My First Love

My First Love
30 TANGGAL



alvin yang masih betah memikirkan masa depan dan kehidupan nya di kagetkan dengan kedatangan seseorang yang menepuk bahu nya pelan.


"ngapain lo disini sendirian," sapa seornag laki-laki yang duduk di samping nya sambil menatao kearah depan tanpa memperdulikan wajah alvin ynag sangat kaget dengan kedatangan nya yang tiba-tiba saja.


"s**l... ngagetin gua aja lo, dari mana aja sampe baru nengokin gua disini", alvin mengumpat dan malah balik bertanya pada lelaki ynag mengagetkan nya. yang tak lain adalah ivan. sang asisten pribadi nya.


" hahahha gua kangend sama dian lah, masa sama lo", jawab ivan santai tak memperdulikan perasaan sahabat sekaligus bos nya.


"apa apaan loo", alvin menjitak dahi sahatbat nya


"lo udah nerimain diakan?, gua ingatin lo, kao lo gak mau, me ding dian nya ama gue aja", kata ivan pada alvin.


"lo kira wanita itu barang mainan?", jawab alvin sabil menatap sahabat nya. sedangkan ivan hanya menganggukankepala nya.


dretttt drettt drett "angkat noh, telpon lo getar", pintah ivan pada alvin. "papa!", gumam alvin sambil menggeser tombol hijau pada layar pondsel nya.


"halo pa, ada apa?", sapa alvin lalu bertanya pada sang ayah.


"hari ini dian jadi pulangkan?", tanya pak albert dari seberang. "emhhhh ia pa", jawah alvin setelah berdehem sebentar. sebenar nya alvin tidak tau kapan dian bisa pulang, hanya saja alvin memikirkan mungkin saja dian pulang hari ini. lebih cepat lebih baik menurut nya.


setelah dokter meninggakkan ruangan oerawatan dian, alvin berjalan beriringan dengan dian, sedangkan ivan beriringan dengan bu shinta membawa dua buah koper milik dian dan bu shinta. "astaga.... sebennar nya yang sakit dian apa tante shinta sih, koper ampe dua buah gini, kayak piknik seminggu aja, padahalkan cuma 3 hari doang." ivan membatin sambil menarik koper tersebut menuku lift yang akan menghantarkan ke empat nya menuju langai satu.


"nak dian, kamu iatirahatlah di rumah ibu yah nak", bu shinta menawarkan dian, "gak usah bu, biar dian di rumah aja yah, dian udah kangend sama rumah", jawab dian. "emhh kamu gak apakan nak?", tanya bu shinta yang masih merasa khawatir pada calon menamtu nya. "gak kok bu", jawab dian pasti. "baiklah nak, kalau kamu butuh sesuatu, jangan lupa telfon ibu atau bapak yah nak", kata bu shinta dan hanya di angguki dian.


mobil yang di tumpangi dian akhir nya tiba di kediaman nya. dian berpamitan lalu masuk kedalam rumah nya, di sana ada bi ina yang menghampiri dian dan memeluk dian dengan hangat. "selamat dagang non", kata bi sum dari arah belakang bi inah. "trimakasih bi", jawab dian. lalu dian menuju kamar nya, merebahkan tubuh nya pada spond empuk milik mya.


jam menunjukan pukul 22:00, dian menuju ruangan kerjanya. lalu mengambil buku diary yang berada di dalam laci meja. dan membuka nya perlahan, lembaran demi lembaran ia membaca nya kembali tulisan tangan nya.


lalu kembali menukiskan "terimakasih sudah pernah mengenal mu kak, meski aku tak tau siapa nama mu, semoga tuhan melindungi mu dimanapun kamu berada", lalu dian tersenyum simpul dan meletakan ke.bali buku diary itu pada laci meja kerja nya dan kembali ke kamar nya me baring kan tubuh nya.


di tempat lain, pak albert, bu shinta dan alvin sednag duduk di ruangan tamu. "nak, tanggal 24 november kalian akan menikah", kata pak albert pada putra nya. "baik ayah", jawab alvin tanpa ragu sambil menatap layar datar di depan nya. "apa kamu siap?", tanya pak albert meyakinkan alvin. "siap", jawab alvin tanpa mengalihkan pandangan nya.


alvin yang kini berada di dalam kamar nya membolak - balikan tubuh nya di kasur berukura king size itu. lalu kembali menyandarkan tubuh nya ke belakang tembok setengah duduk. "apa aku siap?", alvin bertanya pada diri nya sendiri. alvin tak bisa menutup mata nya. pernikahan nya sudah di ambang pintu.


alvin menuju balkon kamar nya, dan menatap langit memandang bintang yang bertaburan menampilakan cahaya di kegelapan malam, menghiasi langit malam itu. angin sepoi sepoi seakan berbisik sesuatu pada telinga nya sambik memeluj tubuh nya dengan hawa malam membawa alvin dalam bayangan sang gadia yang akan menjadi ratu dalam kehidupan nya.


"aahhh kenapa harus gadis itu yang mhncul dalam pikiran ku, aku menikahi nya bukan untuk menjadikan nya ratu dala hidup ku, tetapi menjadikan nya sebagai sasaran amarah ku, jangan berpikir kebaikan ku beberapa hari ini adalah lamph hijau untuk mu DIAN", kata akvin dan penuh penekanan pada nama dian.


sedangkan dian sudah berada dalam alam mimpi nya. entah apa yang dian temui dan dian alami dalam alam mimpi nya. hingga pagi hari pun matahari bersinar dwngan malu-malu menyapa nya melalui sela jendela kamar.


hari ini dian berada di rumah nya saja, enggan untuk melakukan petualangn bebas lepas nya diluar sana bersama winda.


"selamat pagiiiiiiii",


sapa winda yang baru saja muncul membawa beberapa peaper back yang isi nya cemilan dan minuman.


"slamat pagi juga non winda",


jawab bi sum yang kala itu lagi membersihkan meja ruang tamu, sambil tersenyum ramah pada tamu yang datang.


"bii, maaf tadi winda buka aja puntu nya..!",


kata winda.


"iya non... gak apa-apa kog",


jawab bi sumi tetap memberikan senyuman ramah nya.


"dian nya mani bi?", winda bertanya pada bi sum, sambil meletakan peaper back nya di atas meja makan.


"lagi di kamar non, lagi mandi kali yah?",


jawab bi ina dan kembali bertanya pada winda yang juga baru saja tiba.


"hahaha biiii aku mana tau", jawab winda sambil tertawa karena merasa lucu dengam bi ina..


kring kring kring kring kring bi sum langsung mendekartkan gagang telephone rumah pada telinga nya.


"hallo selamat pagi!", sapa bi sum ramah


"selamat pagi bi, maaf mengganggu, nak dian nya udah bangun bi?"


kata seseorang di sebrang telephone yg ternyata adalah bu shinta.


"maaf nyonya, non dian nya lagi mandi",


jawab bi sum sopan.


"ohh baiklah bi, tolong sampaikan pesan saya bi, nanti jam 09:00, nak dian akan di jemput pak sopir yah untuk datang ke rumah", pesan bu shinta pada bi sum.


"baik nyonya, akan saya sampaikan pada non dian", jawab bo ina lagi.


"baik lah bi, terimakasih, selamat pagi!!",


telephone akhir nya terputus setelah mendengar jawaban dari bi ina


"sama-sama nyonya",.


"siapa yang nelfon sepagi ini bi??", winda bertanya pada bi sum.


"anu non, nyonya, ny.sinta kata nya nanti jam 09:00 gitu pak sopir dari rumah nya jemputin non dian buat ke rumah nya",


kata bi ina menjelaskan apa yang iningin disampaika. pada dian.


"ohhh gitu, jadi dian mau pergi lagi yah.. emmmhhh baiklah, aku dirumah aja sama bibi berdua yah, bibi ngajawin aku masak gitu", kata winda pada bi sum.


"apa non mau sama bibi di rumah aja? non gak mau jalan sama calon non", bi ina bertanya pada winda yang kebetulan mendengarkan pembicaraan winda dan bi sum.


"boro-boro ada pacar biii, pacar aja gak punya aku ini",


jawab winda sambil melemas dan terduduk di sofa.


bi ina dan bi sum yang melihat winda hanya terkikik menertawakan tingkah winda yang lucu.


dian baru saja menuruni tangga dengan mengenakan tanktop dan celana pendek sambil berlarian kecil menuju ruangan tamu.


"ramai amat,... ehh ternyata ada si jomblowati", kata dian sambil menyeruput minuman dari atas meja.


"astaga mendingan lo siap-siap deh, tar lagi ada yang jemput dari rumah calon mertua lo jam 09:00", jawab winda


"aaapa?? serius lo?", kata dian meyakinkan apa yang di dengar nya.


"iiia non, tadi nyonya nelpon sama bibi kata nya gitu", jawab bi sum.


"ngapain lagi siih", gerutu dian tapi enggan beranjak dari tempat nya.


"yah mungkin ajja mau nentuin tanggal pernikahan lo kan", jawab winda santai sambil memangku kan kaki kirinya diatas kaki kanan.


.


.


.


hay guys,, jangan lupa vote nya yah, maaf jika terlambat up nya. maklum ibu rumah tangga gays... jangan lupa like dan komentar nya di bawah gays...


god bless you all ❤️😇