
"Sayang kamu tidur di kamarku ya" pinta Brian setelah mereka semua selesai melakukan makan malam.
Uhhukk....
Uhukk....
Permintaan Brian tak sengaja membuat Listy yang sedang minum menjadi tersedak.
"Kamu hati-hati sayang" ucap Brian sambil mengelus punggung Listy.
"Emmm...iya" sahut Listy gugup sambil melirik ke arah Reno yang sejak tadi pura-pura sibuk memainkan ponselnya.
"Maaf Bri, aku mau tidur sendiri di kamarku" lanjut Listy menolak ajakan Brian tidur di kamarnya, bagaimana pun juga dia harus menjaga perasaan Reno ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya.
Brian mengangguk mengerti, ia tak ingin memaksa Listy, mungkin setelah sekian lama mereka tak bersama membuat Listy sedikit canggung dengannya, pikir Brian.
"Kapan kamu akan gabung di perusahaan Daddy Bri" tanya Reno mengalihkan pembicaraan agar putranya tidak berpikir macam-macam tentang Zara.
"Mungkin lusa, dua hari ini Brian ingin istirahat terlebih dahulu dad" sahut Brian. Dia masih ingin santai tanpa memikirkan pekerjaan yang menurutnya hanya membuatnya pusing.
"Tak apa kalau kamu masih ingin istirahat, yang terpenting nanti kamu mau mengurus perusahaan Daddy, karena saat ini kondisi daddy sudah tidak seperti dulu lagi yang bisa kesana kemari" ucap Reno.
Sebenarnya alasan utamanya bukan itu, Reno meminta Brian masuk ke perusahaan supaya bisa meringankan pekerjaan Lsity, karena saat ini Listy sedang mengandung anaknya jadi dia tidak ingin Listy terlalu lelah sehingga akan berdampak fatal pada keselamatan janin yang ada di kandungannya.
"Iya dad, Brian tahu. Brian akan membantu mengembangkan perusahaan Daddy nanti" ucap Brian membuat Reno bernafas lega.
"Kalau begitu istirahatlah, sudah mulai larut kamu baru saja pukang dari rumah sakit jadi kamu masih memerlukan banyak istirahat." titah Reno.
Brian mengangguk mengiyakan perintah daddy nya, dia bangun dari temoat duduknya dan pergi menuju ke kamarnya.
Setelah melihat Brian pergi, Listy mengajak Renoo untuk berbicara, dia tidak bisa terus-terusan menghindari Brian, tiap hari perutnya akan membesar membuat dia tidak bisa menutupinya dari Brian.
"Kapan kita akan berbicara jujur dengan Brian om, kita tidak bisa terus-terusan menyembunyikan semua ini dari Brian, karena tiap hari perut Listy akan semakin membesar" ucap Listy.
"Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu, kita harus memastikan kesehatan Brianlebih dulu" sahut Reno yang membuat Listy sedikit kecewa dengannya.
Dia pergi begitu saja meninggalkan Reno. menurut Listy Reno tidak serius ingin bertanggung jawab dengan kehamilannya.
Namun berbeda dengan Reno, meurut Reno ini bukan waktu yang tepat untuk berterus terang dari Brian.
Di samping dia baru saja keluar dari rumah sakit, dia juga baru mengetahui mommy nya meninggal, ia tidak mau membuat putranya semakin kecewa dengannya.
Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk berterus terang dengan Brian, minimal sampai keadaan pulih terlebih dahulu, pikir Reno.
...****************...
Pagi hari terlihat pemuda tampan masih bergelung di bawah selimut tebalnya, sepertinya pria itu masih enggan bangun dari tidurnya.
Hingga cahaya matahari masuk dari celah jendela kamarnya membuat pemuda itu merasa terusik.
Dengan perlahan Reynand mulai mengerjabkan matanya, dia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Reynand merenggangkan otot tubuhnya setelah itu dia mendudukan tubuhnya sambil bersandar di sandaran tempat tidur untuk mengumpulkan kesadarannya.
Di rasa semua kesadarannya sudah terkumoul, Reynand turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tiga puluh menit berlalu reynand keluar dari dalam kamar mandinya, dia menuju ke ruang ganti untuk memakai bajunya.
Usai semuanya selesai Reynand turun ke bawah menghampiri keluarganya yang sedang sarapan di ruang makan.
"Pagi mom, dad, dek" Reynand menyapa semuanya yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
"Selamat pagi boy" ucap Reagan mewakili.
Mommy Renata mulai melayani suaminya, dia mengisi piring suaminya dengan nasi dan juga lauk, setelah itu dia memberikannya kepada suaminya.
"Terima kasih sayang" ucap Reagan sambil mengecup singkat pipi istrinya membuat Cia dan Reynand jengah melihatnya.
Daddy nya selalu saja seperti itu tanpa memikirkan perasaan kedua anaknya apalagi adiknya masih belum cukup umur, kalau dirinya bersyukur sudah memiliki Reva.
"Daddy selalu saja seperti itu sama mommy, Daddy tidak pernah menghargai Cia yang masih jomblo ini dad" protes Cia sambil memanyunkan bibirnya.
Sedangkan yang lain hanya terkekeh saja, Reagan sama Reynand belum mengizinkan adiknya berpacaran sebelum usianya 21th.
"Kasihan sekali nasib jomblo satu ini, beruntung kak Reynand sudah memiliki kak Reva" ucap Reynand menggoda adiknya.
"Tapi seminggu sebelum pernikahan kamu tidak boleh bertemu Reva dulu, dan akan dimulai dari hari ini" timpal Renata membuat Cia tertawa terbahak-bahak.
Hahahahhaha
"Rasakan, siapa suruh ejek Cia. Wlee..." ucap Cia membalas ejekan kakaknya.
"Mom, kenapa bisa begitu? Lalu kalau Reynand kangen sama Reva bagaimana" Reynand melayangkan protes kepada mommy nya.
"Hanya seminggu bukan setahun boy, dulu kamu kuliah di luar negeri saja bisa, masak iya sekarang tidak bisa" sahut Reagan.
"Dulu kan beda Dad, dulu Reynand kan masih mencintai dalam diam, dan dengan Reynand jauh dari Reva membuat Reynand sedikit bisa melupakan Reva. Kalau sekarang kan Rey sudah mau menikah sama Reva" ucap Reynand.
"Sama saja, intinya sama-sama jauh" sahut Reagan.
Reynand memakan makanannya seperti tidak berselera, dia hanya sedikit memakan makanannya saja.
Selang beberapa menit mereka semua menyelesaikan sarapannya
"Sudah sana berangkat, cuma satu minggu saja jadi tidak usah lebay gitu Rey" ucap Renata.
Dengan langkah gontai Reynand berjalan menuju mobilnya yang sudah ada di pekarangan rumahnya.
Hal serupa pun sama di kediaman Arsen, Reva melayangkan protes kepada mamanya yang tak memperbolehkan bertemu dengan Reynand.
"Mama nanti kalau Reva kangen sama Rey bagaimana?" rengek Reva kepada sang mama.
"Dasal katlok, kalau kangen kan kak Leva bisa telpon kak Ley, kenapa halus libet" sahut Gavin.
"Kamu tidak tahu rasanya memendam kangen Gav, tidak ada obat untuk mengobati rasa rindu selain bertemu dengan orang yang di rindukannya" ucap Reva.
"Dan kata Dilan, lindu itu belat kak, lebih baik nda usah lindu, dalipada belat nanti" ucap Gavin semakin membuat Reva jengkel.
"Diam Gav tidak usah ikut bicara, kamu malah membuat Kka Reva semakin emosi" ucap Reva.
"Yeee silik aja, Gavin kan cuma kasih tahu kenapa kak Leva malah-malah" ucap Gavin tak terima.
Reva tak mau meladeni adiknya, dia menatap mommy nya dengan tatapan memohon.
"Tidak sayang, untuk kali ini kamu harus ikuti peraturan mommy" tegas Alisya.
Reva menghela nafas sabar.
"Mau nikah aja ribet banget sih, pakai acara di pingit segala" dumal Reva.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏