Baby Girl

Baby Girl
BAB 103



Seminggu setelah di nyatakan sembuh, Viona dan kedua orang tuanya mendatangi Alisya ke rumah Arsen. Hendrawan menepati janjinya untuk menemani putrinya menemui Alisya. Semenjak keguguran Viona terlihat murung tidak seceria seperti sebelumnya. Menjelang sore pun Hendrawan mengajak putrinya berkunjung menemui Alisya.


Mobil yang di tumpangi Viona sampai di pekarangan rumah Arsen, bebarengan dengan mobil Arsen yang juga baru tiba di rumah nya setelah pulang kantor.


Dari dalam mobil Arsen mengeryit mengamati mobil asing yang terparkir di halaman rumahnya. Dari pada terus penasaran Arsen memutuskan untuk segera turun dari mobil.


"Oh tuan Hendrawan rupanya, saya kira siapa" Sapa Arsen yang kebetulan Hendrawan juga keluar dari mobilnya. Sama-sama berkecimpung di dunia bisnis tentu Arsen mengenal sosok Hendrawan.


"Ada apa gerangan, anda datang ke rumah saya tuan" tanya Arsen sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Hendrawan menerima ulutan tangan Arsen sambil menepuk pelan bahu Arsen. "Maaf, sudah menggnggu waktu istirahat anda tuan Arsen, saya datang kesini ingin membicarakan masalah menantu saya yaitu Erik" "ucap hendrawa merasa tak enak hati kemudian menjawab pertanyaan Arsen.


Arsen mengangguk mengerti. "Silahkan masuk terlebih dahulu, kita akan bicarakan masalah ini di dalam bersama istri saya" titah Arsen.


Arsen berjalan memasuki rumah seraya di ikuti oleh Hendrawan, istri serta Viona.


"Assalaamualaikum baby" sapa Arsen memasuki rumah.


Alisya menoleh ke asal suara, dia sedang di ruang tamu sambil mengawasi putrinya belajar.


"Waalaikum salam" jawab Alisya seraya mendekati suaminya, dia mencium punggung tangan suaminya lalu mengambil alih tas kerjanya.


"Kita kedatangan tamu sayang" ucap Arsen.


Alisya melihat ke belakang suaminya, dia baru sadar kalau suaminya tak sendiri.


"Maaf, saya kira suami saya sendiri...Mari silahkan masuk" ucap Alisya lalu mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Alisya mendekati putrinya lalu menghentikan Reva yang sedang belajar.


"Ada tamu sayang, belajarnya nanti lagi ya" ucap Alisya.


"Kenapa nda dali tadi mama, Leva sudah pusing ini...Mama lihat ngga kepala Leva kelual asapnya" protes Reva.


Viona dan kedua orang tuanya merasa terusik dengan obrolan mereka, akhirnya mereka melihat interaksi Alisya dengan putrinya, mereka terkekeh mendengar ucapan absurd Reva.


"Apa dia putrinya Erik dengan Alisya?, dia lucu sekali, andai aku tidak keguguran, pasti dia akan selucu itu" batin Viona yang tanpa sadar mengusap perut ratanya.


Lastri yang melihat pun langsung mengelus punggung ringkih putrinya.


"Kita jangan berdebat dulu sayang, kita sedang kedatangan tamu sekarang" ujar Alisya.


Reva menoleh dengan wajah malunya menatap ketiga orang asing yang berada di rumahnya.


Reva mengamati satu-satu wajah tamunya.


"Kenapa" tanya Arsen kepada putrinya.


"Nda apa-apa, Leva mau belmain dulu papa, Leva pusing di suluh belajal telus sama mama....padahal Leva sudah pintal" adunya. Sambil menatap sinis mamanya.


Alisya mencebik, "sudah sana, jangan ngrusuh di sini, ngga malu apa kamu di lihatin noh" kesal Alisya.


Reva mengalihkan pandangannya ke keluarga Hendrawan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maap ya semua, Leva pamit undul dili dulu, Leva sedang sibuk soalnya mau belmain, jadi nda bisa ikut ngoblol" pamit Reva dengan percaya diri.


Alisya dan Arsen melongo dengan ucapan putrinya, bahkan setelah berucap seperti itu dia langsung saja pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Maaf, apa itu putrimu dengan Erik" tanya Viona hati-hati.


"Iya itu putri saya dengan Erik" jawab Alisya singkat.


"Apa aku juga boleh menganggap di putriku.... Karena aku ingin merasakan menjadi seorang ibu, namun sayang kandunganku harus gugur" pinta Viona lalu berucap lirih kemudian.


Alisya merasa iba mendengarnya, dia seorang ibu tentu tau perasaan Viona meskipun dia tidak pernah mengalami keguguran sebelumnya, semoga anak-anaknya tumbuh sehat hingga lahiran nanti.


"Apa kau yakin? Apa kau tak merasa sakit?" tanya Alisya penuh selidik.


Dia tidak bisa begitu saja mempercayakan putrinya kepada orang lain.


Viona tersenyum manis membalas ucapan Alisya, tentu dia tahu kekhawatiran Alisya kepadanya.


"Tidak, saya malah senang...dengan begitu saya bisa merasakan menjadi seorang ibu" ucap Viona tanpa keraguan sedikit pun, Alisya mengangguk mengerti.


"Maaf, saya menyela obrolan kalian, bukankah ada yang ingin kalian bicarakan" Arsen menginterupsi obrolan istrinya dengan Viona.


"Kedatangan kami kesini, ingin meminta kemurahan hati anda untuk mencabut berkas perkara Erik tuan Arsen" ucap Hendrawan.


Sudah Arsen duga, "Maaf tuan, bukan saya tidak mau, tapi pihak sanalah yang menolak tawaran saya untuk membebaskan Erik, selebihnya anda bisa tanyakan kepada tuan David.


*Flasback"


Satu hari setelah kedatangannya ke rumah Arsen, Di hari ke dua setelah itu David datang menemui Arsen di kantornya.


"Bagaimana tuan?, apa anda mau bekerja kembali di perusahaan Dinata" tanya Arsen.


"Tidak tuan, saya kesini untuk memberi tahukan itu, saya akan bekerja di perusahaan menantu saya, saya akan tetap tinggal di kota ini, dan saya berharap nanti jika ada waktu Anda bisa mengijinkan saya untuk mengajak Reva jalan-jalan" jawab David sekalian mengutarakan keinginan nya.


"Kalau itu kita bisa tanyakan pada anaknya terlebih dahulu, asal tidak menggnggu sekolahnya pasti Alisya akan mengijinkannya.


"Baik tuan" balas David.


"Kenapa anda tidak meminta saya untuk membebaskan putra anda" tanya Arsen merasa heran.


"Bukan saya tak mau, tapi Erik sendirilah yang tak mau di bebaskan, kemarin kita sudah menjenguknya dan dia bilang akan menjalani hukumannya hingga akhir" terang David.


David kemarin menyempatkan diri untuk menjenguk putranya, dia menceritakan tentang keguguran yang di alami Viona, tak luoa David juga menceritakan kronologinya. David merasa terpukul dengan kabar tersebut, di saat dirinya sudah mulai ingin berubah malah ada ujian lagi untuknya, namun dia ikhlas...Erik berfikir mungkin itu karma untuknya karena dulu tidak mengakui keberadaan putrinya.


David juga bicara kepada putranya, kalau nanti sudah ada uangnya dia akan berusaha membebaskan putranya, namun Erik menolak, dia ingin menjalani hukumannya.


*Flasback Off*


Viona dan kedua orang tuanya pun mengerti kondisi Erik, mungkin dia merasa banyak salah dan menyakiti banyak orang, makanya dia ingin menebusnya di balik jeruji besi.


Tiba-tiba Reva datang menghampiri Viona. Dan duduk di sebelahnya.


Arsen dan Alisya ketar ketir dengan tingkah putrinya, takut putrinya itu akan membuat ulah.


Reva memiringkan kepalanya sambil menatap wajah Viona. "Tante namanya siapa? Kenapa tante kelumah Leva? Tante temannya mama sama papa na Leva ya?" Reva membrondong Viona dengan banyak pertanyaan.


Bersambung


Spam Komen , like dan Vot guys....biar othornya semangat🙏