My First Love

My First Love
Silvia dan Alvin moments



"Alvin, apa yang kamu lakukan," ucap Silvia, beranjak bangun, duduk di sofa. Akvin yang baru saja membuka matanya, ia menatap mengusap ke dua natanya yang masih terasa sangat lengket. Lalu memandang wajah cantik Silvia di depannya. Yang sudah meneteskan air matanya, menyesali semua yang terjadi.


"Kamu kenapa?" tanya Alvin, beranjak duduk memegang bahu Silvia.


"Pergi dari krhidupanku!!"


"Memangnya kenapa? Apa akh salah?"


"Iya kamu memang salah. Dan ingat aku gak mau melihat wajah kamu lagi." gumam Silvia, menatap aneh pada Alvin.


Alvin mendekatkan wajahnya, menarik lengan Silvia, ingin mrmeluknya, denga sigap Silvia menarik tangannya,menjauh dari Alvin. Ia beranjak herdiri, mengambil pakaiannya yang tergeletak di bawah, engan segera Silvia memakainya.


"Silvia!! Maaf!"


" Sudah yelah, aku gak mau kata maaf darimu!!" humam Silvia.


"Kenapa?" tanya Silvia semakin kesal.


"Karena kamu sangat membosankan, menjengkelkan, dan aku sangat benci dengan kamu!!" gumam Silvia, berdecak kesal, ia beranjak pergi, keluar dari dalam kapal, menatap air laut yang sudah terpapar sinar matahari pagi.


Alvin segera memakai bajunya, dan mengikuti Silvia berada.


Silvia melangkahkan kakinya mendekat ke arah ujung kapal.


"Sekarang aku mau kamu jalankan kapal ini ke pinggiran" ucap Silvia, tersadar mendengar hentakan kaki Alvin tang mendekat ke arahnya.


"Aku akan menikahi kami Silvia!!"


"Aku gak mau menikah dengan kamu!!"


"Kenapa?" tanya Alvin semakin mendekat.


"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Meski begitu, aku akan selalu berada di sisi kamu sekarang. Meskipun aku meninggalkan kekayaanku dan hidup sederhana dengan kamu. Aku gak perduli "


"Kenapa kamu melakukan itu semua, aku gak mau kamu meninggalkan istri dan anak kamu!!"


"Kenapa? Aku sudah tahu sendiri jika Keyla berhubungan dengan laki-laki lain. Terus jika aku seperti ini dengan wanita lain apa itu salah. aku ingin membalas apa yang terjadi padanya. Aku sudah tidak sanggup lagi jika harus bersamanya setiap hari. Melihat kelakuan istri mau di saat aku tidur bersama laki-laki lain." ucap Alvin, membuat Silvia menoleh ke brlakang, menatap Alvin yang menundukkan kepalanya menyesali semua yang terjadi pada keluarganya.


"Memangnya benar istri kamu selingkuh!!" tanya Silvia, yang mulai bersimpati padanya. Ia melihat kejujuran di matanya, dengan mata yang sudah muali berkaca-kaca.


Alvin melangkahkan kakinya mendekati Sivia, memeluk tubuhnya sangat erat. "Aku mohon padamu, kamu mau bersama dengan aku. Meski kamu tidak menikah dengan aku. Tapi aku gak perduli. Aku sangat menyangi kamu. Aku gak mau pergi dari kamu!!"


"Tapi syang kanu hanyalah sebagaipelampiadan dari istri kamu. Aku hanya akan menemani kamu sampai kamu benar lupa dengan istri kamu. Dan setelah itu aku akan pergi dari kehidupan kamu!!" ucap Silvia, memegang kr dua bahu Alvin, melepaskan pelukannya, laku menatap ke dua matanya.


"Jangan marah lagi padaku!!" ucap Alvin, menatap dalam mata Silvia di depannya.


"Dan maaf aku sudah tidur dengan kamu lagi. Karena hasrat aku yang tertunda. Aku tidak hubungan lagi dengan istri aku. Aku meluapkan semuanya padamu," ucap Akvin, yang membuat Silvia diam tertegun, membalikkan badannya lagi, menatap ke hamparan laut yang luas.


"Jangan bicara lagi tentang itu, aku ingin jamu segera pinggirkan kapal ini," ucap Silvia.


Alvin memeluk pinggang Silvia dari belakang.


"Kenapa kamu seperti ini. Padahal aku sangat mencintai kamu. Aku tahu kamu berbeda dari istri aku. Aku pasti akan lebih mencintai kamu jika kamu terus di sisi aku. Cara perlakukan aku kamu berbeda dari istri aku dulu. Aku tahu jika kamu pasti suka dengan aku,"


"Lepaskan!!" ucap Silvia, mencoba melepaskan pelukan Alvin.


Silvia terdiam, dan masih memegang lengan tangan Alvin.


Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus tinggal dengannya? Tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa terus bersamanya. Aku akan semakin banyak membuat hati terluka nantinya.


"Kenapa kamu diam?" tanya Alvin, menggenggam ke dua tangan Silvia, "Jangan pergi dariku. Hanya kanu yang mampu membuat aku melupakan mantan istriku,"


"Kenapa aku kamu jadikan pelampiasan kanu. Dulu kanu tidak pernah menatapku. Bahkan kamu kr rumah aku saja selaku mrnjauh, seakan jaga jarak dnegan aku. Tapi mau paham jika kamu melakukan itu semua karena kamu sangat mencintai istri kamu. Kamu setia padanya "


"Tapi jika kesetiaan di balas dengan sakit hati. semua yang aku lakukan dulu sia-sia" ucap Alvin melepaskan pelukannya dan berdiri di samping Silvia


"Hati aku tidak terbuat dari baja yang bisa menangkis semua sakit hati yang ada. Sekuat apapun laki-laki hatinya pasti juga akan hancur jika di sakiti." jelas Alvin, membuat Silvia menatap ke arahnya, dan ke dua mata mereka tertuju.


"Tapi jika kamu, aku yakin kamu akan setia. Karena dari kesetiaan kamu tidak menikah sampai sekarang saja. Sudah menunjukan jika kamu berbeda dari yang lainya. Kamu menunjukan jika kamu sangat setia padaku. Kanu mengharapkan bisa bersama dengan aku, kan?" ucap Alvin, membuat Silvia terdiam, ia memang ingin bersama dengannya. Tapi dia tak berharap jauh, puluhan tahun penantiannya ia merasa sangat bosan, dan harus hidup sendiri, di rumah sendiri. Dan suatu hari ia juga pernah berharap bisa menikah dengan seorang laki-laki yang ia sukai.


"Jika kamu diam. Maka aku akan segera menikahi kamu. Dan kita akan tinggal di Inggris," ucap Alvin, meraih ke dua tangan Siovia, memegangnya, mengusap lembut dengan jari telunjuknya. Mengangkat tangannya sebahu, dan mengecup lembut punggung tangannya.


"Jangan pergi dariku. Aku sangat mencintai kamu. Aku tidak akan pernah pergi jauh dari kamu kehidupanku sekarang dan dulu berbeda. Aku ingin kamu mencintai aku, sama seperti aku mencintai kamu." ucap Alvin semakin menyakinkan Silvia. Jika Silvia benar-benar mau menikah dengannya. Maka dengan segera ia akan menikahinya. Dan hidup berdua dengannya.


Silvia hanya diam, ia ingin sekali menolak ap yang di katakan Alvin. Dalam hatinya ia tidak bisa menolaknya. Ia sangat ingin bersama dengannya. Tapi ia takut jika istrinya masih berada di dalam hatinya sekarang. Karena pernikahan berbeda dari pada saat pacaran atau bersama. Di saat pernikahan itu berlangsung pasti akan ada hal yang berbeda, semua kelakuan Alvin perlahan akan terungkap semuanya.


"Gimana?" tanya Alvin, memegang ke dua tangan Silvia, an mengangkatnya tepat di depan dadanya


"Jangan menolak aku Silvia. Aku yakin kamu suka dengan aku. Jika tidak, kamu tidak mungkin menunggu aku selama ini," ucap Akvin, dan langsung di balas sebuah pelukan oleh Silvia.


"Maafkan aku Keyla. Maafkan aku Alana. Aku sangat mencintai Alvin. Sudah lama perasaan itu timbul. Tapi aku tidak mau merusak rumah tangga orang. Tapi apa aku salah jika dia sudah cerai, aku dekat dengannya, dan sampai menikah dengannya," gumam Silvia dalam hatinya, meneteskan air matanya, hingga jatuh kr bawah.


"Apa pelukan kamu ini, sebagai tanda jika kamu menerimanya," ucap Alvin mencoba menyakinkan dirinya.


Silvia melepaskan pelukannya, ia menatap Alvin, menarik dua sudut bibirnya tipis, menganggukkan kepalanya kecil, tanpa dia benar-benar mau.


"Makasih!! Kamu mau menerimaku. Aku janji akan segera menikahi kamu. Tapi kita cari Alana dulu. Kita minta persetujuannya agar dia merestui hubungan kita," ucap Alvin, membuat Silvia menautkan ke dua alisnya bingung.


"Memangnya Alana sekarang di mana?" tanya Ailvia,


"Aku dapat pesan tadi jika Alana belum pergi ke Ingris. Aku yakin dia pasti pergi dengan David di sini. Setelah bawa Alana pergi. Aku akan membawa kamu pergi juga. Kita akan hidup bersama di Inggris. Dan soal oerusahaan, aku sudah atas namakan anak-anak aku." ucap Alvin, menundukkan kepalanya.


"Aku gak perduli soal perusahaan. Jika kamu memberikan pada anak kamu itu hak kamu. Dna kita bisa mulai hidup baru lagi. Dan Alana juga pasti bisa cari uang sendiri kelak nanti. Dia pasti tumbuh jadi anak yang sangat pintar."


"Dia memang sangat pintar. Dan aku yakin jika dia itu akan menjadi orang yang benar-benar tangguh. Dan mandiri." ucap Alvin, membalikkan vadanya, ke dua mata mereka menatap ke arah lautan di depannya, dengan ke dua tangan saling berpegangan sangat erat.


"Di sini janji aku terucap. Aku tidak akan menibggalkan kamu. Sampai maut memisahkan kita," ucap Alvin, mencium lembut pipi Silvia.


"Iya, aku juga sama. Kita akan membesarkan anak kita bersama. Menjadi orang yang sukses kelak nanti!!" ucap Silvia, tersenyum tipis, melirik ke arah Alvin.


"Iya, sekarang aku akan pinggirkan kapal ini. Dan kita cari Alana bersama-sama" ucap Alvin, melepaskan tangan Silvia dan segera menjalankan kapalnya untuk kembali ke tepian. Sudah seharian ia berada di dalam kapal hanya minum saja dan makan roti, namun Alvin dan Keyla merasa menikmati itu semua, meski sempat ada penolakan dalam hatinya. Tapi semuanya sudah berlalu, Alvin terus mencoba menyakinkan dirinya agar dia bisa bersama dengannya. Dan kini semua berbeda, dia akan menikah dengan orang yang ia sukai sejak lama. Tapi ada rasa penyesalan juga dalam dirinya. Dan terbesit dalam pikirannya jika nanti Alana tidak suka dengan pernikahan ini. Pasti semuanya akan menajdi lebih rumit.


Terbayang masalah itu Silvia berjalan masuk ke dalam kapal, berdiri tepat di sampingnya. Tak lama kapal itu mulai ke tepian, dengan segera Alvin keluar dan mengulurkan tangannya, ke arah Silvia, dengan senyum yipis, terukir di bibirnya, Silvia menerima uluran tangan Alvin dan beranjak turun.


"Kita kemana dulu?" tanya Silvia.


"Kita makan!! Aku gak mau jika kamu sakit. Dari kemarin kamu hanya makan roti,"


"Baiklah!! Terserah kamu!" ucap Silvia, berjalan ringan, beriringan dengan langkah sama menuju ke mobilnya yang tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.