Baby Girl

Baby Girl
BAB 146



Sedangkan di tempat lain


Setelah pulang dari kantor Ninon bergegas pergi ke restoran Alisya untuk menjemput Dewi kekasihnya yang sudah 7 bulan ini ia pacari.


Nino butuh waktu tiga bulan untuk menyakinkan Dewi agar mau menerima dirinya.


Perbedaan ekonomi yang terlihat begitu mencolok membuat Dewi awalnya ragu untuk menerima Nino.


Tapi Nino seperti tak punya lelah untuk menyakinkan Dewi,


Nino yang hiduo sebatang kara tanpa orang tua dan sanak saudara membuat Dewi iba dan mau menerima ajakan Nino untuk menjadi kekasihnya.


Lain cerita kalau Nino masih mempunyai orang tua dan juga saudara, entah mereka akan mendukung hubungannya atau justru menentangnya.


Mobil Nino sudah terparkir di depan restoran milik nyonya bosnya itu, dengan setia Nino menunggu Dewi yang masih terlihat belum keluar dari restoran tersebut.


Tak lama terdengar kaca mobil Nino di ketuk oleh seseorang.


Tok


Tok


Nino menurunkan kaca jendelanya.


"Maaf, sudah membuatmu lama menunggu, sayang" sapa Dewi dari jendela.


"Tak masalah, bukankah aku sudah pernah menunggumu lebih lama dari ini hmm" goda Nino sambil menaik turunkan alis nya, membuat Dewi tersipun.


"Sampai kapan kamu akan terus berdiri di situ sayang? Masuklah " tanya Nino seraya membuka pintu mobilnya untuk sang kekasih.


Bugh


Dewi masuk kedalam mobil Nino dan menutupnya dengan cukup keras.


Nino tertawa kecil melihat wajah kekasih ya yang tengah merajuk.


Nino menggenggam tangan Dewi lalu menciumnya.


"Jangan merajuk, aku hanya becanda" ucap Nino lembut. "Kita mau pulang langsung atau mampir kemana dulu" tanya Nino seraya menjalankan mobilnya.


"Sudah malam, kita pulang saja" jawab Dewi sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobil.


"Baiklah, sekalian aku mau bicara sama orang tuamu" ucap Nino.


"Memangnya aoa yang mau kamu bicarakan kepada kedua orang tuaku" tanya Dewi sambil menautkan alis nya.


"Rahasia, kamu ngga boleh tahu" jawab Nino cuek.


"Kamu ini lama-lama ketularan Reva, suka sekali main rahasia rahasiaan" gerutu Dewi.


"Apa kamu lupa, kalau Reva itu panutanku hmm" ucap Nino asal.


"Gak kebalik, harusnya kamu yang menjadi panutan buat dia" sahut Dewi.


"Tidak lah, bahkan otak dia lebih licik dariku, aku bisa dekat dengan mu juga karena bantuan darinya" ujar Nino


"Kamunya saja yang payah, mendekati cewek saja tidak bisa" ejek Dewi.


"Apa kamu bilang sayang, bukankah dulu kamu yang terlalu jual mahal, sampai membuatku susah untuk mendekatimu" balas Nino.


Begitulah hubungan Nino dan Dewi, mereka sering terlibat perdebatan kecil untuk membuat suasana menjadi seru.


Ada kalanya mereka akan bercanda dan ada saatnya juga untuk serius. Hidup kalau terlalu serius lama-lama pusing juga.


Karena keasikan mengobrol, tak terasa mobil yang Nino kendarai tiba di depan rumah Dewi.


Dewi turun dari mobil lantas masuk kedalam rumah di susul oleh Nino di belakangnya.


"Assalamualaikum" ucap Dewi ketika memasuki rumah.


"Waalaikumsalam" sahut ibu dari dalam.


"Kamu sudah pulang nak" tanya Ibu Dewi.


"Sudah bu" jawab Dewi. "Bu ada Nino di luar, katanya mau mengobrol sama ibu dan bapak" ucap Dewi memberitahu kepada orang tuanya.


"Suruh masuk atuh Dew, kenapa kamu biarkan Nino di luar" ucap ibu Dewi sedikit mengomeli putrinya itu.


"Yee...kan Dewi tidak tahu bu" sahut Dewi tak terima.


*


*


*


"Pak, maksud tujuan Nino datang kemari, Nino ingin melamar putri bapak untuk menjadi istri Nino, Nino berharap bapak sama ibu mau merestui hubungan kita" ucap Nino sopan.


"Apa kamu yakin nak? Dewi hanya anak orang tak punya, beda dengan kamu yang kaya dan sudah pasti bisa mendapatkan perempuan yang lebih dari Dewi" tanya Bapak Dewi ragu.


Bukan dia tak merestui hubungan putrinya dengan Nino, tapi untuk pernikahan dia tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Dia harus tahu dulu keseriusan Nino kapada putrinya.


Sepertinya wajah ketakutan seoarang Ayah yang tak ingin putra putrinya mendapatkan pasangan yang salah, dan akan berakhir dengan perceraian.


"Saya sudah yakin dengan Dewi pak, sebelum saya datang dan mengutarakan keinginan syaa, syaa sudah memikirkannya dengan matang, dan saya yakin Dewi akan menjadi istri yang baik untuk saya" ucap Nino yakin.


"Bapak tidak bisa memutuskan masalah ini sendiri nak, lebih baik kamu tanyakan langsung saja pada Dewi," balas Bapak Dewi.


Bapak Dewi menyerahkan semua keputusannya kepada putrinya, karena nantinya putrinya lah yang akan menjalaninya.


Tak lama Dewi datang dari belakang, dia mendudukan bokongnya di sisi bapaknya yang masih kosong.


"Ada apa? Kenapa kalian menatapku" tanya Dewi mengerutkan keningnya.


"Nak Nino melamarmu nak, coba kamu jawab di depan nak Nino" ucap bapak Dewi to the point.


Dewi sudah menduganya kalau kekasihnya itu akan membicarakan tentang hal ini.


"Apa kamu yakin?" tanya Dewi sambil menghela nafas panjang.


"Tentu saja aku yakin, aku tak pernah main-main menjalani hubungan denganmu, sayang" jawab Nino tegas.


"Bissmillah"


"Aku terima pinaganmu menjadi suamiku" ucap Dewi sambil meneteskan air matanya haru.


Dewi tak menyangka tuhan sebaik ini dengannya, tuhan sudah memberikan jodoh seperti Nino yang baik hati yang mau menerima segala kekurangannya, bahkan Nino tak pernah merendahkan diri ya sedikit pun


"Terima kasih sayang, aku akan secepatnya menentukan tanggal nikahan kita, tapi maaf sebelumnya, berhubung saya sudah tidak mempunyai keluarga, nanti saya akan meminta keluarga tuan Arsen yang akan mendampingi saya di pernikahan nanti" ucap Nino.


"Suatu kehormatan buat kami kalau tuan Arsen mau datang ke pernikahan kalian" sahut bapak Dewi.


"Iya pak" ucap Nino tersenyum senang.


Karena sudah malam, akhirnya Nino pamit undur diri dari rumah calon istrinya itu.


Nino melajukan mobilnya pulang ke apartemennya dengan hati yang berbunga-bunga, ia tak menyangka kekasihnya itu langsung menerima lamarannya.


Sebelumnya Belinda sudah bilang sama Nino, kalau mau menikah tolong bilang kepadanya, dia akan mendampingi Nino sebagai orang tuanya.


Karena selama ini Belinda sudah menganggap Nino sebagai putranya, akan tetapi Nino enggan untuk memanggil Belinda dengan sebutan Bunda.


Nino juga tak enak hati kalau terlalu dekat dengan keluarga Arsen, sudah di tolong nya saja Nino sudah terima kasih dengan bosnya itu.


Dulu Nino merupakan anak orang kaya yang jatih bangkrut, orang tuanya meninghal karena serangan jantung akibat perusahaannya bangkrut, setelah di tinggal meninggal orang tuanya Nino menjadi seorang gelandangan yang tak punya apa-apa, singkat cerita dulu Arsen pernah menyelamatkan Nino yang sedang di keroyok masa karena di tuduh maling oleh salah satu warga.


Arsen yang kebetulan lewat, akhirnya menyelamatkan Nino.


Arsen melihat dari sorot mata Nino kalau dia bukanlah seorang pencuri, dia hanya di tuduh oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Lalu Arsen membawa Nino pulang kerumahnya, dan menceritakan semuanya kepada Belinda.


Akhirnya Belinda mengirim Nino keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya, semua kebutuhan hidup Nino di tanggung oleh keluarga Arsen.


Makanya mesti Arsen jarang ke kantor Nibo tak pernah protes, dia tetap menjalankan perusahaan Global Group dengan baik.


Karena Nino mempunyai hutang budi kepada bosnya itu.


Bersambung


Hapoy reading guys🙏


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Rate💞