menyentuhmu, aku tidak akan melepaskanmu baby" gerutu Arsen seraya berjalan memasuki kamar mandi, terpaksa dia harus bersolo karir.


...****************...


Seperti biasa setelah mengantarkan Reva ke sekilah Arsen langsung berangkat ke kantornya.


"Selamat pagi tuan" sapa Nino ketika melihat kedatangan bosnya.


"Hmmm..." gumam Arsen dengan wajah datar tanpa ekspresi memasuki ruangannya.


"Tumben, kenapa wajah begitu ya, seperti tidak mendapat jatah dari nyonya Alisya saja" batin Nino.


Nino mengikuti tuannya masuk kedalam ruangannya, setelah itu dia membacakan jadwal hari ini.


"Mana sekretaris barumu Nino" tanya Arsen setelah Nino membacakan jadwalnya.


"Sebentar saya panggilkan dulu tuan" ucap Nino.


Usai itu dia keluar dari ruangan Nino dan menghampiri sekretaris barunya yang ada di ruangannya.


"Nessa, kamu ikut saya sebentar, tuan Arsen berkenalan denganmu" ucap Nino menghentikan Nessa yang sedang bekerja.


"Baik pak Nino" ucap Nessa tersenyum ramah.


"Akhirnya moment yang aku tunghu datang juga, aku harus berdandan secantik mungkin untuk bertemu dengan tuan Arsen" ucap Nessa dalam hati.


Nino masuk ke ruangan Arsen dengan di ijuti Nessa di belakangnya dengan pakaian supermini, Nessa memakai stelan Blazer dan rok mini di atas lutut, sehingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih dan mulus itu.


"Perkenalkan dirimu" titah Arsen tanpa melihat ke arah Nessa.


Nessa memperkenalkan dirinya dengan suara di buat semanja mungkin untuk menggoda Arsen, namun sayang Arsen tidak tergoda sama sekali, bahkan untuk melihatnya pun enggan.


"Cukup, kamu bisa keluar" titah Arsen dengan nada dingin.


"Apa kamu yakin kalau sekretaris baru itu bisa bekerja No" tanya Arsen ragu.


"Saya yakin tuan, bahkan dia cepat menangkap apa yang saya ajarkan" jawab Nino. Arsen mengangguk.


"Kamu tolong nanti jemput Reva sama Reynand di sekolah ya, setelah itu kamu bawa mereka kesini" perintah Arsen.


"Baik tuan" ucap Nino patuh. Setelah itu keluar dari ruangan Arsen.


Sedangkan di ruangan Nessa, ia sedang mengumpat kesal.


"Shittt... Dia ternyata begitu tamoan dan mempesona, taoi sayang tak sedikitpun dia melirik ke arahku" umpat Nessa. "Sepertinya aku harus mencari cara lain untuk mendekatinya" imbuhnya.


Nessa kesal dengan Arsen, karena usahanya sama sekali tidak di lirik Arsen, padahal dia sudah berdandan secantik mungkin, bahkan dia juga sudah memakai baju seksi untuk menggoda Arsen, akan tetapi Arsen tak melihat ke arahnya, bahkan melirik pun saja tidak. Setelah menikah dengan Alisya, Arsen sama sekali tak tertarik dengan wanita lain, di hati Arsen hanya ada satu nama yaitu Alisya.


...****************...


Tak lama Nessa masuk kedalam ruangan Arsen tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sambil membawa kopi yang tadi Arsen pesan pada OB.


"Kenapa kamu yang membawa" tanya Arsen tak suka ketika melihat Nessa yang dengan lancang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu sambil membawa kopi pesanannya, padahal tadi menyuruh OB yang membuatnya bukan Nessa.


"Maaf tuan, tadi kebetulan saya ada di pantry makanya saya sekalian membawakan kopi pesanan anda." terang Nessa beralasan.


Nessa melangkahkan kakinya mendekati meja kerja Arsen. Namun naas kaki Nessa tersandung. Lebih tepatnya sengaja tersandung


Byurr....


Kopi yang Nessa bawa tumpah di atas meja kerja Arsen.


"Shittt" umpat Arsen karena celananya terkena tumpahan kopi yang menetes dari atas mejanya.


"Maaf tuan" ucap Nessa sambil mengambil tissu mengelap celana basah Arsen sambil sedikit menunduk memperlihatkan belahan dadanya.


Brakkkk


Arsen dan Nessa terlonjak kaget karena mendengar pintu yang di buka keras dari luar.


"Ohh...jadi seperti ini kelakuan om Arsen kalau sedang berada di kantor" ucap Reynand masuk bersama Reva seraya berkacak pinggang.


Arsen gelagapan langsung saja mendorong tubuh Nessa menjauhinya.


"Maaf tuan, tadi kaki saya tersandung" ucap Nessa.


"Keluar kamu dari ruangan saya" tegas Arsen.


Nessa menelan salivanya melihat wajah dingin Arsen, dia memilih keluar dari ruangan Arsen, tidak lucu kalau sampai dirinya di pecat, bahkan dia belum genap sehari bekerja di kantor Arsen.


"Dasar bocah kecil penganggu" umpat Nessa ketika melewati Reynand dan Reva.


Reynand menatap tajam Nessa.


"Sayang, kalian sudah datang rupanya" sapa Arsen menutupi kegugupannya.


"Papa mau cali istli balu ya? Nanti Leva bilangin sama mama ya" omel Reva.


"Tidak sayang, tadi sekretaris baru om Nino" jawab Arsen jujur.


"Sekletalis balu om Nino apa sekletalis balu papa? Telus kenapa onty badut itu ada di luangan papa,?" cecar Reva.


"Sungguh sayang, itu sekretaris om Nino, tadi tantenya kesandung" ucap Arsen mencoba menjelaskan kepada putrinya.


"Jangan Percaya Rev, pasti itu hanya alasan saja, ternyata di kantor ini ada pelakor juga" kompor Reynand.


"Pelakol apa Ley? Leva nda ngelti" tanya Reva polos.


"Pelakor itu yang suka rebut papa orang" jawab Reynand.


"Jadi Onty badut tadi mau ambil papa Leva ya" tanya Reva.


"Mungkin, Rey juga tidak tahu" jawab Reynand sambil mengendikan bahunya.


"Ini tida bisa di bialkan, awas saja kalau onty badut itu ambil papana Leva" gerutu Reva yang masih di dengar Arsen.


"Bisa panjang nih urusan, jangan sampai kedua bocah ini mengadu kepada Alisya tentang kesalahpahaman ini" batin Arsen.


Arsen memilih mengajak kedua perusuh itu pulang, dia juga sudah tidak mood untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ayo, kita pulang" ajak Arsen.


"Kenapa pulang?, kan kita balu sampai" protes Reva.


"Celana papa basah sayang" balas Arsen.


Akhirnya Arsen membawa keduanya pulang ke rumah, tiba di rumah kedua bocah itu langsung mencari Alisya.


"Mama" panggil Reva.


"Iya sayang" tanya Alisya yang sedang duduk di karpet bulu sambil menjaga ketiga bayinya yang sedang berbaring.


"Tadi kata Ley di kantol papa ada pelakol yang ingin ambil papa" adunya.


"Hah? Maksudnya gimana?" tanya Alisya tak paham.


"Itu tante, tadi di kantor om Arsen ada sekretaris baru yang wajahnya seperti badut yang suka dekat-dekat dengan om Arsen" adu Reynand memprovokasi Alisya.


Alisya baru mengerti apa yang di maksud keduanya.


"Benar begitu honey" tanya Alisya sambil menatap tajam ke arah Arsen.


Arsen menelan salivanya kasar, melihat tatapan tak biasa istri cantiknya itu.


Bersambung.


Happy reading guys🙏