
"Kak Joy, apa yang akan kamu lakukan. Kenapa kita di sini?" tanya Alana yang semakin khawatir di buatnya.
Joy hanya diam, ia melepaskan jaketnya, lalu memakaikan pada punggung Alana. "Pakailah!! Aku gak mau tubuh kamu di lihat orang lain" ucap Joy datar, tanpa ekspresi di wajahnya.
Alana menatap aneh pada Joy, di sisi lain, laki-laki di depannya itu sangat cuek padanya. Dan di sisi lain dia sangat perhatian dengannya. Jika terus seperti itu, ia tidak bisa melupakan Joy nantinya.
"Cepat pakailah!! Kenapa kamu menatapku seperti itu? Dan ingat jangan anggap perhatian aku sebagai tanda cinta aku, aku hanya tidak ingin banyak orang yang menggoda kamu!!"
"Memangnya kenapa? Bukanya aku tidak ada hubungan dengan kamu. Dan kenapa kamu melarang aku berhubungan dengan orang yang suka menggodaku!!"
"Jadi kamu suka jika banyak laki-laki yang melihat tubuh kamu. Lalu dia menggoda kamu, apa kamu mau itu. Baimlah!! Lepaskan jaket aku. Dan sekalian aku robek baju kamu. Biar semakin terbuka," ucap Joy meninggikan suara, membuat Alana mengernyit takut.
"Kenapa kamu seperti ini padaku, kak?" tanya Alana.
"Karena ibu kamu telah merebut papa ku. Dan kamu hanyalah anak haram dari mereka. Aku tidak suka itu, lebih baik kamu pergi dari kehiduapnku setelah ini," ucap Joy.
"Joy!! Kamu jangan kasar padanya. Bukanya kanu masih suka dengannya. Harusnya kamu perhatian dengannya. Tapi jika aku lebih baik kita jadi musuh. Aku tidak mau dekat dengannya lagi " saut Cia, berjalan mendekati Joy dan Alana.
"Iya, ku juga gak masalah jika kamu dekat dengannya. Hanya sebatas teman, tapi kamu tetap menikah dengan aku nantinya," sambung Amera berjalan mendekati Joy, laku melirik ke arah Alana di depan Joy.
"Oya, ku tinggal dulu. Mama aku sudah menunggu ku di taman. Kuta bisa makan bersama nanti!!" ucap Amera, memegang tangan Cia berlari menjauhi Joy dan Alana.
"Sepertinya mereka punya rencana. Apa rencana mereka. Kenapa mereka membiarkan aku dekat dengan Alana. Dan Amera terlihat biasa saja, seakan dia setuju dengan apa yang di katakan Cia." pikir Joy dalam hatinya, dan Alana hanya diam, menatap kepergian Cia dan Amera.
"Alana!!" panggil Joy, mencubit pipi Alana, di depannya.
"Kak Joy!!" Alana menoleh menatap ke arah Joy.
"Kamu jangan terlalu serius. Dna maaf soal tadi, ku terlalu kasar pada kamu!!"
"Apa kamu bicara seperti itu, karena kamu punya rencana sendiri dengan Cia dan Amera" Alana seketika membungkam mulut Joy.
"Emm.. Sudah jangan bahas itu. Apa kamu sudah tidak percaya dengan aku?" tanya Joy menatap ke arah Alana, memegang ke dua tangannya.
"Kenapa aku harus percaya. Kamu melihat aku sakit saja tidak perduli. Padahal dari kemarin kamu tahu kaki aku sakit. Tapi apa yang aku terima, kamu malah menarikku, membuat kaki aku semakin sakit." ucap Alana mengungkapkan semua isi hatinya.
"Sekarang kamu duduklah, pasti kaki kamu keseleo kemarin. Biar aku coba periksa." ucap Joy, memegang ke dua bahu Alana agar segera duduk di kursi belakangnya. Dan Joy duduk jongkok di depan, segera memegang kaki Alana yang terlihat sudah bengkak, dnegan pergelangan kaki sudah terlihat bengkak besar, dan lutut yang memar-memar.
"Pasti sakit, ya?" tanya Joy.
"Gak!! Gimana mungkin gak sakit, kamu perlakukan aku dengan kasar. Dan aku gak tahu, kenapa kamu jadi sekasar itu padaku. Hanya karena ibu aku. Padahal kamu sudah tahu ibu aku gimana sudah lama. tapi kenapa.kamu baru dendam sekarang dengan aku." ucap Alan mengungkapkan isi hatinya penuh kekesalan pada Joy.
"Karena ibu kamu sudah sangat parahberhubungan dengan papa aku, hingga mama aku sekarang bercerai dengannya. Dan aku tidak akan memaafkan itu Alana." gumam Joy dalam hatinya.
"Kenapa kamu diam? Kamu gak bisa jawab itu, kak? Apa.kamu sangat membenci aku, hingga kamu tega menyakiti aku seperti ini. Jawab kak!! jawab!" bentak Alana,, membuat joy terdiam, memegang kaki Alan, mencoba mengobati kaki Alan dengan ala tradisional, seakan seperti kakinya terasa patah di buatnya.
"Jangan banyak bicara. Kamu sekarang coba berdiri." ucap Joy, beranjak berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Alana. Dengan wajah penuh keraguan pada Joy, Alana mengangkat tangannya, dnegan ragu tangan Alana seakan di tarik dan maju membuatnya bimbang.
"Kak, Apa kamu benar tidak pernah mencintai aku lagi sekarang. Atau kamu hanya ingin menyakiti aku lagi. Tapi apa salah aku mencoba mencari tahu, apa kamu masih suka dengan aku atau tidak," ucap Alana dalam.hatinya, ia menarik napasnya dalam-dalam, mejamkan matanya sejenak, lalu menerima uluran tangan Joy. Ia beranjak berdiri, dan tiba-tiba kakinya tersandung kakinya sendiri, membuatnya terjatuh tepat di dekapan tubuh Joy, dengan ke tangan kiri memegang dada Joy. Ia bisa merasakan detak jantung Joy berdegup sangat ceoat, dengan ke dua mata mereka saling tertuju, menatap dalam penuh dengan rasa cinta yang seakan tidak akan pernah bisa bersatu kembali seperti dulu.
"Kenapa detak jantungku masih sama, aku gak bisa bicara jika menatap semakin dekat dengan Alana. Rasa cinta itu masih ada dalam diriku, Tapi entah kenapa semakin aku mencintainya, aku tidak bisa melihat dia bahagia, aku ingin menyakitinya." gumam Joy dalam hatinya.
"Maaf!!" ucap Alana mencoba untuk berdiri tegap, kakinya sudah tidak terasa sakit lagi ia mencoba untuk menghentakkan ke dua kakinya melompat-lompat.
"Gimana?" tanya Joy, mencoba menghilangkan rasa gugupnya.
"Makasih!!" ucap Alana, tersenyum memeluk tubuh Joy sangat erat. Membuat Joy semakin canggung, dia terlihat mulai salting jika terlalu dekat dengan Alana.
"Alana lepaskan pelukanmu!!" ucap Joy, memegang ke dua bahu Alana melepaskan pelukannya.
"Nanti pulang ke rumah kamu harus obati kaki kamu, kompres dengan air hangat, di lutut dan pergelangan kaki kamu yang masih memar," ucap Joy yang diam-diam juga khawatir dengannya.
Aku harap bisa secepatnya pergi dari kehidupan yang penuh drama ini. Jika aku sudah mengambil koper aku, aku akan segera pergi. Lagian aku juga gak mau terus melihat orang yang aku sukai, bertunangan dnegan wanita lain. Alana bergumam dalam hatinya mencoba tetap tersenyum di depan Joy. Meski harus terpaksa mengeluarkan senyum tipisnya.
"Oya, kamu tunggu sini bentar, ya. Aku akan belikan kamu minuman!!"
"Gak usah, kak!!"
"Udah, bentar saja!"
"Tapi..."
"Udah jangan nolak, aku gak akan pergi dari sini. Jadi kamu tenang saja. Aku akan menemani kamu, syang!!" gumam Joy, mencubit dagu Alana, membuat gadis itu tersipu malu.
"Aku tinggal dulu sebentar!!" Joy berlari pergi, ia segera membelikan minuman untuk Alana.
"Alana kenapa kamu jadi seperti uni. Kamu gak boleh suka dengannya. Ingat kanu sudah punya pacar. Jangan jadi wanita keganjenan dengan semua laki-laki. Aku harap aku tetap pada pedoman aku. Tetap setia dengan satu orang. Jangan sampai ada orang ke tiga di dalam hati aku!!" gumam Alana, menarik sudut bibirnya, memutarnya seolah ada pikiran yang membebaninya.
"Tapi... Bentar!! Bukanya Miko yang orang ke tiga. Dari awal aku suka dengan, Joy. Tapi.. Argg... Aku gak bisa berpikiran terus seperti ini. Cinta benar-benar sangat rumit." gumam Alana, memukul kepalanya pelan, mencoba melupakan pikiran itu di dalam otaknya.
"Jangan sampai aku tergoda karena cinta. Aku harus fokus dengan kuliah aku. Gak boleh ada cinta yang membuat nilai aku tambah drop nantinya." gerutu Alana mencoba memberi semangat dirinya sendiri.
Alana yang terus menggerutu dalam hatinya gak jelas, tanpa sadar Joy berjalan mendekati Alana, dengan langkah sangat hati-hati dengan membawa dua botol minuman dingin. Dan menempelkan minuman itu di pipi kiri Alana.
"Aahhhh... Apa-apaan, sih!!" decak Alana kesal, ia menoleh kr belakang, rasa marahnya seketika terhenti, melihat Joy berdiri di belakangnya. Memberikan satu botol minuman dingin padanya, laku duduk di sampingnya.
Alana mencoba untuk menbuka botol minumannya, namun tetap saja gak bisa di buka. Membuat Joy hanya diam, menahan tawanya.
"Jangan melamun terus, apa kamu gak suka aku dekat dengan kamu lagi?" tanya Joy membuka botol minuman miliknya, laku meraih botol minuman milik Alana yang belum terbuka, menggantikan dengan miliknya.
"Minulah!! Kalau gak bisa buka, mibta tolong padaku. Jangan sungkan!!" ucap Joy, membuka minumannya lalu meneguknya perlahan.
"Kamu kenapa?" tanya Alana.
"Memangnya aku kenapa?"
"Aneh!!"
"Kamu yang aneh!!"
"Kenapa aku?" tanya Alana heran.
"Lagian lihatlah kamu. Udah di bukain botol minumannya gak langsung di minum malah banyak tanya" gumam Joy.
"Emmm. iya aku minum. Tapi ini gak ada racunnya, kan?" tanya Alana, curiga jika Joy membuat dia terluka lagi.
"Enggaklah!! Kalau kamu gak percaya, apa aku harus coba sekarang!!" jawab Joy.
"Emm.. gak usah, aku minum sekarang." Alana segera meneguk minumannya, sampai setengah botol minuman.
"Kamu aneh, kadang kanu baik, kadang kamu kasar, dan terkadang kamu jadi kakak yang sangat baik. Dan tapi terkadang kamu jahat padaku. aku gak bisa menebak sifat kamu yang tiba-tiba berubah. Dan kamu beda dengan, kak Joy yang dulu. Selalu baik dan melindungi aku!!" ucap Alana mengungkapkan isi hatinya, yang membuatnya mengganjal dalam dirinya.
"Maaf Alana!!" gumam Joy dalam hatinya, ia membalikkan wajahnya, menghindari tatapan Alana yang membuatnya tak bisa bohong jika berbicara dengannya dengan ke dua mata saling memandang.
Alana memegang tangan Joy, di atas pahanya. Ia mencengkeram erat tangannya. "Kak, joy. Aku gak mau kamu berubah. Jika aku banyak salah. Dan jika ibu aku salah padamu. Atau keluarga kamu. Kamu boleh benci dengannya. Tapi jangan hilangkan sifat baik kak Joy dulu. Aku harap sifat baik itu selalu ada dalam hati kamu, kak." jelas Alana, mencoba membuat Joy bisa berubah lagi padanya.
Joy menatap mata Alana, yang penuh dengan cinta terpancar dalam dirinya. Ia terdiam, mulai tersentuh dengan ucapan Alana yang membiusnya.