Baby Girl

Baby Girl
BAB 121



"Apa dia ngompol ya? Tapi mana mungkin dia ngompol" gumam Arsen.


Karena penasaran akhirnya Arsen mencium tangannya yang terkena air tersebut.


"Kok tidak bau" lirih Arsen.


Berulang kali dia menciumnya akan tetapi hasilnya tetap sama, air tersebut tidak bau.


Alisya mengerjabkan matanya, dia merasakan ada yang basah di bagian bawahnya lalu merabanya.


Perhatian Arsen teralihkan dengan gerakan istrinya, ternyata istrinya terbangun.


"Baby, kamu kenapa?" tanya Arsen.


"Honey, air ketubanya sudah pecah...sepertinya aku akan segera melahirkan" jawab Alisya setenang mungkin, supaya tidak membuat panik suaminya.


Karena sudah pernah melahirkan jadi Alisya masih bisa bersikap santai, namun berbeda dengan Arsen yang merupakan pengalaman pertama baginya, dia begitu panik dan khawatir.


"Apa? Kandunganmu masih delapan bulan sayang, bagaimana mungkin kamu melahirkan sekarang." sahut Arsen panik.


Dia mengambilkan baju ganti serta underware untuk istrinya. Arsen menggantikan seluruh pakaian istrinya yang basah dengan yang baru, dia bisa melihat cairan bening yang keluar dari bagian inti istrinya.


"Kita ke Rumah sakit sekarang" ucap Arsen setelah usai menggantikan pakaian istrinya, ia langsung membobong tubuh Alisya.


"Aku berjalan saja sayang, badanku berat" pinta Alisya.


Arsen menghela nafas akhirnya menurunkan istrinya, Arsen menuntun Alisya keluar kamar sambil berteriak heboh memanggil bundanya.


"Seperti suara Arsen yang sedang berteriak," gumam Belinda dari dalam kamar, kebetulan dia belum tidur.


Belinda keluar dari kamarnya, mencoba melihat keadaan putranya yang sejak tadi berteriak.


"Ada apa Ar?" tanya Belinda yang terlihat tergopoh-gopoh keluar dari kamar.


"Bunda air ketuban Alisya pecah, Arsen akan segera membawanya ke rumah sakit." teriak Arsen dengan bibir bergetar karena panik.


"Tunggu bunda di bawah Ar, bunda akan mengambil keperluan Alisya terlebih dahulu" pinta Belinda. Kemudian dia berlari masuk ke dalam kamar Arsen mengambil keperluan Alisya dan calon cucunya.


Reva bangun dari tidurnya karena merasa terusik dengan kebisingan yang terjadi di luar kamar.


"Ada apa ini oma lame-lame" tanya Reva membuka pintu kamar sambil menguap, ia melihat sang oma yang berjalan tergesa-gesa sambil membawa tas yang berisi perlengkapan Alisya.


"Bukan waktunya banyak bertanya sayang, sekarang kamu ikut oma" ucap Belinda lalu menarik lengan Reva pelan.


Belinda menarik Reva sambil membawanya keluar dari kamar, Reva berlari untuk mengikuti langkah lebar Belinda.


"Aduhhh...ini Leva na mau di bawa kemana sih, kenapa di talik-talik begini" protes Reva.


Belinda tak menghiraukan ucapan cucunya, dia membantu Reva masuk ke dalam mobil, Belinda duduk di samping jok kemudi sambil memangku Reva, sedangkan Arsen duduk di kursi belakang sambil memangku kepala Alisya.


"Jalan pak" titah Arsen kepada sang sopir.


Sang sopir melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota, beruntung jalanan sudah mulai lenggang tidak macet seperti biasanya.


"Sssstttttt...."ringis Alisya.


Alisya mulai merasa sakit di bagian bawah, dan pinggang serta punggung yang panas membuat perempuan cantik itu meringis kesakitan.


"Kenapa baby" tanya Arsen.


"Sakit honey.....Akhhhhh" jawab Alisya lalu berteriak sambil mencengkram lengan Arsen.


"Sabar baby, sebentar lagi kita sampai" ucap Arsen seraya menahan rasa sakit pada lengannya yang di cengkram Alisya, Arsen menenangkan Alisya sambil mengusap perut Alisya.


"Akhhh....sakit" pekik Alisya.


"Mama kenapa teliak-teliak, dulu waktu bikin dedek bayina sakit nda? Kenapa sekalang mama kesakitan" omel Reva.


"Diam kamu Reva" sungut Alisya.


Reva menoleh ke belakang lalu meraih perut mamanya dan mengelusnya. "Adekna kak Leva jangan nakal, mama nya sakit....nanti saja kalau mau kelual nunggu kita sampai di lumah sakit. Nulut...kalau ngga nanti kalau kelual kak Leva hukum kalian semua" ancamnya.


Arsen tak ngerti lagi dengan klakuan putrinya.


Namun sedetik kemudian Alisya merasakan mules di perutnya merasa mulai berkurang, tidak sakit seperti sebelumnya.


Arsen berdecak kagum ketika melihat istrinya tak lagi berteriak. Calon kepala suku, pikir Arsen.


...****************...


"Akhhhhhhh....."


"Honey perutnya sakit lagi" pekik Alisya


Tak lama mobil yang di tumpangi mereka tiba di plataran Rumah sakit. Arsen langsung keluar dari mobil lalu berteriak meminta tolong untuk di bawakan brankar.


Suster pun sigap dengan permintaan Arsen, Arsen membantu Alisya keluar dari dalam mobilnya, lalu membaringkannya di atas brankar.


"Dokter...tolong istri saya akan segera melahirkan, air ketubannya sudah pecah" teriak Arsen sambil mendorong brankar Alisya dengan di bantu suster.


"Segera bawa ke ruang bersalin sus" titah dokter.


Brankar di dorong menuju ke ruang bersalin, terlihat Alisya sudah lemas dan banyak mengeluarkan keringat, mungkin karena sejak tadi merasakan sakit.


Arsen ikut masuk kedalam ruang bersalin, sedangkan Reva bersama Belinda nunggu di luar.


"Bagaimana dok" tanya Arsen. Ketika meliha dokter sedang mengecek pembukaan untuk jalan keluar bayi.


"Sabar tuan, nyonya baru pembukaan tiga, kita harus menunggunya hingga pembukaan sepuluh" terang dokter.


"Hah? Bagaimana bisa? Apa kalian tidak melihat kalau istri saya sudah lemas dan kesakitan hah" bentak Arsen.


"Tapi begitulah prosesnya tuan" sahut Dokter sedikit bergetar melihat aura dingin yang di keluarkan Arsen, suasana di ruang bersalin benar-benar mencekam karena kemarahan Arsen.


Dokter yang melihat kondisi Alisya yang sepertinya tidak akan bisa melahirkan normal pun mencoba menawarkan untuk cesar. Apa lagi Alisya harus melahirkan tiga bayi sekaligus, sangat bersiko jika di paksa untuk melahirkan normal.


"Aku tak mau cesar honey" lirih Alisya.


"Kali ini saja menurutlah baby, aku tak sanggup melihatmu seperti ini, aku juga tak sanggup jika harus kehilanganmu" ucap Arsen lembut sambil mencium kening istrinya sayang, tanpa terasa Arsen meneteskan air mata.


Arsen benar- benar rapuh untuk saat ini, dia tak tega melihat pengorbanan istrinya untuk melahirkan anak-anaknya. Dia bertaruh nyawa demi melahirkan buah hatinya, bahkan uang dan kekuasaan yang di miliki Arsen tidak bisa membantu apa-apa. Dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah menyakiti istrinya sampai kapan pun.


Setelah mendapat persetujuan dari Alisya akhirnya dokter melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan ketiga bayi yang ada di dalam perut Alisya.


"Oekk..Oekk..Oekkk"


"Selamat tuan, anak pertama anda berjenis kelamin laki-laki" ucap Dokter.


Arsen tersenyum haru melihatnya, Arsen tak menyangka dirinya kini kembali menjadi ayah.


Arsen terus menggenggam tangan Alisya , sambil menciumi puncak kepala istrinya.


Bayi kedua berjenis kelamin laki-laki, dan yang terakhir berjenis kelamin perempuan. Arsen sangat puas mendengarnya. Doktee menyuruh Arsen mengadzhani ketiga buah hatinya. Usai mengadzani Arsen keluar dari kamar Alisya, dia menemui bundanya yang sedang duduk dengan Reva di ruang tunggu.


Bersambung


Happy reading guys🙏