My First Love

My First Love
Joy-Amera



Joy yang baru saja keluar dari kamarnya. Berdiam sendiri di kamar beberapa jam, membuat ia jenuh sendirian, dan memutuskan untuk keluar. mencari teman untyuk keluar bersama.


Ia bosan harus selalu mengingat nama adiknya itu terus. Sekarang keputusannya sudah bulat, jika dia ingin melupakan Alana dan segera membuka hati untuk wanita lain, selain dia, adiknya.


ia segera beranjak masuk ke dalam kamarnya. Dan beranjak pergi mencari Amera. Melangkahkan kakinya semakin cepat menuju ruang keluarga yang kebetulan ada keluarganya di sana.


"Tante Amera mana?" tanya Joy pada Sheila yang duduk dengan mamanya di ruang keluarga.


Sheila dan Keyla yang dari tadi lagi ngobrol. Ia menoleh ke belakang kompak.


"Sepertinya Amera tadi pergi ke atas. Mungkin berada di kamar Cia." jawab Sheila ramah.


"Makasih tante," Joy seketika, berlari menaiki anak tangga lagi.


-----


"Sepertinya memang Joy suka dengan Amera?" tanya Keyla.


"Sepertinya begitu," ucap Sheila.


"Jika memamg mereka saling suka. Kenapa nanti kita tidak jodohkan saja sama seperti David dan Cia,"


Keyla, menatap ke arah Sheila seketika. dengan tatapan kosongnya.


Apa benar dia suka dengan Amera. Aku merasa dia terpaksa mealkukan ini. Taoi jika memang dia benersan suka itu baik untuknya.


"Gimana?" tanya Sheila, yang sudah menanti jawabannya.


Keyla, segera menyadarkan dirinya. "Jika memang begitu, aku gak masalah. Biarkan anak kita sendiri yang menentukan nantinya,"


-------


Sedangkan Joy, berdiri di depan pintu kamar Cia. Ia masih ragu mengetuk kamarnya atau tidak.


Ahh.. biarkan saja kata Cia, lagian gadis itu juga ngeselin. Terserah dia nanti mau digosipin, apa.


Tok.. Tok... Tok..


Joy mengetuk pintu kamar Cia, membuat Cia dan Amera yang memang lagi berbicara berdua, menghentikan gosipnya. Menatap ke sumber suara.


"Siapa?" teriak Cia.


"Joy!!"


"Ada apa?"


"Amera ada? Aku mencari dia." ucap Joy.


"Amera, sepertinya Joy mencari kamu. Sekarang cepat pergi, taklukan hatinya, aku yakin kamu bisa," ucap Cia, menepuk-nepuk bahu Amera.


"Apa sih Cia. Dia mungkin cari kamu. Dan gak mungkin banget dia cari aku" jawab Amera ragu.


"Mungkin, dan buktinya semarang dia cari kanu. Udah keluar sana. Nanti keburu dia pergi nyesel lagi," goda Cia.


"Baiklah!!"


Amera penuh rasa ragu, beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati pintu.


Sesekali ia menoleh ke arah Cia. Menaeik alisnya, memebri kode pada Cia jika dia gak berani.


"Udah buka!!"


"Takut!!"


"Keburu di ambil orang lo," ucap Cia menggoda.


"Iya, tapi..." Amera, semakin ragu. Hatinya seakan bergetar takut mentap wajah Miko di depanya nanti.


Cia menggelangkan keplanay, gimana ada ada gadis malu-malu gini. padahal cinta udah di depan matanya. "Buka gak?"


"Baiklah!!" jawab Amera pasrah.


Amera menarik napasnya dalam-dalam, ia mulai membuka pintu kamar Cia. Dengan rasa ragu dan gugup. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, membuka pintu kamar Cia.


"Amera kenapa kamu lama?" tanya Joy.


"Ma..maaf" ucap Amera gugup, ia masih memejankan matanya.


Joy memegang tangan Amera. membuat hati Amera merasa menciut seketika. Ia mendongakkan kepalanya menatap wajah manis laki-laki tampan di sampingnya. Yang tiba-tiba tiada angin, tiada hujan dia memegang tangannya, sangat lembut.


"Kamu ikut aku sebentar."


Amera mengerutkan alisnya.


"Kemana?" tanya Amera bingung.


"Kita pergi jalan-jalan, ke kota. Aku gak pernah ajak kami jalan-kalan selama di sini kan" ucap Joy, mengusap lembut ujung kepala kepala Amera, mengusap rambutnya, membuat wanita itu tersipu malu. Dengan wajah mulai merah muda, di buatnya.


"Gimana?" tanya Joy, memastikan. Menatap wajah Amera. Dan hanya di balas dengan anggukan kecil dan senyum termasnis yang ia miliki.


"Kita naik apa?" tanya Amera.


"Naik, mobil."


Bibir Amera menguntup rapat, dan mengangguk pelan. Ia sebenarnya berharap jika Joy akan mengajaknya naik motor sekarang. Tapi sepertinya itu hanya angannya. Nag dia lebih rimantis jika dia mengajaknya naik sepeda atau hanya sebatas naik montor.


Kenapa kamu gak ajak aku naik montor kamu, kenapa harus naik mobil. Yang masih memisahkan jarak antara kita.


"Kenapa kamu diam?" tanya Joy. Membukakan pintu mobil untuk Amera, dengan tangan mengulur ke depan mempersilahkan Amera masuk ke dalam mobilnya, bak seorang putri.


Langkah Joy berhenti beberapa detik, saat melihat Alana begitu mesranya berbicara dengan Miko. Tak mau mengganggap mereka lagi. Joy melewati meraka tanpa menoleh sedikitpun, seolah acuh tak acuh dengan apa yang mereka lakukan, di depan matanya.


Alana sudah bahagia dengan Miko, memang lebih baik aku menjauh, dan mencoba menyukai orang lain. Lagian dia sudah berubah jauh lebih feminim lagi, semenjak berpacaran dengan Miko. pikir Joy, melirik ke arah Alana.


"Joy, kenapa kamu masih diam. Cepat masuk," ucap Amera. Memegang tangan Joy


"Ih.. Iya," Joy segera masuk dalam mobilnya tanpa perdulikan lagi Alana. Meski hubungan mereka baik-baik saja. Sudah tidak ada pertengkaran lagi. Namun, ke duanya masih saling canggung satu sama lain.


Tidak mau ada yang merasa curiga dan marah dengan hubungan mereka. Dan Joy memilih untuk jaga jarak dengan Alana.


----


Alana, yang juga, tak sengaja melihat kejadian itu. Ia yang baru saja pulang dari pantai dengan Miko. Gak sengaja melihat Joy begitu bahagia, dengan wanita lain. Merasa hatinya bergetar melihat mereka. Rasa cemburu masih ada, namun di sisi lain, ia menolak rasa cemburu itu muncul lagi di hatinya. tapi seakan hatinya terasa sangat sakit, di tusuk beribu jarum yang mengganjal di hatinya.


Kenapa aku masih merasa cemburu dengannya. Harusnya aku gak boleh seperti ini. Ini sangat memuakkan. Kenapa aku gak bisa melupakan perasaan aku dengan kakak aku sendiri. Tuhan.. Semoga nanti aku bisa cepat melupakannya.


"Na, apa yang kamu lihat?" tanya Miko, mengibaskan tangannya ke wajah Alana. Ia menggerakkan kepalanya, menatap mobil Joy yang sudah pergi menjauh dari pandangannya.


Miko tahu siapa yang Alana lihat. pasti kakaknya. Meski mereka merasa sangat aneh. Tapi setidaknya, sekarang Alana sudah bersamanya, membuatnya merasa bahagia.


"Na, udah jangan melamun terus," ucap Miko, mengusap lembit pipi Alana, membuat


 gadis itu, tersentak dari lamunannya. Ia menatap ke arah Miko kembali.


"Eh.. Iya, ada apa?" tanya Alana.


"Aku tadi berbicara panjang lebar, kamu gak dengar semuanya." tanya Miko, tanpa marah dengannya.


"Maaf, tadi aku..."


"Udah gak usah bicara lagi, gak apa-apa. Sekarang aku mau kamu cepat masuk. Nanti malam aku akan hubungi kamu, " ucap Miko, memegang ke dua tangan Alana, lalu mengecupnya lembut.


"Baiklah!!" jawab Alana polos.


"Nanti malam aku akan datang ke sini. Kamu keluarlah sebentar ya." ucap Miko


Alana menautkan ke dua alisnya seketika. "Maksud kak Miko?"


"Yang penting keluar sebentar. Aku mau beri kamu kejutan, nanti." ucap Miko, telapak tangannya memegang pipi Alana sangat lembut. Lalu mengusapnya seperti kucing peliharaannnya.


"Baik, Alana masuk dulu, Kak Miko hati-hati ya," kata Alana dengan polosnya. Ia segera masuk dalam rumahnya dengan wajah sangat penuh dengan kebahahiaan hari ini.


"Na," panggil seseorang, membuat langkah Alana terhenti. ia menggerakkan tubuhnya, menoleh ke samping, mentap Cia sudah berdiri di sampingnya.


"Na, kamu tadi sama Miko?" tanya Cia. Dengan wajah tampak menegang.


"Iya, kak" jawabnya datar.


Cia mendekatkan tubuhnya, "Jangan sakiti Miko, dia itu sahabat aku. Jadi kamu harus bisa melupakan Joy. Aku gak mau nanti kamu malah menyesal. Sebelum semua orang tahu, lebih naik tinggalkan dia." bisik Cia.


Alana menepuk bahu Cia, "Tenang saja!!" jawan Alana, terukir senyum di wajahnya, bergegas masuk dalam kamarnya.


Aku harap memang Alana bisa melupakan Joy. Aku gak mau jika perasaan mereka tersakiti nanti. karena pertentangan hubungan mereka nantinya.