My First Love

My First Love
Saling Acuh



Berbagai makanan sudah di siapkan Keyla untuk ke-tiga anaknya. Mereka bahkan dengan lahapnya menikmati makanan yang ada. Dan Alana masih saja diam, meskipun yang lainya sibuk berbincang satu sama lain. Joy melirik ke arah adiknya itu, ia melihat sepertinya Alana dalam masalah.


Entah apa yang ada dalam pikirannya, bahkan makananya saja hanya diaduk-aduk dan makan hanya beberapa sendok saja. Lalu meletakkan kembali sendoknya. Ia mendorong kursinya ke belakang dan beranjak berdiri. Tanpa sepatah katapun keluar dari bibir tipisnya.


keyla dan Alvin saling menatap satu sama lain. Ia melihat anaknya yang terlihat muram itu, Keyla memberi kode pada Alvin agar menyusul anaknya itu, Untuk pergi menemuinya, siapa tahu dengan papanya ia mau curhat.


Sedangkan Joy meletakkan sedoknya dan beranjak berdiri mendorong kursinya ke belakang.


"Kamu mau kemana Joy" Tanya keyla.


"Aku lagi gak mood makan, aku masuk dulu ke kamar" Ucap Joy, ia melangkahkan kakinya bergegas menuju kamarnya. Keyla dan anaknya Cia saling menatap bingung. Ke dua anaknya itu benar-benar aneh. Yang satu super cuek, satunya tiba-tiba ikutan cuek. Lama-lama seisi rumah saling diam jadi cuek semua.


"Ma, apa kak Joy lagi patah hati"Tanya Cia, gak menyondongkan kepalanya ke depan.


"Entahlah, mungkin mereka berdua lagi bertengkar ya, apa kamu tahu permasalahannya" tanya keyla, ikut menyondongkan kepalanya ke depan, seraya mereka saling berbisik.


"Atau mereka sama-sama lagi oatah hati"Gumam Keyla, mereka benar-benar suka bergosip.


"Bisa jadi, bisa jadi" Ucap Cia, mengangguk anggukan kepalanya.


"Sekarang bantu ibu bereskan semuanya" keyla betanjak berdiri.


"Ma kenap beresin sendiri sih, lagiankan ada pelayan, aku mau tidur dulu capek.. byee.." Ucap Cia beranjak pergi. Ia melambaikan tangannya ke arah Keyla.


Keyla hanya menggeleng, "Dasar tu anak ya".


Hari sudah larut malam, Alana bahkan tidak mau berbicara dengan papanya sendiri. Ia lebih memilih untuk diam dari pada cerita apa yang terjadi. Bagi dia tidak ada yang terjadi, hanya merasa kesal sedikit. Meskipun sifatnya terkanal cuek, tapi jika ia merasa tak di hargai, dia juga bisa merasa sangat kesal.


Alana menutup pintunya, mulai meraih sebuah buku di rak buku yang tertata rapi di depannya. Bahkan dia juga punya perpustakaan buku sendiri lho. Di samping kamar Mandi ada sebuah ruangan yang lumayan luas. Hanya untuk tempat buku yang sudah ia baca, ia kumpulkan menjadi satu.


"Alana apa kamu beneran gak mau di ganggu"Ucap Alvin mengetuk pintu kamar anaknya itu.


"Gak!" Jawab Alana singkat.


"Ya sudah papa pergi ya" Alvin segera pergi dari depan pintu kamar Alana. Ia tak mau mengganggu anaknya, karena memang Alana tidak suka di ganggu kalau lagi kesal.


Keesokan harinya, matahari sudah menampakkan sinarnya, burung-burung sudah bernyanyi merdu di atas atap rumah. Berkeliling di pohon besar samping kamar Alana.


Alana gadis pendiam itu sudah terlihat sangat rapi dengan balutan baju khas sekolahannya. Dan tas rangsel di punggungnya. Tanpa merias wajahnya sedikitpun, ia sudah beranjak pergi, tak lupa membawa buku yang sudah ia siapkan di meja belajarnya.


"Alana kamu sudah siap" Ucap Cia merengkuh pundak Alana.


Alana hanya tersenyum samar, berjalan turun dengan Cia. Dan sepertinya orang tua mereka tak ada di rumah.


" Kak Joy! kemana Ibu?" Teriak Cia pada Joy yang sudah duduk bersandar di sofa menunggu 2 perempuan itu turun.


"Entahlah, mungkin masih di kamarnya" Ucap Joy dengan nada cueknya.


" Hai.. aku datang lagi mau jemput kamu" Miko tiba-tiba sudah duduk di teras rumah Alana, entah sejak kapan ia menunggunya. Bahkan suara montornya saja tadi ia tak dengar. Ah, mungkin karena dia terlalu sibuk kali ya dengan bukunya.


Alana tanpa ekpresi sedikitpun di wajahnya, ia berjalan melewati Miko,


"Alana tunggu" Teriak Miko.


Keyla dan Alvin menatap bingung pada anaknya yang satu itu. Dia terlihat sangat cuek pada semua orang. Bahkan sama lelaki saja dia sangat cuek. Gimana nantinya mau dapat pacar kalau dia selalu menghindar dari lelaki.


Miko meraih tangan Alana, "Tunggu!!" gumam Miko.


"Lepaskan tangannya" Joy memegang tangan Miko dan menariknya untuk melepaskan tangan Alana. Tatapan tajam Joy mengarah pada Miko.


"Hari ini Alana naik mobil pergi ke sekolah" Ucap Joy menarik tangan Alana masuk ke dalam mobil. Alana, bahkan hanya diam saja menatap sekilas ke arah kakaknya itu. Wajahnya nampak terlihat sangat garang. Namun Alana sudah biasa melihat kakaknya seperti itu, setiap dekat dengan lelaki dia selalu seperti itu. Alana tak perdulikan itu, ia lebih mikirin gimana masa depannya nanti.


Tidak pernah terlintas di benaknya untuk memulai sebuah hubungan, saling mencintai dengan lelaki. Ia lebih menikmati kesendiriannya di temani dengan tumpukan buku materi. Ya, mungkin bagi anak normal akan stres setiap hari, selalu hampir 30 buku ia baca setiap harinya, dari berbagai materi, entah perekonomian, kedokteran dan masih banyak lagi. Ia membaca buku yang sekiranya menarik buwat dia.


Miko hanya diam menatap Alana masuk ke dalam mobil, meski ia tetlihat sangat kesal, namun ia mencoba mengalah lebih dulu. Mungkin memang Alana tidak mau naik montor hari ini.


"Hai, sama aku aja" ucap Cia meraih helm di tangan Miko, dan segera memakainya.


"Tapi!!" Miko mengnelan ludahnya, ia ingin Alana yang bersamanya. Namun kini malah Cia yang ngotot mau berangkat bersama.


"Ya, sudahlah. Cepat naik" dengan terpaksa  Miko berangkat dengan Cia.


Sedangkan di balik mobil Alana hanya diam menatap bukunya, bahkan ia tak menatap kakaknya Joy sama sekali, meskipun duduk di sampingnya dia masih acuh pada kakanya.


Joy mengehela napas lega, akhirnya Miko pergi juga dan tidak mengajak Alana untuk berangkat berdua. Aku tidak suka dengannya, dia gak boleh pacaran dulu sebelum menggapai apa yang dia inginkan nantinya, gumam Joy. Melirik sekilas ke arah Alana.


Ia kini mencoba mengganggu adiknya itu, "Lagi baca apa sih" Ucap Joy menarik buku Alana.


"Kah Joy kembaliin" Alana menatap Joy dengan pandangan sangat kesal.


"Gak mau" Joy menatap Alana, dengan tatapan menggodanya.


"Terserah" kali ini Alana hanya diam, memalingkan pandangannya dari Joy, ia menatap pemandangan di luar kaca mobil.


Sepertinya dia benar-benar sangat kesal dengan Joy, bahkan dia sudah tak perdulikan lagi bukunya, yang masih berada di tangan Joy.


"Na, kamu marah" Tanya Joy, menyentuh pundak Alana.


"Enggak" Jawab Alana santai. Ia memang tidak marah dengan Joy, tetapi ia kesal karena selalu di ganggu saat baca buku. Karena ia tidak suka di ganggu ketika sibuk membaca.


Suasana mobil yang semula ada saling berbicara meskipun dengan nada kesal, kini mobil itu terasa sangat hening.