My First Love

My First Love
Alana



Keyla pergi dari kamar anaknya, ia lebih memilih untuk pergi agar Alana bisa bicara berdua dengan Joy. Keyla merasa jika pasti ada masalah di antara mereka berdua.


Joy, menatap wajah Alana, yang terlihat diam. seakan malu untuk memulai pembicaraan lebih dulu.


"Alana, maaf kakak banyak salah dengan Alana!!" ucap Joy, mengusap lembut rambut sepunggung milik Alana. 


"Kak, Alana yang harusnya yang minta maaf. Alana terlalu cuek sama kakak dan keluarga lainya. Alana, janji akan merbuah sifat Alana" ucap Alana, yang masih tak berhenti meneteskan air matanya. 


Joy, menyeka air mata Alana dengan jemarinya. Mengusap lembut pipinya. "Alana, jangan sedih. Saat kakak sudah pulang. Aku janji padamu akan membantu kamu merubah sifat kamu." ucap Joy, memegang tangan Alana. "Aku tahu, jika kamu sangat baik. Tapi aku gak tahu apa Alasan kamu jadi seperti ini pada keluarga kita" 


Alana terdiam, ia terbayang di mana saat ia tidak sengaja mendengar papanya, bercerita dengan mamanya berdua di kamar tentang gimana kejadian ia bersama ibu kandungnya. Hal yang membuat ia waktu itu terpukul. seketika, dan Alana yang masih sayang kecil itu mulai mengurung diri di kamarnya, menghindari keramaian. Dan menjauhi keluarganya selama beberapa hari. Hingga saat keluar wajah Alana mulai berubah dingin tanpa ekpresi sedikitpun.


Meski semua keluarganya tanya, ia hanya jawab gak apa-apa, dan hanya sedang sibuk baca buku. 


"Alana, kenapa kamu diam?" tanya Joy, memegang dagu Alana, mendongakkan ke atas. Joy menatap mata Alana yang terus menunduk ke bawah. 


"Apa kamu ada masalah lagi?" Joy, memandang wajah Alana yang terlihat muram, seakan menyembunyikan sebuah masalah besar dalam hatinya. 


Alana menepis tangan Joy di dagunya. "Maaf!! Kak jangan sentuh aku" ucap Alana. "Aku gak ada masalah sama sekalic lanjutnya.


"Emangnya kenapa aku gak boleh menyentuhmu. Lagian jangan berpikir macam-macam. Adikku yang imut" ucap Joy, mengusap kepala Alana, membuat rambutnya berantakan.


"Kak, apa kemarin kak Joy mendengara apa yang Alana bicarakan di pinggir danau?" tanya Alana ragu, dengan nada gugup. 


"Enggak!! Aku hanya mendengarnya samar-samar" ucap Joy. "Emangnya kenapa?" 


"Gak apa-apa kak, aku hanya tanya saja" jawab Alana. 


"Kak Joy, Alana!! Aku bawa makanan banyak buat kalian. Ini masakan rumah lo kak" teriak Cia masuk ke dalam kamar rawat Joy, suaranya yang khas melengking, menggema seluruh ruangan. 


Alana dan Joy menatap kompak ke sumber suara, Alana seketika melepaskan tangan Joy. "Miko kamu juga datang ke sini lagi?" tanya Alana. 


Miko yang melihat hal yang tidak.semestinya ia patut curiga. Tapi, hal itu seakan membuat hatinya janggal. Kenapa mereka berpegangan tangan tapi bukan seperti kakak adik. Suatu yang sangat beda dari pandangan mereka juga beda. 


"Iya, Na. Tadi aku ke rumah. Cia yang mengajakku" jawab Miko, mencoba tersenyum, meski ia terasa sakit saat melihat tadi. 


"Udah sekarang ayo kita makan, aku ingin merayakan kesembuhan Joy dan Alana. Dan agar Joy juga cepat bisa pulang" ucap Cia, yang mulai meletakkan beberapa makanan di atas meja. ia mengeluarkan semua makanan dan menatanya rapi. 


"Kamu sudah bisa berdiri gak Joy?" tanya Cia. 


"Berdiri bisa kak, emangnya aku kenapa gak bisa berdiri" ucap Kesal Joy. 


"ya, udah kalau bisa kamu sini makan bersama" 


Alana menatap Joy, memegang lengan Joy. Ia membantu Joy untuk berdiri. Dan berjalan duduk di samping Miko. 


"Oya, mama mana?" tanya Cia, menatap setiap sudut ruangan itu tidak ada mamanya di sana. 


"Mama tadi keluar!!" jawab Joy. 


"Kemana?" tanya Cia. 


"Aku juga gak tahu, lebih baik kamu cari mama dulu. Baru kita makan bersama." ucap Joy. 


"Hehe.. Tapi aku dan Miko sudah makan. Kalian makan saja dulu. Aku mau pergi cari mama!" Cia memarik tangan Miko. 


"Ada apa lagi?" tanya Miko malas. 


"Ayo kamu ikut aku sekarang"


"Kemana?" 


"Cari mama aku?" ucap Cia. 


"Kenapa kamu gak sendiri saja. Aku capek terus mengikuti kamu" 


"Ayolah, Miko bantu aku cari mamaku ya" ucap Cia memohon, memegang tangan Miko dan terus meneggoyang-goyangkan.


Miko menarik napasnya kesal


"Ahh... Baiklah!!" miko neranjak berdiri dengan terpaksa ia harus membantu Cia kali ini. ya padahal ia hanya ingin tetap di sana bersama dengan Alana. 


"Alana kamu makan dulu ya!!" ucap Joy. 


"Tapi, aku masih belum lapar" jawab Alana. 


"Mau makan sendiri atau mau aku suapin" ucap Joy. 


"Eh.. Aku makan sediri saja!!" ucap Alana, Alana segera mengambil makanan yang ada di depannya. Dan segera mengambilkan makanan untuk joy juga.


" Udah kita makan sama-sama kak?" ucap Alana. 


Joy menatap ke arah Alana. Entah kenapa hatinya merasa jika dia lebih menganggapnya adik. Tapi ia mencoba menolak perasaan itu. 


dia adikmu, dan aku hanya ingin terus menjaganya. Aku gak akan meninggalkan dia sendiri sampai kapanpun, gumam Joy dalam hatinya. 


Ia mengusap lembut kepala Alana. dengan senyum tipis terukir di bibirnya. 


"Kenapa kak?" tanya Alana, menoleh ke arah Joy, dengan mulut yang masih penuh makanan. Ke dua mata mereka saling tertuju. 


"Sudah sekarang makan, habiskan semuanya" ucap Joy. 


Mereka segera makan dengan lahapnya. Tak lama Keyla datang menemui, ke dua anaknya untuk amakn bersama. Satu hari penuh Keyla menrmani ke dua anaknya. Dan besok Alana juga sudah boleh pulang. Sebenarnya ia bisa pulang sekarang tapi Alana masih mau tetap di rumah sakit sampai besok


 Alana melupakan masa lalu yang membayangi pikirannya.


Kini mereka bisa berbincang dengan Keyla dan yang lainya. Miko juga selalu menemani Alana. Ia tidak pulang sama sekali dari kemarin.


Hingga malam tiba, Joy sudah berbaring tidur karena obat yang baru saja ia minum. Cia sudah pulang bersama dengan mamanya.


"Alana!! Aku anyar akmu ke kamar kamu ya" ucap Miko.


"Kenapa kamu gak pulang?" tanya Alana.


"Aku masih mau tetap di sini, temani kamu" ucap Miko.


"Oya, kenapa kamu gak mau pulang sekarang?" tanya Miko.


"Aku masih mau menemani kak Joy, dan berharap dia juga bisa pulang secepatnya." ucap Alana, melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Di bantu Miko memegang lengan Alana.


"Kak Miko, makasih!! Kamu sudah mau menamani aku. Dan soal buku itu. Nanti aku baca lagi. Ceritanya bagus, dan aku suka dengan ceritanya. " ucap Alana, melangkahkan kakinga masuk ke dalam ruang rawatnya. Tubuhnya yang sudah terlihat sehat.


"Sudah sekarang kamu tidur ya.." ucap Joy, membantu Alana untuk duduk di ranjangnya.


"Kak Miko tidur saja duluan. Aku masih mau melanjutkan baca buku dari kak Miko" ucap Alana.


"Aku gak bawa buku kak, Lagian besok aku sudha pulang. Dan aku langsung ke sekolah." ucap Alana.


"Jadi kamu langsung sekolah besok?" tanya Miko memastikan.


"Iya!! Kak Miko tidur saja."


"Kamu juga harus tidur" ucap Miko.


"Baiklah"




Keeokan harinya, di pagi buta, bahkan matahari belum menampakkan sinarnya.


Alana yang sudah sembuh, ia memutuskan untuk segera pergi dari kamar itu. Dan mamanya dari jam empat pagi sudah mrnjemputnya bersama dengan Cia.



"Dok gimana keadaaa Alana?" Tanya Keyla, mamanya. 



"Dia sudah mulai membaik, jadi sudah boleh pulang kok. Sebanarnya kemarin dia sudah boleh pulang. Tapi berubung pasien gak mau ya saya juga tidak memaksa." jawab Dokter itu. 



"jadi sekarang kita langsung pulang dok?" Tanya Keyla memastikan. 



"Iya bu" 


Dokter itu segera pergi meninggalkan mereka. 



"Huammm .. Masih ngantuk ma.. Kenapa pagi\-pagi harus di sini" ucap Cia.



"Udah mama mau bantu bereskan baju Alana" ucap Keyla.


"Ma!! Aku bantu beres\-beres ya" ucap Cia antusias. Berbeda dengan Alana yang lebih memilih diam seribu bahasa. Entah apa yang ada dalam pikirannya ia yang merasa kesepian itu, hanya diam tanpa ekspresi di wajahnya.



Alana yang kemarin bisa bercanda dengan keluarganya sekarang dia berbeda. Seakan menyembunyikan sesuatu dari pikirannya.



Cia yang menyadari hal itu, ia berjalan mendekati Cia, menepuk pundaknya. "Na!! Jangan seperti itu terus!!" Ucap Cia. 



"Kenapa?" jawabnya tanpa menatap ke arahnya. 



"Kamu harus tetap semangat, bukannya kalau kamu bisa keluar dari rumah sakit. Kamu bisa menjaga Joy terus" ucap Cia. 



"Iya, tapi aku gak bisa tenang jika dia belum juga sadar."



"Iya besok, nanti sebelum pulang aku antar kamu melihat dia, sekarang lebih baik kam€ istirahat saja ya!! Biarkan mama dana ku yang beres\-beres semuanya!!" Gumam Cia. 



Alana menatap ke arah Cia dan Keyla, yang terlihat sangat perhatian dengannya, ia tidak mau hanya tinggal diam dan melihat mereka bekerja membereskan semuanya dan bersiap pulang. ia memutuskan untuk turun dari ranjangnya.



"Na!! Kamu mau kemana?" Tanya Keyla, memegang bahu Alana, membantunya untuk turun. 



"Aku gak apa\-apa jangan membantuku!!" Ucap Alana, menepis tangan Keyla. 



"Baiklah!! Tapi kamu mau kemana?" Jawab keyla. 



"Aku mau bantu kalian, aku mana bisa hanya melihat di atas ranjang" ucap Alana. 



Cia tersenyum, baiklah jika kamu mau bantu kita. Sekarang kita akan bantu ya. Tapi jangan sampai kamu kelelahan ya" sambung Cia. 



Alana tersenyum, menganggukkan kepalanya pelan. Mereka segera memebrskan semua baju Alana di sana. Dan memutuskan untuk pergi. Namun ia tidak langsung pulang ke rumahnya. 



"Cia sekarang kita ke ruangan Joy ya!" Ucap Keyla, yang berjalan keluar dari ruangan Alana. 



"Iya ma!! Lagian Alana juga pasti mau bertemu dengannya. Ya gak na!!" Sambung Cia mematap ke arah Alana.



Selesai beres\-beres Alana pergi ke kamar Joy. Ia memutuskan untuk menemui Joy. Dan katanya Joy juga sudha mau pulang. Ia tidak mau lama\-lama di rumah sakit. Dan memutuskan untuk pualng bersama dengan Alana.



Keyla sebelumnya sudah membereskan semua pakaian Salsa. Mereka bergegas pulang sebelum jam enam pagi. Karena Joy juga sudah mau sekolah.