
hari semakin sore, alvin tak berkedip memandang sang istri yang sangat sempurnah di mata nya, semakin lama ia memandang, ada perasaan yang mengganjal menurut nya, entah apa tapi alvin semakin mendalami tatapan nya pada sang istri. alvin menautkan kedua alis nya sehingga terlihat ia sedang msmikirkan sesuatu.
"ehem", alvin berdehem menetrlkan suara nya sebelum ia mula untuk berbicara. dan dian yang merasa bahwa telah mengabaikan sang suami selama beberapa jam terakhir setelah keluar dari ruangan meeting itu dan hanya beradu antara otak dan komputer di depan nya menatap sumber suara.
"apa masih sibuk yang? apa ada yang perlu di bantu?", alvin mengutarakan isi pikiran nya sebelum masuk dalam inti pembicaraan yang mengganggu pikiran nya saat ini
"apa aku bisa bertanya tentang gadis kecil yang ku temui itu? istriku ini seperrti nya tak asing di pi pikiran ku, kenapa baru sekarang aku menyadari hal itu? apa dia wanita yg ku tunggu? ahhh gila aku", batin alvin bermonolog tentang pertemuanya dengan gadis catik kurang lebih 15 tahun yang lalu.
"maaf yang, aku mengabiakan mu saat ini, tapi aku ingin mengerjakan pekerjaan ku sendiri, untuk sejauh ini aku rasa masih bisa ku atasi. apa kamu bosan?", jawab dian sambil melangkah menuju tempat duduk sang suami lalu merangkul pinggul nya.
sedangkan alvin yang mendapatkan perlakuan manis sang istri tak tenang, hati nya seakan ingin keluar dari tempat nya,. alvin tiba-tiba merasa gerah meski dibawah ruangan ber ac.
alvin menahan gejolak di dalam dada nya, dian merasa bahwa yang di lakukan nya saat ini seperti sedang merayu sang suami. dian sontak melepas kan rangkulan nya sambil memilih jarak
"astaga kok kayak masih pacaran aja sih, kenapa mesti ada jarak setelah pernikahan ini? apa akan begini terus nanti nya? ahhh bingung aku", batin alvin
"kenapa yang? apa ada yang salah? apa aku bau?", alvin bertanya berpura-pura bingung dengan kelakuan sang istri agar tidak terasa caggung sambil mengendus ngendus tubuh nya sendiri.
"ahhh ti..tidak sayang!! aku merasa seperti.. aku..", dian menggatung kata-kata nya karena alvin langsung meraup bi*ir ranum sang istri dengan lembut.
"jangan membuat jarak diantara kita seperti ini, ini seperti kita bukan sepasang suami istri saja", bisik alvin pada telinga dian lalu membawa wanita nya dalam pelukan
jantung dian dan alvin berpacu sangat kencang hingga kedu nya bisa merasakan debaran jantung masing-masing.
alvin mengeratkan pelukan nya hingga ketukan pintu pun terdengar di telinga. tok tok tok
silahkan masuk jawab alvin sambil memeluk sang istri dan makin mengeratkan pelukan nya tak mau melepaskan pelukan itu. dian bergerak kesusahan sambil menjerit pelan
"yang, tolong lepaskan aku, ada yang datang", pekik dian
"hem biarkan saja, biar mereka tau, kau hanya miliku sayang", jawab alvin pelan
betapa terkejut nya alvin saat melihat wanita bertubuh tinggi sekitat 160 cm membuka kan pintu ruangan itu dengan sangat pelan. alvin lalu melepaskan pelukan nya pada sang istri dengan pelan dan bertanya sebelum dian melihat siapa yang datang bertamu di kantor nya.
"kenapa kamu kemari? ada keperluan apa?", tanya alvin pada wanita itu.
"a.alvin? seharus nya aku yang bertanya? kamu ngapain disini?", tanya wanita itu
dian yang menyaksikan kedua nya serasa bingung dengan wanita cantik itu.
"ehem.. maaf anda siapa?", dian bertanya pada wanita di hadapan nya.
ada perasaan sakit dan teramat sakit yang tumbuh di hati misel ketika melihat alvin di depan nya. namun apa daya? misel hanya lah seorang pegawai biasa di kantor itu.
alvin sedikit berpikir, apa yang akan misel lakukan di kantor ini? sedangkan pekerjaan misel sebenar nyakan sangangat menjamin. misel sebelum nya seorang model yang sangat terkenal di negra A. lalu kenapa dia balik ke indonesia dan menjadi seorag staf biasa? itulah yang di pikirkan alvin.
sedangkan dian mengambil posisi duduk yang baik dan alvin masih merangkul pinggul nya.
rencana yang di bangun misel dalam beberpaa bulan terakir kini merasa sirna dan siasia sudah. misel menyerahkan berkas yang ada di tangan nya pada dian .
"maaf bu, saya hanya ingin memberikan berkas ini pada anda, bisakah anda melihat nya lagi? ada beberapa yang perlu anda tandatangani", misel menjelaskan maksud kedatangan nya tanpa embel-embel lagi.
dian menerima berkas yang di berikan misel pada nya sambil membaca kembali isi berkas sebelum ia tanda tangani. dian tidak mau langsung menandatangani apaun tapa membaca nya terlebih dahulu
setelah membaca dan mengamati dengan cermat, dian lalu kembali ke meja kerja nya untuk menandatangani berkas itu dengan hati-hati. apalagi di depan nya bukan wanita biasa saja.
sedangkan di meja lain ada misel dan alvin, alvin tidk melirik misel sedikitpun atau berfikir apapun, berbeda dengan misel yang terlihat sangat piluh. dada nya seakan sesak dan terpukul. gadis yang ingin ia berikan pelajaran karena merebut alvin dari nya ternyata gadis yang sangat cantik. bahkan jika ia menjadi seorang model seperti misel, mungkin saja misel akan tersingkirkan. kemarin malam memang ada siaran langsung saat pesta ulang tahun dian, namun misel tidak mau melihat acara itu, karena misel sangat percaya diri bahwa dialah wanita paling cantik.
namun pada kenyataan nya berbanding terbaik hingga misel memilih untuk diam saat ini. setelah menandatangani berkas yang di berikan misel, dian sengaja berlama-lama untuk memberikan ruang dan waktu pada suami nya dan misel untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan, dian sengaja berpura-pura membolak balikan berkas nya sambil melirik ke tempat suami nya berada.
dian mengerutkan kening tatkalah melihat suami nya seakan acuh dengan keberadaan misel di depan nya.
"kenapa suami ku tidak mengeluarkan suara dan sibuk mengutak atikan handphone milik nya? apa masalah mereka beres? bukan kah waktu itu misel yang berbicara dengan ku di telephone? mengancam ku dan sebagai nya? kenapa sekarag malah nyalih nya menciut sih? dan kenapa dia memilih bekerja di kantor ku? apa dia memiliki motif lain?", batin dian dengan berjuta pertanyaan di hati nya yang enggan untuk ia keluarkan.
"sayang apa belum selesai juga?", alvin berjalan menuju meja kerja sang istri berniat untuk menghindari misel.
namun siapa sangka? misel yag tadi nya berdiam diri di tempat mengikuti langkah kaki alvin dari arah belakang lalu memeluk tubuh kekar alvin dengan lembut sambil terisak di balik jas milik nya.
dian sontak terkejut lalu membulatkan mata nya sempurnah sambil berdiri
sedangkan alvin? apa yang akan dia lakukan dalam posisi dan situasi seperti ini gaes?? heheh
.
.
.
hallo gaes terimakasih masih setia membaca novel ku ini, maaf jika terlambat up nya yah, mohon dukungan nya ๐๐๐งก๐
sampai jumpa di bab berikut nya yaa