
Malam hari Cherry nangis terus tidak mau diam, hal itu membuat Reva dan Reynand bingung, Reva hampir saja menangis karena sejak tadi anaknya tidak mau berhenti menangis.
"Gimana ini honey, apa kita bawa ke dokter aja ya, aku takut terjadi apa-apa denagnnya, dari tadi sudah aku susuin tapi dia tidak mau berhenti" ucap Reva dengan mata berkaca-kaca.
"Sini biar aku yang gendong, siapa tahu dia mau berhenti" ucap Reynand mengambil alih putrinya.
Reynand menimang nimang putrinya tapi bayi mungil itu masih saja tak mau diam.
Dari luar Alisya mendengar cucunya yang terus menangis akhirnya dia mengetuk pintu kamar putrinya.
Tok
Tok
Tok
"Sayang, Cherry kenapa" teriak Alisya di depan kamar Reva.
Ceklek....
Pintu di buka oleh Reva.
"Tidak tahu mam, dari tadi dia tidak mau berhenti" ucap Reva.
"Kamu sudah coba susuin" tanya Alisya.
"Sudah, tapi dia masih saja menangis" jawab Reva.
"Apa ASI mu lancar" tanya Alisya, biasanya bayi akan menangis kalau merasa lapar dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman, rasa tidak nyamana bisa saja dari popok yang sudah penuh atau merasa kedinginan.
"Lancar mam" jawab Reva.
Alisya akhirnya mengambil Cherry dari gendongan menantunya dan mengecek popoknya, ternyata tidak ada masalah dengan popoknya, Alisya menepuk pelan perut Cherry, namun ternyata bayi itu tidak mengalami kembung, Akhrinya Alisya mengambil kain dia berinisiatif membedong cucunya.
"Anak Reva mau di apain mam, kenapa di bungkus kain udah kek kepompong aja" tanya Reva yang melihat mamahnya sedang membedong putrinya.
"Ini tuh namanya di bedong Rev, kamu ini harus banyak belajar lagi mengurus anak" sahut Alisya.
"Iya-iya mah, Reva kan belum tahu" sahut Reva mengerucutkan bibirnya.
Setelah selesai di bedong tak lama Cherry berhenti menangis, sepertinya bayi itu merasa kedinginan.
"Dia hanya kedinginan, lebih baik kamu atur lagi suhu AC nya" ucap Alisa sambil merebahkan cucunya dia atas ranjang.
"Iya makasih mam" sahut Reva.
"Mamah keluar dulu" ucap Alisya.
Reynand dan Reva mengangguk, setelah ibu mertuanya keluar Reynand menutup pintu kamarnya kembali.
"Kenapa dia tidak bilang kalau kedinginan, honey, coba kalau bilang pasti aku tidak akan sepanik tadi" ucap Reva sambil menatap wajah sembab putrinya.
"Kamu ini aneh sekali, mana bisa dia ngomong. Dia cuma bisa menangis kita saja yang belum bisa memahaminya" ucap Reynand mencium puncak kepala istrinya.
"Iya, sepertinya kita harus belajar bahasa bayi" ucap Reva terkekeh.
"Tidurlah, mumpung Cherry sudaj tidur nanti malam pasti dia bangun lagi minta ganti popok" ucap Reynand.
"Peluk honey" pinta Reva manja.
Dengan senang hati Reynand merentangkan tangannya setelah itu memeluk istrinya. ia mengusap usap kepala istrinya supaya cepat tidur. Reynand merasa kasihan dengan istrinya karena akhir-akhir ini istrinya kurang tidur.
Reva harus bangun tengah malam untuk menyusui putrinya dan sesekali mengganti popoknya.
Terkadang kalau untuk sekedar mengganti popok,Reynand lakukan sendiri tanpa membangunkan istrinya, kalau putrinya haus baru Reynand akan membangunkan Reva.
Tak lama terdengar dengkuran halus dari istrinya, Reynand merebahkan kepala istrinya di atas bantal. Dan dia mengangkat putrinya dan menaruhnya di dalam box bayi.
"Tidur yang nyenyak princess nya daddy" ucap Reynand sambil menepuk nepuk pelan tubuh putrinya.
Setelah melihat putrinya nyenyak, Reynand naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri, dia membawa Reva kedalam pelukannya.
🌹🌹🌹
Dari kejauhan Brian melihat Listy sedang jalan-jalan di taman sambil mendorong kereta bayi.
Brian berjalan dan melangkahkan kakinya menghampiri Listy.
"Apa itu anakmu" tanya Brian saat jarak nya sudah dekat dengan Listy.
"Iya dia putraku" jawab Listy jujur.
"Apa itu putramu dengan daddy ku" tanya Brian lagi.
"Bukan, ini hanya putraku karena daddy mu tidak mau mengakuinya" jawaban Listy membuat Brian mengeryitkan dahinya.
"Maksudnya" tanya Brian.
Listy menghela nafas panjang dan mendudukan tubuhnya di kursi yang ada di taman.
Mata Listy menatap lurus kedepan.
"Semenjak perselingkuhan kita terbongkar olehmu dan membuatmu pergi dari rumah itu daddy mu terus menyalahka ku, bahkan dia mengabaikanku dan juga kandunganku....." ucap Listy akhirnya menceritakan semuanya hingga dirinya sampai di kota yang ia tempati sekarang.
Brian menghela nafas panjang, ia tak menyangka kalau daddy nya bisa setega itu.
"Apa kau menyesal" tanya Brian.
"Bohong jika aku tidak menyesal, aku menyesal dengan semua kejadia yang aku lakukan dulu.Tapi nasi sudah menjadi bubur kini aku memutuskan untuk fokus membesarkan putraku" sahut Listy dengan senyum yang di paksakan.
Brian terus menatap bayi yang merupakan adiknya dari beda ibu itu. Wajah bayi itu begitu mirip dengan daddy nya.
"Apa kamu tidak mau memaafkan daddy dan kembali lagi sama daddy" tanya Brian. Listy menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah memaafkannya, tapi aku tidak mau kembali dengannya, aku tidak mau melihat putraku menderita karena di abaikan oleh ayah kandungnya sendiri" sahut Listy sambil menunduk melihat putranya yang sedang anteng di kereta dorong.
"Tapi dia butuh ayah kandungnya Lis" ucap Brian.
"Tidak, nanti saat dia sudah besar aku akan bicara pelan-pelan dengannya, seiring berjalannya waktu pasti dia akan tahu" sahut Listy.
Brian diam tak lagi membahas masalah Listy dengan daddy nya, biarkan itu menjadi urusan mereka berdua.
"Boleh aku menggendongnya" tanya Brian.
"Boleh, tapi biasanya dia akan menangis kalau di gendong sama orang baru" sahut Listy.
Brian mengangguk lantas mengambil putra Listy dari kereta dorongnya.
Bayi itu anteng di gendongan Brian.
"Siapa namanya" tanya Brian sambil menggendong putra Listy.
"Namanya Fathan" jawab Listy.
"Nama yang bagus" ucap Brian tersenyum.
"Hai baby Fathan, kenalin nama aku Brian kakak kamu" ucap Brian memperkenalkan dirinya sebagai kakaknya.
Meskipun bayi itu lahir dari rahim mantan kekasihnya, Brian tetap mengakuinya sebagai adik karena bayi itu masih satu ayah beda ibu.
Listy tersenyum getir saat Brian mengenalkan dirinya sebagai kaka. Andai dia tidak melakukan kesalahan mungkin saat ini dia sudah menikah dengan Brian. Tapi itu semua tidak mungkin, semua sudah berlalu dan waktu tidak bisa di putar kembali.
Setelah puas bermain dengan Fathan Brian pamit pergi dan meninggalkan Listy dan juga adiknya.
Berian mengendarai mobilnya menuju ke sebuah Cafe, dia ada janji bertemu dengan temannya.
"Maaf aku telat" ucap Brian.
"Tak apa, aku juga belum lama sampai" ucap Nadin yang tak lain teman Brian.
Brian duduk di hadapan Nadin. Nadin memesan beberapa menu untuk mereka berdua.
"Bagaimana pekerjaanmu" tanya Nadin
"Baik, tak ada masalah" jawab Brian.
"Syukurlah kalau kamu sudah betah" ucap Nadin
Nadin adalah orang yang membantu Brian mendapatkan pekerjaannya yang sekarang, awal Brian mengenal Nadin di jalan, Brian waktu itu tak sengaja menyenggol mobil Nadin.
Dan sejak saat itu akhirnya mereka dekat dan Nadin membantu Brian mencari pekerjaan.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏