My First Love

My First Love
75. tamu bulanan



alvin dan ivan tidak mengerti dengan apa yang sedang di. bicarakan winda barusan pada dian hingga membuat dian tak berkutik lagi menjahili sahabat nya itu. bukalah ivan nama nya jika tak penasaran dengan hal yang baru ia dengar. bahkan sebelum nya pun tak pernah ia dengar bahwa dian memiliki tamu bulanan.


"beb apa sih maksud nya tamu bulanan itu? apakah dian...", pertanyaan nya pun kini menggantung entah apa yang ingin ia bicarakan lagi lanjutan nya. ia tak mau salah bicara tentang ipar sepupuan nya itu.


"sayang? apa maksud nya winda tadi? bisa kah tolong kamu jelaskan sekarang agar aku tak salah paham tentang yang winda maksudkan?", alvinpun tak kalah penasaran bercampur khawatir dalam diri nya.


dian masih saja tak mau menunjukan raut wajah nya saat ini. yang alvin tahu bahwa sekarang wajah istri nya sangat aneh bahkan memerah hingga daun telinga nya.


"sialan si winda berani-berani nya bicara tentang hal pribadi di depan laki gue", gumam dian yang sangat terdengar jelas di telinga nya, meski sangat kecil dan pelan kan suara nya, namun alvin mengerti ada sesuatu yang sedang ia rahasiakan dan tak ingin siapapun tau tentang tamu nya itu.


ada rasa cemburu dalam hati kecil alvin, ia perlahan melonggarkan genggaman tangan nya dari sang istri dan berpura-pura mengambilkan handphone dari dalam kantong baju yang ia kenakan.


raut wajahnya pun kini berubah dingin pada saat ini, siapapun sangat mengerti dengan raut wajah alvin, raut wajah yang tak ingin seorangpun mendekati nya tanpa kecuali.


apalagi saat ini dimulai dari kerahasiaan yang sang istri buatkan tentang tamu bulanan itu yang masih menjadi misteri bagi nya.


dian merasa ada spasi antara diri nya dan sang suami.


sedangkan winda sangat merasa bersalah dengan apa yang telah ia ciptakan tadi.


"astaga... apa yang akan terjadi setelah ini? apa harus aku yang meluruskan nya kembali? jika aku meluruskan apa yang telah aku ciptakan, betapa malu nya dian pada suami nya. gimana ini?? apa kah aku harus minta pertolongan pada bebeb ku? aduh betapa maluku di ambon!!! kan barujadian beberapa jam yang lalu, masa ia siih aku minta pertolongan nya? gimana cara menjelaskan nya yah?", bati winda tidak merasa tenang


ivan hanya bisa bernafas berat merasakan dingin di dalam pesawat yang telah di ciptakan sang pacar nya itu. dan ia pun tetap memilih dian sambil mengeratkan genggaman tangan nya pada sang pacar memberikan kekuatan hingga winda merasa sedikit tenanang meskinpun terpaksa.


kini waktu nya pesawat yang mereka berempat tumpangi mendarat sempurnah di bandara.


alvin dengan cepat berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan sang istri sendirian melangkah meninggalkan pesawat milik pribadi nya itu.


"vin.. tunggu", suara ivan menghentikan langkah kaki nya.


"ada apa?", jawab nya dingin


"dian masih di dalam pesawat, apa lo tega ninggalan istri lo gitu aja?, tolong lah jangan keg gini, lo kekanak kanakan banget tau gak", omel ivan


"bukan urusan lo, kan ada winda, dia bisa pergi dengan sahabat nya, bukankah sahabat nya yang paling tau tentang diri nya?", jawab alvin acuh


"lo enak aja, ini bukan urusan kantor, kita datang berlibur, jadi urusan lo sama istri lo, urus aja berdua. jangan bawa-bawa pacar gue", jawab ivan penuh penekanan pada setiap kata nya lalu pergi menarik pergelangan tangan winda meninggalkan alvin sendirian di bandara itu.


kepala nya terasa berdenyut namun enggan untuk berhenti. ia tetap berjalan lalu mengambil koper milik nya dan mengambil langkah lebar pergi meninggalkan bandara itu.


ia belum menjelaskan kesalahpahaman yang baru saja terjadi, sebenar nya bukan hal yang perlu ia sembunyikan dari lelaki itu, hanya saja waktu dan tempat nya tidak tepat. apalagi disana ada ivan yang tak lain adalah sekertaris pribadi sang suami sekaligus sepupu alvin alias ipar sepupu dian.


ia bingung kemana harus pergi, ia mengeluarkan benda pipih persegi dari dalam tas nya dan mengalihkan mode pesawat pada benda itu.


na*as nya, baru saja hendak ia gunakan untuk menelfon sang suami, handphone nya malam mati total karena kehabisan arus.


"ahhhhh", pekik nya seakan ingin ia berteriak sekeras mungkin, jika saja ini bukan tempat umum, mungkin ia sudah berteriak dan menangis meratapi diri nya sendiri.


"maaf, apa bisa putar balik menuju bandara lagi?", alvin akhir nya mengeluarkan suara pada sopir taxi yang ia tumpangi.


"baik pak!", jawab sopir itu ramah dan kembali mengendarai mobil nya menuju jalan lain ke bandara.


sedangkan dian tengah berada di mobil lain menuju tempat yang sudah di rencanakan berdua dengan sang suami. dimana akan menginap disalah satu penginapan yang terletak di pulau maldives itu, hotel bawah laut yg terletak di rangali island, tempat yang berlapisan kaca yang terletak di bawah laut dengan kedalaman kurang lebih sekitar 4,9 meter dari dasar laut, dimana akan menyaksikan keindahan laut pada malam hari..


dian tak menyangka air mata bening dari pelupuk matanya berjatuhan, perasaan nya sangat berkecamuk, antara sendih dan kecewa dengan diri nya sendiri saat ini. ia berusaha untuk tidak menangis, namun sayang nya, air mata nya sejalan dengan hati dan perasaan nya saat ini. dipandangi nya keluar jendela, gerimis di bulan desember seakan menjelaskan isi hati nya yang sedang gundah gulan.


sedangkan dari kaca spion mobil, pak sopir taxi melihat sang penumpang tengah bersedih, ia tetap melanjutkan mobil nya namun dengan sangat pelan. ia seakan mengerti apa yang di rasakan penumpang nya saat ini.


ia kembali menatap ponsel nya yang tak menyala, berharap akan ada keajaiban, namun ia sadar bahwa ini bukalah mimpi ataupun yang ia jalani bukanpula drama yang sedang shotting dan sebentar lagi di tonton oleh nya ataupun orang lain, perlahan ia mulai gusar dan menyandarkan tubuh nya ke kursi penumpang dan menarik nafas sedalam mungkin lalu membuang nya secara perlahan untuk menenangkan hati nya sendiri.


pak sopir taxi melirik nya kembali melalui kaca spion di depan nya dan merasa lega melihat sang penumpang kini kembali tenang.


"maaf bu, mungkin tidak sopan jika saya bertanya, tapi saya harus bertanya, apakah anda dalam situasi yang sulit saat ini? saya tak sengaja memperhatikan anda sedari tadi. maaf jika saya lancang", kata pak sopir


"tidak apa-apa pak, terimakasih sudah memperhatikan, ia pak betul, saya dalam situasi yang rumit. dan saat saya menemui jalan keluar dan ingin meluruskan keslah pahaman terhadap suami saya, handphone saya malah mati pak", jawab dian seakan berbicara dengan orang yang telah lama ia kenali.


.


.


.


hay guys terimakasih karena telah membaca dan mendukung karya ku ini.. mohon bantuan nya untuk memberikan vote sebanyak nya yah...


selamat bermalam minggu, semoga bahagia ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜‡๐Ÿงก