My First Love

My First Love
46. JANGAN TINGGALKAN AKU



Dian tetap menatap sang suami melalui pantulan cermin besar di depan nya, suami yang awal nya adalah bos super dingin. dan sangat benci pada nya, sesaat dian mengenang kembali seorang lelaki dewasa yang kala itu menolong nya dan menyelamatkan nya. mata dian berkaca-kaca seolah ingin meluapkan segala tangisan nya, namun sekuat nya ia menahan agar cairan bening nya tak tertumpah dari pelupuk mata indah nya.


"kak.. dimana kamu sekarang? tandi nya aku kira setelah menikah akan melupakan mu, tetapi semakin aku dekat dengan suami ku malah akupun semakin memikirkan mu. apa kabar diri mu kak? apakah kau bahagia sekarang?? memeluk dan bersama suami ku, malah sakin merindukan mu dikala itu.. apa aku salah? entahlah.. ", batin dian.


"kenapa yang?", alvin bertanya pada istri nya, karena merasa istri nya memikirkan sesuatu yang lain.


"gak kenapa-napa yang", jawab dian sambil tersenyum simpul "makasih yah", sambung dian lagi.


"untuk apa yang?", jawab alvin mengerutkan kening nya.


"untuk segala nya yang, untuk cinta dan untuk semua yang telah aku dapatkan", kata dian sambil berbalik menghadap sang suami namun tetap duduk di kursi dan merangkul pinggul sang sumi dan membenamkan wajah nya.


alvin mengelus lembut rambut panjang sang istri dengan segala rasa cinta nya.


"aku yang harus nya berterimakasih pada mu, kamu wanita yang baik, wanita yang sabar dan selalu tabah dalam menjalani hari-hari mu", kata alvin.


"ayok kita ke bawah buat sarapan ya, bi ina dan bi sum dah nungguin sejak tadi, kasian kalo dibiarin kelamaan munggu yang", kata alvin melanjutkan percakapam mereka di pagi itu.


kedua nya berjalan beriringan menuju meja makan, sedangkan bi ina dan bi sum sedang duduk di dapur tanpa melakukan pekerjaan nya, meja makan telah di tata dengan baik,


"bi ina sama bi sum kemana yang?" dian bertanya pada sang suami


"tunggu bentar yah, aku panggilin dulu, mungkin di dapur", kata alvin pada sang istri.


"jangan yang, biar aku aja yang panggilin", dian berdiri , niat nya sih ingin ke dapur memanggil bi ina dan bi sum, eh tau nya sang suami mendekap kedua bahu dian lalu mendudukan nya di kursi.


"biar aku aja yah", kata alvin lalu pergi menuju dapur.


"bi ayo kita makan bersama", alvin mengajak kedua ART kesayangan dian yang sudah di anggap seperti keluarga nya sendiri.


"gak apa-apa tuan muda, sarapan lah bersama non, kita nanti setelah nya", jawab bi ina sopan.


"bi gak boleh gitu dong, kan gak enak makan nya kalu bibi gak ikutan makan sama kita berdua", kata alvin lagi


"udahh gak apa-apa tuan muda", jawab bi sum.


alvin menarik nafas nya sedalam mungkin lalu di buangnya secara kasar.


"apa bibi gak suka sama masakan ku?", alvin bertanya dan menatap secara bergantian pada bi sum dan bi ina


"bukan begitu tuan...", belum diteruskan pembicaraan bi ina, alvin menarik kedua tangan wanita itu menuju meja makan.


"duduklah bii", kata alvin ketika berada di meja makan


"tapi tuan, rasa nya sungkang", kata bi sum.


"astaga biii, apa bibi berdua sungkang sama saya? biii alvin gak akan marah atau nerkam bibi loh, kenapa sungkang? alvin anggap bibi berdua seperti art alvin di rumah. jangan pernah merasa seperti itu, saya nikah sama nona muda kalian, berati kalian keluarga saya juga. atau kalian gak ingin liat saya berada di sini biar saya pulang ajalah", kata alvin memberikan penjelasan


"jangan tuan muda.. jangan pergi, baiklah kita sarapan bersama", kata bi ina


"heheh baiklah, ayo silahkan", kata alvin


dian yang menyaksikan ketiga nya hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.


"waah enak banget bii, bibi yang masak?", tanya dian pada bi ina dan bi sum


"bukan non, itu tuam muda yang masakin", jawan bi ina


"what?? kamu yang?, sejak kapan kamu masak?", dian bertanya pada suami nya seakan tak mempercayai nya, gimana enggak kan?suami tajir nya itu tak pernah ramah pada nya apalagi memasak di dapur.


"ia dong istriku sayang...!! kenapa? kaget sumi tampan mu ini bisa masak? enak pula.. heheh", kata alvin.


"silahkan makan yang", kata dian tak ingin suami nya memamerkan keahlian nya terus.


"aku suapin yang?", alvin bertanya pada sang istri


"uhuk uhuk uhuk uhuk", dian tersedak


"pelan- pelan dong yang", kata alvin sambil memberikan air.


seolah hanya ada mereka berdua di meja itu.


"gak usah, makasih", kata dian ketus


"kenapa?", alvin pura-pura bertanya, padahal dia tau jika istri nya sedang menahan malu pada kedua art nya.


"yang disini ada bibi loh, tolong kondisikan kamu itu", dengus dian kesal karena sang suami selalu saja menjahil nya.


"hahahah" alvin tertawa


"maaf yah bii", kata dian pada kedua bibi tersayang nya.


"gak apa-apa non, bibi senang lihat non dan tua muda bahagia", kata bi ina tulus sambik tersenyum


"tunggu bii,saya seperti nya sedikit risih kenapa bibi manggil saya tuan muda", dengus alvin sambil memperoteskan panggilan bi ina.


"tapi tuan muda, kita harus manggil apa", tanya bi sum


"den aja lah bi, biar akrab. heheh", kata alvin


"baiklah den", kata bi ina


"hemmm enak banget kamu masak nya yang, siapa yang ngajarin kamu masak?", dian bertanya pada suami nya.


"gak ada", jawab alvin sambil mengangkat kedua bahu nya.


dian hanya menganggukan kepala nya beberapa kali lalu tetap melanjutkan makan nya.


tak ada sura lagi selain dentuman antara piring dan senduk yang ber adu ria.


jika biasa nya mereka tidak pernah sarapan nasi di pagi hari, berbeda dengan hari ini. yah, itulah ide sang alvin. entah apa yang ia pikirkan, dan dian pun tidak memperotesi nya.


stekah selesai sarapan pagi, dian dan alvin bermalas-malasan di depan ruangan keluarga menonton televisi.


ding dong ding dong bel pintu rumah berbunyi. dian berdiri dan menuju ruangan tamu.


kegika pintu di buka, betapa terkejut nya dian pada sosok yang berdiri di depan pintu rumah sambil tersenyum sinis pada nya, entag apa yang ia pikirkan saat melihat dian, dan mungkin dia mengira dian sudah tidaklagi tinggal bersama suami dan mertua miliyader nya itu. bagi nya pun dina hanyalah anak yang tak butuh kasih sayang dari kedua mertua nya ataupun suami nya. ia hanya menatapi dian dari ujung kaki hingga kepala, entah apa penilaian nya pada dian saat ini.


dian yang melihat tingkah nya hanya bisa memutarkan kedua bola mata nya memalas melihat tingkah tamu nya itu, yah tamu yang tak pernah ia duga, tamu yang sudah ia lupankan selama ini muncul kembali ke kehidupan nya.


.


.


.


hay guys, jangan lupa dukung terus novel ku ini yah, mau tau siapa tamu dian saat itu ?


mohon di vote novel ku.. biar author nya semangat buat nulis. heheh 🙏😇