
Waktu berlalu begitu cepat, usia kandungan Alisya sudah memasuki bulan ke delapan, wajar saja istrinya itu sering merasakan kelelahan setiap kali berjalan terlalu lama, terlebih dengan mengandung triplet Arsen semakin over potektif kepada istrinya.
Bahkan Arsen menempatkan pelayan pribadi untuk nya, Arsen takut istrinya jatuh jika harus kesana kemari mengambil sesuatu yang dia inginkan, sehingga dia menyiapkan dua pelayan untuk menjaga serta menuruti semua kemauan istri cantiknya itu.
Sedangkan Erik sudah bebas dari penjara, Arsen sudah mencabut berkas tuntutannya, dia hanya ingin memberi pelajaran saja, jadi ketika dia sudah melihat perubahan di diri Erik, Arsen langsung membebaskannya.
(Hukum bisa di atur jika kita mempunyai uang dan kekuasaan, apalagi di negri konoha.)
...****************...
Pagi hari seperti biasanya setelah sarapan Arsen akan mengantarkan putrinya ke sekolah terlebih dahulu. Berhubung hari ini Arsen ada meeting jadi setelah mengantarkan Reva ke sekolahnya Arsen memutuskan langsung pergi ke perusahaannya.
Arsen jarang masuk kantor semenjak kehamilan Alisya memasuki trisemester ke tiga. Arsen benar-benar menjadi suami serta ayah siaga untuk Alisya dan calon anak-anaknya.
pukul 9 pagi Arsen mendapatkan panggilan dari sekolahan Reva, pihak sekolah menerangkan kalau putrinya itu terlibat baku hantam dengan teman satu kelasnya.
Karena Arsen kebetulan ada rapat penting dengan dewan direksi, akhirnya dia memilih menghubungi Erik.
"Hallo Ar, ada apa kamu menghubungiku" tanya Erik.
"Tolong wakilkan aku untuk datang ke sekolah Reva Rik, aku sedang ada meeting penting, aku tak mungkin menyuruh bunda yang datang, pasalnya bunda sedang menjaga Alisya di rumah" jelas Arsen.
"Memangnya ada apa" tanya Erik penasaran.
"Anak kita terlibat baku hantam dengan teman sekelasnya. Ingat jangan langsung memarahinya, tanya dulu kenapa dia sampai berkelahi." jawab Arsen sambil memperingati Erik
Arsen yakin kalau putrinya itu tidak salah, Reva tidak akan berkelahi kalau tidak ada yang memprovokasinya terlebih dahulu.
Arsen juga selalu mengajarkan, kalau di sekolah ada yang ngbully atau menakalinya lawan saja jangan pernah takut. Tapi kalau putrinya yang mulai duluan maka Arsen akan menghukumnya dengan caranya sendiri.
"Ya tuhan, aku sama Viona akan segera kesana" ucap Erik.
"Makasih Rik" balas Arsen lalu menutup panggilannya.
Hubungan Erik dan Arsen sudah sangat dekat bahkan sudah seperti keluarga, mereka berdua sudah berdamai dengan masa lalu, dan mencoba menjalin hubungan baik demi Reva.
Reva memanggil Erik dengan sebutan "papi" , tapi dia belum tahu kalau Erik ayah kandungnya, namun Erik sudah senang dengan panghilan itu, masalah identitas asli Reva, Erik tak ingin ambil pusing.
Kini Erik bekerja di perusahaan Hendrawan membantu istrinya menggantikan ayahnya, karena Hendrawan lebih memilih pensiun dini.
Setelah selesai menerima panggilan dari Arsen, Erik langsung keluar ruangannya, kemudian masuk ke dalam ruangan istrinya.
"Ada apa hubby" tanya Viona setelah mendapati Erik masuk ke dalam ruangannya.
"Kita mesti ke sekolah Reva sayang, anak itu terlibat perkelahian dengan teman sekelasnya. Tadi Arsen menghubungiku untuk mewakilinya, dia sedang ada meeting katanya" terang Erik.
"Ya ampun, ada-ada aja kelakuan anak itu" ucap Viona kaget.
Vuona segera mematikan laptopnya, dan merapihkan berkasnya.Usai membereskan pekerjaanya Viona mengambil tas nya lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo" Ajak Viona.
Viona dan Erik belum tidak terlalu terburu-buru memiliki momongan, mereka sedang menikmati kebersamaannya setelah Erik keluar dari lapas. Tapi mereka juga tak menundanya.
"Sepertinya Reva menuruni sifatmu, hubby" ucap Viona setelah berada di dalam mobil.
"Dia memang sangat barbar" sahut Erik terkekeh.
Terlalu asik berbincang membuat mereka tak menyadari kalau mobil yang di kemudikan Erik ternyata sudah sampai di sekolahan Reva.
"Ayo sayang" ajak Erik sambil membukakan pintu untuk Viona.
"Terima kasih" ucap Viona lalu keluar dari dalam mobil.
Mereka berjalan beriringan, Viona merangkul lengan suaminya menuju ke ruang kepala Sekolah.
Erik dan Viona masuk ke dalam ruangan setelah mengucapkan salam, di situ sudah terlihat Reva sama teman perempuannya yang bernama Aqila, dan juga ada beberapa anak laki-laki yang kemungkinan besar menjadi lawan Reva. Reynand juga ada di situ, seperti biasa bocah kecil itu tidak terlibat apapun, dia hanya menemani Reva.
Di sana juga terlihat ada orang tua wali murid.
"Perkenalkan ,saya Erik dan ini istri saya Viona, saya wali murid Reva, saya kesini mewakili tuan Arsen yang sedang sibuk" ucap Erik. Guru mengangguk tanda mengerti.
"Tujuan kami memanggil bapak kesini karena Reva terlibat perkelahian dengan teman sekelasnya, dia memukul Daffa dan teman-temannya pak" terang kepala sekolah.
"Apa anda tahu permasalahannya bu? Tentu ada sebabnya bukan, tak mungkin mereka berkelahi kalau tidak ada permasalahan sama sekali." ucap Erik yang sedikit berang dengan ucapan kepala sekolah, seolah-olah putrinya yang salah.
"Tentu saja ada, anak bapak sudah memukul anak saya hingga hidungnya berdarah" sahut salah satu wali murid sambil menunjukkan putranya yang hidungnya di sumbat menggunakan kapas.
Ingin rasanya Erik tertawa terbahak, putrinya ternyata sadis juga. Inikah hasil bela diri yang di ajarkan Arsen, sehingga putrinya bisa memukuli teman prianya, bahkan lima sekaligus. Bahkan kini putrinya itu terlihat santai saja tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Apa ibu sudah bertanya pada anak ibu, kenapa sampai dia di pukuli oleh putri saya" sahut Viona tak kalah angkuh.
Wali murid itu terdiam, karena mereka sebenarnya belum tahu duduk perkaranya seperti apa.
"Ibu sebagai kepala sekolah seharusnya tanya dulu sama mereka apa permasalahanya, kenapa mereka sampai di pukul oleh putri saya yang seorang perempuan, jangan langsung menyimpulkan begitu saja tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu, ingat, tak selamanya yang babak belur itu korban." tegas Viona.
Guru dan semua wali murid yang ada di ruangan itu terdiam mendengar ucapan tegas dari Viona. Mereka juga tidak terlalu berani menyudutkan Reva karena mereka semua tak mau mengambil resiko untuk berurusan dengan Arsen.
"Ceritakan sayang, apa masalahnya" titah Erik kepada putrinya.
"Leva hanya membela Aqila papi, tadi meleka menghina Aqila, makana Leva tonjok meleka semua" terang Reva dengan tatapan sinis menatap ke lima korbannya.
"Memangnya, mereka menghina apa" tanyannya lagi.
"Meleka bilang kalau Aqila anak miskin papi," jawab Reva polos.
Viona mengeryit mendengar ucapan Reva, mana ada orang miskin sekolah di sekolahan Elit seperti ini, Viona juga mengamati penampilan Aqila, namun dia tak menemukan keanehan pada gadis cilik itu, pakaian dia bagus, sepatu yang ia kenakan juga bukan barang murah.
"Kalian dengar bukan, seharusnya ibu-ibu di sini harus lebih bisa mengajari putra-putra ibu untuk menghargai perbedaan. Lagian belum tentu gadis kecil yang kalian hina itu benar-benar anak orang miskin" ujar Viona.
Viona sangat yakin kalau anak perempuan itu bukan anak orang miskin.