
Nino menyambut kedatangan Arsen, dia langsung mengikuti langkah Bos nya itu dari belakang menuju ke ruangannya.
Arsen menurunkan Reva dari gendongannya. Seolah mengerti, Reva langsung berjalan menuju ke sofa dan duduk di sofa sambil menonton video yang ada di ipadnya.
Arsen mendudukan bokongnya di kursi kebesarannya. Dia memijit pelipisnya karena merasa pusing melihat banyaknya berkas yang menumpuk di hadapannya. Beberapa hari menjaga istrinya di rumah sakit ternyata membuat pekerjaannya makin menggunung.
"Nino, tolong kamu carikan 3 baby sitter untuk menjaga triplet, kamu harus cari yang sudah profesional ya No, saya tidak mau nanti terjadi sesuatu dengan anak-anak saya" perintah Arsen.
"Baik tuan" ucap Nino.
Nino menyodorkan beberapa berkas penting yang harus segera di tanda tangani kepada Arsen.
"Tuan, besok adalah jadwal anda meninjau proyek yang ada di kota B. Mau di reschedule atau bagaimana?" tanya Nino.
"Tak usah, aku akan datang langsung kesana No" ucap Arsen.
Nino bernafas lega mendengar jawaban Arsen, akhirnya tuannya itu mau mengerjakan sendiri dan meninjau langsung ke lokasi proyek.
"Saya nitip Reva dulu sama kamu No, saya ingin mengerjakan semua pekerjaan ini supaya tidak terlalu menumpuk di meja saya" ucap Arsen. "Oh ya, bagaimana dengan calon sekretaris baru No? Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Arsen.
"Sudah tuan, mungkin lusa sekretaris baru itu sudah mulai masuk" jawab Nino.
"Baguslah kalau begitu, jadi pekerjaanmu sedikit terbantu" ucap Arsen.
Arsen mulai membuka satu persatu berkasnya yang perlu di koreksi dan di tanda tangani.
"Tetap saja pekerjaaku akan menumpuk, orang anda jarang masuk ke kantor" gerutu Nino dalam hati, tentu saja dia hanya berani menggerutu dalam hati.
Nino beranjak dari hadapan Arsen. Kini dia mendekati Reva yang sedang asik dengan ipadnya.
"Nona Reva, ayo ikut ke ruangan om Nino" ajak Nino langsung mengangkat tubuh Reva ke dalam gendongannya.
"Om Nino, ini namanya pemaksaan, Kan Leva belum bilang mau" ucap Reva seraya memberontak.
"Diam nona, om Nino ingin membicarakan sesuatu kepada non Reva" peringatnya.
Reva mencebikan bibirnya kesal sambil menatap sinis Nino.
Kini Reva dan Nino sudah berada di dalam ruangan Nino, mereka berdua duduk berhadapan seperti ingin mengintrogasi seseorang.
"Memangnya apa yang ingin Om Nino bicalakan sama Leva" tanya Reva sambil duduk seraya menyilangkan kakinya seperti orang dewasa.
"Reva mau tidak om Nino ajak jalan-jalan ke mall atau ke taman hiburan" tanya Nino modus.
"Om Nino sedang ulang tahun ya? Makanya mau ajak Leva jalan-jalan" tanya Reva polos.
"Bukan ulang tahun nona, om Nino hanya ingin ngajak non Reva jalan-jalan saja" ucap Nino tak jelas.
"Om Nino, bicalanya jangan mutel-mutel, bikin Leva pusing saja" kesal Reva.
Nino mengambil nafas dalam, ternyata bicara sama anak kecil itu harus to the point, tak bisa pake kode-kodean.
"Om Nino ingin mengajak nona Reva jalan-jalan, tapi nanti nona Reva ajak tante Dewi juga" jelas Nino.
"Ohh....ngomong dali tadi bial Leva ngelti" ucap Reva. "Om Nino suka sama Onty Dewi ya makanya nyuluh Leva ajak-ajak onty Dewi" godanya kepada Nino.
Nino salting di godain anak kecil, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kali ini saja, tolong bantuin om Nino, sayang" pinta Nino dengan tatapan memohon.
Reva mengerutkan dahinya sambil mengetuk-ngetuk dagunya seolah sedang berfikir.
"Memangnya om Nino mau ngasih Leva apa? Kalau misal Leva mau bantu om Nino" tanya Reva mencoba mengajak bernegosiasi Nino.
"Leva mau belbie sama lumahna, bial koleksi boneka belbie Leva makin banyak" jawab Reva semangat.
"Baiklah, nanti om Nino akan belikan" ucap Nino lemas.
Ternyata anak bosnya ini cukup cerdik untuk bernegosiasi, dia tak mau menolong Nino dengan percuma makanya dia minta imbalan. Jiwa bisnisnya sudah tertanam sejak dini.
"Kapan om Nino mau ajak Leva jalan" tanya Reva.
"Nanti kalau om Nino libur sayang" jawab Nino.
"Memangna kapan om Nino libul? Ntal gililan Om nino libul Leva na nda libul, Leva sekalang sibuk om. Jadi om Nino halus ikutin jadwal Leva ya.....Leva maunya nanti hali minggu saja, om Nino halus bisa...kalau nda belalti Leva nda jadi bantu om Nino" ucap Reva sedikit memberi ancaman kepada Nino.
"Yasudah, hari minggu ini om Nino akan jemput non Reva" ucap Nino pasrah.
Ceklek.
Tak lama Arsen membuka pintu masuk ke dalam ruangan Nino.
"Kalian sedang apa" tanya Arsen sambil mendudukan menjatuhkan tubuhnya di sisi Reva.
"Lahasia, papa nda boleh ngelti" sahut Reva.
"Ck, masih kecil saja sok main rahasia rahasiaan" cibir Arsen.
"Bialin, Syilik....bilang bos" seloroh Reva.
Arsen mendengus kesal, putrinya itu terlalu ngikutin video di tok tok. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Arsen mengajak putrinya untuk pulang.
"Ayo syaang, kita pulang...nanti mama nungguin" ajak Arsen, Reva mengangguk patuh.
Reva beranjak dari tempat duduk nya yang tadi ia duduki, dia mendekati Nino untuk berpamitan.
"Leva pulang dulu om, nanti hali minggu jangan lupa om Nino jemput Leva di lumah" pamit Reva sambil mengingatkan Nino.
"Siap tuan putri" sahut Nino tersenyum senang. Dia berharap misi untuk mendekati Dewi lewat Reva tidak akan gagal.
Arsen merasa curiga dengan kedua orang yang berbeda usia itu, Arsen sangat penasaran sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan tanpa sepengetahuannya.
Arsen membawa Reva meninggalkan gedung Global Group yang mulai sepi, karena sebagian dari karyawan ada yang sudah pulang.
"Kamu tidak ingin memberitahukan rencanamu dengan om Nino kepada papa girl?" tanya Arsen sambil memakaikan seatbelt ke tubuh Reva.
"Tidak papa, ini lahasia Leva sama om Nino...jadi papa nda boleh tahu" kekeuh Reva.
"Ck, ternyata anak ini punya prinsip yang kuat juga, bahkan di saat usianya belum menginjak lima tahun dia sudah pandai menjaga rahasianya." batin Arsen.
"Terus kamu hari minggu mau kemana sama om Nino" cecar Arsen. Dia ingin tahu rahasia antara putrinya dan asistennya itu.
"Leva hanya ingin pelgi jalan-jalan sama om Nino pa" jawab Reva sambil menatap luruh kedepan.
"Hanya itu aja" tanya Arsen memastikan.
"Tentu saja tidak papa, tapi Leva nda mau kasih tahu lencana Leva sama om Nino" ucap Reva tak goyah, dia mempunyai pendirian yang kuat.
"Kalau begitu papa tidak akan mengijinkanmu pergi" ancam Arsen.
"Leva bisa minta ijin sama mama, pasti mama ijinin Leva pelgi sama om Nino" sahut Reva tak kehabisan akal.
Bersambung
Happy reading guys🙏