
hati riki semakin berbunga bunga, ingin rasa nya ia terbang setinggi mungkin dan tidur si balik lembut nya awan sambil memandangi langit yang di taburi bintang dan melihat keindahan bulan di malam hari.
"ahh aku pengen tidur dan membayangkan wajah gadis ku itu, benar-benar selembut salju paras nya itu, pengen aku gemes pipi gembul nya", bati riki sambil tersenyum gak jelas
alvin yang memperhatikan kelakuan teman nya bergidik ngeri lalu berdiri menuju ujung tempat tidur dimana dian di baringkan, ia menatap piluh pada wajah wanita di depan nya itu, wanita yang tadi nya ia ingin habisi secara perlahan dan tak memberikan cinta sedikitpun.
mata alvin berkaca-kaca, terasa sesak di dada nya saat menatapi wajah teduh sang istri tercinta.
"maafkan aku, maaf aku telah meragukan mu sedari awal, aku tadi nya tak ingin melihat mu bahagia, aku yang tak ingin bersanding dengan mu, aku yang tak ingin kau berbicara dan mendengarkan suara mu, kini aku jatuh cinta hingga aku... hingga aku tak ingin jauh, aku tarik semua perkataan ku pada mu, semua dendam ku tarik, aku sungguh mencintai mu. berikan aku kesempatan agar aku membuktikan nya pada, aku mencintai mu disetiap deru nafas ku dan setiap dentut nadi ku, aku samgat menghargai mu dengan dan menjunjung tinggi cinta mu, aku janji akan melindungi mu hingga aku tak bernyawa nanti, aku pastikan janji ku, tolong.. buka lah mata mu, karena aku ingin melihat indah nya dari mata mu, teduh nya tatapan yang kau berikan hingga aku tak rela jika kau tidur terlalu lama", kata alvin sambil menangis terisak dan mencium seluruh wajah dian.
riki yang mendengar segala pengakuan alvin terdiam di sudut ruangan itu sambil berdiri menyandari tembok dan tak terasa air mata nya pun jatuh membasahi pipi nya.
"ternyata seperti itu perjalanan cinta alvin, aku sangat bangga pada nya, namun sayang pengakuan itu tidak saat istri nya bangun", batin riki sambil menatapi punggung alvin
sedangkan disisi lain alvin masih terus saja terisak hingga dada nya merasa sesak dan tak lama pula alvin terengah engah sambil memagangi dada nya dan mengeluarkan begitu banyak keringat, mata nya memerah begitupula dengan wajah nya yang tak kalah memerah.
riki segera berlari menuju teman nya yang terlihat mulai kesakitan.
"hey ada apa bro??", sambil mengangkat alvin yang masih berteriak kesakitan.
ia membaringkan lelaki itu di samping dian lalu mulai melakukan pemeriksaan yang semestinnya pada pria itu yang di kenal arogan menurut nya.
"astaga!!", gumam riki
"to..tolongin gue", suara paruh alvin masih sangat di dengar oleh riki.
riki lalu mengambil cairan infusd dan beberapa obat untuk di berikan pada alvin. sebelum nya ia menghubungi ivan untuk meminta tolong pada siapapun yang berada di kabtor itu agar mengambil oxigen di dalam mobil nya.
ivan yang kebetulan ingin berkunjung ke rumah dimana alvin dan dian saat ini melajukan mobil nya dengan sangat cepat, dilirik nya jam yang berada di tangan nya ternyata sudah pukul 01:00 dini hari.
"pantas aja aku tidak tenang dan memikirkan kedua orang itu seharian", gumam ivan yang terus melajukan mobil nya.
tak butuh waktu lama bagi ivan untuk menuju kantor dimana sahabat nya berada.
sebenar nya di kamar milik dian lumayan lengkap untuk alat oxigen, hanya saja riki tidak mengetahui nya, hanya alvin dan ivan lah yang tau karena mereka sudah merancang tempat itu dengan baik..
hanya butuh waktu 5 menit kini mobil mewah ivan terparkir di depan pintu kantor. ivan terburu-buru berlari hingga menekanntombol 28 pada gedung itu.
kini ivan berada di ruangan yang sama dengan alvin, dian dan juga dokter riki tentunya.
"mana oxigen yg gua minta?", riki menolah saat ivan membuka suara tatkala tiba di ruangan itu
"di ruangan ini ada", jawab ivan lalu bergegas menekan tombol yang ada di bawah tempat tidur dan betapa sangat menakjubkan!!
"what??????", riki kebingungan saat ruangan yang tadi nya di dekorasi dengan tema putih malah berubah seperti sebuah lukisan yang indah.
"ini oxigen nya, lo tinggal melakukan apapun dengan benda ini karena gua gak ngerti", seru ivan pada riki
tak butuh waktu lama, riki lalu melakukan segala keahlian nya dengan benda yang ia butuhkan.
dan lama kelamaan akhir nya ia pun terlelap sambil menggenggam jemari dian dengan erat
riki menuju tiang infusd dian untuk mengganti kan cairan yang baru dan memeriksa keadaan istri teman nya itu. ketika ia merasa sudah aman, ia kembali ke tempat nya masih dalam posisi diam seribu bahasa pada ivan.
"kenapa mereka bisa seperti ini?", ivan bertanya pada riki, sebab ia sangat terkejut saat melihat dian juga ikut berbaring dan menggunakan infusd
"huuffffffft", riki menarik nafas nya dalam sebelum memulai cerita nya.
ia menceritakan kejadian nya seperti yang di katakan ole alvin pada nya saat pertama kali ia datang hingga bagaimana alvin merasa sesak di dada.
"kenapa lo gak hubungin gue?", hardik ivan pada riki
"santai... santai... jangan berbicara pakai urat leher lo dan otot-otot yang mengerikan itu!", pintah riki.
"aisshhh", ivan terlihat kacau di depan sahabat nya yang satu ini.
"eh gua kira lo tau tentang ini? gua juga sedari tadi gak nanyaain lo ke dia, lagian dia nya ngeyel mulu, banyak banget aturan nya, jadi mana sempat gua nanyain lo", riki membela diri nya.
ivan terlihat memijat keningn yang serasa berdenyut jika berbicara dengan riki.
"ngomong-ngomong, kog elu tau syarat nya masuk kedalam ruangan ini? dan lo taupula detile ruangan ini?", riki penasaran dengan ruangan yang tadi nya bertema putih lalu kini beruba dengan banyak nya barang dan ada pula ruangan kulkas juga kamar mandi dan dapur di dalam sana. padahal tadi nya hanya ruangan biasa.
"hemmm. emang alvin belum cerita ke elu?", ivan malah balik bertanya.
"ngapain gua nanya ke elu kalo udah di ceritain sama itu kecebong", gerutu riki kesal dengan sahabat nya yang satu itu.
"yah udah kalo alvin gak cerita, maka gua bakal tutup rapat mulut gue", jawab ivan santai sambil menaikan kaki kiri dan kanan nya keatas meja di depan riki
"sial bre***k banget lo gak sopan tau gak sih", riki sungguh sangat kesal dengan kedua sahabat nya itu.
apa lagi ia tidak bisa keluar saat ini, karena dia tidak tau dimana pintu keluar nya, apalagi setelah ruangan telah disulap seperti sebuah vila
"rik.. jangan bilang pada siapapun tentang apapun yang lo liat di kamar ini, apa lagi berbicara tentang kamar ini, kamar ini di rancang oleh almarhum pak herry dermawan, papa dian semasa hidup nya dan hanya kita bertiga lah yang tau, dian saja gak tau tentang ruangan ini, nanti saat ia bangun baru lo dengar cerita tentang ruangan ini dari alvin, karena hanya alvin yang mengetahui nya.", jelas ivan yang membuat mata sipit kiri membulat sempurnah.
"apa?? alvin tau nya dari siapa? bukankah alvin belum pernah bertemu almarhum ayah mertua nya?", tanya riki heran
"oh ia aku lupa, papa alber yang memberitahu nya dan semua tentang saham milik keluarga dian, ppa albert dan mma sinta lah yang mengetahui nya, mereka seperti keluarga kandung, hingga sampai sat ini mereka di jodohkan", jelas ivan pada riki
"haa??", riki terkejut dengan apa yang ia dengar, sebab ia baru mengetahui nya saat ini.
.
.
.
hay guys jangan lupa dukung aku terus yanh... terimakasih karena masih setia menunggu up bab per bab ny ๐งก๐