
"Buruan masuk Rey, saat ini istrimu sedang membutuhkan kamu" ucap Reagan sambil mendorong putranya agar segera masuk kedalam ruang persalinan.
"Dad, tapi.. "
"Tidak ada tapi-tapian Rey, kamu harus melihat perjuangan istri kamu untuk melahirkan anak kalian, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi anak kalian, jadi jangan pernah kamu berfikir untuk menyakiti wanita yang sudah berjuang mati-matian demi melahirkan anak kamu. apa kamu tidak mau melihat anakmu itu laki-laki atau perempuan hmm" ucap Reagan.
Dari awal Reva dan Reynand memang tidak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya, biar semua menjadi kejutan untuknya dan juga untuk keluarganya. yang terpenting apapun jenis kelaminnya mereka tetap akan menyayanginya.
"Apa yang di katakan daddy mu benar Rey, dulu saat mamah melahirkan triplet papah juga selalu ada di samping mama" ucap Alisya tersenyum.
Alisya ingin Reynand selalu ada untuk putrinya. jangan sampai putrinya itu mengalami hal seperti dirinya yang meliharkan sendiri tanpa sosok suami di sampingnya.
***
"Sayang" panggil Reynand bersama dokter masuk kedalam ruang bersalin.
"Honey" panggil Reva lirih.
"Rey, kamu temani istri kami, mommy sama mami Viona akan menunggu di luar." ucap mommy Renata.
Reynand mengangguk dan langsung menggantikan posisi mommy nya menggenggam tangan istrinya lalu menciuminya.
"Sakit honey" ringis Reva sambil mencengkram kuat tangan suaminya.
"Bertahanlah, demi aku dan anak kita" ucap Reynand dengan mata berkaca-kaca, ia tak kuasa melihat istrinya yang terus merintih kesakitan karena ingin melahirkan anaknya.
"Nona Reva tolong atur nafas dulu, tarik nafas dan kemudian hembuskan secara perlahan, jangan berteriak atau bergerak karena itu akan membuat tenaga anda cepat habis" ucap dokter.
"Jangan teriak jangan teriak, sakit dokter, ini rasanya sakit sekali dok" oceh Reva.
"Tapi pas bikinnya teriak gak nona" sahut dokter terkekeh melihat pasiennya yang mengomel.
"Tentu saja tidak, karena pas bikin itu rasanya tidak sakit tapi nikmat" oceh Reva dia mencoba mengalihkan rasa sakitnya dengan terus mengomel, Namun tetap saya bukannya menghilang tapi rasa sakitnya justru semakin bertambah, rasanya semua tulangnya rontok semua.
Reva mencoba mengikuti arahan dokter, Reynand meneteskan air matanya melihat istrinya mengedan dengan nafas terengah engah.
Sementara di luar ruangan.
"Kak. gimana keadaan Reva" tanya Alisya saat melihat Renata dan juga Viona keluar dari ruangan putrinya.
"Putrimu kuat, kita doakan saja semoga proses persalinannya lancar." sahut Renata.
Alisya mengangguk, lantas mereka duduk menunggu proses persalinan Reva selesai.
Selang berapa lama terdengar suara bayi yang sedang menangis.
Oekk...
Oekk...
Oekk...
Alhamdulillah..." ucap mereka secara bersamaan.
"Dengarlah, cucu kita sudah lahir" ucap Arsen tersenyum lega saat mendengar tangisan cucunya dari luar ruangan.
Semua orang yang ada di situ tersenyum dan menangis secara bersamaan. mereka terharu karena akhirnya mereka mempunyai seorang cucu.
"Iya pah, tapi bagaimana keadaan Reva pah" ucap Alisya sambil memeluk suaminya.
"Kita berdoa saja mah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan putri kita" sahut Arsen sambil menepuk-nepuk bahunya istrinya.
🌹🌹🌹
"Lihatlah tuan, bayi anda sangat cantik bukan" ucap dokter.
Reynand mengusap air matanya, dia tersenyum sambil melihat bayi mungil yang ada di gendongan sang dokter.
"Anak saya perempuan dok" tanya Reynand dengan nada bergetar, dia tidak menyangka dirinya sudah menjadi orang tua.
"Benar tuan, saya akan membersihkannya terlebih dahulu, setelah itu anda bisa mengadzaninya" ucap dokter.
"Dok, pasien melemah" pekik suster saat melihat keadaan Reva melemah.
"Sayang" panggil Reynand yang melihat istrinya di periksa oleh dokter dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Keluarlah tuan, kami akan berusaha menyelamatkan istri anda" ucap Suster.
"Tapi sus..."
"Tolong jangan persulit kami tuan, biarkan kami fokus menyelamatkan istri anda" ucap suster.
Reynand mengalah, akhirnya dia keluar dari ruangan meninggalkan istrinya.
"Rey, gimana keadaan Reva nak" tanya Alisya langsung menghampiri Reynand yang baru keluar dari ruangan Reva.
Rey hanya diam, dia menghampiri mertuanya dan memeluknya.
"Katakan Rey! apa yang terjadi dengan Reva" desak Alisya sambil memegang kedua bahu menantunya dan menatap kedua matanya yang sudah berair.
"Reva tak sadarkan diri mah, kondisinya melemah" lirih Reynand sambil menunduk.
Mendadak kaki Alisya lemas mendengar kondisi putrinya saat ini, hampir saja tubuhnya limbung, tapi bersyukur ada Arsen yang langsung menangkap tubuh istrinya.
"Reva pah" tangis Alisya pecah di pelukan suaminya.
Arsen memejamkan matanya mendengar tangisan istrinya yang terdengar begitu pilu.
Erik juga sama, dia hampir jatuh kalau tidak ada dinding yang menopang tubuhnya, Viona mendekati suaminya dan memeluknya.
"Tenanglah, Reva gadis yang kuat tidak mungkin dia menyerah begitu saja, pasti dia bisa melewati ini semua" ucap Viona menenangkan suaminya.
"Dia wanita kuat tapi kenapa saat ini dia berubah menjadi wanita lemah sayang" lirih Erik.
"Putrimu hanya manusia biasa sayang, terkadang dia kuat tapi juga berubah menjadi lemah, kita sebagai orang tua harus mendoakannya supaya Reva mampu melewati masa kritisnya" sahut Viona.
Erik bahagia memiliki istri seperti Viona, istrinya itu selalu bersikap tenang dalam situasi yang rumit sekalipun. berbeda dengan dirinya yang selalu lemah jika menyangkut anak-anaknya.
Mereka tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Reva.
Reynand terduduk di lantai sambil menenggelamkan wajahnya di atas lututnya.
Hati Reagan merasa sakit, baru kali ini dia melihat putranya begitu hancur.
Di dekatinya sang putra dan Reagan menepuk bahu putranya.
"Berhentilah menangis Rey, kamu sebagai laki-laki harus kuat. Masih ada putrimu yang masih membutuhkanmu, kamu juga belum mengadzani putrimu" tegas Reagan.
Bukan tak memperbolehkan putranya sedih, tapi putranya itu masih memiliki tanggung jawab yang lain yaitu putrinya.
Reynand mengangkat wajahnya dan mendongak menatap Daddy nya.
"Tapi Reva gimana dad, lebih baik aku tidak punya anak daripada kehilangan istri Rey dad" ucap Reynand.
Bugh.
Bugh
Reagan memukul wajah putranya.
"Dad"
Teriak Renata mendekati suaminya yang ingin memukul anaknya lagi.
"Jangan cegah daddy mom, biarkan daddy memukul pria pengecut ini" ucap Reagan dengan nafas naik turun karena marah.
"Istrimu sudah berjuang antara hidup dan mati, tapi kamu malah berbicara seperti ini Rey. itu anakmu, darah dagingmu, jangan kamu buat perjuangan Reva sia-sia. Dia sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan anakmu tapi kamu malah seperti ini, Bukan hanya daddy yang kecewa sama ucapanmu Rey, istri mu juga pasti akan kecewa sama seperti daddy" Sentak Reagan.
"Daddy tidak tahu perasaan Rey dad, daddy tidak tahu rasanya jadi Rey, Reva segalanya untuk Rey dad, Rey tidak mau kehilangan Reva" ucap Reynand menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏