My First Love

My First Love
Joy dan Amera



"Syang! Kamu lagi apa?" tanya Amera, berjalan masuk ke dalam kamar Joy, tanpa mengetuk pintunya lebih dulu. Membuat Joy yang sibuk membaca b


uku, bersandar di ranjangnya, seketika ia tersentak langsung menutup bukunya. 


"Amera? Apa kamu gak bisa, kalau masuk ke kamar aku ketuk pintu dulu. Iya, kalau aku lagi mandi, apa kamu gak malu menatapku." ucap Joy, beranjak dari ranjangnya. 


Amera menautkan alisnya, dengan bibir sedikit mengungtup. "Apa yang kamu katakan? Memangnya aku gak boleh masuk, lagian kalau kamu mau buka baju sekalipun, aku juga gaka akn meliahtnya"


"Yakin?" tanya Joy tak percaya. 


"Iya, aku yakin!! Aku gak sama seperti aku yang pernah melakukan kesalahan kemarin!" jelas Amera, duduk di ranjang Joy, dengan wajah terlihat sangat serius.


Joy menghela napasnya, menarik sudut bibirnya tipis, ia berdecak kesal, duduk di samping Amera. "Sudah jangan di bahas lagi. Aku tidak ingin bertengkar dengan kamu." desah Joy, menyilakan rambut kanan Amera ke belakang telinga. 


Degup jantung Amera semakin cepat di buatnya. Sentuhan lembut jemari tangan Joy, mampu mengalihkan dunianya "Em.. Kamu.. em.." mulut Amera terdiam seketika, saat Joy menutup mulutnya dengan jari telunjuknya. Membuat ke dua mata mereka tertuju sesaat. 


Amera semakin gugup di buatnya, tubuhnya terasa sangat panas, meliaht tatapan Joy tang menggoda. Tapi tidak dengan Joy yang langsung memalingkan wajahnya, memutar matanya malas, sembari menghela napasnya. 


"Maaf, bukan maksud aku untuk membuat kamu jatuh ke dalam cintaku. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku juga tidak bisa memaksakan takdir." ucap Ian dalam hatinya. 


"Ian, kenapa kamu menatap ke sana?" jemari tangan lembut Amera memegang pipi Joy, memalingkan wajahnya ke depan agar ke dua mata mereka saling bertemu lagi. 


"Gimana kalau kita pergi keluar sebentar sekarang. Aku ingin jalan-jalan menikmati udara sekitar rumah ini. Bosan beberapa hari selalu banyak hal tak terduga selalu datang!!" ucap Ian, menatap ke depan, dengan ke dua tangan di pahanya. 


Amera memegang tangan Joy di atas paha laki-laki itu. Ia mencengkramnya erat. "Setiap ada masalah, aku akan selalu ada buat kamu." ucap Amera. 


Joy melirik ke Amera perlahan. "Makasih!!" suara berat Joy memapu membaut Amera tersenyum. Hanya ini yang bisa ia lajukan pada Joy, gar tidak terlalu terpuruk dalam ke adaan rumah tangga orang tuanya, yang berada di ambang kehancuran. 


"Gimana kalau kita pergi sekarang?" tanya Joy, menarik dua alianya ke atas. 


Amera menyipitkan ke dua matanya. "Pergi kemana?" tanyanya.


"Sudah nanti kamu juga tahu. Aku ingin ke tempat yang tenang." ucap Joy, beranjak berdiri, menarik tangan Amera berjalan keluar dari kamarnya. 


"Memangnya kamu pernah ke sana?" tanya Amera. Menghentikan langkahnya, membuat Joy ikut menghentikan langkah kakinya juga. 


Joy menarik napasnya, memalingkan pandangannya, berlawanan arah, ia mencoba untuk tidak mengingat apa yang sudah pernah ia lakukan bersama dengan Alana. Hal yang paling tabu untul ia ingat, dan entah kenapa hatinya perlahan mulai ilfil dengan Alana, karena kejadian mamanya, dan papanya yang harus berpisah karena orang ke tiga. 


"Pernah!! Dan dulu Alana juga pingsan di sana!!" ucap lirih Joy mengingat kembali kenangan saat berada di danau, dengan ke adaan hujan sangat lebat. 


Amera menepuk pundak Joy, "Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Amera memastikan. 


"Gak!! Udah ayo kita pergi sekarang!!" ucap Joy. Menuruni anak tangga, menuju ke ruang tamu. 


"Joy! Amera! Kalian mau kemana?" tanya Sheila, membuat langkah mereka terhenti untuk yang ke dua kalinya. 


Joy melepaskan tangan Amera, perlahan menoleh ke belakang, dengan senyum tipis sebagi sapaan terhadap mama Amera. 


"Iya, tante." jawab Joy, dengan nada sopan dan lembutnya. "Boleh pinjam Amera bentar gak, tente. saya sama dia mau keluar sebentar," ucap Joy, dengan ke dua telapak tangan menyatu, terangkat di depan dadanya. Sembari memohon agar di berikan ijin oleh calon mertuanya itu. 


Sheila tersenyum, melihat kelakuan Joy, yang benar-benar sangat sopan padanya. Ia meletakkan ke dua tangannya di pundak Joy. "Kamu jangan sungkan sama tante. Jika mau keluar berdua, tante tidak masalah. Asalkan kamu nanti akan selalu menjaga Amera. Jangan pernah sakiti dia," Sheila yang semula tersenyum, perlahan senyuman manis tipisnya itu mulai memudar dari bibirnya. Ia memalingkan pandanganya, teringat tentang apa yang dia alamai sekarang. 


Semoga Amera tidak bernasib seperti aku. Dan aku gak ingin dia terluka juga. Dan kamu Amera, mama akan menjauhkan papa kamu dari mama Joy. Agar kamu bisa menikah dengan Joy. Dan hubungan terlarang papa kamu dengan mama Joy tidak terulang lagi. Yang akan membuat kamu patah hati dan sakit, jika di tinggalkan oleh Joy." gumam Sheila dalam hatinya. Ia menarik bibir bawahnya masuk ke dalam sela-sela giginya, sedikit mengigit agar tidak terlihat jika dia menyembunyikan sesuatu. 


"Eh.. iya, Joy.." ucap Sheila terpatah-patah. 


"Apa mama ada masalah?" tanya Amera melangkah pelan mendekati mamanya, meletakkan telapak tangannya di pundak Sheila. 


"Maa!! Jika ada masalah, mamma cerita pada Amera, ya. Amera gak mau mama sedih, menyimpan semua masalah sendiri!!"


Sheila mencoba untuk tersenyum, dan tetap tegar untuk tidak menunjukan kesedihannya di depan anaknya. "Amera, syang!! Mama gak kenapa-napa. Sekarang kamu pergi dengan, Joy. Nanti aku mau beri tahu kamu tentang kapan kita akan pergi ke Sydney bersama!!"


"Baiklah!! Aku sudah gak sabar untuk pulang. Dan sekalian kita melangsungkan tunangan aku dan Joy nanti, Ma!!"ucap Amera penuh semangat.


"Ya, sudah tante. Kita pergi dulu!!" ucap Joy, memegang tangan Amera, sedikit menundukkan kepalanya, dan segera melangkahkan kakinya pergi. 


"Bye... Ma!! Jangan sedih lagi ya. Nanti cerita, harus cerita ke Amera kalau pulang!!" teriak Amera, menoleh ke belakang. Melambaikan tangannya ke arah Sheila. Dan di baals sebuah senyuman tipis oleh Sheila, sembari melambaikan tangannya. 


Sheila maafkan mama gak bisa cerita padamu. Jika mama cerita semuanya, mama yakin jika kamu pasti akan marah dengan papa kamu. Mama juga tidak mau jika pernikahan kamu batal. Hanya itu jalan satu-satunya agar Ian cepat sadar dengan cintanya. Jika dia dan Keyla tidak akan pernah bersatu. Sheila terus bergumam dalam hatinya. Memandang anaknya yang sudah melangkah jauh dari hadapannya. 


Sheila membalikkan badannya, beranjak pergi untuk mengurus semua tiketnya. Dan termasuk semua baju, Ia juga harus segera membereskannya. 


-------


"Joy, apa yang kamu suka dariku?" tanya Amera, memecahkan keheningan di dalam mobil. 


Joy mengerutkan alisnya menatap ke arah Amera. Pikirannya mulai berkecamuk, ia bingung dengan apa yang hatus ia jawab sekarang.


"Kenapa diam? Pasti gak bisa jawab, ya." goda Amera, mencolek pipi Joy. "Emm.. Apa kamu gak bisa berkata apa-apa tentang cintamu ya. Atau kamu terlalu mencintai aku," lanjut Amera, memeluk tangan kiri Joy, nenyandarkan kepalanya manja. 


Joy mencoba untuk tetap tersenyum, meski harus terpaksa mengeluarkan senyum tipisnya. Ia tak mau membuat Amera curiga padanya. Ia tidak bisa jika melukai hari Amera, karena janji adalah janji, tidak bisa di ingkari.


"Oya, kamu dan Cia tetap mau ke Sydney juga kan?" tanya Amera. 


"Iya, syang!!" ucap Joy, mengusap.ujung kepala Amera. 


"Makasih!! Aku akan ajak kamu liburan di sana. Ke tampat wisata di sana, selama kamu beberapa hari di Sydney aku gak mau kamu melewatkan satu waktupun untuk berdua dengan kamu "


"Baiklah!! Tapi bukanya kamu juga akan kuliah. Apa kamu tidak kuliah di tempat yang sama dengan aku?" tanya Joy melirik ke arah Amera, seolah berharap jika Amera akan kuliah di tempat yang sama dengannya.


Amera menghela napasnya, sedikit menundukkan kepalanya. "Aku maunya begitu. Tapi itu kampus terkenal, bukan mahasiswa biasa yang bisa di terima masuk ke sana.


"Emangnya kenapa?"


"Aku tidak sepintar kamu, Joy!!" ucap Amera, menguntupkan bibirnya. 


"Udah, gak apa-apa, meskipun gak bisa satu kampus. Tapi setidaknya kamu bisa kuliah di sana, biar kita bisa bertemu kan!!"


"Emangnya kamu mau bertemu dengan aku, setiap hari?" tanya Amera memastikan. 


"Siapa yang gak mau, aku ingin kamu temani aku. biar aku semakin cinta," ucap Joy mencoba beralasan. 


"Emm.. Tapi.. Entahlah.. Aku gak tahu nanti gimana. Aku akan usahakan," Amera semakin menyandarkan manja ke bahu Joy. 


Amera, mungkin sekarang sepihan hati yang terluka aku belum bisa sembuh seutuhnya. Tapi aku akan tetap berusaha mencintai kamu. Aku akan memberi dia pelajaran dengan apa yang sudah ia perbuat padaku dan keluargaku.