
Karena triplet lahir di usia kehamilan 8bulan, maka dokter menyatakan kalau ketiga bayi Arsen termasuk bayi prematur.
Bayi prematur yang lahir di usia 8bulan (32-34 minggu) (moderately paterm). Kebanyakan bayi lahir prematur 8bulan berat badannya mencapai 2kg, kabar baiknya juga bayi Arsen bisa bernafas sendiri tanpa bantuan alat.
Usia bayi prepmatur yang belum cukup bulan, membuat mereka harus hidup di dukung oleh alat inkubator, yang bisa membuat mereka tetap nyaman dan tenang. Karena bagaimanapun bayi prematur belum bisa melakukan transisi dengan dunia luar, sehingga inkubator akan menolong mereka agar di selimuti dengan suhu serta kelembaban yang sesuai seperti saat berada di dalam rahim ibu.
"Bagaimana Ar" tanya Belinda cemas ketika melihat Arsen keluar dari ruang operasi dalam keadaan kacau.
Arsen tidak menjawab, dia langsung menubruk tubuh bundanya.
"Arsen di beri kesempatan untuk menjadi ayah lagi bund. Maaf, kalau selama ini sudah menyakiti perasaan bunda, maaf, jika selama ini Arsen sering tidak mendengarkan ucapan bunda hiks...hikss" tangis Arsen pecah di pelukan bundanya, dia baru tahu pengorbanan seorang ibu begitu besar untuk anak-anaknya.
Belinda tersenyum sambil menepuk-nepuk punggun Arsen. Selama ini putranya sudah cukup berbakti kepadanya, meskipun terkadang ada perbedaan pendapat, namun tidak sampai menyakiti perasaan Belinda.
"Apa jenis kelamin cucu bunda son" tanya Belinda sambil melepaskan pelukan putranya.
"Dua jagoan dan satu princess bund" ucap Arsen tersenyum bangga.
"Mana mama na Leva pa?" tanya Reva.
"Ada di dalam sayang, sebentar lagi akan di pindahkan, baru nanti kita bisa jenguk mama" jawab Arsen mengelus kepala putrinya, Reva mengangguk kecil.
Meskipun kerap kali membuat mamanya jengkel akan tetapi gadis kecil itu mengkhawatirkan keadaan mamanya.
Tak lama suster keluar sambil mendorong brankar Alisya. Terlihat Alisya masih terbaring lemah paskah operasi cesar.
"Itu mama, pa" pekik Reva sambil menunjuk ranjang mamanya. "Mamana Leva mau di bawa kemana itu" tanya Reva.
Arsen langsung menggendong putrinya mengikuti ranjang Alisya yang di pindahkan ke dalam ruang VVIP.
"Bunda sama Reva pulang saja, biar Arsen yang menjaga Alisya bund" pinta Arsen.
"Tapi bunda belum melihat cucu bunda Ar" sahut Belinda dengan tatapan memohon.
"Besok saja sekalian bund, nanti Arsen akan meminta suster untuk memindahkannya kesini. Arsen hanya tak mau melihat bunda kecapekan nanti sakit bagaimana" ucap Arsen mencoba memberi pengertian kepada bundanya.
Dengan berat hati Belinda mengikuti saran putranya, dia juga sudah lelah dan ngantuk.
"Reva ikut pulang sama oma ya, besok Reva kesini lagi" titah Arsen.
"Nda mau, Leva mau di sini sama mama" tolak Reva.
Reva mendekati ranjang mamanya, mata Reva berkaca-kaca melihat mamanya terbaring tak berdaya, berbeda seperti biasanya yang sehat dan selalu mengomelinya.
"Jangan nangis, mama tidak apa-apa sayang" ucap Alisya membawa putrinya ke dalam pelukannya.
"Huwaaa...kalau mama sakit, nanti Leva sama siapa hiks.hiks" ucap Reva menangis dalam pelukan mamanya.
"Apa kau melupakan papa girl" sahut Arsen mendekati dua kesayangannya.
"Tapi papa nda suka ngomel sepelti mama" ucap Reva sambil menarik ingusnya.
"Kamu ini ada-ada aja, harusnya kamu senang karena tak memarahimu" balas Arsen heran sambil memangku putrinya.
Akhirnya Arsen membiarkan putrinya menginap di rumah sakit, sedangkan Belinda pulang bersama sopirnya yang masih menunggu di depan.
"Papa adikna Leva mana" tanya Reva sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Besok di bawa kemari sayang, sekarang Reva tidur lagi...ini sudah mau menjelang dini hari" titah Arsen sambil membawa Reva ke sofa, beruntung Sofa nya lebar, jadi akan membuat tidur putrinya nyaman.
Arsen menyelimuti Reva sambil menepuk nepuk bokong putrinya. Tak butuh waktu lama sudah terdengar dengkuran halus dari putrinya.
"Selamat tidur putri cantik papa" ucap Arsen sambil mencium kening putrinya.
Kini dia beralih mendekati ranjang istrinya.
"Kamu tidak tidur baby" tanya Arsen sambil mendudukan bokongnya di kursi dekat ranjang Alisya.
Alisya tahu kalau suaminya sudah lelah, bahkan suaminya belum istirahat sejak pulang kerja tadi.
"Susah baby, aku takut menyakiti perutmu" tolak Arsen sambil mengusap usap pucuk kepala istrinya.
Alisya mengerucutkan bibirnya kesal, Arsen terkekeh melihatnya.
"Nanti kalau sudah sembuh aku akan memelukmu hingga puas" ucap Arsen dengan senyum manis membuat hati Alisya langsung meleleh.
Kini Alisya memilih memeluk lengan suaminya. Arsen terus mengusap usap kepala istrinya hingga istri cantiknya itu tertidur.
Arsen merebahkan kepala di sisi ranjang, sambil menggengam tangan Alisya.
Arsen pun ikut menyusul istri serta putrinya yang lebih dulu mengarungi mimpinya.
......................
Pagi hari Arsen di bangunkan oleh kehadiran suster yang masuk kedalam ruangan istrinya, suster datang untuk mengontrol bekas operasi dan sekaligus membawa bayi mereka untuk di susui.
Karena bayi Alisya lahir mendekati usia yang cukup bulan, dokter menyarankan untuk tidak terlalu lama berada di dalam inkubator. Karena menurutnya sentuhan ibu merupakan inkubator alami untuk bayi.
Oekk..oek..oek...
Bayi perempuan Arsen menangis, mungkin karena dia lapar.
Alisya dengan sigap langsung menerima bayi tersebut, bersyukur Asi Alisya lancar sehingga di bisa langsung menyusui ketiga bayinya secara bergantian.
Reva terbangun mendengar tangisan ketiga adiknya. "Papa kenapa belisik sekali" ucap Reva sambil mengucek matanya, dia masih belum sadar kalau dirinya berada di kamar rumah sakit.
"Adiknya Reva sedang lapar, jadi mereka menangis" sahut Arsen.
Reva langsung melek mendengar ucapan papanya. Dia sangat antusias ingin melihat ketiga adiknya.
Reva beranjak meninggalkan sofanya, dia berjalan mendekati mamanya yang sedang menyusui salah satu adiknya.
Reva menghitung jumlah adiknya. "Adikna Leva banyak sekali mama, anak mama banyak sepelti molly (kucing Alisya)" ceplos Reva. Membuat Alisya mencebik.
"Honey, masak aku di samakan sama kucing aku di rumah" rengek Alisya kepada suaminya.
Arsen tertawa kecil, seperti inilah keseharian Arsen, akan mendapat rengekan dari istrinya, dan nanti akan bertambah dari ke empat anaknya.
"Memang benal kan pa, molly saja kemalin anaknya empat" ucap Reva sambil mengelus lembut pipi adiknya.
"Tapi kan mama bukan kucing sayang," tegur Arsen lembut.
Reva cengengesan, dia beralih melihat kedua adiknya yang berada di box bayi.
"Nama melekan siapa papa" tanya Reva sambil memainkan tangan adik perempuannya.
"Revan Ananda Davidson anak pertama"
"Ravin Ananda Davidson anak kedua"
"Rachel Anindya putri Davidson anak ketiga Arsen.
"Nama yang bagus, Leva suka....tapi Leva bingung papa, meleka muka na sama semua" keluh Reva.
"Namanya juga kembar sayang" sahut Arsen.
Reva pusing, dia tidak bisa membedakan adik laki-lakinya, dia memilih bermain dengan adik perempuannya.
"Hai Lachel adik cantikna kak Leva tapi masih cantikan kakak, kamu nanti kalau besal jangan nakal sepelti kak Leva ya, kasihan mama sama papa nanti, hihihihihi" ucap Reva kepada adiknya sambil tertawa.
Arsen dan Alisya hanya menggelengkan kepalanya.
Bersambung