Baby Girl

Baby Girl
S2~64



"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini tuan Julian, selagi itu nyata maka semua orang bisa saja mengetahuinya, bukankah bangkai yang di simpan suatu saat akan tercium juga, itu lah yang sedang terjadi pada diri anda, meskipun anda sudah menyimpannya rapat-rapat tapi saya tetap mengetahuinya." ucap Reynand dengan seringai di bibirnya.


"Dan untuk kamu nona Jenni, wanita yang anda bilang benalu di hidup saya itu dia adalah putri dari ARSEN DAVIDSON"


JDHERRR...


Mendadak tubuh Jenni menjadi kaku, sambil menatap Reynand yang sama sekali tak menatapnya.


"Apa? Tuan Arsen pemilik Global Group?" tanya Jenni shock


"Iya dia anak Arsen pemilik Global group, jangan meremehkannya, jika di bandingkan dengan kamu dia jauh lebih segalanya" ucap Reynand.


Tak lama ada suara orang yang mengetuk pintu ruangan Reynand.


Tok


Tok


Tok


"Masuk" teriak Reynand dari dalam ruangannya.


Ceklek....


Dua orang berbadan tegap dan berseragam polisi masuk kedalam ruangan Reynand.


"Selamat siang tuan Reynand" sapa salah satu polisi menyapa Reynand.


"Siang, tangkap orang ini, dia melakukan bisnis ilegal seperti jual beli senjata dan juga jual beli organ manusia."


"Semua bukti ada di sini, sisanya anda bisa mencari tahu sendiri" ucap Reynand sambil memberikan semua bukti kepada polisi.


Polisi tersebut menerima map yang berisi tentang kejahatan Julian selama ini, mereka berdua maju dan langsung memborgol tangan Julian yang terus meronta.


"Bohong pak, semua yang di katakan tuan Reynand iti semuanya bohong, bukti itu palsu" teriak Julian.


"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi tuan Julian" tegas polisi sambil menyeret Julian keluar dari ruangan Reynand.


"Jangan bawa papa saya pak, papa saya tidak salah" sentak Jenni seraya mencoba melepaskan tangan pak polisi dari tangan sang papa.


Namun apalah daya, Jenni hanya perempuan tentu tenaganya akan kalah dengan kedua polisi tersebut.


"Tuan Reynand, kenapa anda memenjarakan ayah saya, masalah ini tidak ada hubungannya dengan ayah saya" ucap Jenni tak terima.


"Lalu apa saya perlu memenjarakan anda juga nona Jenni" geram Reynand, dia mengeluarkan aura yang berbeda, aura yang tak pernah Reynand keluarkan sebelumnya membuat nyali Jenni ciut.


Wanita itu di buat merinding dengan aura yang di keluarkan oleh Reynand.


"Keluar dari ruanganku sekarang juga" tergas Reynand mengusir Jenni.


Dengan langkah tergesa-gesa Jennie langsung keluar dari ruangan Reynand, dia tidak ingin menyeret namanya dalam kasusnya.


Setelah Jenni keluar, Reynand langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menghina wanitaku" ucap Reynand dengan sorot mata yang penuhi dengan amarah dan juga penuh kebencian.


Ceklek...


Tak lama Reagan masuk kedalam ruangan putranya.


"Tadi kenapa ada ribut-ribut son?" tanya Reagan membuat Reynand mencebikkan bibirnya sebal


Daddy nya ini dari tadi kemana saja, kenapa setelah selesai dia baru bertanya.


"Ada tawuran dad" jawab Reynand asal.


Tak...


Reagan menjitak kepala putranya kesal.


"Haisss...kenapa Daddy menjitak kepala Rey sih" ucap Reynand sambil menahan sakit akibat jitakan sang daddy.


"Salah sendiri di tanya apa jawabannya, bikin orang kesal saja" Kata Reagan.


"Lagian masalahnya sudah selesai daddy baru tanya"


"Daddy sibuk, tidak ada waktu untuk kepoin masalah orang, apalagi kalau maslahnya tidak penting"


"Lalu kenapa sekarang daddy tanya, dasar pak tua aneh"


Begitulah mereka berdua, Reynand suka suka sekali membuat daddy nya kesal, padahal tinggal saja pertanyaan daddy nya tapi Reynand justru membuatnya jengkel terlebih dahulu sebelum menjawabnya.


"Tinggal jawab aja apa susahnya sih Rey" ucap Reagan yang sudah geram dengan putranya yang terus membuatnya kesal.


"Begitulah ceritanya dad" ucap Reynand.


"Bagus, daddy bangga sama kamu, sedah seharusnya kamu menjaga serta melindungi calon istrimu" sahut Reagan sambil menepuk bahu putranya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sedangkan sore hari Gavin menghampiri Reva yang sedang berada di kamarnya.


"Ada apa Gav" tanya Reva yang melihat adiknya masuk kedalam kamarnya.


"Ayo jalan-jalan ke taman kak" ajak Gavin.


"Ngapain ketaman" tanya Reva sambil mengerutkan dahinya.


"Antelin Gavin beltemu Aluna kak, Gavin kangen sama Dhea kak tapi Gavin nda puna nomolna Dhea." sahut Gavin.


"Lah kamu kan kangennya sama Dhea, terus kenapa kamu mau ketemunya sama Aruna, kamu ini aneh sekali" ucap Reva heran dengan kelakuan adiknya.


"Yang penting lindu Gavin sama Dhea telobati kalena beltemu dengan Aluna. Tidak ada Dhea, Aluna pun gak masalah" ucap Gavin.


"Dasar play boy cap tikus, bisa-bisanya si Aruna cuma di jadikan cadangan doang" seru Reva.


"Telus kak Leva mau tidak kek taman sama Gavin, kalai tidak mau Gavin sendili aja naik motol" ucap Gavin.


"Yasudah ayo" ajak Reva sambil beranjak dari atas ranjangnya.


Berhubung Reva tidak ada kegiatan akhirnya dia mengiyakan ajakan adiknya itu, sekalian dia ingin melihat gadis kecil yang bernama Aruna itu.


"Kalian mau kemana" tanya Alisya yang melihat kedua anaknya menuruni anak tangga.


"Gavin mau ke taman sama kak Leva, mama" sahut Gavin sambil menggandeng tangan kakaknya.


"Hati-hati, jagain adiknya kak" ucap Alisya.


"Baik mah" sahut Reva.


Mereka berdua menuju ke garasi mobil mengambil motor matic milik Reva.


Gavin naik dan duduk di belakang kakaknya, lalu memeluknya.


Reva mulai mengendari motornya melewati area komplek menuju ke taman, sore hari biasnya anak-anak komplek akan bermain di taman bersama orang tuanya atau pengasuhnya.


"Kita langsung ke lumah Aluna ajak kak" ucap Gavin.


"Memangnya Aruna di rumah, ke taman saja dulu siapa tahu dia di taman" saran Reva.


Akhirnya Gavin setuju mengikuti saran kakaknya, yang penting bagi Gavin bisa bertemu dengan Aruna.


Setelah memutari area taman, ternyata mereka berdua tidak menemukan Aruna di taman.


Akhirnya Reva mengendarai motornya ke rumah Aruna sesuai petunjuk adiknya itu.


"Itu kak rumahnya" tunjuk Gavin ke arah rumah mewah yang ada di depan.


Reva mengangguk, lalu mendekatkan motornya ke rumah tersebut.


Reva menghentikan motornya setelah sampai di depan rumah Aruna. Lalu mematikan mesin motornya.


Gavin langsung turun dari atas motor kakaknya dan memanggil manggil nama Aruna dari depan gerbang.


"Aluna...Aluna...." teriak Gavin memanggil Aruna.


Tak lama datang wanita paruh baya yang waktu itu menemui Gavin.


"Eh Gavin, ada apa cari Aruna sayang" sapa ibu Aruna.


"Arunanya ada nda ibu meltua" ucap Gavin. Membuat ibu Aruna terkekeh mendengar Gavin menyebutnya dengan ibu mertua.


Reva pun dibuat malu dengan klakuan adiknya itu.


"Eh...maaf nyonya, adik saya memang suka ceplas ceplos" ucap Reva yang merasa tidak enak dengan ibu Aruna.


"Tidak apa-apa, ayo masuk, Arunanya di dalam dia sedang sakit" ucap ibu Aruna.


Reva dan Gavin pun akhirnya mengikuti ibu Gavin masuk kedalam rumahnya.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏