
"Nanti kalau Alvin tahu gimana syang?"
"Gak napa-napa, bukanya kamu suka. Tapi sekarang kanu sudah menikmatinya kan hubungan denganmu. Kamu sudah mau membalas setiap pemainan tubuhku." Ian tak hentinya mengusap lembut wajah Keyla. Menciumi dadanya, selalu menyandarkan kepalanya di dada Keyla.
"Iya, tapi. Aku takut Sheila tahu." ucap Keyla, memegang tangan Ian, yangbtarasa sangat nyaman menyentuh perutnya.
"Dia gak akan tahu, syang.!!" Ian, mengusap wajah Keyla, mengecupnya lembut.
"Taoi kalau tahu?"
"Aku akan meninggalkannya, asal kamu mau menikah dengan aku." ucap Ian, mempererat pelukannya.
"Apa kamu tahu, selama aku menikah dengan Sheila dulu. Aku tidak pernah menikmati yang seromantis ini. Aku dengannya hanya hubungan dan langsung tidur. Aku gak bisa romantis seperti sekarang."
"Kamu emang segalanya syang!!" ucap Ian, memeluk erat Keyla, dan tertidur di sampingnya, menciumi pipi wanita itu.
"Udah aku tidur dulu ya, jika kamu mau pergi nanti. Pergi saja. Tapi tunggu anak-anak sudah tidur semuanya."
"Iya, syang. Sudah cepatlah tidur!!" ucap Ian mengusap lembut rambut Keyla, hingga membuat dia tertidur pulas.
"Maaf, aku sudah merencanakan semuanya. Aku ingin melihat keluarga kamu hancur. Tapi jika kamu tahu siapa yang menghacurkannya. Maka kamu akan marah dengan aku. Aku hanya ingin kamu jadi milikku Keyla. Mungkin Alvin tadi mendengar desahan kamu. Aku pastikan dia semakin frustasi dan melakukan hal gila lagi. Agar Keyla semakin benci dengannya. Aku sudah menyuruh orang untuk mengikuti Alvin. Kemanapun ia pergi.Termasuk pura-pura menemui wanita lian di belakang kamu." batin Ian, menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, dan tangan kiri, mengusap.lembut wajahnya. Ian beranjak berdiri, Ia memastikan jika camera yang sudah ia sembunyikan untuk merekam semua yang dia lakukan dengannya benar-benar menyala dan sudah terekam semuanya.
"Sepertinya sudah terekam. Aku akan mengumpulkannya, sudah lima 3 Vidio dengan tempat yang berbeda. Kamu pasti akan menyasikan pertunjukan yang luar biasa, Alvin. Akan aku kirim dalam bentuk dvd padamu." gerutu Ian, dengan senyum liciknya, seakan dia tidak perduli memikirkan perasaan orang lain. Perasaannya pada Keyla yang begitu besar, membuat semuanya benar-benar berubah. Termasuk dia lebih seperti orang lain. Ian yang egois, dan lebih mirip pshyco.
Ian mematikan lagi cameranya, dan berbaring lagi di samping Keyla. Kini dia mendekapnya erat dari belakang.
------
Di sisi lain Sheila yang terbangun dari tidurnya, ia mencoba mencari Ian, yang entah pergi kemana. Saat ia terbangun tidak ada di kamarnya. San juga tidak ada di kamar mandi.
"Cia, kamu tahu om Ian?" tanya Shila, pada Cia yang duduk menikmati cemilan dengan Miko di ruang tamu.
"Enggak tante, ada apa?"
"Om, Ian. Gak ada di kamar. Jadi aku kira dia di luar."
"Mungkin sedang pergi tante. jangan khawatir. Nanti juga Om balik lagi. Gak mungkin jika dia keluar jauh. Lagian, Om Ian sepertinya sangat cinta sama tante Sheila, kalian terlihat sangat mesra." ucap Cia menggoda.
Sheila tersenyum, menarik napasnya, membiarkan Ian pergi. "Baiklah. Bantu kalau Om Ian sudah pulang. Bilang jika ku mencari dia." ucap Sheila.
"Iya, tante. Pasti aku sampaikan nanti. Tante tidur saja sudah malam." ucap Cia.
Sheila menatap Miko yang hanya diam duduk di samping Cia.
Miko memang sengaja untuk diam, ia tidak mau ikut campur urusan keluarga itu. Lagian meski dia tahu, tambah bikin masalah besar nantinya.
Gimana jadinya jika Cia dan Tante Sheila tahu, jika Om Ian ada di kamar tante Keyla. dan mereka melakukan hubungan yang tak sepantasnya. Mungkin keluarga mereka akan berantakan.
"Miko!! Kenapa kamu diam?" tanya Cia, menepuk paha Miko keras, menbuatnya terasa sangat panas.
"Oanas tahu gak, itu tangan atau api?" tanya Miko, mengusap pahanya, yang masih terasa sakit akibat tepukan keras dari Cia.
"Lagian kamu melamun sendiri. Udah ayo main, kamu jadi main gak?" tanya Cia, menarik ke dua alisnya ke atas.
"Iya jadi!!" ucap datar Miko, masih terngiang dalam otaknya dengan apa yang sudah tak sengaja ia dengar dan lihat tadi.
--------
Alana dan David sampai di rumah David.
"David, bangun!!" panggil Alana, mendorong-dorong tubuh David yang susuk di kursi.
"DAVID!!" panggil Alana tepat di telingannya.
"Dasar gadis aneh!! Kamu kenapa teriak-teriam?" ucap David, menatap Alana dengan pandangan mata setenagj sadar.
"Bangunlah!!" ucap Alana.
David menarik tangan Alana. Mendekat ke arahnya. "Emangnya kamu gak lihat, aku sekarang sudah bangun jadi jangan teriak-teriak" bidik David, mengecup pipi Alana, dan kembali memejamkan matanya.
"Ih... Ogah banget cium-cium." Alana mengusap kasar pipinya, menghilangkan bekas kecupan di pipinya.
"David!! bangunlah, buka pintunya. Gimana aku mau masuk?"
"Kamu bodoh atau gimana. Aku lihat tinggal panggil pembantu di rumah."
"Panggilkan!!" teriak Alana.
"Apa sih!!" ucap David yang duduk di kursi, dan teman-teman David yang membantu David duduk di depan teras rumahnya.
"Cepat bangun, aku gak kuat tubuh kamu berat," decak kesal Alana.
"Aku bisa jalan sendiri," ucap David, mencoba untuk berdiri, meski dengan tubuh sempoyongan dan akhirnya di terjatuh tepat di depan pintunya.
"Aku sudah bilang kan?" gumam Alana, mencoba untuk menolong David.
"Lepaskan aku!! Aku gak butuh bantuan kamu!!" David menepis tangan Alana berkali-kali.
Aku jiat bauk mau nolong, kalau gak mau ya sudah kamu tidur saja di luar" decak keaal Alana
"Baiklah, bantu aku sekarang!!" ucap david, dengan terpaksa ia harus meminta bantuannya.
Alana yang membopong tubuh David, berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan. tubuh David yang terasa sangat berat membuatnya benar-benar gak bisa terkendali.
"Salah sendiri kamu ikut aku," ucap David,
"Cepat bawa aku masuk,"
"Barang-barang aku gimana?"
"Bukanya di mobil" ucap datar David setengah sadar. Alana menoleh ke belakang mobil, teman David sudah melaju sangat jauh, dengan kecepan tinggi, Alana menjatuhkan tubuh David. berlari mengejar mobil
"Berhenti!! Tas aku masih di dalam"
"Berhenti!!" Teriak Alana yang terus berlari, namun mobil itu sudah semakin pergi jauh dari hadapannya.
Arrgggh...
Alana mengacak-acak rambutnya frustasi, rasa kesal semakin membara dalam dirinya.
Kenapa aku hari ini benar-benar sial, ponsel aku, baju dan semuanya masih di dalam. Dan aku hanya mengenakan baju ini. Terus besok aku pakai apa... Jika buka karena David, semua gak akan terjadi. Sekarang gimana dengan dokumen kuliah aku, itu masa depan aku.