Baby Girl

Baby Girl
S2~76



Numpang Lewat.


Bisa skip


#Istri kesayangan tuan Arga#


Di F*z*


"Bagaimana bisa kalian menyamakan calon menantu saya dengan penjaga toko ini, apa kalian tidak bisa membedakan antara pelayan dan pengunjing toko hah" sentak mommy Ella tak terima calon menantunya di samakan dengan pelayan toko.


"Maaf nyonya, kami hanya salah paham saja" sahut Intan tak menyangka wanita tua di hadapannya ini begitu membela kakaknya.


Tiba-tiba dari arah belakang ada suara bariton yang membuat mereka menghentikan perdebatannya dan menoleh keasal suara.


"Ada apa ini mom" tanya Arga yang baru saja tiba di mall menyusul mommy nya dan juga Zara.


"Ini, enak saja mereka menyamakan calon menantu mommy dengan pelayan toko," sahut mommy Ella yang masih terlihat kesal mereka.


Arga menoleh melihat Intan dan juga Johan yang ternyata sedang berselisih dengan mommy nya.


"Ternyata kalian. Pergilah, karena saya lagi tidak mood untuk berdebat dengan kalian berdua" ucap Arga mengusir mereka berdua, mungkin banyak orang yang bisa tertipu dengan kepalsuan yang di lakukan Intan, namun tidak dengan Arga, dia tahu kalau Intan seorang manipulator yang handal.


Makanya Arga lebih memilih mengusirnya dari pada meladeninya yang akan membuatnya muak dengan drama yang akan di mainkan oleh Intan di hadapannya.


"Kalau begitu saya pamit kak Zara, jangan sungkan untuk menghubungi Intan, karena Intan siap membantu kak Zara kapanpun kak Zara butuh Intan" ucap Intan.


"Hmmm" gumam Zara malas meladeni adiknya, kenapa baru sekarang ingin membantunya, sedangkan saat dirinya di usir oleh orang tuanya adiknya itu ada dimana.


Bahkan dengan teganya adiknya dan juga mamanya hanya melihatnya saja tanpa sedikit pun membantunya.


"Sudah ayo mom kita langsung ke toko perhiasan saja, karena setelah ini Arga masih ada meeting lagi" ucap Arga.


"Kamu kan besok mau nikah Ga, bisa tidak sih tinggalin dulu urusan pekerjaanmu itu, apa kamu tidak bosan tiap hari hanya menatap berkas-berkas yang ada di mejamu itu," Ucap mommy Ella kesal kepada sang putra.


Tak sedikit pun putranya itu meluangkan waktu untuk mengurus pernikahannya, dia malah sibuk dengan pekerjaannya.


"Arga tidak bisa menunda meetingnya mom, karena meeting ini sudah di rencanakan dari jauh-jauh hari, masalah pernikahan bukankah ada mommy dan Zara yang mengurusnya" sahut Arga sambil berjalan menuju ke toko perhiasan.


Mommh Ella hanya diam saja, tak akan menang kalau sudah berurusan dengan pekerjaan.


"Emm...tuan, maaf saya menghabiskan uang anda untuk membeli barang-barang ini, tapi saja janji, nanti kalau saya sudah kerja saya akan mencicilnya" ucap Zara yang merasa tidak enak dengan Arga karena sudah membelanjakan uangnya.


"Tak masalah, kamu bisa menggunakan kartuku untuk memenuhi kebutuhanmu dan kebutuhan baby nanti," ucap Arga sambil mengelus bahu Zara.


Jantung Zara dag dig dug mendapat perlakuan yang begitu lembut dari Arga, apalagi Arga tak marah meskipun dirinya sudha menghabiskan banyak uangnya.


"Siapa yang nyuruh kamu kerja Zara, mommy tidak akan mengijinkannya, kalau anak mommy yang menyuruhnya nanti kamu katakan sama mommy, mending kamu di rumah saja temani Alana nonton manusia plastik itu" omel mommy Ella.


Sesayang itukah mommy nya sama Zara, padahal mommy nya baru bertemu kemarin ,namun dia sudah begitu memanjakan Zara, bahkan dia juga tak mengijinkan calon menantunya itu bekerja Pikir Arga.


Bahkan setatus anak sepertinya akan tergeser oleh Zara.


Alana juga hanya di rumah saja Mengurus twins, mommy Ella melarang Raka untuk menyuruh Alana bekerja.


"Kamu dengar sendiri bukan, kalau mommy akan memarahiku kalau tahu kamu kerja" ucap Arga dengan senyum jenaka.


Zara hanya tersenyum kikuk menatap Arga.


"Kamu jangan panggil Arga tuan Ra, panggil sayang atau siapa gitu biar terdengar mesra, kan sebentar lagi kalian akan menikah." saran mommy Ella.


"Eh, iya mom nanti" sahut Zara malu.


Mereka bertiga masuk kedalam toko perhiasan, dan kedatangan mereka langsung di sambut oleh pemilik toko.


"Ada yang bisa kami bantu" tanya pemilik toko kepada mereka.


"Tolong carikan kami cincin pernikahan yang paling bagus" sahut Mommy Ella antusias.


Pemilik toko mengambilkan dua pasang cicin pernikahan untuk mereka lihat.


Cincin itu terlihat begitu mewah, untuk yang wanita modelnya ada berlian satu di tengah agak lumayan besar sedangkan yang pria modelnya hanya polos dan ada berlian kecil di tengahnya.


"Kamu mau yang mana sayang" tanya Mommy Ella kepada Arga.


"Arga terserah sama Zara aja mom" sahut Arga yang menyerahkan urusan cincin kepada Zara, ia yakin selera perempuan jauh lebih bagus dalam memilih perhiasan.


"Hah, kenapa harus Zara, momny saja yang memilihnya" mereka berdua bukannya memilih malah pada saling lempar satu sama lain.


"Kaliam ini kenapa pada saling lempar begitu, kan kalian yang mau pakai, nanti kalau mommy yang milih terus tidak cocok sama kalian bagaimana" kesal mommy Ella.


"Yasudah, Zara pilih yang ini saja mom" ucap Zara memilih cincin yang terlihat begitu sederhana.


"Kenapa kamu pilih Yang ini Ra, lebih baik kamu pilih yang ini saja, ukuran beeliannya jauh lebih besar" ucap mommy Ella.


Zara dan Arga hanya bisa menghela nafas panjang, mommy nya memang agak ribet, tadi dia sendiir yang menyuruh Zara atau Arga yang memilihnya, giliran Zara milih malah protes.


"Yasudah Zara ikut pilihan mommy saja" ucap Zara membuat Ella tersenyum lebar, akhirnya menantunya setuju dengan pilihannya.


"Kami ambil yang ini mbak" ucap mommy Ella sambil memberikan blackcard milik Arga untuk membayar cicin pernikahan tersebut.


Sedangkan di sisi lain, sejak tadi Intan bertanya-tanya dalam hatinya, ia merasa kalau Arga bukan orang sembarangan.


"Apaa kak Johan mengenal pria yang bersama kak Zara tadi kak?" tanya Intan.


"Tidak, tapi saya seperti tak asing dengan wajahnya" sahut Johan yang merasa begitu familiar dengan muka Arga.


"Dia seperti pembisnis kak, harusnya kakak tahu kan kak Johan juga ikut masuk kedunia bisnis juga" ucap Intan.


Johan mencoba mengingat ngingat wajah Arga, ia seperti melihatnya tapi entah dimana.


"Entahlah, aku tak ingat" sahut Johan cuek.


Sepertinya keluargamu biasa saja setelah keluarnya Zara dari rumah kalian Ntan" ucap Johan yang merasa aneh dengan keluarga Intan.


Mereka merasa biasa saja setelah kehilangan sang putri.


"Aku tidak tahu kak, papa sama mama masih kecewa dengan kehamilan kak Zara" sahut Intan.


Johan mengangguk seolah mengerti dengan perasaan kedua orang tua Zraa yang sedang begitu kecewa setelah mengetahui kehamilan Zara di luar pernikahan.


"Tapi aku merasa kasihan dengan kak Zara kak, aku takut pria itu tidak memperlakukan kak Zara dengan baik, mungkin mereka pura-pura baik di depan umum saja, tapi di rumah kita tidak ada yang tahu" ucap Intan sok perhatian.


***


"Saya terima nikah dan kawinnya Zara Marligh binti Steven Marligh dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" lantang Arga dengan satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana saksi" tanya pak penghulu kepada para saksi.


"Sah" jawab mereka kompak.


Arga lega mendengar kata sah dari para saksi pernikahannay, akhirnya Arga sah menjadi suami dari Zara Marligh.


Sedangkan di kamar Zara, dia meneteskan air matanya, dia sedih di hari pernikahannya tidak ada kedua orang tuanya yang mendampingi pernikahannya.


Zara menghapus air matanya dan menoleh kearah Alana.


"Baik kak" sahut Zara dengan senyum yang di paksakan.


Alana yang peka langsung mendekati adik iparnya dan memeluknya.


"Tersenyumlah, tunjukkan kepada semuanya kalau kamu bisa bahagia meski tanpa mereka" ucap Alana memberi motivasi kepada adik iparnya.


"Makasih kak" sahut Zara sambil melerai pelukannya dengan Alana.


Alana meminta kepada MUA untuk merapihkan kembali riasan adik iparnya yang rusak karena air mata.


Setelah sudah selesai, Alana membawa Zara keluar dari kamarnya.


"Kalian sudah siap" tanya Mommy Ella yang baru saja ingin mendatangi kamar Zara, namun  ternyata kedua menantunya sudah keluar dari kamar Zara lebih dulu.


Zara menuruni tangga di apit oleh mommy Ella dan juga sang ipar Alana.


Mommy Ella dan Alana menggandeng tangan Zara dan membawanya menemui Arga.


"Cantik" gumam Arga


Dari tempat duduk Arga, terpesona melihat kecantikan Zara, baru kali ini Arga melihat Zara full make up, tidak seperti sebelumnya yang hanya polos tanpa make up.


Mommy Ella mendudukan Zara di sebelah Arga di bantu oleh Alana.


"Tanda tangani terlebih dahulu" Penghulu meminta kedua pengantin untuk menandatangani dokumen pernikahan.


Zara dan Arga pun langsung menandatangani dokupen teraebut.


Usai menandatangi dokumen pernikahan Zara memasangkan cincin di jari tangan Arga begitu juga sebaliknya.


Lalu Zara mencium punggung tangan suaminya, sedangkan Arga mencium kening Zara.


Kini mereka berdua telah sah menjadi suami istri, meski merasa ada yang kurang namun Zara bahagia karena Arga mau menikahinya, dengan begitu bayi yang ada di kandungannya mempunyai orang tua yang lengkap.


"Selamat sayang, sekarang kamu sudah mempunyai istri, jadi tanggung jawabmu bertambah apalagi kamu sudah mau mempunyai anak. Mommy peringatkan sama kamu jangan pernah menyakiti Zara karena bagaimana pun Zara telah mengandung benihmu, sayangi dia dan lindungi dia, akibat kesalahan yang kamu perbuat dia di buang oleh kedua orang tuanya, jadi kamu harus bertanggung jawab atas itu" ucap Mommy Ella memperingati putranya.


"Iya mom, terimakasih sudah mau memaafkan kesalahan Arga mom, maaf kalau Arga sudah membuat mommy malu" ucap Arga tulus.


"Kamu anak mommy, apapun kesalahan yang kamu buat mommy akan mencoba memaafkannya, selagi kamu mau menyadari kesalahan yang kamu perbuat" sahut mommy Ella.


Arga mengangguk lalu memeluk mommy nya, dia bersyukur memiliki seorang ibu yang bijaksana seperti mommy nya.


Mereka berdua pun melerai pelukannya, kini giliran Rudi yang memberikan selamat kepada sang putra.


"Selamat son, akhirnya sekarang kamu jadi suami juga, dan sebentar lagi juga akan menjadi calon ayah, daddy berharap kamu bisa membahagiakan istri dan anakmu kelak, karena jika kamu ketahuan menyakiti istrimu maka daddy sendiri yang akan memisahkannya darimu" ucap Rudi sambil memeluk Arga.


"Iya dad, Arga akan berusaha menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk Zara dan anak Arga nanti" sahut Arga.


"Daddy pegang kata-katamu, karena pria sejati tidak akan pernah mengingkari ucapannya" ucap Daddy Rudi.


Mereka berdua pun melepas pelukannya, satu persatu semua tamu yang ikut hadir di acara pernikahan Arga dan Zara memberikan selamat kepada keduanya, begitu juga dengan Alana dan suaminya yang ikut memberikan selamat kepada sang adik.


Setelah acara selesai, Arga dan Zara masuk kedalam kamar Arga.


Zara terlihat kesusahan membuka baju pengantinya, dia mau meminta tolong ke suaminya tapi dia malu, dia terus berusaha namun hasilnya nihil.


Arga menghela nafas lalu berjalan mendekati istrinya yang kesusahan membuka baju pengantinya.


"Kenapa tidak minta tolong hmm" ucap Arga sambil meraih resleting gaun pengantin Zara.


Deg


Zara bsia merasakan hembusan nafas Arag di tengkuknya, membuat bulu kuduk Zara meremang.


"Sudah" ucap Arga.


Lalu Zara buru-buru lari kekamar mandi.


Brak..


Zara menutup pintu kamar mandi begitu keras.


Dia berdiri di balik pintu sambil memegangi dadanya yang terasa berdegub kencang.


"Kenapa deg-degan terus tiap kali berdekatan dengannya, atau mungkin aku sakit jantung atau bagaimana ya" gumam Zara konyol.


Dulu ketika sama Johan dia tidak merasakan detak jantungnya berdegub kencang pada saat berdekatan dengannya, namun ketika sama Arga, zara meras berbeda.


****


Sedangkan di tempat lain tepatnya di hotel bintang lima, keluarga Marligh dan juga Baskoro sedang merayakan pesta pertunangan antara Intan dan Johan.


Acara tersebut banyak di hadiri oleh kolega bisnis keduanya.


Steven naik keatas panggung dan meminta semua orang tamu undangan untuk memperhatikannya.


"Selamat malam semuanya, terima kasih atas kehadiran kalian semua yang sudah mau hadir dalam acara pesta pertunangan antara putri saya yang bernama Intan Marligh dengan putra tuan Baskoro yang bernama Johan Adi Baskoro".


Intan dan johan di minta naik keatas Panggung oleh Steven, sejak tadi Intan selalu tersenyum berbeda dengan Johan yang hanya memasang wajah datar saja.


Intan sangat bahagia karena tujuannya untuk menikah dengan Johan sebentar lagi tercapai.


Kedua orang tua Johan pun ikut naik keatas panggung sambil membawakan cincin pernikahan mereka.


"Pakaikan cincin ini di jari tangan Johan sayang" ujar mamah Johan sambil menyodorkan kotak cincin kepada Intan.


Intan mengambil satu cincin lalu menyematkannya di jari Johan.


Johan pun melakukan hal yang sama, dia menyematkan cincin ke jari Intan.


Semua orang bertepuk tangan melihat mereka berdua selesai memakaikan cincin di jadi pasangannya masing-masing.


"Apa kamu bahagia sayang" tanya mama Intan kepada putrinya.


"Tentu mah, Akhirnya aku dan kak Johan bisa bersatu" sahut Intan yang selalu tersenyum bahagia.


Sepersekian detik kemudian wajah Intan berubah jadi murung.


"Tapi Intan sedih mah, karena tidak ada kak Zara di sini" ucap Intan.


"Lebih baik kamu lupakan kakakmu itu Intan, dia hanya bisa membuat malu dan  mencoreng nama baik keluarga kita" ucap Mama Intan.


"Baik mah" ucap Intan sambil tersenyum tipis yang tak bisa terlihat oleh siapapun.


Padahal Intan tidak benar-benar sesih karena tidak ada kakaknya, dia hanya ingin mengetes orang tuanya masih peduli sama kakaknya atau ngga, dan ternyata tidak.


Jawaban Mamanya membuat Intan lega, ternyata orang tuanya masih membenci kakaknya, dengan begitu posisi Intan akan tetap menjadi putri satu-satunya di keluarga Marligh.