My First Love

My First Love
David dan Cia



Cia duduk menekuk ke dua kakinya, memeluknya dengan pandangan menatap ke laut. Ia melihat para ramaja yang bisa berlarian di pantai. Membuat hatinya merasa tersentuh.


Dia masih kecil dan aku sudah dewasa belum tahu apa yang namanya pacaran. Mereka itu beruntung ya, bisa mengenal cinta monyet. Aku sampai mau kuliah saja belum pernah namanya bisa berduaan dengan orang hang aku syang. Pikirnya.


"Cia, menurut kamu apa semua orang adik dengan kita?" tanya David.


"Maksud kamu?" tanya cia bingung.


"Aku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan. Kehilangan orang yang aku syang. Orang yang selama ini berada dengan aku. tapi itu semua hanya sebatas menami masa keciku. Dan kahirnya mereka pergi untk selamanya. Dan saat itu aku merasa hidup itu gak adil kenapa aku kehilangan semuanya" ucap David, seakan menahan air matanya.


Sepertinya David cerita tentang orang tuanya, terus sekarang aku harus gimana. Kalau aku jawab nanti dia marah padaku. Tapi kalau aku tidak jawab di kira aku tidak menghiraukan apa yang dia bicarakan. Aku bingung harus jawab apa ya. Gumam Cia dalam hatinya.


"Cia kenapa kamu diam?" tanya David.


"Eh.. Aku gak jadi kalau soal itu. aku belum pernah kehilangan seseorang. Baik siapapun belum pernah." ucap Cia spontan keluar dari mulutnya.


"Oo.. Kamu beruntung tidak seperti ku." ucap David.


"Kamu.masih punya orang yang kamu syang. Dan banyak orang yang syang dengan kamu. Jadi kenapa terus memikirkan yang gak ada. Pikirkan gimana kami bisa membahagiaan orang yang sudah gak ada. membuat dia bangga dengan kita." Cia menepuk bahu David. "Jangan terus sedih. Banyak orang di sisi kamu yang juga syang dengan kamu, dan selalu perdulikan kamu. Lagian mereka pergi juga kesalahan kamu. dan itu semua sudah takdir. Jadi jangan salahkan diri kamu sendiri. Kamu juga harus bangkit. jadilah apa yang mereka inginkan. biar mereka merasa bangga dan tersenyum di surga sana. Jika kamu seperti ini mereka juga pasti akan sedih melihat kamu. " ucap Cia, memegang bahu David, dengan pandangan mengarah pada wajah tampannya tepat di depannya.


David menatap ke samping, seketika ia terkejut, kenarik ekapalnya ke belakang. Menatap wjaah Cia yang dekat dengannya.


cia tersenyum, kembali menagap ke depan. "Ksnap kamu takut gitu menatapku. aku gak akan ngapa-nagapin akmu. tenang saja. Kau gak mungkin melajukan hal jelek pada ank kecil seperti kamu" ucap Cia.


Mendengar kata 'anak kecil' seketika membuat David mengerutkan keningnya.


"Apa yang kamu bilang? Aku anak kecil katamu. Kalau aku anak kecil kenapa kamu mau bermain dengan aku. Gak pantas kamu main dengan anak kecil seperti aku." ucap David, membalikkan badanya menatap ke arahnya.


"Karena kamu anak kecil yang gemesin" ucap Cia, menatap ke arah David, menarik ke dua alisnya ke atas.


"Jadi lebih enak jadi anak kecil, dari pada jadi orang yangbsudah dewasa tapi sifatnya seperti anak kevil" sindir David. Membuat Cia, menati ke dua alisnya ke atas.


"Kamu bilang itu untuk aku ya?" ucap Cia.


"Enggak, aiapa yang bilang itu buat kamu. Lagian siapa kamu. aku juga gak kenal kamu . Sifat kamu seperti apa aku juga gak tahu. Yang aku tahu hanyalah gadis yang lebih tua dariku yang bersifat menggemaskan." ucap David beranjak berdiri, menatap ke depan. Melihat pemandangan pantai di sana di tambah dengan hembusan angin yang membuat sauasana sore ini terasa sangat nyaman.


Cia, mendongakkan kepalanya ke atas, menatap David berdiri di sampingnya. Sambil bergumam,


Kamu itu lucu ya, kamu kecil sifat kamu dewasa dan cara berpikir kamu, seperti orang dewasa. Dan selalu bisa menghargai aku. Gak kayak Miko, yang gak pernah peka dengan perasaanku. Tapi aku gak tahu kenapa, lebih nyaman bersama kamu dari pada dengan Miko. Seakan aku sudah menemukan sandaran hati yang sebenarnya. tapi yang jadi masalah perbedaan umur kita, yang mungkin akan membuat semuaborang membicarakan kita nantinya.


"Jangan terus menatapku seperti itu, nanti kamu suka denganku" ucap David, membuat Cia memalingkan pandangannya. Ia bertingkah seolah-olah tidak menatap ke arahnya.


"Berdirilah, lihat oemandangan di depan" ucap David, menunjuk ke arah suntset di depannya.


"Bagus, ya" ucap Cia, tersenyim yipis.


"Syang, aku gak bisa gambar momoen ini. Jika tadi aku bawa kuas sekalian aku akan gambar kamu beridiri di depan ku dengan pamanadang sunset itu. Pasti kelihatan lebih bagus. " gumam David.


"Gimana kalau lain kali kita ke sini lagi!!" ucap Cia.


"Emangnya kamu mau?" tanya David memastikan.


"Kenapa aku gak mau, aku selalu ada wkatu buat kamu. Dan aku gak mungkin juga menolaknya. Aku pasti mau, asalkan kamu melukisku. Gimana?" ucap Cia menatap ke arah David, dengan kedipan mata berkali-kali.


"Kamu kelilipan ya?" tanya David, menatap aneh Cia.


Cia menguntupkan bibirnya. "Ngeselin sih!!" ucap kesal Cia. Melipat ke dua tangannya di dadanya.


"Ngeselin gimana?" tanya David.


"Di hoda malah bilang gitu!!"


"Kenapa gak berani, hanya pria kecil yang masih ingusan saja gak berani ku goda" ucap Cia, denhan nada menggoda.


David, mencubit pipi Cia, "Beraninya bilang aku anak ingusan." Ucap David, melangkahkan kakinya bergegas pergi meninggalkan Cia.


"Kamu mau kemana?" teriak Cia, yang masih tetap berdiri di tempatnya.


"Mau merakaan obat pantai" ucap David, tanoa menatap ke arahnya.


"Aku ikut!!" Cia berlari menghampiri David, hingga ia kenabrak punggung belakanganya.


"Kita main apa?" tanya Cia.


"Gimana kalau kota coba permainan air di sini." ucap David berjalan beriringan dengan Cia. "Gimana kamu bernai gak?" tanya David menantang.


"Hemm.. siapa takut. Aku berani" ucap Cia antusias.


Ia melangkahkan kakinya, lebih dulu meninggalkan David di belakangnya.


"Kenapa kamu jalan duluan" ucap David.


"Buruan, kita naik banana boat" ucap Cia, dengan tangan mengibaskan ke depan, memberi kode oada David untuk segera pergi.


David berlari antusias menghampiri Cia, ia segera naik banana boat, meraskaan air pantai yang mengenai sekujur tubuhnya. membuat meraka semakin menikmatinya.


"Aaa.... Aku ingin seperti ini. Nyaman" teriak Cia, mengangkat ke dua tangannya ke atas.


"Emangnya kamu belum pernah beemain seperti ibu?" tabya Dabid, melirik ke baelakang.


Cia memegang pinggang Daviad. "Aku belum pernah sama sekali. Malah di rumah bosan suntuk, gak ada yang mau di ajak bermain" ucap Cia.


Selesai menikmati banana Boat, David duduk di pinggir pantai, menunggu Cia yang masih melepaskan pelampung di tubuhnya. Dan duduk di samping David.


"Kenaoa kamu lepas pelampungnya?" tabya David.


"Emangnya kenapa?" ucap Cia bingung.


"Sebelum pulang, aku mau ajak kamu main jet sky. Setelah itu kita pulang. Gimana?" ucap David.


Baru kali ini David bisa tersenyum dengan wanita. David yang lebih dominan pendiam. Tidak pernah dekat dengan wanita bahkan tersenyum dengan wanita. Saat bersama dengan Cia, semua berbeda ia menemukan kehidupan barunya. Kehidupan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bisa tersenyum kembali saat dekat dengan Cia, wanita yang lebih dewasa darinya, bahkan baru ia temui beberapa hari


Ciia beranjak berdiri, menaeik tangan David untuk seegra berdiri.


"Ayo sekarang!!" ucap Cia.


"Mau sekarang?" tanya David memastikan.


"Iya!!"


David beranjak berdiri, memegang tangan Cia. Untuk segera naik jet ski.


"Kamu pegangan ya!!" ucap David.


Cia, mengangguk antusias. dan memegang pinggang David. Meraskan permainan jat sky David yang sangat lihainya. Meski tanpa pemandu, di usianya yang masih di bawah umur ia terlihat sangat sempurna, segala olahraga ia bisa melakukannya. Cia terus megang pinggang David.


"Kenapa kamu gak peluk aku?" tanya David, dengan nada suara lebih keras agar Cia mendengarnya.


"Apa? Aku gak denger?" ucap Cia, mendekatkan wajahnya ke arah David.


"Peluk aku!!" ucap David, membiat Cia, mengedipkan matanya berkali-kali tak percaya. Dengan sangat antusias ia memeluk tubuh David.