My First Love

My First Love
68. Apa kamu cemburu?



dian perlahan melirik sesuatu yang menindih pinggul nya, ternyata sebuah tangan kekar milik sang suami yang kini melingkar indah di pinggul nya, perlahan ia memindahkan tangan kekar itu, namun tidak dengan mudah nya tangan itu bergeser.


alvin yang tengah sadar bahwa sang istri ingin memindahkan tangan nya malah semakin memper erat lingkaran di pinggul sang istri.


dian menghembuskan nafas nya kasar, sepersekian detik berikut nya terdengar isakan dari bi*r dian.


alvin yang menyadari sang istri tercinta sedang menangis akhir nya segera membalikan tubuh dian untuk berhadapan dengan nya.


"hiks hiks hiks ka..ka..kamu jahat..kamu ja..jahat, kalau aku tau gini jadi nya, gak usah kamu berikan harapan yang begitu dalam, ak..aku kecewa sama kamu, kamu peria terjahat yang pernah aku kenal. kam...", dian tidak melanjutkan lagi ocehan nya, sebab alvin membekap bi*bir ranum sang istri dengan begitu lembut dan tidak menuntut, seakan menyalurkan sebuah perasaan, perasaa yang mungkin tidak mampu ia jelaskan.


sedangkan dian, dian tetap menikmati setiap sentuhan dan setiap ke*upan sang suami yang seakan membawa nya pada dunia yang tak pernah ia rasakan, rasa nya berbeda jika sang suami mulai menyentuh setiap inci tu*uh nya, hingga membuat nya terasa mabuk.


kedua nya terengah-engah dan berusaha mengambil oksigen dari udara bebas. alvin membelai lembut pipih sang istri yang baru saja mengoceh karena kesalahpahaman.


perlahan alvin kembali mengecup kening sang istri dan kedua bola mata yang indah itu.


"apa kamu cemburu? hem?", alvin bertanya sambil menaikan sebelah alis mata nya menatap manik sang istri.


bukan dian nama nya jika wajah putih bersih tak bernoda itu tidak memerah karena menahan malu.


dian memalingkan wajah nya dari hadapan alvin.


alvin mengulum senyum yang tak di lihat sang istri lalu kembali meraih pipih mungil itu agar berhadapan dengan nya.


"yang, maafkan aku, dia wanita yang pernah kamu angkat telephone nya waktu itu. apa kamu lupa saat aku di kamar mandi kan kamu yang angkat telephone nya, bahkan kamu baca kan semua chat nya? apa kamu lupa? aku tidak pernah punya hubungan dengan nya, aku terkejut aja kog bisa dia ada disini.. soal nya kan sebelum nya dia adalah seorang model yang tinggal di negri A", alvin menjelaskan sambil menatap wajah sang istri.


"astaga .. matilah aku.. kog aku lupa sih wanita itukan yang waktu itu, dan.. dan... dan ahhh gimana ini, kog alvin tau kalau aku memporak porandakan isi handphone nya dan sempat mengancam wanita itu, aku juga membaca semua chating nya. dan jelas² disana suami ku tidak merespon sema chat nya. astaga aku.. betapa malu nya aku ini.", batin dian bermonolog mengingat kembali sebuah kesalahan yang suami nya telah mengetahui hal itu entah bagaimana cara nya.


alvin tetap menatap wajah dian dengan dekapan tangan yang masih betah berada di pipih sang istri.


dian gelagapan saat sang suami menyentil ujung hidung nya.


"ahh sakit yang", pikik dian sambil cemberut, dian tidak mau memperkarakan lagi masalah sebelum nya, baginya sudah jelas wanita yang muncul kemarin.


"yang apa ini sudah bisa di buka?", dian bertanya pada sang suami yg masih betah menatap wajah nya tanpa pemikiran apapun.


"hem sabar yah", jawab alvin sambil melakukan aff infusd sendiri tanpa batuan sang dokter.


dian yang melihat suami nya membulatkan mata sempurnah sambil membekap mulut nya sendiri dengan kedua telapak tangan..


"apa yang kamu lakukan yang?? bukan kah harus nunggu dokter dulu gitu?", dian mencecar alvin dengan pertanyaan pada sang suami.


alvin hanya tersenyum sambil terus membukan nya dengan sangat hati-hati dan telaten tanpa rasa sakit.


gimana mau rasa sakit coba? ngeliatin istri udah sembuh aja rasa nya kayak mendapatkan hadiah yang sangatlah berharga bagi pria tampan itu.


"tunggu bentar yah sayang!", alvin melangkah menuju pintu kamar yang terhubung dengan ruangan lain, tak lain adalah sebuh ruangan makan, dan dua kamar selain kamar utama.


dian merasa pernah mengenali ruangan yang sempat di lirik nya melalui celah saat alvin membuka pintu, namun segera alvin menutup nya kembali dengan pelan dan hati-hati.


alvin melangkah menuju kamar yang di tempati ivan, membuka pintu kamar itu dan mendapatkan ivan yang masih tertidur pulas, dilirik nya jam dinding yang ada di kamar itu ternyata sudah menunjukan pukul 10 pagi namun tak ada tanda-tanda alvin akan bangun, dengkuran halus yang berirama membuat alvin tak tega membangunkan sahabat sekaligus sepupu nya itu. di biarkan nya lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih itu tetap lelap dan bermimpi indah.


alvin menghela nafas nya panjang lalu menyentuh ujung kaki riki untuk membangunkan nya dari tidur.


"ki.. ki.. riki...", sambil menggoyangkan kaki kiri riki perlahan.


dokter riki yang terbiasa dengan tidur ayampun segera sadar dan membuka mata nya perlahan.


"ada apa bro", jawab dok riki setengah sadar.


"bangun dikit dong, lepasin infusd istri ku", jawab alvin setengah memohon


"hem'em", jawab riki lalu kesadaran nya mulai menyatuh dan segera bagun lalu terduduk sambil menyilangkan kedua kaki nya di atas kasur.


"eh.. jangan bilang lo buka sendiri infusd nya?", riki bertanya sambil mengamati tangan sang sahabat, sebab ia sangat tahu sahabat nya yang satu ini, ia pasti akan membuka infusd nya sendiri jika ia ingin.


alvin hanya menyengir kuda menunjukan deretan gigi putih nya yang rapih tanpa berdosa.


"yah udah kalau gitu, gua cuci mukak dulu", jawab riki lalu ingin beranjak dari tempat nya namun gagal karena di halang oleh alvin.


"apa sih?", protes riki pada sahabat nya yang berada tepat di hadapan nya sambil melebarkan tangan nya.


"pake masker aja ki, istri gue laper banget dan pengen ke kamar mandi mau mandi, kasian kan ki", alvin memohon sambil mengatupkan kedua tangan nya ke dada.


riki yang melihat sahabat arogant nya tiba-tiba bersikap memohon dan baik pada nya tersenyum simpul lalu perlahan tertawa terbahak-bahak


"hahahahah", alvin lalu membekap mulut sahabat nya agar tidak tertwa terlalu besar.


"eh napa sih? Bucin banget", riki meledek sahabat nya sambil berjalan menuju nakas menuangkan air dari teko untuk di minum.


lalu meraih masker yang ada di laci nakas untuk segera ia gunakan dan berjalan menuju kamar dian.


alvin menghela nafas nya pelan lalu berlari kecil mendahului riki untuk membukakan pintu kamar mereka.


"wahhh seneng gua liat nih bos arogan kayk alvin jadi bucin, tapiii... tungguu.. tingguu dulu, apa mereka berdua masih belum bersuami istri?? seperti para pasangan lain?? apa begitu??? ahh seperti nya memang begitu, tapi kenapa yah? bukan kah ini suda lama?? mereka sudahlamah kan menikah nya.. tapi kog?? ahhh gua hrus nanya sama si kunyuk ini", batin riki bertanya tanya sambil melirik alvin yang masih berdiri di depan pintu memegang handle pintu kamar berwarna gold itu.


.


.


.


hay guys terimakasih atas dukungan nya selama ini..


author minta maaf karena terlLu lam up bab baru ny..


author sedih karena cerita ini belum di vote.


mohon di vote yah cerita nya biar bisa semangat buat menulis karya demi karya nya 🧡🙏🙏