My First Love

My First Love
82. terjebak



wanita itu meraih secarik kertas hasil usg dari dian. dian tersenyum kecut melihat gadis di depan nya saat ini.


"ternyata kamu!. apa kamu hamil?", dian bertanya pada wanita di depan nya.


"a.a..apa urusan kamu? minggir..!! aku mau lewat", kata wanita itu sambil gelagapan dan menatap dian dengan sangat malu


"baiklah jika kamu hamil, setidak nya itu hal yang bagus untuk mu dan selamat yah", kata dian sambil mempersilahkan wanita muda itu lewat di depan nya dan mengucapkan selamat sekaligus dalam waktunyang bersamaan


wanita itu enggan untuk meladeni dian, dia tetap berjalan dengan sangat terburu-buru sambil meremas hasil usg di tangan nya.


"ada apa dengan nya? aneh sekali.. tapi baguslah jika dia yang hamil, setidaknnya dia tidak selalu mencari cara untuk mendekati suami ku lagi", gumam dian lalu berjalan meninggalkan lobi rumah sakit itu.


"sttttt istri ku sudah datang, bisik alvin pada dr. rizal.", dan ternyata benar saja, entah mengapa alvin dapat merasakan wanita pujaan nya berasa di depan pintu. mungkin ia melihat wajah dian dari balik kaca atu itukah ikan batin? hanya alvin yang tau.


pintu ruangan yang di tempati alvin terbuka dan wajah yang sangat khawatir terukir di wajah dian, alvin tak tega melihat wajah polos itu. wajah yang tadi pagi di lihat nya sangat cuek ketika berangkat kerja. entah apa alasan nya, saat alvin melihat wajah khawatir di wajah dian, hati nya sangat tak tega.


"keegoisan ku ini membuat wajah nya sangat khawatir pada ku, aku sangat mencintai nya. maka nya aku tak ingin sedetikpun menjauh dari nya, tak ingin aku melihat nya cuek dan acuh pada ku, aku mencintai nya, benar benar sangat mencintai, aku.. entah apa lagi yang bisa ku gambarkan tentang tak ingin kehilangan nya", batin alvin saat ini.


dian berjalan tak memperdulikan keberadaan winda sejak tadi di ruangan itu berdekata dengan ivan, dan juga dr.risal yang tercengang melihat istri dari teman nya itu.


dian menangis sesegukan di balik dada bidang alvin yang terbaring. "kamu jahat, bagaimana jika kamu pergi? bagaimana jika aku sendiri? kamu kejam. sangat kejam pada ku", tangisan dian semakin pecah saat ia terisak di dalam pelukan sang suami.


"cup..cup...istri ku sayang, maaf kan aku yah.", alvin ingin bangun dan membawa istri nya dalam pelukan, tapi dian terlebih dahulu melarang nya untuk bergerak.


"jangan sayang, biar kamu tidur aja", kata dian sambil mendorong dada bidang suami nya untuk tetap tertidur.


"tapi aku gak tega liat kamu nangis yang", kata alvin sambil mendekap jemari sang istri dengan dengan lembut


"aku gak apa-apa", dian lalu membalikan tubuh nya menatap sang dokter dengan wajah sendu. "bagaimana keadaan suami saya dok?", dian bertanya pada dr Rizal.


"suami ibu tidak apa-apa, hanya terbentur di bagian kepala, cukup beristirahat dalam beberapa hari saja di sini dan jangan melakukan aktifitas berat. termasuk berhubungan suami istri atau kontak fisik", kata dokter Risal serius


sedangkan alvin sudah mulai panik mendengar kata terakir dokter Risal. yang ia rencanakan bukan seperti itu, tapi dokter Risal memberikan konseling yang lain.


"tapi dokter, apa hubungan nya dengan kepala saya dan kontak fisik seperti yang dokter jelaskan? bukan kah tidak masuk akal sama sekali?", alvin bertanya seolah tak terima dengan saran yang di berikan teman nya itu selaku dokter.


"maaf pak, tetapi itu adalah yang terbaik untuk keadaan bapak saat ini", kata risal tampak sangat serius


"dan satu lagi bu, tolong perhatikan kesehatan bapak, jangan sampai otak bapak terganggu dengan hal ini", jelas risal lagi yang sangat menyimpang.


sedangkan di sisi lain ada ivan yang menahan tawa nya dengan situasi yang sangat terjebak ini.


"emang enak. bagus zal, lo hebat.. mematahkan semangat si alvin dengan sebuah konseling yang keren seperti itu, gua yakin, dian gak bakalan melanggar dan sangat patuh dengan konseling yang ia dengar. hahaha terjebaklah kamu vin", batin ivan


winda berjalan mendekati sahabat nya sambil merangkul bahu dian "sudah, rawatlah suami mu dengan benar, mungkin saja benturan nya mempenharuhi daya kerja otak suami mu", bisik winda sangat membuat dian semakin bertekat untuk berhati-hati dala merawat sang suami kali ini.


"baik dok.. terimakasih banyak atas saran nya", kata dian


"apa apa bu?", rizal mengerutkan kening nya menatapi wajah winda


"emhh maaf dok, bagaimana dengan nya?", kata winda.


"ohh pak ivan sudah boleh pergi, karena mimisan nya sudah berhenti dan tidak perlu di rawat. terimakasih", kata risal yang berhasil membuat ivan meradang


"kasian kamu van", batin alvin


"dokter.. bagaimana jika saya pingsan?", ivan bertanya pada dokter rizal.


"gak apa-apa pak, percayalah. anda tidak mungkin semudah itu untuk pingsan kan?", kata dokter risal yang mampu membius mulut ivan untuk tidka berkutik lagi.


"hancurlah", gumam ivan yang hanya di dengar oleh alvin. ia sangat kecewa karena apa yang telah di rancang nya dengan sempurnah malah di runtuhkan dengan seenak nya oleh dr rizal.


"aneh sekali dokter rizal itu", gerutu winda tak terima karena ivan tak ikut di rawat inap.


"hem.. ehem..", alvin berdehem sebelum ia mulai berbicara lagi. "van, kamu pulanglah dan istrahat di rumah. kamu gak perlu ke kantor sampai kamu benar-benar pulih,. di rumah kan ada mama dan papa", kata alvin sambil menarik nafas nya panjang.


ivan enggan untuk menjawab dan memilih memejamkan mata nya. rasanya ia benar-benar sakit, sakit hati gara-gara dr rizal mematahkan semangat nya. lebih sakit dari bogem mentah yang di berikan alvin pagi tadi.


"apa boleh kita biarkan ivan berada disini sayang?", dian bertanya pada alvin, ivan yang mendengarkan pun akhir nya kembali bersemangat sambil menatapi wajah alvin menunggu jawaban dari sang bos rangkap sepupu nya itu.


"kalau si bangau ini disini, bisa-bisa sakit hati gue, mendingan dia pulang ke rumah aja", batin alvin.


"kan dokter bilang dia gak apa-qpa sayang, biarkan dia pulang dan otak ku butuh istirahat kan?", perotes alvin tak terima.


"baiklah, sebaiknya memang kamu harus pulang van", kata dian sambil menatap ibah pada ivan


"begini saja, winda apa kamu keberatan jika saya meminta bantuan kamu?", alvin kini bertanya pada winda yang berada di samping ivan.


merasa bahwa diri nya baru pertama kali mendengar bos nya meninta bantuan nya, membuat winda sedikit takut. "entah apa kali ini", batin winda.


"baik pak, ada apa?", winda balik bertanya pada alvin tentang apa yang bisa membantu bos nya itu.


.


.


.


hay guys, janhan lupa like, dan klik tombol vavorite nya yah... dan bagikan cerita ini pada sahabat mu.


terimakasih


🥰🙏