My First Love

My First Love
Kebersamaan keluarga kecil



"Ada apa?" tanya Alana menatap wajah David yang sudah, yang sudah melayangkan kepalan tangannya yang ingin memukul wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya David, memegang tangan Alana, menariknya keluar dari kamar Joy.


Baiklah!! Tapi.. Bentar!! Sepertinya ada yang ketinggalan, tapi apa..." Alana mencoba mengingat-ingat kembali apa yang ketinggalan di dalam, Padahal dia tidak bawa koper dan sebagainya.


"Memangnya kamu tadi bawa apa?" tanya david yang membaur Alana langsung teringat tentang apa yang ia bawa baskom berisikan air. Dan kotak obat.


"Iya, aku baru ingat sekarang!! kamu tunggu di sini sebentar, aku akan masuk ke dalam lagi.


Alana masuk ke dalam kamar Joy lagi, ia berlari mengambil baskom berisikan air yang masih tergeletak di meja tadi.


"Kamu kembali?" tanya Joy.


"Aku lupa bawa ini keluar," ucap Alan mengambil baskom dan kotak obat sekaligus.


"Kamu bisa bawahnya?" tanya Joy memegang lengan Alana.


"Bisa, tapi lepaskan tangan kamu. Nanti kalau alisnya tumpah gimana?" gumam Alana, yang tetlihat kesusahan membawa dua sekalugus.


"Biar aku bawakan kitak obatnya, sudha kamu akaln duluan!!" ucap Joy, dan langsung di bals sebuah senyuma yipsi di wajah Alana.


Alana melangkahkan kakinya lagi keluar dari kamar Joy. "Ksnapa kanu dengan dia?" tanya David, menayap wajah Alana.


"Aku buang ini dulu, nanti kita bicara. Dan kamu tunggu aku di ruang tamu, oke!!" ucap Alana berjalan menjauh dari David, menuju ke dapur, dan mengembalikan kotak obatnya lebih dulu.


"Udah kamu kembalilah, aku akan letakkan kotak obat ini di temaptnya sendiri,"


"Enggak!! Biarkan aku bantu kamu!! Aku akan ikuti kamu, siapa tahu kamu gak bisa naruhnya nanti," gumam Keyla, melirik dan tersneyum tipis.


Joy menghela napasnya, "Baiklah!!" Joy segera mengembalikan kotak obat ke trmpatnya, tangan kanannya yang sakit, membuat kotak obatnya hampir saja jatuh, dengan sigap tangan Alana membantunya, menaruh obatnya, Joy menatap Alana dari samoing, yang sangat dekat dengan pipi kanannya, hembusan napas Joy terasa di pipi kiri Alana.


Alana membalas Joy dengan senyuman tipisnya. "Benarkan apa yang aku bilang!!" ucap Alana, tersemyum simpul, tanpa membuka mulutnya, dengan ke dua mata saling memandang sejenak.


Alana, entah apa yang harus aku lakukan nantinya. Tapi aku gak bisa jika terus marah dengan kamu. Tapi aku yakin di balik semuanya pasti akan mendapatkan sebuah kenangan indah. Aku akan menjaga kamu, aku janji.


"Apa kamu masih terus menatapku?" tanya Alana menggerakkan kepalanya, ke kanan dan ke kiri. Mengamati wajah Joy yang tak hantinya matanya menatap ke arahnya.


Joy tersenyum, mengusap ujung kepalanya, dengan tangan kanannya yang terluka. "Kamu itu gemesin!!" ucap Joy.


"Apa yang kalian lakukan di sana," ucap David, menatap ke tajam ke arah Joy.


"Aku hanya bantu dia," jawab Alana.


"Kenapa kamu harus bantu dia. Apa kamu gak ingat apa yang sudah dia lakukan padamu. Dam kamu juga seharusnya tidak mudah untuk memaafkannya." ucap kesal David.


"Setiap manusia juga pasti punya salah. Dan tidak luput juga kamu. Yang punya banyak salah padaku. Dan sekarang kamu mau menyalahkan Joy juga. Harusnya kamu juga sadar jika kamu pernah bersalah denganku," ucap Alana seakan langsung membungkam mulut David, dan Joy hanya diam, menahan senyum tipis nya yang ingin keluar dari mulutnya.


"Aku pergi dulu!!" ucap Joy, tersenyum menatap Alana, melangkahkan kakinya pergi meninggalkan David dan Alana berdua.


"Aku mau bicara dengan kamu!!" ucap David, mengalihkan pembicaraan.


"Memangnya kamu mau bicara tentang apa?" tanya Alana antusias.


"Kita bicara di kamar aku, ada hal yang ingin aku tunjukan padamu."


"Emmm... tapi ingat, jangan pernah macam-macam denganku." ucap Alana, dengan telunjuk menunjuk ke wajah David.


"Oke!! Tanang saja, ku tidak akan menyentuhmu. Lagian mana pernah aku menyentuhmu," gumam David, menarik bibirnya sinis.


Kalau di sentuh Joy saja antusias. Ya, mungkin memang benar jika mereka ada hubungan terlarang!! Emm... Sepertinya aku harus cari tahu... Em.. Tapi kenapa juga aku harus memikirkan dia, lagian dia bukan siapa-siapa aku. Dan kenapa juga aku perduli hubungan mereka... Ahh.. Ada-ada saja aku ini...


"David!! kamu kenapa?" tahya Alana, mengibaskan tangan kanannya, ke wajah David.


"David!!" panggilnya lagi, sedikit lebih keras, namun david masih saja diam, menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"DAVID....." Teriak Alana tepat di telinga David, sontak membuatnya terkejut, dan terjingkat seketika dari tempatnya berdiri.


"Kenapa kamu teriak di telingaku?" tanya David kesal.


"Ehh... Iya, aku lupa. Sekarang ikut aku!!" ucap Dabid, memegang pergelangan tangan Alana, berjalan dnegan langkah cepat menuju ke kamarnya. Sampai di kamarnya, David melepaskan tangan Alana.


"Sekarang kamu duduk dulu!!" ucap David.


"Gak mau!! Udah buruan apa yang ingin kamu katakan. Aku gak punya banyak waktu,"


"Kamu duduk dulu, baru akau akan jawab,"


"Baiklah!! Tapi buruan!!"


"Iya,"


Alana beranjak duduk di ranjangnya, dan David menuju ke ruangan samping, di mana dia menyimpan baju-baju dan berbagai jas serta jaket atau sepatu di sana. Entah apa yang dia ambil Alana hanya diam menunggu, dengan mata memutar menatap sekelilingnya.


"David, kenapa kamu tidak pajang foto kamu dengan pacar kamu di kamar?" tanya Alana.


"Kenapa juga aku harus memajang foto pacar aku, yang belum tentu juga jari istri aku kelak nanti!!" ucap David, melangkahkan kakinya mendekati Alana.


"Ini, koper kamu. Kamu gak usah bingung lagi cari!!" David menarik koper Alana tepat di depannya, lalu melemparkan tasnya tepat di samping Alana duduk.


"Ini tas aku!!" ucap Alana, meraih tasnya, dan mencoba memeriksa isi dalam tasnya, ia mengeluarkan semua isi di tasnya di atas ranjang, memasukan kembali dengan meneliti satu-sayu, apa sudah lengkap atau belum.


"Sudah lenagkap, ponsel kamu juga ada. Dan uang kamu juga masih utuh, tenang saja!!" ucap David penuh percaya diri.


"Iya!! Semua sudah lengkap. Dan ini koper aku," ucap Alana.


"Kamu mau periksa juga?" tanya David, menarik ke dua alisnya, sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Alana.


"Enggak!! Lagian teman kamu gak akan bisa buka sandi koper aku!!" ucap Alana. Beranjak berdiri, dan langsung memegang ke dua tangan David.


"Makasih!! Sekarang koper dan tas aku kembali.. Makasih banget atas semua yang sudah kamu ajarkan padaku di sini. Dan tempar tinggal ini, kamu sudah memberikan secara gratis" ucap Alana sangat bahagia.


"Sekarang kamu cas ponsel kamu di kamar aku." ucap David, menghela napasnya, memalingkan wajahnya.


"Bentar!!" Alana mencoba menyalakan ponselnya ternyata memang ponselnya mati.


"Aku titip ponselku, ya. Aku nanti mau mandi, lagian ini sudah bau. Dan rambut aku ada darah Joy, jadi aku harus cepat membersihkannya."


"Memangnya Joy kenapa?" tanya David datar.


"Tangannya berdarah!!" jawab singkat Alana.


"Oo.. Makanya kamu perhatian dengannya," ucap datar David.


"Iya, meski kamu sakit aku juga khawatir. Semua ada yang sakit saudaraku, pasti aku akan khawatir." jelas Alana.


"Ya, udah. Kamu mandi dulu sana di kamar aku." ucap David, yang langsung di pelototi Alana.


"Eh... tanang dulu, jangan berpikiran negatif. Aku hanya ingin bantu kamu. Lagian siapa juga yang mau intip kamu mandi." ucap David, melemparkan wajahnya berlawanan arah.


"Ya, sudah kalau gitu sekarang kamu cepat keluar dari sini. Oya, dan makasih sudah belikan aku baju selama dua hari." ucap Alana, menyipitkan matanya, dan tersenyum lebar, menatap wajah David.


"Iya, sama-sama. Aku tunggu kamu di luar. Bukanya kamu mau cari ibu kamu. Aku akan bantu kamu cari" ucap David.


"Memangnya kamu mau bantu aku?" tanya Alana memastikan.


"Iya, aku mau bantu kamu!! Kamu buruan mandi, setelah itu ikut aku. Aku akan ajak kamu keluar dari rumah ini selama dua jam, sebelum Cia dan yang lainnya kembali." pungkas David.


"Baiklah, aku mandi cepat kok. Lagian pagi tadi udah mandi, sekarang kamu pergi dulu ya, keluar dari kamar. Nanti saja kamu bicara lagi. Dan kamu tunggu aku di ruang tamu," jelas Alana. Mendorong punggung David menjauh darinya.


"Jangan lama-lama, dan gak usah pakai make up segala. Kelamaan!!"


"Iya bawel!!" Alana segera menutup pintu kamar Joy rapat-rapat, dan Alana melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, membasuh tubuhnya kembali.


Tak butuh waktu lama, Selesai Mandi, Alana segera memakai baju yang biasa ia kenakan. Dan menuju ke kaca depannya, mengambil menyisir rambutnya, dan hanya memakai bedak tipis. Ia beranjak pergi keluar dari rumahnya.