My First Love

My First Love
41. PERUBAHAN PERILAKU



Dian hanya menganggukan kepala nya bertanda ia merespond sang suami.


keheningan pun terjadi selama makan siang berlangsung, dian memilih untuk tidak makan bersama karena hanya ingin menemani sang suami saja.


"bagaimana mungkin seorang bos seperti alvin bisa berubah hanya dalam sekejap mata, apa kah dia punya maksud lain dari balik kebaikan yang ia berikan? ah yah, aku lupa jika berada di luar kamar, kami saling memperlakukan satu sama lain dengan baik mungkin itu yang sedang ia tunjukan sekarang..! jalani saja untuk saat ini mengikuti ermainannya. entah sampai dimana kali ini",


Berkali-kali alvin mencuri pandang pada dian menggunakan sudut ekor mata nya. memperhatikan wanita ciptaan Tuhan yang berada di samping nya, yang tadinya berada di sebrang meja dengan nya, alvin meminta dian untuk duduk disebelah kiri dari nya.


"kamu begitu nyaris sempurnah, entah kenapa aku sangat membenci mu dulu ? entah mengapa aku sangat tak ingin melihat mu, rasa marah yang ku pupuki di hati ku ini seakan bertumbuh menjadi sebuah kebencian mendalam dan nyaris menetap secara permanen di hati, tetapi semakin hari berada di dekat mu, rasa benci ku berbunga menjadi sebuah kesalahan, entah apa, aku tak mengerti dengan hati ku, ingin rasa nya aku menangis di depan mu memohon pengampunan, tapii,, entahlah aku kenapa, MAAF, MAAFKAN aku 😢",


alvin membatin sambil mengeluarkan butiran bening dari sudut mata nya tanpa sepengetahun dian dan segera menyeka air mata nya dengn cepat.


"apa kamu mau pergi ke suatu tempat?', alvin bertanya pada dian yang masih menunduk menatap meja yang berada di depan nya.


dian yang terkejut mendengar alvin sedang bertanya pada nya, sontak menggelengkan kepala nya dengan cepat tanpa membuka suara.


alvin mengelus lembut rambut coklat milik dian yang tergerai sambik berkata


"maaf kan aku, mungkin aku lelaki yang tidak menghargai perasaan mu selama beberapa bulan terakhir ini,entah mengapa aku tak mengerti dengan perasaan ku sendiri, bisa kah kita memulai nya dari awal?", kata alvin


"aa..a..appaa? tu..tu..tua..aan, berbicara serius pada ku?", jawab dian gelagapan sambil menatap netra alvin lekat mencari ada nya kebohonga dibalik itu, namun dian tak menemui nya sama sekali.


"dia tak berbohong? dia serius Tuhan? apa kah aku sedang bermimpi? atau kah aku berhalusinasi? ahh bodoh nya aku ini mengharapkan sesuatu yang takan pernah terjadi", batin dian sambil menarik nafas nya dalam .


"apa kamu tidak mau memaafkan ku?", tanya alvin lagi sontak mengagetkan dian, ternya yang dian pikirkan salah, alvin benar-benar meminta maaf pada nya.


dian akhir nya menganggukan kepaka nya sambil tersenyum dan berhasil butiran bening milik dian mengalir tanpa permisi dari sudut mata nya. alvin menyekah kedua pipi dian dan mengusap setiap tetesan air mata yang mengalir dari sudut mata sang istri lalu merangkul nya dengan erat.


"terimakasih sayang", ucap alvin


"apa kamu tidak ingin ke rumah orang tua mu?",alvin bertanya pada dian yang masih berada di dalam dekapan nya.


"apa kah boleh?", dian malah balik bertanya pada sang suami sambil melepaskan dekapan nya dan menatap wajah sang suami.


"tentu boleh, jika bersama ku sayang", jawab alvin sambil mencubit pelan hidung mancung sang istri. dian yang baru mendapatkan perlakuan hangat sang suami pun tersipu malu


"ayo kita siap-siap dulu yah", alvin mengajak dian sambil berdiri dan menggandeng tangan dian menuju kamar mereka berdua.


sesampai nya di dalam lift, dian melepas genggaman tangan alvin, namun siapa sangka, alvin malah merangkul pinggul sang istri dengan mesra, lalu mengecup pucuk kepala dian, dengan lembut.


dian hanya bisa tersenyum dan bersyukur di dalam hati nya, berterimakasih kepa sang empunya kehidupan. terimakasih karena telah menyadarkan sang suami dari situasi yang membingungkan nya.


tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya pintu liftpun terbuka saat tengag berada di depan lorong kamar milik mereka berdua.


alvin tetap tak mau melepaskan rangkulan dari pinggul sang istri. lalu alvin membuka kan pintu kamar mempersilahkan dian untuk memasuk terlebih dahulu.


"baik tuan", jawab dian.


"astaga sayang, mari duduk dulu", alvin membopong sang istri menuju tepi ranjang.


"apa kamu masih marah pada ku?", alvin bertanya pada dian.


"tidak tuan", jawab dian cepat sambil menggelengkan kepala nya.


"hem. lalu kenapa masih memanggilku TUAN?", alvin bertanya lagi.


"maaf, lalu aku harus memanggil apa?", jawab dian bingung, bagaimana tidak? ini sangat membingungkan, semua nya serba tiba-tiba saja. tiba-tiba di perlakukan bagai seorang ratu, dan seperti telah di rasuki roh baik.


"apa saja, asal jangan TUAN lah sayang, gak romantis-romantis banget", jawab alvin


"ba..ba..baiklah ss..sa..ss.aa.ssayangg, sayang", jawab dian terbata-bata, seolah lidah nya terasa keluh bagai orang yang baru belajar berbicara.


"nah gitu dong, kan bagus denger nya", kata alvin senang sambik mencubit manja ujung hidung sang istri.


"baiklah, sekarang kamu mandi sayang", pintah alvin, dian pun akhir nya berdiri dengan cepat sambil berlarian kecil menuju kamar mandi. betapa irama jantung dian berpacu sangat cepat seolah baru saja habis lari maraton.


alvin mengambil benda pipih persegi panjang yang berada di dalam saku celana nya, menerima panggilan yang baru saja masuk. lalu mengggeser tombol hijau dan mendekatkan benda itu pada daun telinga nya.


"hallo, gimana? apa kamu sudah mengerjakan dengan baik?", alvin bertanya pada seseorang yang di seberang telephone.


"sudah boss, ibu bos, tidak mempunyai masalalu bersama david, dan menurut keterangan teman terdekat nya semasa kuliah, ibu bos tidak seperti kebayakan anak-anak kuliahan lain yang berpesta ria ke bar, cafe atau sekedar berjalan-jalan dengan teman nya untuk berpesta atau menghibur diri, ibu bos wanita baik dan tertutup soal kehidupan peribadi nya, ibu bos seorang pekerja paruh waktu dibeberapa cafe dan resto demi membiaya kehidupan nya hingga selesai menyelesaikan pendidikan sarjana dan bekerja di perusahan anda, ibu bos bertemu oak david saat bekerja di perusahan bapak, dan menurut cerita mbak winda , sahabat bu bos, katanya bu bos tidak pernah punya kekasih sejak remaja hingga menikah dengn pak bos, pernah ada seorang lelaki yang ingin bu bos temui dulu hingga sekarang, namun bu bos sendiri gak tau nama lelaki itu dan wajah kelaki itu, hanya suara nya yang ia ingat namun samar-samar tak jelas", kata orang suruhan alvin secara detile dan menyeluruh.


alvin menarik nafas nya berat lalu membuang nya perlahan sambil membuang diri nya ke atas kasur empuk yang berukuran king sise.


dan mematikan panggilan sepihak tanpa ada kata. alvin mengusap berkali-kali wajah nya.


lalu alvin teringat dengan lelaki yang menerut cerita orang suruhan nya samar-samar tak jelas itu. alvin bangun lagi dari tidur nya dan melangkah menuju jendela kaca transparant yang besar menghadapi taman belakang rumah kedua orang tua nya itu. dan menghubungi kembali suruhan nya.


"cepat lacak orang itu yang kau sebutkan suara nya samar-samar tak jelas dan segera laporkan pada ku lagi hasil nya, carikan dan temui lelaki itu, dari mana asal nya dan dimana ia tinggal sekarang!!! aku tak mau, yang menjadi miliku juga di miliki orang lain, ini perintah.. tak boleh kamu bantah!!!!", alvin lalu mematikan telephone saat sudah ada jawaban dari seberang.


.


.


.


hay guys, terimakasih sudah membaca novel ku dengan setia.. ...maafkan aku yah, beberapa hari ini aku sibuk dengan pekerjaan ku, aku seorang bidan yang kalau punya waktu kosong, aku baru bisa menulis novel ku 🙏🙏 maaf yaa, mohon dukungan dan vote novel ku ini 😇