My First Love

My First Love
bab 23



dalam keremangan malam yang sepih di temani bintang-bintang di langit gelap yang menyelimuti bumi, dian duduk termenung sambil menyandarkan tubuh nya ke bangku panjang yang terletak di dekat kolam renang sambil menengadahkan kepala nya ke langit luas seakan memeluk diri nya dalam diam itu, bahkan angin yang berhembus pelan menyapu diri nya dengan lembutpun menambahkan kesan betapa terpuruk nya dian saat ini. dian membayangkan masa kecil hingga saat kedua orang tua nya pergi meninggakan dian dan dunia nya. buliran bening dari pelupuk mata gadis itu membasahi kedua pipi nya, dian tak menyalah kan siapapun atas hidup nya, dian selalu percaya bahwa salah satu bintang di langit adalah kedua orang tua nya, yang sellau menemani nya di malam hari dan menjadi matahari di keesokan hari nya. gadis itu hanya mempercayakan dirinya pada takdir yang telah di tentukan untuk nya. "semoga tuhan selalu menuntun hidupku, membentuk pribadiku dengan lebih mempercayai apapun kehendak nya", gumam dian lalu berdiri dari tempat nya dan menyeka air mata yang masih tersisa di pelupuk mata nya dan melangkah meninggalkan bangku taman menuju kamar nya.


pagi pun datang menyapa dian dengan lembut melalui sela jendela kamar tidur dian. dian masih enggan beranjak dari tempat nya, entah apa yang masih memberatkan hati gadis itu, hanya dialah yang mengetahui nya. waktu terus bergulir hingga jam menunjukan pukul 08:30 pagi barulah dian meregakan tubuh nya dan bangun mengatur tempat tidur berukuran king sise itu. "kring kring kring kring", telephone rumah dian bunyi berulang ulang hingga bi ina mengeratkan genggaman gagang telephone itu ke daun telingah nya, "hallo selamat pagi", sapa bi inah ramah "pagi, nak dian nya ada?", jawab wanita di sebrang telephone itu. "ooh ia bu, non nya lagi kamar", jawab bi ina pada wanita yang di sebrang dengan lembut. "bisa tolong sampaikan pada nya, hari ini akan di jemput alvin putra saya di rumah nya jam 10 pagi yah bi, soal nya, tadi saya menghubungi pondsel nya, tapi tidak aktif-aktif", jelas calon ibu mertua dian pada bi ina. "baiiklah bu, akan saya sampaikan", dan akhirnya telephone pun terputus setelah berpamitan melalui telephone.


dian hendak menuju kamar mandi setelah membereskan kamar nya, sebenar nya dian pun masih bingung akan melakukan apalagi pagi ini, karena dian diberikan cuti sampi selesai pernikahan nya dengan alvin. toktoktok pintu kamar dian d ketuk bi ina, "slamat pagi non", sapa bi ina dari blik pintu yang telah di buka oleh dian, "pagi juga bi, ada apa bi?", sapa dian lalu bertanya pada bi ina yang mengetuk kamar nya pagi-pagi. "maaf non, tadi ada telephone dari calon mertua non, kata nya nanti jam 10 pagi di jemput den alvin", kata bi ina pada dian yang sedang mendengarkan bi ina. "alvin bi? jemput aku? mau ngapain bi?" tanya dian heran, "gak tau non, bibi cuma di bilangin begitu, mana berani bibi nanya sama nyonya itu", jawab bi ina juga tak kalah bingung nya, pasal nya kan, tumben alvin menjemput nona rumah nya secara pribadi. apa lagi selama ini dian selalu menceritakan apa yang terjadi pada nya dengan alvin si bruang kutup yang galak dan dingin itu pada nya. dian menarik nafas panjang lalu membuang nya dengan kasar tanda bahwa ada beban di hati nya. bi ina mengelus pundak dian dengan pelan tanpa berkata apapun, hanya tergurat senyum yang tulus dari bibir nya tanda menyalurkan sebagian kekuatan untuk dian dalam menjlani hari ini. dian pun membalas dengan senyuman sambil menganggukan kepala nya lalu meninggalkan bi ina yang masih memandangi punggung nona rumah nya menuju kamar mandi. bi ina meneteskan air mata nya tanpa di ketahui gadis itu "malang sekali nasip mu non, semoga ada kebahagian untuk hari-hari mu dan pernikahan mu", gumam bi ina lalu menyekah air mata nya meninggalkan pintu kamar gadis itu dan kembali menutup pintu kamar itu dengan lembut lalu kembali ke dapur menyipkan sarapan berupa roti bakar yang di lapisi telur dadar, juga sosis, sayura dan ketimun dengan segelas susu coklat tanpa gula untuk dian.


"ada apa sama lelaki itu sampai harus dia sendiri yang datang menjemput ku? apa diaberubah? ahh tidak mungkin dia berubh dlaam sehari saja, lagian mau ngapain sih? aneh banget, si winda juga, ngapain harus masuk kantor segala", dian merancau sendiri di dalam kamar mandi sambil mengguyurkan air hangat melalui shower kamar mandi nya. setekah kuraang lebih 30 menit berada di kamar mandi, dian keluar kamar, di lirik nya weker yang berada di nakas nya, jam menunjukan pukul 09 pagi, "ahhh kenapa waktu bergulir dengan cepat yah?", gumam nya lagi lalu berlari kecil menuju kamar ganti dan mengambil gaun sebatas betis berwarna nude lalu berbalik ke meja rias melakukan perawatan rutin nya dan memolesi bedak tipis pada kedua pipih nya tak lupa memakai lipstik lalu menyisir rambut nya, dan mengenakan gaun piliha nya tadi. tak butuh waktu yang lama, dian telah rapih dan menuju meja makan,. "bik terimakasih untuk sarapan nya, aku tunggu di ruang tamu ajja yah bik", sambil melangkah menuju ruangan tamu menunggu sang calon suami menjemput nya. jika beberapa pasangan akan sangat senang saat di jemput sang calon suami, berbeda dengan dian, dian hanya bisa memikirkan apa yang akan terjadi pada hari ini.


klakson panjang mobil alvin yang telah parkir di luar pagar kediaman milik almarhum pak herry, dian bergegas menuju pintu utama rumah nya, yang di tunggu akhir tiba juga, seketika jantung dian berdetak sangat tak beraturan . dian berjalan bergonta ganti melangkah menuju pagar rumh nya mendekati mobil sport milik alvin. alvin tak sedikitpun menoleh kan wajah nya pada dian, dian menarik nafas nya pelan lalu menaiki mobil mewah itu, dian duduk tepat di samping alvin. "maaf", ucap dian singkat. alvin tak menjawab nya dan melajukan mobil nya dengan cepat tanpa memperdulikan yang di aamping nya. dian sangat takut dengan kelajuan mobil alvin, berkali kali alvin membunyikan klakson panjang dalam perjalanan mendakan agar kendaraan lain membiarkan nya membelah jalan ibu kota jakarta dengn sesuka hati nya, dian meremas kedua tangan nya mengurangi kegugupan nya merasakan kelajua mobil yang ia tumpangi butiran bening milik dian akhir lolos dari pertahanan yang sejak tadi ia tahan namun tak bisa, meratapi hidup nya yang seakan baru akan di mulai, lalu dian dengan cepat menyekah air mata nya dengan jemari, alvin yang me yadari dian sedang menangis dengan melirik gadis di samping nya itu merasa benar-benar puas. "ini awal penderitaan mu gadis bo**h", batin alvin sambil menyunggingkan senyum nya dalam diam.


.


.


.


love you all ❣️😘😘😘


god bless 😇😇