My First Love

My First Love
Terungkap



Alvin hanya diam, ia tetap duduk bersandar di sofa dengan santainya, tangan kanan di atas sofa, dengan kaki menyilang. Menatap ke wanita cantik berpakaian lusuh di depannya.


"Aku gak akan pergi!! aku kesini bukan untuk macam-macam. Aku mencari kamu karna permintaan anak kamu. Dia mengirimku sebuah pesan jika dia ingin bertemu denganmu. Dan aku kenyetujuianya, tapi jika dia sudak kuliah" ucap Alvin.


Wanita itu yang semula tenang, tak perdulikan Alvin mendengar nama anaknya ia melebarkan matanya seketika. Ia beranjak berdiri, memegang kerah Alvin, menariknya berkali-kali. dengan tatapan melotot, penuh dengan keamarahan.


"Di mana dia sekarang!! Katakan di mana dia?" ucap wanita itu.


"Silvia!! Tenanglah!!" Alvin memegang lengan Silvia, wanita yang pernah ia nodai dulu. Tapi bukan maksudnya bertemu dengannya untuk masalah pribadi, ia tetap pada pendiriannya jika cinta dan kasih syangnya hanya Keyla.


Silvia hanya diam, tatapannya semakin menajam, dengan tangan kiri berusaha melepaskan tangan Alvin yang semakin mencengkramnya sangat erat.


"Lepaskan tangan aku!! Sekarang beri tahu aku di mana anak aku, dan setelah itu kamu cepat pergi dari sini. Aku gak mau melihat kamu lagi tuan Alvin yang terhormat" ucap Silvia, suara lembut mengejek miliknya tidak membuat Alvin takut.


"Aku sudah janji padamu kan, jika di usianya yang sudah menginjak ebam belas tahun maka kamu berhak bertemu dengannya. Tapi kamu dan suami kamu tidak boleh bertemu dengannya." ucap Alvin sinis.


"Kalau begitu sekarang beri tahu aku di mana dia. Aku mau bertemu dengannya sekarang!!" ucap Silvia, ia terasa sangat lemas saat harus melihat orang yang pernah menodainya sekarang di depan matanya. Dan dia juga tidak mau jika dia tahu semua rahasia yang ia sembunyikan.


Tetesan air mata, tiba-tiba turun dari mata indah Silvia, ia yang semula berdiri tersungkur duduk di bawah Alvin, memegang kakinya dengan wajah memohon padanya. "Aku mohon padamu!! Aku mohon pertrmukan aku dengan anak aku. Kamu boleh membunuhku, asalkan aku bisa bertemu dengan anak aku di saat terakhir. Aku ri du dengannya, sudah hampir 14 tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku rindu dengannya tuan" ucap Silvia yang terus memohon, kepala menunduk memegang ke dua kaki Alvin.


Alvin tidak tega melihat Silvia seperti itu, ia dengan sigap memegang ke dua bahu Silvia dan membantunya untuk berdiri. "Kamu jangan seperti itu, aku akan pertemukan kamu dengannya. Dan setelah itu terserah dia mau tinggal dengannya." ucap Alvin, membantu Silvia untuk duduk di sampingnya.


"Ini buat kamu!! Usap air matamu, jangan menangis lagi." Ia memberikan sapu tangan miliknya pada wanita di depannya. Silvia mendongakkan kepalanya, menatap mata Alvin di depannya. Ia mengangkat tangannya, menerima begitu saja sapu tangan Alvin.


"Sekarang di mana suami kamu? Aku mau bicara dengannya" tanya Alvin, menetap setaip sudut ruang tamunya.


"Dia gak ada di sini, suami aku kerja. Dan setelah ini aku juga mau kerja." ucap Silvia.


"Kerja di mana? Malam-malam begini kerja. Apa kamu sudah jadi wanita ****** yang kerja malam, pulang pagi" Silvia bangkit dari duduknya, dan.


Plaakkkk.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. "Jangan seenaknya menghina orang, aku melakuan semua ini juga karena aku bekerja keras demi anak aku. Aku seperti ini karena usaha yang aku lakukan, untuk kebahagiaannya" ucao Silvia sinis, ia menatap tajam ke arah Alvin.


"Dan jika kamu ke sini untuk menghina aku, maka lebih baik kamu sekarang keluar dari sini. Dan jangan pernah datang lagi ke rumah ku." Silvia semakin meninggikan suaranya.


"Baik aku akan pergi, tapi setidaknya kanu mau bekerja sama denganku lagi. Aku mau kamu dan suami kamu bekerja di tempatku, dan keluarlah dari pekerjaan part time kamu di sebuah club yang membuat citra kamu jelek." ucap Alvin, memegang pipinya yang terlihat mulai merah membekas tangan Silvia.


"Suami aku dan aku bekerja mati-matian, meski hanya kerja part time kita gak perduli. Dan kita gak mau bekerja dengan orang yang telah merebut kebahagiaan aku" Silvia menunduk. "Aku gak mau bekerja denganmu lagi!!" lanjutnya.


"Kenapa? Aku akan jamin masa depan kalian semua. Dan aku akan pertemukan kamu dengan anak kamu. Lagian sebentar lagi dia akan ke London dan kuliah di sana. Apa kamu gak mau tinggal denganya.Dan jika kamu berniat untuk bekerja denganku, ini kartu namaku" ucap Alvin menaruh kartu namanya di atas meja.


"Kamu gak perlu jawab sekarang, kamu pikirkan dulu apa kata aku. Jika memang kamu mau tinggal dengan anak kamu, maka kamu harus kerja dengan aku. Dan suami kamu juga bisa bekerja sama denganku" Alvin bergegas pergi meninggalkan Silvia yang masih terus menundukkan kepalanya.


Mendengar suara pintu tertutup Silvia mengangkat kepalanya. Ia melirik kartu nama Alvin yang berada di atas meja, wanita itu mengambilnya, membaca setiap detail. "Apa aku harus kesana lagi, aku gak sanggup!! Aku gak sanggup mengingat kejadian itu lagi, aku gak bisa, aku gak bisa" teriak Silvia, mengacak-acak rambutnya kasar.


 


"Tuan! Apa kuta langsung ke Indonesia" tanya Assistent Alvin.


"Iya, anak aku lagi terbaring sakit." ucap Alvin, menarik jasnya, terlihat lebuh rapi. Dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu cepat pesan tiket pesawat sekarang! Kita akan pergi, dan jangan lupa belikan beberapa buku nanti untuk Alana,"


"Buku apa tuan"


Mobil itu segera melaju pergi ke sebuah toko buku di sana. Alvin ingat jika anaknya suka beberapa buku tentang binis sekarang, mungkin karena sudah bosan dengan buku kesokteran yang ia pelajari.


 


Jarum jam menunjukan pukul sebelas malam, Alana masih belum bisa tidur, ia membuka setiap halaman buku yang di berikan Miko. Perlahan membuat dia tersentuh. "Buku yang unik juga" ucap Alana tersenyum tipis.


Cinta tidak datang dari mata, Tapi cinta datang dari hati.


Ketulusan seseorang bukan hanya karena kita dejat dengannya, tapi lihat dari cara dia perlakukan kita.


Cinta di lihat dari mana perhatiannya, pengorbanan dia, bukan hanya sekedar perasaan yang entah datang datang mana, bahkan belum pasti kebenarannya.


"kata-kata yang unik, kenapa juga harus jatuh cinta. Lupain namanya cinta kejar masa depan. Baru kejar Cinta " gumam Alana, menutup bukunya dan mulai membaringkan tubuhnya.


"Huaaammmm!!"


Suara laki-laki menguap membuat Alana yang semula mau memejamkan matanya, ia terbangun kembali menatap ke arah sumber suara. "Miko!!"


"Kamu belum tidur!!" tanya Miko berjalan masuk ke kamarnya.


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Alana terkejut.


"Aku ke sini hanya untuk melihat kamu, apa kamu sudah tidur atau belum." Miko melirik ka tangan Alana yang memegang sebuah buku pemberian darinya tadi. Ia tersenyum tipis, saat melihat dia mulai tertarik dengan buku itu.


"Kamu lagi baca buku itu ya?" tanya Miko, duduk di samping Alana. "Buku itu bagus, bagi orang yang pertama jatuh cinta. Dan aku yakin kamu pasti pernah merasakannya kan!"


"Iya, makasih bukunya!!" jawab Alana lembut.


"Sama-sama, Udah sekarang kamu tidur udah malam juga" Miko mengusap lembut rambut Alana, membuat gadis itu tersipu malu.


"Aku baru mau tidur kamu sudah datang!!"


"Ya, sudah sekarang tidur ya" Miko membantu Alana berbaring lagi, ia menarik selimut di kaki Alana, membungkus separuh badannya.


Miko menyandarkan kepalanya di samping Alana berbaring, dengan posisi duduk, dan memegang tangan Alana, laki-laki itu bisa tertidur pulas.


 


Keesokan harinya,


Cuaca nampak sangat cerah, berbagai burung berkicauan mengelilingi atap rumah sakit.


Alana masih terbaring di pulas di ranjangnya.


"Miko!!" ucap Keyla, menepuk punggung Miko, yang masih tertidur di kursi.


Miko langsung terbangun, mengusap matanya berkali\-kali. "Eh.. iya tente, maaf baru bangun tante!!" Miko, bangkit dari duduknya, menundukkan badanya, dan melangkah dua langkah ke belakang.


"Makasih udah jagain Alana semalaman!!" lanjut Keyla.


"Iya tente, gak masalah. Sudah jadi kebiasaan saya tante!!"


Keyla segera duduk, memegang tangan anaknya. "Alana maafin mama ya, mama selama ini tidak bisa menjadi mama yang baik buat kamu. Tapi mama akan terus berusaha menjadi yang terbaik buat kamu syang" ucap Keyla, penuh harapan pada Alana.


"Eh... Kamu sini!!" Cia yang dari tadi diam di samping mamanya kini ia mulai membuka suaranya.


"Kamu bicara denganku!" Miko menunjuk dirinya sendiri.


"Iya dengan kamu siapa lagi" Cia menatap tajam ke arah Miko.


"Jangan ganggu mereka, mama aku mau bicara dengan Alana jadi kamu jangan ganggu dia!!"


Miko menepis tangan Cia di mulutnya.


"Bukanya kamu bisa bicara baik\-baik denganku, jadi jangan menarik tanganku!!"


"Baiklah, aku gak narik tangan kamu, hanya saja aku mau kamu harus bantu aku sekarang" ucap Cia.


"Bantu apa?"


"Aku lapar!!"


"Apa? Kamu lapar tinggal beli makanan di luar, kenapa bilang padaku. emang aku punya makanan."


"Aku mau kamu temani aku beli makanan di luar, sekalian nanti jenguk Joy. Dari kemarin aku belum melihat dia sama sekali"


"Gak mau!! Beli sendiri sana, aku belum mandi. Lagian kamu tahu sendiri jika aku itu baru saja bangun!! Gak.. Gak. Kamu belu sendiri saja sana."


"Ayolah, belikan aku. Atau aku akan seret kamu lagi" ancam Cia, menarik ke dua aslinya ke atas.


"Oke baiklah!! Aku akan temani kamu, tapi hanya sebentar. Jangan lama-lama, ku gak ounya waktu banyak untuk kamu. Dan aku mau menemani Alana lagi nantinya."


Cia menarik tangan Miko, berjalan menjauh dari depan kamar Alana di rawat. "Jangan banyak bicara, cepat ikut aku."


"Lepaskan aku!!"


"Udah aku lepaskan! Skearang ikuti aku, naik ke mobil" Cia bergegas masuk ke dalam mobilnya, di dalam sudah ada sopir yang memang sudah menunggunya dari tadi.


"Kita mau kemana sebenarnya, kenapa gak beli makanan di sekitar sini"


Cia menarik tangan Miko untuk yang kesekian kalianya, membuat Miko terjatuh di dalam mobil Cia.


"kamu itu jadi cewek kasar amat sih" Miko mengusap tangannya yang terasa sakit, akibat cengkraman tangan Cia yang terlalu kuat di tangannya.


"Lagian aku bicara baik-baik kamunya yang gak bisa di ajak bicara"


Mobil itu segera melaju, pergi menuju ke rumah Cia, seperti apa yang di perintahkan Cia tadi sebelum amsuk ke rumah sakit. Cia dari awal sudah tahu jika Miko pasti belum mandi, ia berinisiatif untuk membawa Miko segera pergi agar bisa mandi lebih dulu.


"Kita mau kemana?" tanya Miko.


"Nanti kamu juga akan tahu sendiri, sekarang lebih baik kamu diam. Dan jangan banyak bicara!!"


tiga puluh menit kemudian mobil Cia samapi di halaman rumahnya. "Udah ayo turun."


"Kenapa kita ke rumah kamu, bukanya kamu tadi mau makan?"


"Iya makan di rumah, mama aku sudah masak banyak buat kamu. Kalau aku ajak kamu makan di luar yang ada, aku yang malu." Cia bergegas turuh dari mobilnya, memegang tangan Miko menariknya keluar.


"Sekarang kamu keluar atau aku akan menyeret kamu lagi!!"


Miko menarik napasnya kesal, gimana bisa ia harus berhadapan dengan sahabat nyebelin seperti dia. "Aku bisa jalan sendiri, jangan sentuh aku!" Miko berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah Cia.


"Mana kamar mandi kamu" tanya Miko kesal.


"Ada di kamarku, kamu bisa ke kamar aku. Nanti biar pelayan aku yang akan siapkan baju kamu. Sekarang ikuti aku!!"


Cia berjalan menaiki anak tangga, menuju ke kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Miko agar cepat masuk.


"Cepat masuk !!"


"Iya bawel!!"


Miko segera masuk ke dalam kamar Cia, dan bergegas menuju kamar mandi.




Di balik rumah sakit, Alana yang sudah bangun ia duduk bersandar di ranjangnya. Menatap ke arah Keyla yang dari tadi setia di sampingnya.



"Alana kamu makan ya!!"



"Gak mau!! Aku mau bertemu dengannya?" ucap Alana.



Keyla terlihat bingung, ia gak tahu dengan apa yang di bicarakan Alana. "Bertemu dengan siapa maksudnya"



"Ibu aku!! Jangan pura\-pura gak tahu, aku sudah tahun semuanya. Suami kamu merebut paksa aku dari ibu aku waktu aku masih kecil berumur satu tahun kan."



"Dari mana kamu bisa tahu semuanya?" tanya Keyla, ia tak percaya jika Alana benar\\-benar bisa tahu semuanya. "Kamu tahu dari mana?"



"Aku mendengar pembicaraan kalian, saat papa pulang" ucap Alana lirih, ia menundukkan kepalanya, dan. Tes..



"Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku, kenapa kalian memisahkan aku dengan orang tua ku, kenapa? Apa salah mereka dnegan kalian, kenapa kalian begitu kejam"



Keyla terdiam, seakan mulutnya benar\-benar terkunci. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi sekarang. Dan hanya Alvin yang bisa menjelaskan semuanya pada Alana. Hanya dia yang tahu apa maksud dan tujuannya.



"aku tahu mama pasti gak bisa berbicara apa\\-apa, dan mama gak mungkin cerita semuanya. Tapi setidaknya beri aku penjelasan kenapa Ma. Kenapa!! Kalian merenggut kebahagiaan orang tua aku, apa kalian gak mikirin gimana orang tua aku di sana menderita kehilangan anaknya.



Keyla meneteskan air matanya, ia tidak sanggup saat Alana tahu semuanya. Ia juga syang dengan Alana. Bagi keyla Alana sudah ia anggap sebagai anak kandunganya sendiri.