
saat alvin telah menyadari bahwa ia memeluk dian yang telah mulai tenang, alvin melepas pelukan nya lalu berlari menuju kamar nya dan membanting pintu kamar hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. "si*l, sangat si*l",sambil mengobrak abrikan bantal isi tempat tidur nya histeris dan berteriak. "ngapain harus pake peluk segala si wanita itu", umpet alvin lagi. "nak apa kamu baik-baik saja?", bu shinta sambil membelai rambut dian yang tergerai indah. "iya ma, apa aku bisa minta untuk di antarkan pulang oleh pak bur ma?", dian bertamya pada calon ibu mertu nya. "sebaik nya kamu nginap aja sayang, ini sudah malam dan besok baru alvin menghantarmu pulang yah", tawar bu shinta pada dian, dian yang tak tega ibu shinta memikirkan keadaan nya hanya bisa menganggukan kepala nya lemah, bu shinta lalu mengajak dian menujunkamar tamu di lantai empat bersebelahan dengan kamar alvin dan ivan. di dalam kamar, dian hanya bisa menangisengingat kejadian hari ini "ya tuhan apa ini awal dari kehidupan bersama alvin?", batin dian bertanya pada diri nya sendiri sambil menitihkan butiran beningbdari pelupuk mata nya ynag indah. jam menunjukan pukul 02 dini hari, alvin tak bisa tidur dengan tenang, alvin memilih untuk menghirup udara dingin di malam hari sambil memandangi bintang kecil yang bertaburan di langit lamam itu seakan sedang merayakan pesta besar di alam itu. "kenapa saat memeluk nya sangat mengingat kejadiann 10 tahun lalu pada mu dek", sambil menggenggam gelang pemberian dian kecil. "dimana kamu sekarang? kenapa tak menemui ku? apakah kamu baik baik saat ini?", gumam alvin lagi.
jam 07 pagi dian sudah berada di meja makan sedang membantu para pelayan menyiapkan sarapan pagi, alvin menuruni tangga tak menggunakan lift berbeda dengan ivan yang memilih jalan pintas menuju lift dan terlebih dahulu tibadi lntai bawah, melihat pemandangan yang indah di depan nya, tidak lain adalahbdin "gak sehat si alvin kalau gak mau nikah sama dian, dia gadia baik dan sempurnah menurut ku", batin ivan samnil berjalan menghampiri meja makan, disana sudah ada pak albert, bu shinta dan dia tentu nya. "selamat pagi", sapa alvin pada penghun meja makan yang masih menunggu penghuni lain nya. "mari nak, sarapan lah dulu", kata bu shinta pada ivan. "baik tante", sahut ivan sambil mendaratka tubuh nya pada sebuah kursi kosong bersebelahan dengan dian. "dimana alvin nak", tanya pak albert pada ivan. "masih menghitung tangga om", sambil menyengir kuda, pak albert dan bu shinta sudah sangat mengetahui apa yang dimaksud kan ivan. "anak itu aneh sekali", bisik ivan pada dian yang hanya di jawab dengan senyuman dari dian. tak butuh waktu lama, yang di nantikan akhir nya datang juga. "dia masih disini juga?", batin alvin melihat dian masih duduk manis sambil bercengkerama dengan ayah, ibu dan ivan. "modus banget nih gadis, pasti ayah dan ibu juga ivan gak tau kelakuan gadia na**l itu di luar sana sangatlah li*r", batin alvin sambil mendekati meja maan. "ayolah vin, sarapan sekarang, lama banget kamu!", gerutu bu shinta pada anak semata wayang nya itu. "iya ma, maaf", jawab alvin sambil meneguk susu nya yang telah hangat dan menggigit roti tawar yang sudah di olesi selai nanas oleh dian.
saat sedang asik dengan sarapan, pak alber membuka suara lagi " vin, sebentar kalian berdua pergilah ke tokoh perhiasan membeli cincin yang akan di pakai saat nikah, undangan sudah papa bagikan ke seluruh rekan bisnis kita dan beberapa teman mu juga sudah di berikan oleh ivan", kata pak albert yang berhasil membuat dian dan alvin membulatkna mata seketika. "gak ada bantahan, kalian harus melalukan nya berdua", kata pak albert penuhnpenekanan pada setiap kata nya.
saat di mobil, ivan melirik penumpang nya yang sedari tadi hanya berdiam diri sambil menatap ke arah luar jendela mobil. "apa kamu mau lanhsung ke kangor aja dian?", alvin bertanya pada dian. "aku kerumah aja van, biar pake mobil ku aja baru aku btangkat ke kantor", jawab dian sopan pada ivn yang melirik nya melalui kaca spion mobil "gak perlu keanapun, skarang kita hanya perlu ke kantor lalu ke tokoh perhiasan membeli cincin", ketus alvin tanpa mengalihkan pandangan nya dari jendela diebelah nya. "baiklah", jawab dian pasrah dan tak punya pilihan lin lagi, "astaga, baju aja hari ini ke kantor di beliin keluarga alvin, cincin nikah juga nanti di belikan alvin, gimana ini, aku kog kayak cewek matre sih, aku harus ngambilin uang nangi de atm dekat kantor, akua harus beli cincin pakai uangbku sendiri", batin dian.
45 menit berada di dalam mobil bersama dian, membuat leher alvin sangat sakit seperti sedang keseleo, dan kaki nya pun kesemutan. "si*l banget ni leher sama kaki", gumam alvin. ivan membukakan pintu mobil untuk alvin dan dian lalu memberikan kunci mobil pada satpam yang sedang bertugas. mengikuti langlah kaki alvin dan dian, saat tiba di depan lift karyawan, dian amembungkuk kan badan nya beroamitan pada alvin dan ivan, namun tak di hiraukan alvin, sedangkan pada celsy gadia yag seruangan dengn dian membungkukan badan nya sambil mengucapkn selamat pagi pada alvin, alvin membalasnya dengan ramah.
"kamu gak di balas pak bos meski kamu membungkukan badan mu hingga ujung kaki mu, kamu kan gadis munafik", kata celsi yang memperhatikan dian saat menghormati calon suami nya yang juga bos nya di kantor itu. alvin dan ivan yang mendengar nya menghengikan kaki dan tak melangkah lagi lalu menoleh ke sumber suara itu. dian hanya menundukan kepala nya lalu celsi mendorong tibuh dian hingga hampur terhuyung ke belakang. bersyukur ada winda yang menopang nya. "mbak celsi, toling jaga mulut nya, dian gak pernah melakukan kesalahan pada mbak, tapi kenapa mbak begitu sangat membenci nya?", winda bertanya pada celsi. celsi memicingkan mata nya pada winda lalu berkata dwngan keras "kamu buta apa bodoh? kamu lupa gadis inilah yang menggoda calon tunangan ku david senghinga kami tak jadi bertunangan?", sambil menunjuk wajah dian dengan jari telunjuk nya tepat di muka dian. dian hanya membulatkan mata nya mendengr kebohongan celsi yang menuduh nya sembarangan. alvin hanya mengamatindari kejauhan tanpa ingin berbuat apapun pada ketiga gadis yang sednag ribut di depan pinti lift pegawai.
PLAKKK
"gak", jawab alvin lantang lalu berlalu meninggalkan ivan yang masih terselut emosi nya.
.
.
.
halo guys, jangan lupa like dan dukung novel ku yah, terimakasih