
"Kamu tidurlah!!" ucap David, mengusap wajah Alana, beberapa detik memandang wajah polos Alana saat tidur.
"Kasihan dia, dia gak begitu punya teman. Dan semua saudaranya juga memusuhi dia. Meski dia salah, tidak sepatutnya semua memusuhinya. Lebih baik aku akan segera bantu dia cari ibunya agar dia bisa pergj dari sini dan tinggal bersama dengan ibunya. Kasihan dia jika terus di sakiti oleh saudaranya" gumam David, tersenyum tipis, laku membalikkan badannya, beranjak pergi, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan memegang lengannya.
"Jangan pergi!!" ucap Alana. Membuat David seketika menoleh ke belakang melihat Alana yang masih tertidur.
"Kak Joy, jangan marah lagi. Alana minta maaf," ucap Alana, dengan mata masih tertutup rapat.
"Dia beneran suka dengan Joy. Pasti dia sekarang sangat sakit hati saat melihat Joy yang kasar padanya." ucap David, ia mencoba melepaskan tangan Alana, yang perlahan mulai merenggang. Lalu beranjak pergi meninggalkan Alam sendiri.
"Lebih baik aku pergi dari pada ia mengira aku Joy!!" ucap David, tersenyum tipis, kaku menutup pintu kamarnya rapat, ia membawa selimut berjalan menuju ke ruang kelurga, berbaring di sofa.
------
Cia yang mengintip di balik pintu, ia melihat dari tadi apa yang di lakukan David pada Alana. bukanya dia cemburu. Tapi dia tidak suka jika Alana ada yang menolongnya. Dan kini Cia berniat untuk segera mendekati David agar Alana merasakan sakit hati.
"Ternyata David masih saja menolong dia," ucap Cia memutar matanya malas, laku menutup kembali pintu kamarnya. Ia semakin kesal jika ada orang yang masih saja perduli dengannya.
"Aku tidak bisa seperti ini. Aku akan membuat Alana merasakan sakit hati. Gimana rasanya di cuekin dan gak punya siapa-siapa. Biar dia tahu rasa gimana penderitaan mama aku, meski ibunya yang bersalah tapi sama saja, dia juga selama ini banyak salah pada mama aku." gerutu Cia, yang mulai membaringkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya, menarik selimut tebal menutupi sebagian tubuhnya, ia masih belum bisa tidur. Di pikirannya selalu saja memikirkan cara untuk membuat Alana pergi jauh dari kehidupannya. Dan merasakan sakit hati yang begitu menyakitkan.
------
Keesokan harinya.
Jarum jam menunjukan pukul 7 pagi. Alana baru saja membuka matanya. Bahkan semua sudah bersiap untuk jalan-jalan hari ini. Melihat pemandangan pagi di sana.
Cia yang sufha banfun lebih pagi. Ia berjalan menuju ke arah David di ruang tamu, dan mencoba untuk membangunkannya.
"David!! Bangun sudah pagi!!" ucap Cia, menggiyang-goyangkan tubuh David, hingga terpental-pental.
"Emmm. Apa, aku gak mau bangun!!" gumam David, yang masih menutup matanya, ia membalikkan tubuhnya di samping kiri.
"Ayo kita jalan-jalan bersama nanti!!" ucap Cia, terus menggoyangkan tubuh David.
"Aku gak mau!! Kalian pergi saja!"
"David!! Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Sheila, berjalan menghampiri Cia yang mencoba membangunkan David.
Cia beranjak berdiri tegap, menatap ke arah Sheila. "Gara-gara Alana tante, dia yang tidur di kamar David, jadi David harus tidur di ruang keluarga," gumam Cia, ia memang sengaja memberi tahu Sheila karena otaknya memang di penuhi pikiran licik terhadap adiknya. Entah sejak kapan dia berubah seratus delapan puluh derajat menjadi wanita jahat yang pendendam. Ia dulu yang ceria tak pernah marah dengan orang. Kini pikirannya banyak pikiran jahat dan licik.
"Jadi Alana juga di sini?" tanya Sheila penasaran.
Mendengar kata Alana, David spontan langsung terbangun dari tidurnya, meski mata masih susah untuk terbuka sempurna. "Iya, dia di sini. Dia yang membawa aku pulang. Dia juga yang merawat aku beberapa hari ini." ucap David, sembari mengusap matanya yang masih terasa sangat lengket.
Sementara Joy yang dari tadi hanya diam, duduk di sofa mendengarkan ucapan mereka terlihat sangat kesal. Tahu kenyataan jika beberapa hari kemarin Alana memang bersama dengan David, ia mengira jika mereka berdua benar-benar kabur bersama. Dan Alana memang sengaja tidak memberi tahu semua orang. Itu membuat dia semakin membenci Alana.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Cia lirih pada Joy di sampingnya.
"Gak ada, aku punya hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu nanti. Tapi jangan sampai semua orang tahu tentang hal itu."
"Baiklah!! Aku tunggu nanti!!" gumam Cia.
"Syang!! Kamu ada di sini. Aku cari kamu di kamar kamu." ucap Amera yang langsung duduk di samping Joy dan memeluk tangannya. Pandangan matanya tertuju pada David yang masih duduk di sofa dengan mata masih menyipit
"Lebih baik kamu sekarang tidur di kamar kamu. Atau kamu cepat mandi sana. Setelah itu makan, kita semua sudah makan. Nanti ajak Alan juga maka pagi dengan kamu. Aku tunggu kalian, kita jalan-jalan bersama." ucap Sheila, membuat semua mata mengarah padanya. Dan termasuk Cia yang mengira Sheila akan membenci Alana. Ternyata dia malah membuat Alana semakin betah nantinya tinggal bersama dengannya, meski hanya beberapa hari saja, Cia dan Amera merasa tidak suka.
"Apa Alana ada di sini?" tanya Amera, lirih menatap ke arah Sheila dan David bergantian.
"Iya, dan aku yang bawa dia ke sini," ucap David, ia tahu jika kakaknya itu juga tidak suka dengan Alana.
"Kenapa kamu bawa dia ke sini?" tanya Amera kesal.
"Itu bukan urusan kamu. Aku bawa dia kemana saja juga bukan urusan kamu," bentak David kesal, melemparkan selimutnya dan beranjak pergi dengan langkah penuh kekesalan dalam dirinya.
"Kenapa dia marah-marah?" tanya Amera sinis.
"Karena dia tahu jika kamu gak suka dengannya," bisik Cia, mendekatkan tubuhnya pada Amera. Dan Amera hanya tersenyum tipis, dengan ke dua tangan bersendekap di atas dadanya.
"Mah, ayo kita pergi sekarang. gak usah tunggu mereka. Lagian kelamaan tunggu mereka. Nanti mama juga bisa hubungi David, kita ada di mana!!" Amera memegang tangan mamanya, menariknya agar segera pergi.
Sheila dan yang lain bergegas pergi lebih ulu. Meninggalkan David, yang memang masih membangunkan Alana lebih dulu.
-------
Tik.. Tok..Tok..
David mengetuk pintu kamarnya yang di tempati oleh Alana.
"Apa dia belum bangun?" gumam David dalam dirinya.
Ia mencoba untuk membuka pintu kamarnya, yang ternyata memang tidak di kunci.
Tidak du kunci, lebih baik aku segera mandi dulu. Jika memang dia masih tudur," gumam David, melangkahkan kakinya masuk, ia meringankan langkah kakinya, sebagai agar Alana tidak terganggu, dia masih berbaring pulas di ranjangnya.
David menuju je kamar mandi, ia segera membasuh tubuhnya yang terasa sangat lengket. Setelah selesai mandi, ia segera melangkahkan kakinya menuju ke lemari mengambil beberapa pakaian miliknya, langkahnya terhenti sejenak, melihat Alana yang masih tertidur.
"Dia sangat pulas, apa karena terlalu banyak pikiran membuatnya tidur pulas seperti ini?" gumam Davud, melangkahkan kakinya mendekati Alana, ia menatap sangat dekat wajah Alana, dengan tubuh sedikit membungkuk, dan jemari tangannya mengusap lembut wajah Alana.
"Tidurlah, jika itu yang membuat kamu bisa melepaskan semua masalah kamu!!" ucap David, mengusap pipi mulus Alana, membuat gadis itu sontak memegang tangan David di pipinya, "Kak Joy, maafkan aku!! Aku memang salah. Aku pergi tanpa bilang apapun padamu. Aku tidak mau kamu marah!!" gumam Alana, memegang erat tangan David, yang mengira jika dia adalah Joy.
"Dia selalu ngingau!!" gumam David, mencoba melepaskan tangan Alana.
"Kak, jangan pernah lepaskan tanganmu!! Aku benar-benar minta maaf!!" lanjut Alana.
"Kenapa dia masih saja berharap dengan Joy, padahal sudah jelas-jelas Joy sangat kasar padanya. Dan tidak mungkin Joy akan membalas cintanya lagi. Sekarang yang ada dalam pikirannya pasti akan membuat Alan semakin menderita." batin David dalam hatinya, ia melepaskan tangannya, lalu beranjak membuka selalu yang menutupi sinar matahari yang ingin menembus langsung ke kaca, memantulkan sinarnya. David memang sengaja ingin membangunkan Akan agar dia tidak mimpi tentang Joy lagi.
"Emmpp!!" gumam Alana, menari ke dua tangannya ke atas, merenggangkan otot-otot tubuhnya yabg terasa kaku habis bangun tidur.
"Siapa yang membuka kelambunya." gumam Kesal Alana, menutup wajahnya yang terkena sinar matahari langsung.
"Aku, sekarang kamu cepat bangun. Jadi cari ibu kamu lagian tau tidak. Jika tidak aku akan tidur lagi sekarang!!" gumam David, membahas tentang ibunya lagi Alana langsung membuka matanya lebae, ia beranjak duduk, menatap ke arah David yang sudah berdiri di sampingnya, dengan tatapan tajamnya seakan ingin sekali menerkamnya.
"Iya, jadi. Kamu sudah mandi?" tanya Alana, sembari menatap dari ujung kepala David, hingga ke ujung kakaknya, melihat David masih setengah terbuka, ia memalingkan wajahnya, menutup ke dua matanya. "Kenapa kamu gak pakai baju?" tanya Alana.
"Aku mau bangunkan kamu dulu. Jika kamu sudah bangun. Aku baru pakai baju!!" ucap david, "Sekarang cepat ke kamar mandi, aku tunggu kamu di meja makan nanti." lanjutnya.
"Tunggu!!" Panggil Alana membuat David mengurungkan langkahnya.
"Ada apa?"
"Apa di luar masih ada saydaraku?" tanya Alana, merasa tidak ingin bertemu dengan Joy dan Cia.
"Gak ada, mungkin mereka sekarang sudah pergi."
"Kemana?"
"Entah, aku juga tidak begitu tahu. Lebih baik jangan bahas tentang mereka. Sekarang bahas tentang kamu dan ibu kamu Setelah kamu dapat rumah ibu kamu di mana. Aku akan antarkan kamu ke sana. Agar para saudara kamu itu tida menindas kamu lagi." ucap David, menatap penuh arti pada ke dua mata Alana.
"Mereka tidak menindasku. Mungkin memang dia sangat kecewa denganku Aku gak tahu apa yang terjadi saat aku pergi. Dan kepergianku tiba-tiba juga salah. Hal ini juga yang membuat aku merasa bersalah dengan keluarga aku di sana." jelas Akana, menundukkan kepalanya.
"Kamu terlalu baik dengan mereka. Kenapa kamu tidak membalas mereka,"
"Mereka saudara aku, meski tidak suka dengan aku. tapi kita sempat hidup bersama. Aku gak akan pernah amarah dengannya. Jika mereka bertindak seperti itu wajah. Selama beberapa tahun ini aku juga diam tak banyak bicara dengan keluarga aku. Seakan memang aku ingin selalu sendiri. Aku terlalu egois juga." lanjut Alana, menatap ke arah David.
"Sekarang aku mau mandi, kamu cepat pakai baju, setelah itu keluar dulu dari sini," ucap Alana, berjalan dengan ke dua lututnya di atas ranjang, lalu memegang pundak David, an beranjak berdiri di depannya.
"Kamu mau aku ambilkan baju kamu juga tidak?' tanya David.
"Bukanya aku gak punya baju?" tanya Alana.
"Pelayan aku yang sudah siapkan semuanya untuk kamu. Baju, dalam, dan lain-lain sudah aku siapkan juga. Kamu tinggal pakai semuanya. tanpa memikirkan koper kamu dulu. Sekarang fokus mencari ibu kamu dulu." ucap David.
Alana tersenyum tupis.
Puk! Puk!
Gadis itu menepuk ke dua pundak David, sudah pergi jangan banyak bicara lagi. Kalau kamu banyak bicara akan memakan waktu lama. Aku bisa ingin sendiri. Mau berendam agar pikiran lebih tebang kembali." ucap Alana, membalikkan badannya, melangkahkan kakinya pergi meninggalkan David sendiri, yang masih diam menatap punggung Alana yang sudah berjalan menjauh darinya, masuk ke dalam kamar mandi.