
Mereka berempat berpencar mencari Gavin ke setiap sudut rumah mereka juga berteriak memanggil nama Gavin namun masih saja tidak ada jawaban dari Gavin, mereka juga tak menemukan Gavin di setiap sudut rumah.
"Bagimana kak" tanya Alisya kepada triplet.
"Kita tidak menemukan Gavin mam, lebih baik kita lihat CCTV aja" sahut Revan seraya memberikan usul kepada mereka.
"Kak Revan kenapa tidak bilang dari tadi sih, Rachel kan capek kak muteri rumah ini" keluh Rachel.
Rumah Arsen memang sangat besar, membuat siapapun yang memutari rumahnya pasti akan capek.
"Kak Revan juga baru kepikiran" sahut Revan yang memang baru mengingatnya.
"Nanti aja protesnya Chel, kita lihat cctv dulu ke ruang kerja papa" timpal Ravin.
Mereka mengangguk setuju dan langsung menuju ke ruang kerja Arsen.
Mereka pun setuju dan langsung menuju ke ruang cctv.
"Cepat buka kak" pinta Alisya yang sudah tidak sabar, dia khawatir kalau putranya itu kenapa-napa.
Revan pun langsung mengotak ngatik laptop Arsen dan mencari rekaman cctv beberapa jam yang lalu.
"Dapat ngga kak" tanya Rachel penasaran.
"Lihatlah, dia pergi menggunakan motornya mam" ucap Revan sambil menunjuk ke arah layar laptop.
"Ya ampun Gavin, mau kemana sih dia kenapa naik motor segala. Ayo cepat kita cari kak sebelum dia semakin jauh, mama takut dia ketabrak mobil nanti" ucap Alisya panik.
"Mama tenang dulu, Gavin pasti tidak apa-apa ma" ucap Rachel memeluk mamanya sambil mencoba menenangkan sang mama.
Revan mematikan laptopnya dan menutupnya, kemudian dia beranjak dari kursinya.
"Mama tunggu di rumah saja sama Rachel, biar Gavin aku yang cari sama Ravin. Siapa tahu nanti Gavin pulang mama langsung kabarin Revan" pinta Revan, dia merasa kasihan melihat mata mamanya yang sudah berkaca-kaca.
"Baiklah, mama berharap kalian bisa menemukan adik kalian" ucap Alisya.
"Doakan kita mama, supaya kita cepat menemukan Gavin" ucap Revan dan pamit kepada orang tuanya.
Revan dan Ravin keluar dari ruang kerja Arsen, mereka berdua berjalan menuju ke garasi.
"Kita naik apa Van" tanya Ravin.
"Naik motor aja, biar enak" sahut Revan.
Ravin tak pernah mau manggil Revan kakak, menurutnya hanya beda beberapa menit saja mereka lahir, jadi tak perlu memanggil Revan kakak.
Ravin megendarai motornya sedangkan Revan bonceng di belakang, mereka berhenti menemui penjaga rumahnya dulu.
"Paman tahu tidak Gavin pergi kemana" tanya Ravin kepada mang Deden.
"Tidak tahu den Ravin, tadi paman sudah tanya tapi dia jawabnya katanya di usir sama nyonya Alisya.
Revan dan Ravin tercengang mendengar alasan Gavin, adiknya memang agak lain.
"Terus paman tahu tidak biasanya Gavin main kemana" tanya Ravin lagi.
"Coba saja cari di taman komplek den, baisanya di sana jam segini banyak anak kecil sedang pada bermain" saran penjaga rumah.
"Terima kasih infonya paman" ucap Ravin.
Ravin pun kembali menyalakan mesin motornya dan meninggalkan halaman rumahnya.
Mereka berdua mengendarai mobil menyusuri area komplek namun masih belum menemukan Gavin.
Akhirnya mereka berdua mengikuti saran mang Deden pergi ke taman komplek.
Di sana terlihat ada beberapa gerobak penjual yang sedang menjajakan jualannya, ada juga ibu-ibu yang sedang menemani anaknya bermain.
Tatapan Revan beralih menatap motor Gavin yang sedang terparkir di pinggir lapangan, tentu Revan mengenali motor Gavin karena dia yang membelikan motor tersebut untuk adiknya.
"Itu bukannya motor yang gue beli untuk Gavin ya Vin" ucap Revan sambil menunjuk motor Gavin yang terparkir.
Ravin pun menoleh mengikuti arah yang di tunjuk Gavin.
"Kau benar Van, tapi Gavinnya kemana" tanya Ravin.
"Lihatlah kak, bukankah itu Gavin? kita semua pusing mencarinya yang di cari malah enak-enakan pacaran sambil makan es krim" ucap Ravin geram dengan tingkah adiknya.
"Turun Vin kita samperin, tapi jangan di marahin disini, nanti di rumah saja biar dia tidak malu" kata Revan.
Dia tidak mau membuat adiknya malu di depan teman-temanya karena memarahinya di depan orang banyak.
Ravin dan Revan turun dari atas motor lalu mereka berdua berjalan melangkahkan kakinya mendekati Gavim yang masih asik mengobrol dengan Aruna.
"Aluna lumah kamu mana? nanti bial Gavin main kelumah kamu" tanya Gavin modus.
"Lumah Aluna di sana kak" sahut Aruna sambil menunjuk rumah mewah yang tak jauh dari taman.
Gavin mengangguk mengerti ketika melihat rumah yang di tunjuk Aruna.
"Khemmm"
"Kahemmm"
Gavin menoleh karena mendengar orang yang sedang berdehem di belakangnya.
"Kak Levan di sini juga" ucap Gavin dengan tampang polosnya.
"Pulang" perintah Revan dengan wajah datarnya membuat nyali Gavin seketika menciut.
"Iya kak" sahut Gavin takut, dia paling takut sama Revan, kalau sama yang lain dia masih berani mengajaknya berdebat.
"Aluna, kak Gavin pulang dulu ya, besok kak Gavin main kelumah Aluna" pamitnya kepada Aruna.
Gadia kecil itu mengangguk sambil tersenyum malu.
Gavin pun berdiri dari tempat duduknya ingin pergi meninggalkan Aruna.
"Bagus di tinggal begitu aja, harusnya kamu antar kerumahnya juga" sindir Ravin ketika melihat adiknya mau pergi begitu saja meninggalkan Aruna.
Gavinoun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Aluna mau pulang nda? kalau mau pulang ayo Gavin antelin" tanya Gavin dan menawarinya pulang bersama.
"Iya kak, Aluna mau pulang"
"Yasudah ayo".
Aruna pun ikut berdiri menyusul Gavin yang sudah lebih dulu berjalan menuju ke motornya.
"Ayo Aluna naik ke motol Gavin" pinta Gavin yang sudah lebih dulu naik ke motornya.
Dengan wajah berbinar Aruna naik ke motor Gavin. lalu memeluk pinggang Gavin karena takut jatuh.
"Pegangan yang kenceng yang, Gavin mau jalan ini" peringatnya kepada Aruna.
Motor Gavin pun mulai jalan meninggalkan taman sambil ngboncengin Aruna di belakangnya, sedang kan Revan dan Ravin sejak tadi hanya memperhatikan tingkah mereka berdua yang terlihat lucu.
(Bayangin aja belakangnya ada Aruna yang sedang di boceng Gavin guys😂).
"Lo kalah Van, lihat Gavin sudah berani bonceng cewek, nah lo kapan" ledek Ravin kepada Revan.
"Masak iya lo bonceng gue mulu, jangan-jangan gak normal lo ya" lanjutnya.
Plakkk....
"Sembarangan, emang gue lo apa gonta ganti cewek mulu" kesal Revan karena di ejek oleh kembaranya.
"Lah, namanya aja sedang mencari yang terbaik dari yang baik. Jadi kita harus terus mencari hingga menemukan yang terbaik untuk kita"
"Serah lo aja Vin. udah kek hidup lo bener aja" cibir Revan.
Barsambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏