My First Love

My First Love
Bertemu ibu



Alana mulai fokus kembali dengan jalan di depannya, ia menatap ke arah kanan dan kirinya. Melihat sekitar hingga 20 menit perjalanan dia belum juga bertemu dengan Ibunya. Di tempat terakhir tadi bertemu ibunya juga tidak ada di sana.


Alana mengeryitkan matanya, saat melihat plat mobil yang di gunakan papanya tadi. ia melihat mobil itu terparkir di sebuah restauran terdekat seberang jalan.


"Apa itu benar mobil papa aku?" gumam Alana.


"Ada apa?" tanya David yang sadar jika Alana sedang mengamati sesuatu.


"David!! Berhentilah!!" ucap Alana, menepuk-nepuk tangan kiri David, membuat laki-laki itu seketika refleks langsung menghentikan mobilnya.


"Ada apa Alana? Menangnya kamu melihat ibu kamu?" tanya David, menoleh ke belakang, ia tidak melihat siapapun di brlakang, hanya sebuah restauran terkenal di sana, yang di penuhi dengan pengunjung roda empat.


"Bukanya di belakang hanya ada mobil, memangnya kamu amu makan?" tanya David. Melirik ke arah Alana, yang sudah tepat di sampingnya, dia menolrh ke bekakang, mengamati jelas mobil hitam ber-plat sama dengan mobil yang di pakai papanya tadi. Alana mencoba mengingat-ingat kembali, sembari tetua menatapnya.


"Alana? Kalau kamu lapar bilang saja," ucap David, melihat wajah Alana yang nampak kosong, ia beranjak turun lebih dulu dari mobilnya, berjalan memutar ke depan mobilnya, membuka pintu mobil untuk Alana. Namun seperti tadi, dia masih melamun, entah apa yang ada dalam pikirannya, tak ada seuntai kata keluar dari mulutnya.


Puk! Puk! Puk!


David menepuk-nepuk pundak Alana. Membuat dia tersadar dari lamunannya.


"Ada apa?" tanya Alana, membalikkan badannya, menatap ke arah David yang sudah berdiri di sampingnya.


"Harusnya aku yang tanya ada apa?" gumam David.


"Sekarang ayo kita makan!!" pinta David, mengangkat tubuh Alana keluar dari dalam mobilnya, tanpa menunggu persetujuan darinya lebih dulu.


"David turunkan aku, apa yang kamu lakukan!!" Alana memukul dada bidang David. Dan Tak lama ia menurunkan tubuh Alana tepat di samping mobilnya berjarak dua langkah ke belakang.


"Kita makan dulu, setelah itu lanjutkan lagi mencari ibu kamu. Hanya sebentar saja!!" ucap David, memegang tangan kanan Alana, menuntunnya berjalan menuju restauran yang tak jauh dari tempat dia memarkir mobilnya


"Tapi mobil kamu? Apa gak jauh nanti kalau parkir di situ?" tanya Alana menatap ke arah mobil David.


"Kalau kamu mau makan, aku akan putar balikkan mobilnya," ucap David.


"Lebih baik aku makan. Dari pada aku harus hanya melihat ibu aku benar di dalam atau tidak" ucap Alana dalam hatinya.


"Baiklah!! Kita makan sekarang, aku tunggu kamu di depan restauran. Kamu cepat putar balik mobilnya dan parkir di tempatnya, jangan menyalahi aturan."


"Iya bawel!!" David sudah beranjak jauh meninggalkan Alana tanpa mendengarkan habis apa yang dia katakan.


Selesai memarkir mobilnya, David mendekati Alana memegang tangannya, masuk ke dalam sebuah restauran mewah di sana. Alana terdiam, memandang sekelilingnya, ia mencoba melihat apa ada orang tuanya atau tidak di sana.


"Alana, apa yang kamu lihat?" tanya David mendekatkan wajahnya tepat di samping pipi kiri Alana, dengan pandangan mata tertuju ke arah yang sama dengan Alana.


"Emm... Bukan ap---" ucapanya terhenti, saat ia melirik tepat menatap wajah David sangat dekat dengannya, ke dua mata mereka saling tertuju, hembusan napas berat mereka saling berpacu cepat.


Deg!


"Kenapa aku jadi gugup gini saat melihat Alana dari dekat? Apa aku suka dengannya.. Argg... Tapi tidak mungkin, kenapa juga aku suka dengannya. Tidak ada yang istimewa darinya," gumam David dalam hatinya. Menelan ludahnya perlahan, ia tak tahan terus menatap Alana, jantungnya berdetak sangat cepat dari biasanya.


"Sepertinya aku besok harus periksa ke dokter!! Ada ganguan di jantung aku!!" gumam David lirih.


"Apa katamu?" tanya Alana, mendekatkan wajahnya. Ia mendengar samar apa yang di katakan David tadi.


"Jauhkan wajah kamu dariku!!" ucap David gugup.


"Kenapa?" Alana semakin mendekatkan wajahnya.


"Jangan dekat-dekat!!"


"Memangnya kenapa?" tanya Alana heran.


"Aku bilang jangan dekat-dekat!!" lanjut David, yang langsung memalingkan wajahnya berlawanan arah. Dan Alan tak tinggal diam, ia menatap lagi di aman David menghadap.


"Kenapa kamu mengangguku!!"


"Siapa yang ganggu kamu!!"


"Ini apa? Apa jangan-jangan kamu mau merayuku?" tanya David, memegang ke dua bahu Alana.


"Siapa juga yang mau ganggu kamu. Aku hanya ingin bilang padamu. Jika kamu jangan terlalu gugup dekat denganku, nanti kamu jatuh cinta padaku gimana. Lagian kamu laki-laki terkenal punya pacar banyak, dan bisa di bilang kriteria para wanita. Tapi hanya gini saja kamu gugup melihatku " jelas Alana berdiri tegap, dengan ke dua tangan berkacak pinggang, tersenyum simpul menatap David.


Laki-laki itu seketika tak bisa berkutik di depannya, dengan tangan memegang dadanya yang tak berhenti berdetak kencang.


"Beri aku alasannya," Alana semakin menggoda David, ia mendekatkan wajahnya, membuatnya semakin gugup, keringat dingin perlahan mulai bercucuran menetes dari keningnya.


"Gadis ini benar-benar gila!! Kenapa dia benar-benar mau mrnggodaku!!" gumam David dalam hatinya.


"Iya, nanti aku akan beri tahu kamu. Aku mohon!! Jauhkan pandangan mata kamu itu. Atau kamu mau buat aku mati jantungan di sini!!" ucap David, membuat semua orang yang berkunjung di sana menatap ke arahnya, seketika David kikuk di buatnya, ia menundukkan kepalanya malu, memegang tangan Alana, menariknya untuk segera mencari tempat duduk.


"Alana?" suara berat seorang kaki-laki membuat langkah mereka terhenti, dan langsung menatap ke arah sumber suara tersebut.


"Ternyata benar jika tadi di depan mobil papa Alvin. Aku harap dia bersama dengan ibu sekarang." gumam Alana lirih.


"Jadi kamu tadi melihat mobil papa kamu di parkiran!!"


Alana hanya tersenyum, menganggukkan kepalanya, menyambut kedatangan papanya yang sudah melangkah semakin dekat dengannya


.


"Papa Alvin?" gumam Alana, mengernyitkan matanya, mencoba mengamati jelas apa benar itu papanya atau bukan. Atau hanya ilusinya biasa.


"Om, ternyata di sini juga?" tanya David basa-basi.


"Iya, gimana kalau kita makan bersama. Aku juga baru datang ke sini," ucap Alvin, menarik ke dua alisnya ke atas, menunggu jawaban 'iya' dari bibir David dan Alana.


"Ibu mana?" tanya Alana, dengan wajah nampak sangat kosong. Memutar matanya meliaht orang-orang di sekitarnya.


"Dia di sana," ucap Alvin, menunjuk ke arah di mana Silvia duduk. Silvia duduk termenung sendiri, dengan tangan menyangga dagunya, dengan pandangan kosong. Seakan dia memang sedang memikirkan sesuatu.


Alana melepaskan tangan David, dia hanya diam, ia melangkahkan kakinya mendekati ibunya. Ia tak hentinya dia melangkahkan kakinya perlahan dan terus tersenyum.


"Ibu!!" panggil Alana, membuat Silvia seketika tersadar dari lemunannya, saat mendengar suara lembut seorang wanita. Silvia mengernyitkan keningnya, melihat Alana perlahan berjalan menuju ke arahnya


"Alana!!" ucap Silvia, membuka matanya lebar, seakan, pupil matanya ingin keluar dari kerangkanya, dia langsung beranjak berdiri, memegang ke dua bahu Alana, menggoyang-goyangkan tubuh Alana.


"Kenapa kamu tadi pergi? Kamu gak apa-apa kan? Dan Joy anak dari Alvin tidak menyakiti kamu?" tanya Silvia bertubi-gubi. Dnegan ke dua tangan memeriksa tubuh Alana, masih lengkap atau tidak.


"Ibu!! Aku tidak apa-apa" jawab Alana tersenyum, memegang ke dua lengan Silvia, menariknya agar berdiri tegap lagi menatapnya.


"Syukurlah!! Aku sangat khawatir padamu. Aku tidak mau jika kamu kenapa-napa."


"Tenang saja, lagian kak Joy tidak akan pernah menyakitiku. dia baik padaku, dan dia juga yang selaku melindungiku, menjafaku, menyelamatkanku dari bahaya." ucap Alana, mengucapkan semua sisi baik Joy pada Silvia.


David yang mendengar hal itu, menarik bibirnya sinus. "Kenapa dia selaku berbicara baik tentang Jiy!! Seakan memang dia sengaja untuk mengucapkan semua kebaikannya. Tanpa ibunya tahu sisi negatif Joy yang sangat kasar pada Alana." gumam David dalam hatinya.


"Tapi kenapa tadi dia sangat kasar dengan kamu?" tanya Silvia.


"Dia hanya tidak ingin aku salah orang. Dia belum percaya jika kamu ibu aku. Ya, mungkin kak Joy terlalu khawatir dengan aku, dia mengira kamu akan membawa aku pe4gi jauh!!" jelas Alana.


"Udah sekarang kuta duduk dulu, aku pesankan makanan lagi untuk kalian berdua," sambung Alvin, menyela pembicaraan Silvia dan Alana.


Silvia memegang tangan Alana, menuntunnya untuk duduk di sampingnya. "Apa nanti kamu akan ikut dengan aku?" tanya Silvia.


"Kau pikirkan dulu. Karena ada orang yang ingin aku temui nanti, dan aku juga mau ambil koper aku dulu," ucap Alana.


"Jika kamu memang mau pergi dengan ibu. Ibu janji akan membawa kamu ke tempat di mana kita bisa hidup berdua syang!!" jelas Silvia, memegang ke dua tangan Alana, menyatukan ke dua tangannya, dengan sedikit terangkat tepat di depan lehernya.


"Udah kita makan duku, masakan kita sudha datang. Nanti kita bicara lagi. Masih banyak waktu," ucap Alvin.


"Baiklah!! Alana kamu makan dulu, ya!!" ucap Silvia, yang mulai oerhatian denganya, ia mengambilkan makanan untuknya.


"Kamu harus makan makanan yang bergizi, dan selalu jaga kesehatan, ya sayang!!" ucap Silvia.


Mereka semua segera menikmati makanan yang sudah di sajikan, lengkap dengan berbagai lauk di depan meja, dan tinggal pilih menu makanan yang ingin di ambil atau di habiskan.


Selesai makan, David beranjak berdiri, "Aku ke toilet dulu" ucap David pada Alana.


"Iya!" Jawab Alana singkat.


Alvin segera berjalan menemui Davis, ada hal yang ingin ai bicarakan padanya hanya berdua, soal urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan perasaan cinta.


"Oya, syang!! Kamu mau kuliah di Inggris, ya?" tanya Silvia.


"Iya, dan aku sudah berencana untuk pergi berdua dengan kamu. Dan aku punya rencana untuk pergi dari Alvin, bersama dengan kamu berdua, kita hidup berdua di sana. Meski aku harus kerja keras di sana aku tidak perduli. Lagian tabungan aku selama ini cukup untuk kita tinggal di sana beli apartemen baru yang sederhana untuk kita tinggali," jelas Silvia.


"Maksud Ibu, apa kita akan ubah nama dan penampilan kita. Agar tidak ada yang tahu," jawab Alana.


"Iya, tapi aku punya sesuatu rencana yang membuat semua heboh nantinya. Tapi ingat jangan bilang pada Alvin, hanya kita berdua yang tahu rencana ini. Setelah ini kita ganti nomor ponsel di sana"


"Iya, tapi aku tetap boleh menghubungi pacar aku nantinya."


"Boleh!! Apa dia juga mau kuliah di Inggris?"


"Tidak pacar Alana kuliah di London. Tapi aku ingin kita secepatnya pergi, aku tidak mau jika Ibu jadi sasaran amukan mereka semua. Mama Keyla dan yang lainnya."


Silvia menundukkan kepalanya. "Kamu pasti tahu, ya . Semua yang terjadi padaku. Dan kenapa aku seperti ini."


"Iya, semua sudah cerita padaku. Tapi aku tidak akan tinggal diam, sekarang lebih baik kita pergi bersama. Aku tidak mau mereka semua marah denganku, dan menuduh merusak rumah tangga mereka. Sebelum mereka semua tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Baik!!" ucap Alana.


"Kalian masih ingin terus berbicara atau kita segera pulang?" tanya David


"Ginana kalau kita langsung pulang saja?" ucap Alana.


"Iya, tapi kamu ikut aku, ya Alana!!" ucap Silvia.


"Iya, nanti kalian aku akan kirimkan pesan, dan kalau sudah kalian bisa jemput aku Aku hanya ingin melihat kondisi Joy dan bicara padanya dulu!!" ucap Alana.


"Baiklah!! Aku tunggu kamu di rumah kecil aku Alana. Dan aku harap kamu betah tinggal bersama denganku." jelas Silvia.


"Kita pergi dulu!! Tante! Om" ucap David, memegang tangan Alana.


"Pa, aku pergi dulu!!"


"Bu, aku pergi dulu!!" ucap Alana, tersenyum memandang ke arah Alvin dan Silvia bergantian.


"Iya, kalian hati-hati di jalan?" ucap Keluarga papa Alana, membuatnya semua terdiam, mereka menunjukan senyum tipisnya, melambaikan tangannya ke arah Alana.


"Iya, sampai jumpa lagi!!" teriak Alana, dari dalam mobil David.