
2 hari berlalu joy dan jolicia masih berada di Paris dengan keyla. Keyla selalu membawa mereka saat kerja maupun saat bertemu dengan Client. Meskipun agak nakal tapi mereka sangat mengerti pekerjaan ibunya.
" sayang ikut mama ke kantor atau tidak" ucap keyla menghampiri kamar anaknya.
" ikut mama" teriak cia berlari menuju ke mamanya.
" joy kamu gak ikut" ucap keyla mendekati joy yang duduk sendiri dengan berbagai mainannya.
" aku gak mau, aku mau bertemu papa, mama bawa aku ke papa dalvin sekarang. Papa dalvin yang menggantikan kasih sayang papa selama ini" ucap joy. Ia terlihat cemberut menundukan kepalanya.
Sudah dua hari joy tidak melihat dalvin sama sekali. Ia merasa ada ikatan batin dengan dalvin. Saat joy jauh dengan dalvin perasaan rindu dan ingin bertemu dengan dalvin muncul. Joy merasa sangat nyaman dengan dalvin seperti perasaan anak dan orang tua.
" sayang kenapa kamu panggil dia papa, kamu tidak boleh seperti itu pada orang lain" ucap keyla menatap joy. Ia menasehati joy agar tidak memanggil orang sembarangan dengan sebutan papa. Hanya alvin yang harus ia panggil papa. keyla tidak mau joy memanggil orang lain dengan sebutan papa selain alvin.
Tak lama suara ketuk pintu terdengar dari luar kamarnya. " non keyla ada tamu di depan mencari tuan muda joy" ucap pelayan.
" baik bi nanti aku akan keluar dengan anak anak, suruh dia tunggu sebentar" teriak keyla.
" siapa yang mencari joy" batin keyla. Tanpa berpikir lagi. Keyla membawa ke dua anaknya turun menemui tamu itu.
" papa??" Teriak joy berlari turun dari tangga melihat dalvin duduk di ruang tamu depan.
dalvin beranjak dari duduknya ia memeluk erat joy. " aku kangen sama papa" ucap joy lirih.
" om juga kangen sama joy, tadi om lewat sekitar sini jadi om sekalian mampir menemui joy" ucap dalvin.
" kok papa bisa rahu rumah joy" ucap joy melepaskan pelukan dalvin.
" kemarin om melihat joy masuk ke sini" ucap dalvin.
Keyla nampak tidak suka ada kedatangan dalvin ia merasa anaknya mulai lupa dengan alvin semenjak kedatangan dalvin. Ia berdiri dengan tatapan melotot menatap dalvin dengan tangan di lipat di atas perut.
" kenapa kamu di sini" ucap keyla dengan nada juteknya.
"Aku kesini hanya ingin bertemu dengan joy, bukan denganmu kenapa kamu marah" ucap dalvin menatap keyla tajam.
" mama lebih baik mama buatin om dalvin minum" ucap joy dengan nada polosnya merayu keyla.
" joy dia gak usah minum sudah mau pulang, ya gak?" Ucap keyla melotot pada dalvin.
" siapa bilang aku di sini masih lama" ucap dalvin tersenyum .
Mereka terlihat seperti kucing dan tikus saat bertemu. Ia mencoba mengamati wajah dalvin tak ada miripnya dengan alvin hanya matanya yang terlihat sangat mirip.
" baiklah kalu bukan karena anakku joy, aku tidak mau bikinin kamu minum" keyla berdecak kesal ia bergegas pergi menuju ke dapur.
Ia terfikir alvin dia teringat saat masih bersama dengannya pertama kali ia mengijak dapur untuk memasak.
Flash back.
" kamu lagi masak apa" ucap alvin memeluk keyla dari belakang ia menyandarkan kepalanya di pundak keyla.
" aku ingin buwat masakan yang spesial buwat kamu, aku gak mau kayak waktu itu lagi saat pertama aku masak buwat kamu" ucap keyla mengerutkan bibirnya.
" biar aku yang ajarin kamu memotong" ucap alvin memegang ke dua tangan keyla dari belakang. Mereka terlihat sangat romantis bersama.
" mama kenapa lama sekali" ucap joy menarik baju keyla membuat ia tersadar dari lamunanya.
" sayang ini udah selesai, baru mau keluar" ucap keyla beranjak keluar membawa 2 gelas minuman.
" kenapa mama aneh begitu" joy berjalan mengikuti keyla.
Joy terlihat sangat senang ada dalvin di sisinya. Ia ingin memastikan dalvin itu benar papanya atau tidak. Ia masih mencari info tentang dalvin. Meskipun ia belum tahu kebenarannya. Ia ingin membuat mamanya bisa dekat dengan dalvin Sebelum semua terlabat.
Keyakinan joy sangat kuat tapi ia masih belum ada bukti untuk menunjukan ke mamanya.
" kenapa om juga ada di sini" ucap joy terkejut melihat ian sudah ada di ruang tamu bersama mama nya dan dalvin.
Rencana joy seakan pupus untuk mendekatkan mamanya dengan dalvin. Wajahnya nampak sedih ia berjalan pelan menuju ke cia bermain.
" kita bermain di dalam" ucap joy lirih ia menarik tangan cia masuk ke dalam kamarnya. Ia nampak tidak suka ada ian di sana.
" kalian mau ke mana" teriak keyla beranjak berdiri.
" mau main di dalam" joy berlari pergi masuk ke dalam
Keyla nampak terdiam, ia terpaksa menemani ian dan dalvin di ruang tamu. Di dalam suasana nampak hening tidak ada yang saling bicara semua terdiam satu sama lain.keyla merasa ragu ingin memulai pembicaraan. Ia melirik ian dan dalvin yang hanya terdiam tanpa sepatah kata apa pun.
" aku pergi dulu" ucap dalvin beranjak berdiri.
" kamu mau ke mana, joy sudah suruh aku buwatkan minum tapi kamu masih belum meminumnya" bentak keyla menarik baju dalvin kuat membuat dalvin jatuh di samping keyla.
Keyla nampak terdiam menatap dalvin di depannya. Jantungnya berdegup sangat cepat membuat ia seakan membisu menatap nya.
" apa yang kamu lakukan" ucap keyla mendorong tubuh dalvin menjauh darinya.
" bukannya kamu yang menarik bajuku, kenapa kamu mendorongku hafusnya aku yang mendorongmu" ucap dalvin beranjak berdiri. Wajah keyla nampak memerah ia tidak tahu lagi mau bicara apa pada dalvin. Memang semula itu kesalahannya menarik baju dalvin.
" ya sudah silahkan pergi" ucap keyla dengan nada juteknya.
Tanpa banyak bicara dalvin beranjak pergi dari rumah keyla.
" kamu mau kemana" ucap ian yang dari tadi hanya terdiam.
Ia merasa sangat cemburu melihat kedekatan keyla dan pria itu. Ia merasa ada orang ke dua lagi mengganggu nya untuk mendekati keyla.
Dalvin melempar senyum tipis menatap ian, " bukan urusanmu aku mau ke mana" ucap dalvin beranjak pergi.
" terus kenapa kamu masih tetap di sini" ucap keyla berdiri melipat ke dua tangannya di atas perut.
" aku kesini mau menjemput kamu, apa kamu tidak kerja hari ini, sekarang sudah hampir jam 7 gara gara pria tadi pagi pagi ke sini kamu jadi terlambat kerja. Bagaimana kamu bisa konsisten dalam bekerja" ucap ian.
" aku bisa berangkat sendiri tanpa harus kamu jemput lagian kantor kita tidak berhadapan. Sekarang pintunya masih terbuka silahkan pergi " ucap keyla ia beranjak pergi memanggil ke dua anaknya di kamar.
Ian terlihat sangat kecewa dengan sikap keyla sekarang. Sebelumnya keyla tidak pernah seperti itu. Ia selalu perhatian dengan orang lain. Dia tidak pernah marah atau pun mengucap kata kasar seperti itu padanya.
Ian terus menatap keyla yang sudah pergi dari hadapanya. Tanpa bicara lagi ia segera pergi dari rumah keyla. Ia berfikir ia ingin menemuinya di kantor keyla.