
Pov Ian.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah kaki menuruni anak tangga, berjalan menghampiri Ian. Dan Ian yang duduk sendiri di sofa, tak menyadari jika Keyla berjalan mendekatinya. Hari ini rumah terlihat sangat sepi, semua orang sudah pergi jam tiga sore tadi.
Ian duduk merenung memikirkan Sheila, ucapan istrinya itu membuatnya merasa sangat bersalah.
#Flash back
"Kamu mau kemana?" tanya Ian berjalan masuk ke kamarnya.
"Aku mau pulang ke Sydney, aku sudah bilang padamu jika kita akan berangkat sore dan aku udah siapkan semuanya. Tapi sepertinya kamu ingin di sini lebih dulu." ucap Sheila, merapikan bajunya, lalu menarik tas salempang di atas meja, dan melangkahkan kakinya pergi.
"Apa kamu mau meninggalkan aku sendiri?" tanya Ian, memegang pergelangan tangan Sheila, mencegahnya pergi.
"Keyla sekarang butuh kamu. Dan sepertinya dia sekarang sangat terluka. Jadi kamu temani dia dulu. Dan aku sudah siapkan tiket untuk kalian ke Sydney 2 hari lagi." jawab Sheila meneteskan air matanya, ia merasa sangat terluka dengan apa yang sudah ia lihat tadi di kamar Keyla. Rasa sakit hatinya membuatnya tak bisa terus melihat hal itu. Dan dia juga tidak bisa mencegah Ian lagi. Karena percuma dari dulu Ian tidak pernah sama sekali suka dengannya. Dan selalu memikirkan Keyla. Ia hanya sebagai obat di mana dia membutuhkan.
"Apa kamu tahu tentang aku dan Keyla?"
"Iya, tentang perasaan kamu dengannya. Aku tahu semuanya. Tapi bagi aku tidak masalah, asal kamu bahagia. Aku juga ikut bahagia, meski rasanya sangat sakit, kamu tahu dada aku terasa sangat sesak!!" ucap Sheila, mengusap air matanya, dengan punggung tangannya, lalu menoleh ke belakang, mencoba untuk tetap tersenyum di depan suaminya.
"Kenapa kamu hanya diam? Kenapa kamu jadi seperti ini, ini bukan Sheila yang aku kenal, dulu kamu selalu menolak jika aku berhubungan dengan Keyla bahkan kamu ingin menyakiti dia. Dan sekarang kamu menerima begitu saja?"
"Aku sadar jika apa yang aku lakukan percuma. Dan kamu masih saja sama. Tidak perdulikan aku sama sekali." jelas Sheila, mencoba untuk tetap tegar.
"Baiklah, jika memang kamu ingin pergi sekarang. Maafkan aku!!" ucap Ian, memegang ke dua pundak Sheila.
"Dan makasih kamu sudah mengerti tentang aku. Kamu jaga anak-anak du sana. Dan sekalian kamu lihat David di rumah atau tidak, dari kemarin dia tidak bisa di hubungi."
Sheila menarik dua sudut bibirnya lebar, terpaksa ia harus menahan sakit hatinya, yang seakan di tusuk-tusuk seribu jarum, dadanya perlahan mulai sulit bernapas jika harus terus berhadapan dengannya.
"Iya aku akan jaga mereka. Kamu jaga diri kamu ya, dan juga jaga Keyla. Aku tunggu kamu di rumah!!" jelas Sheila menepuk bahu Ian, laku beranjak pergi, menuju ke mobilnya.
"Om, Ian. Aku berangkat dulu, ya. Tadi mama sudah aku ketuk pintunya tapi belum ada jawaban. Sepertinya mama masih shock dengan kejadian itu. Aku harap Om jaga mama dulu , ya." teriak Cia dari balik pintu.
"Pasti Om akan jaga mama kalian. Dan kalian semua hati-hati di jalan!!" ucap Ian, melangkahkan kakinya mengantarkan semuanya menuju ke luar rumahnya.
"Makasih!! Kamu tidak meninggalkan aku. Aku harap kamu ingat dengan ke dua anak kamu. Jangan terlalu putuskan tentang perasaan kamu. Ingat anak kamu juga butuh kamu!!"
"Iya, aku akan pertahankan hubungan kita. Aku tidak akan meninggalkanmu," Ian mengusap rambut Sheila.
------
"Ian!! Kenapa kamu melamun sendiri di sini?" suara seorang wanita membuat lamunannya tersadar.
"Keyla!! Kamu sejak kapan berdiri di belakang aku?" tanya Ian, menatap ke belakang.
"Dari tadi, lagian aku sudah keliling rumah ini, tapi kamu juga masih tetap melamun. Awas nanti kerasukan!!" ucap Keyla tersenyum tipis, menatap wajah Ian yang masih duduk di depannya.
"Ian, kapan kita berangkat ke Sydney?" tanya Keyla pada Ian yang duduk di sofa sendiri.
"Oya, di mana Sheila dan anak-anak, kenapa aku tidak melihat mereka dari tadi?" lanjutnya.
"Mereka sudah pergi dari tadi sore, dan apa anak-anak tidak bilang pada kamu?" tanya Ian, ia tahu jika anak-anak sudah bilang tapi dia masih tidur di kamarnya dengan pintu terkunci rapat. Tanpa mengijinkan semuanya masuk ke kamarnya.
"Tidak!!" Keyla memutar matanya melihat sekeililingnya, yang kini hanya ia berdua di sana.
"Oya, di mana pembantu di rumah?" tanya Keyla semakin curiga rumahnya nampak sangat sepi tidak ada siapapun di sana kecuali mereka berdua.
"Pembantu kamu katanya mau pergi ke Sydney juga, dia bilang kau bekerja di sana. Tapi entah dia bekerja ikut siapa." ucap Ian menyembunyikan kebenarannya. Sebenarnya pembantunya di panggil oleh Alvin dan dia di suruh merawat dan menemani seseorang di Sydney. Tak mau membuat hari Keyla semakin terluka Ian menyembunyikan semua kebenarannya. Dan anak-anak sudah ia bujuk jika dia tidak ikut pulang lebih dulu, sebelum Keyla bisa tebang sekaligus membantunya mengurus rumah saat di tinggalkan nanti.
"Oo.. Ya, sudah. Aku mau masak sekarang apa kamu sudah makan?" tanya Keyla menatap ke arah Ian. Dan duduk di sampingnya.
"Iya, Apa kamu bisa masak?" tanya Ian melirik ke arah Keyla, tanpa berani dekat dengannya.
"Kamu tunggu di sini saja. Aku mau ke dapur," lanjutnya.
"Baiklah!! Tapi kamu yakin apa gak butuh bantuan,"
"Gak usah. Kamu lanjutkan saja lamunan kamu. Aku gak akan ganggu sekarang!!" goda Keula, tersenyum beranjak pergi menuju ke dapur, meninggalkan Ian duduk sendiri.
Dia benar-benar membuat aku semakin gemas. Tapi aku juga merasa bersalah dengan Sheila. Namun rasa cinta aku pada Keyla masih tetap sama. Dan sejak kapan ia tidak tahu perasaan ini semakin hebat. Mungkin ia duku sangat ingin ke rumah Keyla karena dia ingin bertemu dengan Keyla yang terlihat lebih cantik, meski umurnya tak terlihat muda lagi.
"Semuanya pergi dan aku hanya sendiri. Tapi aku juga tidak bisa terus di sini bersama dengan, Ian. Aku yakin Sheila pasti akan terluka. Dan apalagi jika dia tahu jika aku pernah hubungan dengan Ian pasti semua akan hancur." gumam Keyla sembari memotong beberapa sayuran, ia ingin membuat soup untk makan berdua.
Ian melangkahkan kakinya mendekati Keyla, ia memegang tangan Keyla dari belakang, yang masih memegang pisau memotong sayuran untuk ia makan berdua.
"Kenapa kamu melamun, hati-hati kalau masak jangan melamun!!" ucap Ian, tepat di telinga kiri Keyla.
"Ian!! Aku kira kamu siapa?" ucap Keyla, menatap ke belakang, hatinya mulai merasa tumbuh lagi, rasa cinta yang dulu ada dan sempat hilang perlahan mulai muncul kembali. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, meski dia tahu jika itu salah, tapi semuanya sudah tidak mungkin lagi bersatu.
"Tuh, kan, melamun lagi!!" goda Ian, menyandarkan dagunya di pundak Keyla.
"Siapa yang melamun, aku hanya mikirin anak-anak aku nanti. Gimana dengan mereka, masa depan mereka." ucap Keyla beralasan.
"Mikirin anak-anak atau mikirin aku?" goda Ian, mencolek pipi Keyla.
"Kamu, ya!! Siapa juga yang mikirin kamu!!" jawab Keyla, tersenyum, memukul kepala Ian dengan sayuran.
"Kamu sekarang berani denganku?" Ian menggelitik pinggang Keyla, membuat dia menggeliat.
"Ian hentikan!! Aku mau masak dulu!!"
"Gak mau, salah sendiri kamu sekarang berani memukulku!!" Ian terus menggelitik pinggang Keyla, membuat wanita itu meneteskan air mata dan tak hentinya tertawa.
"Iya, maaf!! Maaf!" ucap Keyla mencoba untuk minta maaf. Dan menoleh ke belanang, membuat ke dua mata mereka saling tertuju, dan ke dua tangan Ian memegang pinggang Keyla.
"Key!! Aku merasa kenangan kita dulu terjadi lagi pada kita!!" ucap Ian, semakin menatap dalam mata Keyla.
"Iya, kenangan yang sempat hilang. Andai aku bisa memutar kembali waktu itu. Aku ingin menikah dnegan kamu, menikmati masa tua bersama dengan kamu," jawab Keyla meluapkan isi hatinya selama ini.
"Iya, aku juga. Aku tidak ingin jauh dari kamu!!" Ian memeluk erat tubuh Keyla mengusap lembut punggungnya.
"Jangan pergi lagi dariku. Aku ingin kamu tetap di sisi aku. Aku akan selaku menjaga kamu. Mencintai kamu selamanya," ucap Ian, dan langsung di balas pelukan oleh Keyla.
"Udah!! Sekarang aku mau masak. Nanti kamu keburu lapar," ucap Keyla melepaskan oelukannya, membalikkan badannya dan meneruskan masakannya yang sempat tertunda.
"Baiklah, aku mau ambil ponsel dulu. Mau hubungi David, apa dia di rumah atau tidak!!"
"Baiklah!!" ucap Keyla tanpa menatap wajah Ian.
"Kamu sendiri gak apa-apa, kan?" tanya Ian memastikan.
"Sudah aku gak apa-apa, kok!!"
"Ya, sudah kalau gitu. Setelah masak kamu cepat mandi dulu, ya. Nanti baru kita makan bersama,"
"Baik, syang!!" goda Keyla, membuat Ian merasa sangat senang, Keyla bisa memanggilnya sayang lagi.
"Baik!!" Ian mengusap lembut ujung kepala Keyla, membuatnya terkenang lagi masa lalu saat masih muda dengan keyla. Ian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Keyla yang sibuk masak sendiri di dapur.
"Yang enak, ya. Kalau masak!!" goda Ian, yang sudah melangkah jauh daei hadapan keyla, namun pandangannya masih menatap Keyla di dapur.
Keyla hanya tersenyum tipis, menatap Ian. Lalu melanjutkan masaknya lagi.
"Apa aku salah jika aku suka lagi dengannya. Dan ini terjadi saat kejadian Ian yang melecehkan. Aku merasa di balik ganasnya dia, masih ada rasa cinta yang ada di dalam hatinya padaku. Meskipun begitu aku juga lama-lama menikmati hubungan terlarang itu." ucap Keyla, tersenyum tipis, laku meneteskan air matanya. Di saat ia mengingat Ian di saat itu ia teringat lagi dengan Alvin, yang selama ini selalu memanjakan dia. Dia tidak pernah sam sekali membentak dia atau kasar dengannya. Dia laki-laki yang sangat sempurna. Tapi sejak kejadian itu membuat semuanya berubah, hati Keyla perlahan mulai ragu dengan perasaan Alvin padanya. Meski sebenarnya Alvin sangat mencintai dia dulu.