Baby Girl

Baby Girl
S2~58



"Tapi itu di depan ada orang dari showroom yang sedang mengantar mobil pa, bahkan ada tiga mobil yang di antarnya.


Arsen langsung shock mendengar ucapan putrinya. Beruntung dia tidak terkena serangan jantung.


Ia langsung beranjak dari tempat duduknya begitu juga dengan Alisya, ia juga sudah geram tingkah kedua anaknya itu.


Mereka bertiga berbondong-bondong menuju kedepan rumah, Ravin sama Revan melihat orang tuanya pada keluar rumah pun akhirnya mereka berdua ikut juga.


Mereka tiba di depan rumah bertepatan dengan mobil Reynand yang juga masuk ke pelataran rumah Arsen.


"Itu mobil mereka pah" ucap Alisya ketika melihat mobil calon menantunya masuk ke pelataran rumahnya.


"Ck, biang rusuhnya akhirnya pulang juga" decak Arsen.


Pihak showroom menyerahkan kunci dan surat-surat lainnya kepada Arsen, Arsen dengan terpaksa menerika serah terima tersebut.


"Terima kasih tuan Arsen, kalau begitu kami pamit undur diri" Orang showroom pamit pergi meninggalkan kediaman Arsen.


"Hmmm...." gumam Arsen dengan perasaan dongkol melihat ketiga mobil yang berjejer di depan rumahnya.


Hampir saja Arsen dan istrinya bertengkar gara-gara mobil yang ada di hadapannya ini.


"Wuihhhh...lame-lame pasti lagi pada mau lihat mobilna ya" ucap Gavin mencairkan ketengangan.


"Kamu yang beli mobil ini Gav" tanya Rachel.


"Iya, kak Lachel suka ngga? Kalau suka buat kak Lachel satu" sahut Gavin.


Dengan santainya Gavin membagi bagi mobilnya tanpa melihat wajah horor kedua orang tuanya.


"Telus yang dua buat mama satu, buat kak Levan satu, kak Lavin nda usah soalna suka culi ayam Gavin"


"Hai bocah, suka sekali playing victim kamu ya, yang suka curi ayam itu kamu bukan kaka Ravin" seru Ravim tidak terima.


"Suka-suka Gavin, kan yang beli mobil Gavin, wleee...".


Arsen jengah melihat putranya yang sudah salah tapi masih bisa santai dan malah berdebat dengan kakaknya tanpa menyapanya terlebih dahulu.


"DIAM! Kalian bertiga masuk kedalam cepat" tegas Arsen menghentikan pedebatan mereka dan menyuruh triplet untuk masuk kedalam rumah terlebih dahulu.


"Dan kamu Rey, pulang sekarang atau om akan membatalkan pernikahan kalian" lanjutnya kepada Reynand.


Triplet yang melihat wajah dingin papanya pun akhirnya masuk kedalam rumah tanpa berani membantah.


Reynand pun melakukan hal yang sama, dia tak mau Arsen membatalkan pernikahannya dengan Reva, namun Reva menahannya untuk pergi sepertinya calon istrinya itu takut dengan Arsen.


"Aku pulang dulu sayang, nanti kalau ada apa-apa hubungi aku. Aku tak mau om Arsen membatalkan pernikahan kita" ucap Reynand lembut kepada calon istrinya.


"Tapi honey" ucap Reva dengan tatapan memohon.


"Percayalah, semua akan baik-baik saja" ucap Reynand sambil mengusap pipi Reva.


Reva pun dengan berat hati akhirnya membiarkan Reynand pergi dari rumahnya, Reynand juga tak lupa menurunkan belanjaan Reva dan Gavin dari mobilnya.


"Sini kalian berdua" titah Arsen.


Reva dan Gavin perlahan jalan mendekati orang tuanya sambil menundukkan wajahnya.


"Kembalikan kartu papa Gavin" tegas Arsen meminta kartunya kembali.


Gavin pun mengeluarkan kartunya dari dalam sakunya dan memberikannya kepada sang papa.


"Gavin, kenapa kamu berani mengambil kartu papa tanpa sepengetahuan papa, mengambil tanpa sepengetahuan pemiliknya itu sama saja mencuri, dan papa sama mama selama ini tidak pernah mengajarkan anak-anak papa untuk menjadi pencuri" ucap Arsen.


Ucapan Arsen membuat Gavin menegakkan kepalanya, ia tak terima di tuduh sebagai pencuri.


"Siapa yang nyuli, Gavin kan sudah bilang sama papa kalau Gavin ambil kaltu papa, papa juga sudah mengangguk belati kan papa mempelbolehkan Gavin bawa kaltu itu." ucap Gavin membela diri.


Arsen menghela nafas panjang, dirinya memang ikut andil dalam permasalahan ini, dia terlalu fokus sama pekerjaan jadi tidak melihat apa yang di ambil oleh anaknya dan dia hanya mengiyakan saja.


Tapi menurut Arsen putranya tetap salah.


"Lalu kenapa kamu beli mobil sebanyak itu tanpa meminta persetujuan dari papa terlebih dahulu, 3,7 milliar bukan nominal yang sedikit Gav, apalagi di rumah sudah banyak mobil" kata Arsen.


"Dan kamu kak, kenapa kamu sebagai kakak tidak mencegah adiknya membeli mobil-mobil itu, kamu malah bersekutu dengannya" imbuhnya.


"Papa kalau masalah mobil papa tanya saja sama Gavin, dia membeli mobil cuma untuk membela Reva. Kalau untuk belanjaan yang lain memang Reva yang mengajak Gavin untuk shopping" sahut Reva.


"Mobil Gavin beli kalna belain kak Leva, papa kalau di sana pasti juga akan sepelti Gavin, memangna papa tidak malah kalau anakna di bilang matle cuma bisa polotin uangna kak Ley, telus kak Leva di bilang janda anak satu sama aunty pelakol. Gavin kan adikna kak Leva jadi Gavin belain kak Leva". timpal Gavin memberikan pembelaan.


Ucapan Gavin membuat Arsen bungkam, sedikit bayaknya sifat Gavin pasti akan nurun darinya, Arsen juga paling tidak suka kalau ada orang yang meremehkan keluarganya terlebih putra putrinya. Pasti dia kan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan putranya.


Alisya sejak tadi hanya diam melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengamati permasalahnnya, dia harus melihat dari kedua sisi terlebih dahulu.


"Gavin tetap salah sayang, tidak perlu meladeni orang yang tidak suka sama kita, biarin saja mereka mau bicara apa, yang tahu tentang kita adalah orang terdekat kita sendiri, jadi lain kali Gavin harus bisa menahan emosi Gavin" ucap Alisya pelan supaya putranya tahu.


"Tapi kan halga dili mama, Gavin nda suka aunty pelakol katai-katai kak Leva di depan olang banak" Gavin tidak setuju dengan ucapan mamanya.


"Lalu apa dengan membeli ketiga mobil itu Gavin sudah terlihat hebat hmm? Bukankah itu malah akan merugikan kita karena membeli sesuatu yang tak ada manfaatnya sama sekali, karena di rumah sudah banyak mobil lalu untuk apa membeli mobil lagi."


"Di jual lagi aja, kan ntal dapat uang lagi"


Dahlah Alisya pusing dengan putranya yang selalu punya jawaban atas ucapannya.


Putranya tak jauh beda dengan suaminya yang kalau di senggol dikit langsung berreaksi.


"Kalian tidak boleh masuk rumah sebelum kalian berdua merenungi kesalahan kalian" tegas Alisya.


"Dan kamu papah, kalau mau belain mereka, kamu harus siap-siap satu bulan penuh tidur di luar" lanjut Alisya memberi ancaman kepada suaminya, suaminya akan gampang luluh dengan anak-anaknya.


Arsen tidak bisa apa-apa kalau sang pawang sudah mengeluarkan kata-kata keramatnya.


"Maaf, papa tidak bisa bantu kalian" ucap Arsen kepada anaknya.


"Dasal suami-suami takut istli, di ancam begitu saja takut" ledek Gavin.


"Nanti kalau sudah besar pasti kamu akan tahu boy" ucap Arsen.


Menyusul istrinya masuk kedalam rumah.


"Hufff....kita ngapain sekalang kak" tanya Gavin sambil mendudukan tubuhnya di teras rumah bersama Reva.


Reva clingak clinguk melihat mobil-mobilan milik adiknya yang ada di halaman rumahnya.



"Ayo kita main mobil-mobilan kamu aja Gav" ajak Reva sambil menunjuk mainan Gavin.


Gavin pun mengangguk setuju, ia begitu antusias mengambil mainan mobil-mobilannya begitu juga dengan Reva.


Mereka berdua main kejar-kejaran di halaman rumah.


"Ayo kejar kak Reva Gav" teriak Reva sambil mendorong mobil-mobilannya.


"Tunggu Gavin kak Leva" sahut Gavin mengejar kakaknya.


Mereka berdua terlihat bahagia tanpa ada beban sedikit pun.


Di dalam rumah Alisya begitu penasaran apa yang di lakukan kedua anaknya itu.


"Tumben mereka diam pah tidak merengek minta masuk" ucap Alisya yang sudah setengah jam tidak mendengar rengekan putra putrinya.


"Tidak tahu sayang, ayo kita lihat ke depan" ajak Arsen sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Papa mau kemana" tanya Rachel.


"Mau kedepan lihat kakak kamu sama Gavin" sahut Arsen.


"Kita ikut pah" triplet kompak ingin ikut sang papa kedepan.


Mereka juga belum puas melihat mobil yang baru di beli oleh Gavin.


Mereka berlima mengintip Reva dan Gavin dari celah pintu yang ia buka sedikit.


"Yaampun papa, bukannya merenung mereka berdua malah tertawa lepas seperti itu".


"Percuma kamu hukum mereka berdua mah, itu tidak akan bisa membuat mereka jera" sahut Arsen sambil melihat anaknya yang main kejar-kejaran.


Tiba-tiba mobil yang dinaikin Reva nyungsruk ke semak-semak tanaman yang ada di halaman rumahnya.


Hampir saja Arsen tersedak air ludahnya sendiri melihat putrinya yang terjungkal.


"Huwaaa......papa tolong" teriak Reva meminta tolong.


Revan, Ravin dan Rachel keluar rumah melihat kakaknya nyungsruk.


Hahahahahhahah


Hahahahahahahha


Mereka semua menertawakan Reva.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏