
Joy terus menatap tajam ke arah Miko yang duduk di samping Cia. Suasana dia antara mereka sepertinya tidak terkendali lagi.
Cia bergegas merubah suasana yang tadinya mencengkam. Ia mencoba mengajak mereka berbincang meski hanya satu dua kata. Kalau mereka berantem di sini bisa bangun tu nenek sama Alana yang tertidur pulas.
Kasihan alana yang lagi sakit harus terganggu perdebatan gak penting mereka nantinya. "Udah-udah kenapa sih kalian tu selalu saja diem-dieman gini"ucap Cia.
"Siapa yang marah, kalau mau belajar silahkan belajar. Aku mau lihat Alana dulu"ucap Joy beranjak berdiri.
Cia menarik tangan Joy. "Kamu gak lihat Alana masih tidur, lebih baik kamu duduk di sini belajar bersama. Kamu sudah 2 hari juga gak masuk kan. Emang sih kamu sudah pintar tapi setidaknya kamu kasih tahu kakak kamu yang cantik ini"ucap Cia penuh percaya diri.
Joy menghela napasnya menatap ke arah Alana sekilas, ia melihat Alaa yang terbaring lemah di ranjangnya. "Baiklah"ucap Joy.
Alana yang mendengar ucapan mereka dari tidurnya, perlahan ia mulai membuka matanya. "Lihat tu gara-gara kamu Alana jadi bangun kan!!"Ucap Cia mendorong tubuh Joy.
"Kenapa jadi aku sih??" tanyaJoy terlihat bingung.
"Ya, kan gara-gara kamu tadi berisikjadi ganggu dia tidur" Ucap Cia, ia terus menyalahka Joy. karena gara-gara suuara dia dan ia yang berisik dari tadi membuat Alana terbangun dari tidurnya.
"Kenapa kalian jadi tambah ribut sih?" Tanya Alana, beranjak duduk. Miko yang melihat alana kesusahan untuk bersandar ia bergegas berdiri dan segera mebantu Alana.
"Jangan terrlalu bergerak dulu" gumam Miko.
Di sisi lain Joy merasa tidak suka dengan oandangan seperti itu di depannya. Ingin rasanya marah namun dia siapa, dia hanya kakak yang tak di angap. Lagiam dari pada orang tuanya entar salah paham lagi. Lebih baik diam dan melihat.
"Kalian mau ngapain"tanya Alana.
"Kita mau belajar bersama, kamu nau gak bantu kita. Lagian Joy yang sok pintar ini tak mau bantuin kita"ucap Cia.
"Boleh, aku sudah kangen dengan buku. Jadi hak salah juga kalau bekajar bersama. Meski materi kita beda jauh tapi aku bisa bantu kalian udah senang"ucap Alana.
Cia, Joy dan Miko terdiam ia baru tahu ternyata juga bisa bicara banyak. Baru kali ini mereka mendengar ucapan Alana banyak juga. Biasanya hanya satu dua kata.
"Apa kamu beneran gak apa-apa?" Tanya Miko.
"Udah aku gak apa-apa kak Mik lagian aku sudah mendingan kok"ucap Alana.
"Ya sudah aku bantu kamu duduk di kursi roda ya?"Miko membantu Alana untuk duduk di kursi roda yang memang sebelumnya sudah tersedia di sampingnya.
"Makasih "ucap Alana.
Miko terdiam, ia kaget Alana bisa bilang makasih lagi, biasanya dia gak perduli dengan kata itu seakan enggan untuk mengucapnya.
"Iya sama-sama"ucap Miko.
Mereka terlihat saling bercanda, dan beajar bersama di meja. Dan Joy selalu nasang wajahnya datar. Tanpa perdulikan mereka, hanya melihat cara Alana belajr dengan mereka.
Dia benar-benar hebat dan pinter, soal seperti itu baginya sangat mudah tak perlu berpikir lama. Dalam beberapa jam saja satu buku itu udah penuh jawaban darinya. Tapi yang bikin kesel, melihat Alana dengan miko yang bisa tersenyum lepas.
"Na, kalau kamu di rumah seperti ini terus oasti aku sennag, dapat pr anntinya dari guru killer itu. Dan pasti dengan mudah bisa menjelaskan semua materi yang di ucapkan. Kalau kamu yang ajari aku"uvap cia.
Nenek mereka yang baru saja terbangun melihat keakraban mereka sangat senang. Apalagi bisa melihat cucu-cucunya bisa tertawa bersama seperti itu.
"Na lihat tu Miko wajahnya memerah"ucap Cia mencoba menggoda Miko. Dan Alana hanya diam, melirik ke arah Joy yang terlihat murung dari tadi. Sepertinya dia bosan dengan candaan bersama. Lelaki itu beranjak pergi keluar dari Kamar Alana.
Melihat Miko dan Cia saling berdebat tak perhatikan mereka. Cia mendorong kursi rodanya sendiri mencari Joy yang dtadi baru saja keluar dari kamarnya.
"Kak Joy!!" Teriak Alana, membuat langkah joy terhenti, ia hanya diam menatap ke depan, dan berpikir sejenak. "Seperti suara Alana"batin Joy. Dia menoleh ke belakang, melihat Alana yang ternyata tad mengejarnya dengan kursi roda itu.
Joy berjalan mendekati Alana.
"Kamu kenapa keluar, ayo aku antar masuk"ucap Joy menuntun kursi roda Alana.
"Kak Jiy berhenti, ku ingin jalan-jalan keluar rumah sakit. Bawa aku ke halaman belkang rumah sakit. "Pinta Alana.
Joy terdiam, kenapa tiba-tiba Alana jadi berubah dan mau bicara dengannya.
Joy dengan segera mendorong kursi roda Alana ke halaman belakang rumah sakut yang terlihat memang pemandangan yang snagat indah. "Kak Joy maaf"ucap Alana.
"Maaf untuk apa?" Tanya Joy bingung.
"Aku tahu kamu pasti marah ya denganku, kemaein aku melihatmu di pintu menatap ke arahku, tapi kamu sehari tak pernah merawatku. Kak, kalau memang aku salah dengamu maaf, mungkin sifat aku yang cuek dan tak banyak bicara ini kembuatmu kesal. Aku sudah akan merubah semuanya. Aku ingin bisa normal kembali tak memasang wajah cuek di depan semua orang."gumam Alanam
Joy hanya diam mendengar ucapan Alana, ia lnagung duduk jongkok di depan Alan "Na, aku tidak pernah marah sama kamu, jadi kamu jangan berpikir seperti itu"ucap Joy mengusap lembut rambut adiknya.
Alana menepis tangan Joy, ia merasa canggung dengan sentuhan kakanya itu. Seperti ada yang aneh dengan sentuhan itu. Tetapi Joy hanya tersenyum tak perdulikan tepisan tangan Alana. Karena memang dari dulu dia seperti itu. Dan Joy tak merasa aneh lagi pada sifatnya seperti itu.
"Kak, kamu lihat anak kecil itu"ucap alana menunjuk ke arah Anak kecil yang duduk sendiri di sana.
"Iya, memangnya kenapa"tanya Joy.
"Antarkan aku padanya. Kasihan dia sendirian"ucap Alana.
Joy beranjak berdiri dengan sennag hati ia mendorong kursi roda Alana menuju ke arah anak kecil itu.
"Kak boleh tinggalkan aku sebentar"ucap Alana pada Joy.
"Tapi Na.."Joy merasa tak bisa meninggalkanAlana sendirian di sana.
"Kak aku sudah bisa sendiri, kaka tunggu aku di mana terserah. Aku mau bicara berdua dengan adek kecil ini"gumam Alana.
Joy dengan terpaksa menuruti apa kata Alana meskipun sebenarnya ia gak tega, tapi daei pada ia marah, karena permintaannya gak di turuti.
Baiklah, kamu jaga diri ya, jangan pergi kemana-mana. Aku entar jemput kamu di sini"ucap Joy memegang bahu Alana.
"Iya kak"ucap Alana singkat.
Joy bergegas pergi dan membiarkan Alana sendirian di sana. Kalau dia tetap di sana juga di kira macam-macam entar sama mamanya.