
Misel berjalan bergonta ganti dengan cepat nya menelusuri lorong demi lorong di kantor itu sambil menarik nafas nya dalam lalu membuang nya dengan kasar hingga beberapa kali.
"dasar wanita mu***an!! dia pasti udah guna-gunain alvin, liat aja, lo bakalan nyesel, mana mungkin alvin memilih rongsokan, tapi bagaimana dengan foto-foto itu, mereka gak bohong kelihatan nya", gumam misel sambil menggaruk-garukan kepala nya tidak jelas hingga kini berada di garasi mobil kantor itu.
"yang apa boleh aku ke ruangan winda sebentar aja?", dian bertanya pada suami nya.
"oh baiklah yang, aku ingin berbicara hak yang penting dulu dengan ivan", sambil mencium kening istri nya
"makasih, silahkan kalian berbicara, aku pamit yang, pak ivan permisi", kata berlalu setelah mendengarkan jawaban kedua nya
Di ruangan kerja winda yang tak lain juga ruangan lama nya. disana ada celshea yang masih duduk sambil mengkuncir rambut nya dengan jari tangan sambil menaikan kaki nya ke meja kerja dan tubuh nya menyandar pada sandaran kursi yang sedang ia duduki
"mbak cell, kaki mbak bisa di turunin gak? takut ada cowok yang ngeliatin, kan malu mbakk!!", kata winda pelan namun masih di dengari dian yang sedari tadi menatapi kedua nya.
"diem lu bocah jelek! suka-suka gue lah, repot amat", jawab celsi cetus tanpa menuruti nya.
"teserah de", guman winda lalu kembali untuk gokus bekerja
"selamat siang", sapa dian ramah dan lembut
"selamat siang bu bos", jawab winda antusias sambil berlarian kecil seperti bocah yang sedang mendekati ibu nya.
kedua nya berpelukan seakan lama baru bertemu
"apaan sih, bu bos yang baru naik daun aja udah sombong", batin celsea lalu dengan cepat menurunkan kedua kaki nya dari meja
"siang mbak celsea", sapa dian
"selanat siang bu", jawab celsea lalu menundukan kepala nya memberikan hormat.
"yang lain kemana?", dian bertanya pada winda
"tadi di panggil sama pak albert tuh ke ruangan nya", jawab winda santai.
"oh gitu? emang papa masuk yah?", dian malah bertanya pada winda.
"gak tau, bukan nya lo tinggal serumah kan sama mertua lo?", winda bertanya pada dian, merasa bingung aja kok dian gak tau mertua nya hari ini ke kntor
"oh tadi tu kita rencana nya gak dateng kantor, tapi entah kenapa mobil suami ku muter kesini deh, jadi nya, ya udah kita masuk aja, mungkin ada yang pengend di urusin gitu", jawab dian
"gitu cerita nya, pantesan lo gak tau pak albert dateng, lalu kalau bukan ngantor kalian mau kemana?", winda bertanya penasaran.
"ada deh, mau tau aja", jawab dian sambil mengedipkan mata nya pada winda
"hahahahaha", kedua nya pun tertawa bersama
sedangkan celsea yang merasa terabaikan hanya bisa berdiam sambil berpura-pura mengerjakan sesuatu, entah apa yang sedang ia lakukan.
hari berganti hari hingga tak di sadari perjalanan rumah tangga dian dan alvin sudah memasuki bulan ke tiga. dian yang selalu merasa nyaman dengan perlakuan sang suami sudah sangat mencintai alvin dan perlahan ia menguburkan niat nya untuk tetap mencari sang kakak yang pernah ia temui dulu beberpa tahun lalu lama nya dan berhenti menulis diari .
jika pasangan pengantin baru lain nya dengan umur pernikahan memasuki tiga bulan sudah menunjukan perubahan diri atau dengan kebahagiaan nya kehamilan, berbeda dengan pasangan ini, dian dan alvin malah belum menjalankan kewajiban sebagai pasagan suami istri seperti pada umum nya.
bagaimana tidak? setelah pindah rumah, alvin jarang pulang ke rumah nya bersama dengan dian, alvin lebih memilih menghabiskan waktu nya di kantor dengan setumpukan pekerjaan, bahkan dian merasa bahwa sang suami sudah sangat berubah haluan.
bahaikan kapan yang kehilangan arah dan tujuan nya.
hingga tante lili datang ke rumah nya di suatu hari saat dian lagi mengurusi taman bunga nya.
"selamat sore nak", sapa wanita paruh baya yang bernama tante lili itu.
dian terkejut melihat siapa yang datag bertamu ke rumah nya disore hari seperti ini.
"selamat sore", dian menoleh ke sumber suara yang menyapa nya dari arah samping kiri nya.
tante lili tersenyum ramah di lihat dari teduh nya tatapan pada sang ponakan yang telah lama ia campakan.
"tante dengan siapa kemari?", dian bertanya pada tante lili sambil melepaskan celemek yang ia kenakan dan juga sarung tagan nya.
"sendirian aja nak, apa kita boleh berbicara di dalam nak?", jawab tante lili
"oh maaf tante, boleh, mari silahkan", jawab dian
sesampainya di ruangan tamu dian berpamitan untuk ke dapur menemui bi ina dan bi sum agar membuatkan minuman hangat untuk kedua nya.
dian lalu ke kamar untuk mengguyurkan badan nya dengan air hangat lalu bergegas kembali ke ruangan tamu setelah 10 menit lama nya ia berpamitan pada tante lili.
"maaf tante menunggu kelamaan", kata dian lalu duduk berhadapan dengan tante lili yang hanya di batasi oleh sebuah meja persegi panjang di depan kedua nya.
"gak apa nak, jadi gini, tante kesini mau menyerahkan ini ke kamu, tante minta maaf karena selama ini tante masih sibuk mengurus beberapa anak cabang kantor dan perusahan peninggalan papa mu nak, sekarang sudah waktu nya tante menyerahaknnya kembali pada mu", jelas tante lili sambil menyerahkan sebuah map berwarna biru dengan beberapa lembaran berkas kepemilikan atas nama dian.
"tan, dian udah mengikhlaskan semua nya pada tante, kenapa tante mengembalikan nya?", jawab dian dan bertanya pada tante lili kenapa harus mengembalikan kembali pada nya.
"maaf nak, itu hak mu, dan seharuas nya menjadi milik mu, tante minta maaf sudah menyusahkan mu beberapa tahun ini karena keserakahan yang tante lakukan. maafkan tante nak. hiks hiks hiks", jelas tante lili lalu menangis sesegukan
"tante.. dian udah maafin tante jauh sebelum hari ini kok, tante sekarang gimana?", kata dian lalu bertanya nasip tante nya setekah menyerahkan segala dokumen kepemilikan itu pada nya.
tante lili tersenyum kecut laku menjawab dian dengan mantap.
"tante masih pikirkan, mungkin tante mulai dari awal dengan membuka bisnis toko kue aja nak", jawan tante lili dengan yakin
"baiklah, tante restoran xxx dan cafe xxx, dian percayakan pada tante yang mengelolah nya dan mengenai tokoh kue, dian akan kasih modal buat tante untuk membangunkan tokoh nya di lokasi xxx dana nya dian akan transfer hari ini", kata dian yang membuat tante lili tak mempercayai apa yang di lakukan keponakan nya sebelum berfikir dengan matang.
"kenapa kamu baik sama tante nak? sedangkan tante udah banyak menyakiti mu", kata tante lili
"tante, bagaimanapun tante itu adalah saudara nya papa ku, mana mungkin aku melakukan hal buruk pada tante dan balas dendam pun tak akan menyelesaikan segala nya, tante tetaplah tante ku, garis keturunan tak bisa di pisahkan dengan apapun termasuk harta kekayaan tante.. aku menyayangi tante seperti menyayangi papa dan mama ku", kata dian yang membuat tante lili berdiri dari tempat nya dan bersimpuh di bawah kaki dian.
.
.
.
hay guys terimakasih jika sudah ada yang memberikan vote nya pada novel ini.. semoga Tuhan selalu memberkati niat baik kalian semua..
yang belum, tolong dong biar author nya nambah semangat dalam up bab terbaru nya
terimakasih 😇🙏😘