
"Bagaimana ini sayang? masak dia mau tidur sama kita, nanti yang ada aku ngga bisa meluk kamu" rengek Reynand tak setuju dengan adik iparnya itu.
Reva menghela nafas pelan, dia sebenarnya ingin tidur dengan adiknya, apalagi sudah lama dia tidak serumah dengan adiknya itu.
Tapi Reva sadar kalau dirinya sudah menikah, jadi dia juga harus memikirkan suaminya.
"Gavin pulang aja sama papah. Kasur kak Reva sempit kalau buat tidur bertiga, apalagi kamu kalau tidur ngga bisa diem, natar kalau nendang perut kak Reva bagaimana" ucap Reva mencoba membujuk adiknya.
"Gavin bisa tidul sama kak Cia, ya kan kak Cia" sahut Gavin meminta dukungan sama Cia.
Cia mengangguk setuju, dia sudah lama ingin memiliki adik tapi daddy nya menolak keras, katanya dua anak cukup padahal Cia ingin memiliki adik supaya ada teman main karena kakaknya itu selalu sibuk dengan urusan kantor.
"Kamu yakin Ci" tanya Reva ragu.
"Iya kak, Cia senang ada Gavin di sini jadi Cia ada teman main, selama ini kan kak Reva selalu di monopoli sama kak Rey, jadi sama aja Cia nda ada teman" sahut Cia mencebikkan bibirnya sebal.
"Terserah kak Rey, kan kan Reva punya kak Rey bukan punya kamu" sahut Reynand tak mau kalah.
"Kak Reva dengar sendiri kan, suami kak Reva itu pelit tidak mau berbagi, padahal kan kak Reva juga kakak ipar Cia" seru Cia.
"Bialin aja kak Cia, olang bucin memang sepelti itu" timpal Gavin membela Cia.
Reagan dan Arsen menghela nafas panjang, selalu aja ada perdebatan di antara mereka.
"Papah mau pulang Gav, kamu mau di sini atau ikut papah pulang" tanya Arsen lagi memastikan.
"Gavin di sini aja pah" jawab Gavin menolak ajakan papahknya.
Arsen bersorak dalam hati, malam ini Arsen bisa berduaan dengan sang istri tanpa ada yang menganggunya.
"Tapi ingat, kamu jangan nyusahin mereka dan jangan berbuat ulah, nanti papah akan menyuruh om Reagan mulangin kamu kalau kamu nakal" Arsen memperingati sang putra.
Ia tak ingin putranya membuat keributan di rumah orang.
"Iya papah" sahut Gavin patuh.
Arsen pun pamit dengan semuanya, dia pulnag kerumah tanpa membawa sang putra.
🌹🌹🌹
"Kok kamu sendiri sayang? mana Gavin nya?" tanya Alisya saat melihta suaminya pulang sendiri tanpa membawa sang putra.
"Anakmu tidak mau di ajak pulang, tadi sudah di bujuk tapi tetap tidak mau" jawab Arsen dan mengecup kening istrinya.
"Dia tidur sama siapa? nanti malah ganggu Reva sama Reynand gimana?" tanya Alisya.
"Gavin tidak tidur sama Reva, tapi tidur sama Cia" jawab Arsen.
Mereka berdua masuk kedalam kamarnya, Alisya menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Usai airnya siap, Arsen masuk. kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tiga puluh menit berlalu, Arsen keluar dari dalam kamar mandinya, dia memakai pakaian yang sudah di siapkan istrinya.
Arsen melihat ke seluruh kamar ternyata istrinya sudah tidak ada di kamar.
"Mungkim dia sudah turun kebawah" gumam Arsen menyusul istrinya kebawah untuk melakukan makan malam.
Terlihat di meja makan sudah ada istri dan ketiga anaknya yang sedang menunggunya.
"Papah kenapa lama sekali, Rachel sudah lapar" rengek Rachel manja.
"Maaf princess, papah baru selesai mandi" sahut Arsen tersenyum sambil mencium puncak kepala sang putri.
Ravin sebal melihat kembarannya yang manja pada sang papah.
"Dasar manja" cibir Ravin.
Rachel mengendikkan bahunya acuh. dia lagi males meladeni kembarannya.
"Ayo makan dulu" ajak Alisya.
Alisya melayani suaminya, mengambilkan nasi serta lauk untuk suaminya.
Seperti biasa Arsen mengajak istri dan anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga.
Hanya di malam hari mereka bisa berkumpul dengan formasi yang lengkap, kalau siang hari Arsen sibuk bekerja di kantor dan anaknya juga sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Jadi saat malam hari sebelum istirahat dia meluangkan waktunya sedikit untuk mengobrol dengan anak-anaknya.
"Sebentar lagi kalian lulus, kalian mau nerusin kuliah dimana?" tanya Arsen.
"Ravin mau susul oma ke paris" ucap Ravin.
Arsen sudah menduga kalau Ravin pasti tidak mau kuliah di tanah air.
"Lalu kamu Revan" tanya Arsen.
"Memangnya Revan bisa memilih? bukankah papah minta Revan bantu papah di perusahaan, berarti Revan harus kuliah di sini kan tanya Revan.
"Papah memang menyuruhmu membantu papah, tapi bukan berarti kamu tidak bisa mengejar cita-citamu, kamu bisa kuliah dimana aja yang kamu mau, asal setelah kuliah selesai kamu harus masuk ke perusahaan dan menggantikan papah" tegas Arsen.
"Kalau begitu Revan ikut Ravin aja tinggal sama oma" sahut Revan.
"Tidak boleh, kamu cari negara lain aja. aku tidak mau kuliah satu negara sama kamu" protes Ravin.
Ravin tidak mau satu kampus dengan Revan, nanti hidupnya tidak bebas karena di mata-matai kembarannya itu.
"Kenapa tidak mau, bukannya bagus kalau kamu kuliah sama Revan. Jadi kamu ada temannya" ucap Arsen.
"Tidak mau, tidak kreatif banget sih, masih banyak negara kenapa harus ngikutin aku"
"Ravin itu mau bebas pah, dia takut tidak bisa bebas kalau ada kak Revan" cicir Rachel yang langsung dapat pelototan dari sang kakak.
Rachel menjulurkan lidahnya meledek kembarannya.
"Kalau kalian semua pergi lalu mamah sama siapa" tanya Alisya dengan wajah terlihat sendu.
"Kan masih ada Rachel sama Gavin mah" sahut Rachel.
"Memangnya kamu mau kuliah di sini" tanya Alisya ragu.
"Memangnya Rachel boleh kuliah di luar negeri" tanya Rachel memicingkan matanya.
"Tidak! princess papah harus tetap di rumah tidak boleh kemana-mana" jawab Arsen tegas membuat Rachel memanyunkan bibirnya.
Arsen tidak akan mengijinkan putrinya pergi kemana-mana apalagi tinggal di luar negeri jauh darinya. ia mengijinkan Ravin dan Revan tapi tidka dengan Rachel.
"Kamu di rumah ada dek jagain mamah" ucap Revan yang juga sama posesifnya seperti papahnya, dia selalu mengawasi pergaulan sang adik.
dia tidak mau kejadian yang menimpa mamahnya dulu terjadi pada adiknya.
"Kenapa kak Reva boleh keluar dari rumah sedangkan Rachel tidak boleh, kan kita sama-sama perempuan" tanya Rachel.
Ravin menyentil kembarannya gemas.
"Kak Reva itu keluar dari rumah karena ikut suaminya, dulu kak Reva juga kuliah di sini bukan di luar negeri, bo*oh boleh tapi jangan di borong semua"
"Kalau begitu nanti Rachel ikut suami Rachel juga"
Jawab Rachel semakin membuat Ravin frustasi, adiknya itu kenapa otaknya lemot sekali.
"Kamu mau menikah sama siapa Maryati? pacar aja tidak punya sudah mengkhayal mau tinggal sama suami" gemas Ravin.
Rachel nyengir sambil menggaruk kepalanya.
"Yasudah besok Rachel cari pacar dulu" ucap Rachel.
"TIDAK BOLEH!!"
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys 🙏