My First Love

My First Love
Episode 243



Alana, kamu ngapain di sini?” David yang naru bangun,


seketika terbangun mentap Alana tidur di sofa, kamarnya.


“Apa sihh!!” Alana menarik selimut mulinya, menutupi sekujur


tubuhnya.


“Kamu pergi, aku masih ngantuk. Jangan ganggu kau.” Lanjut Alana,


yang langsung beranjak tidur lagi. Tanpa perdulikan David yang sudha mentap


tajam ke arahnya.


“Bangun!! Ini kamar aku, kamu pergi tidur di luar sana,”


“Kamu belum memberi tahuku, di mana kamar aku.”


David manarik napasnya panjang, menelan ludahnya kasar,


mencoba untuk sabar mengahdapi gadis di depannya itu.


“kamu bangun, pindah k ekamar kamu sekarang,” David menarik


tangan Alana untuk bangun, tapi gadis itu seakan masih sangat lemas, lunglai


tanpa tulang.


“Baiklah!! Tapi jangan seret aku, aku bisa jalan sendiri.” Gumam


Alana, yang masih memejamkan matanya, yang masih sangat lengaket dan susah


sekali terbuka sempurna.


David mengikuti langkah Alana yang terlihat seperti orang


mabuk, ia berjalan tanpa arah.


Kenapa dia merepotkanku, dia benar-benmar membuat aku merasa


snagat mauk. Kenaoa aku tidak meninggalkannya. Dan sekarang aku harus berada di


sini dengannya.


David memegang tangan Alana, mengangkat tubuhnya, membawa


dia seakan membawa satu karung beras di pundaknya, berjalan dengan kangakh epat


menuju kamar yang lumayan jauh darinya.


“Turunkan aku!! Kamun mau nagapin?”


“Mau godain kamu!!”


Aku gak mau!!”


“Ehh.. aku itu hanya ingin pindahin kamu, ke kamar kamu. Siapa


juga yang mau godain kamu. Lagian aku sudah gak perduli lagi dengangadis bekas


orang, aku snagat tidak tertarik.” Ucap David, melemparkan tubuh Alanan di atas


ranjang, dan bergegas pergi.


“Hehh.. berhenti!!” bentak Alana.


David perlahan menoleh ke belakang, melihat Alana yang sudha


berdiri mentap tajam ke arahnmya.


“Apa yang kamu bilang tadi!” tanya Alana dengan tatapan


semakin menajam, dengan hembusan napas berat terdengar jelas.


“Kenapa? Memangnya kamu bukan bekas, suka dnegan kakak


sendiri?”


“Jaga mulut kamu, lebih baik bekas hanyanuntuk satu rang,


dari pada bekas puluhan orang, gak tahu malu.” Sindir Alana, melangkahkan


kakinya mendekati David, dengan tangan menunjuk ke dahi.


“dan kamundnegar ya, aku tidak seperti wanita murahan yang


jadi pavcar kamu, memakai baju yang kekurangan bahan, apa dia gak punya uang


untuk beli baju, atau kamu gak mau membelikanya baju.” Ucap Alana, tersenyum,


dengan melemparkan pandnagan berlawanan arah.


“Oya, aku tahu sih.. pakai baju seksi, biar bisa di pegang


sana sini” lanjut alana.  Semakin membuat


david mulai muntap, dia mendenguskan napas kesalnya, seakan aliran darahnya


sudah mulai naik ke kepalanya,membuat kepalanya terasa sangay panas, ingin


sekali membungkam mulut gadis di depannya itu.


“Apa yang kamu katakan, sama seja dnegan seorang wnaita yang


ada di depan aku. Dia sangat munafik, bahkan dia juga pernah melakukannya, tapi


kenapa dia masih saja menutupinya, dan sok suci.” Sindir David tajam. Dan langsung


membungkam mulut Alana, perkataan david tida banyak, namuan langsung menusuk ke


hatinya, seakan hatnya langsing di tubuhi sebuah duri.


Puk! Puk!


“Kapan-kapan kalau kamu mau bole di coba, datanglah ke


kamarku,” bisik David, dan spontan Alana ingin menampa pipi David, dengan sigap


laki-laki itu memegang tangan Alana, dan meletakkan kelmabi ke bawah. “Jnagan


pernah menamparku, bukanya kmau sendiri sama dnegan aku, jadi jangan


permasalahkan itu, lagi. Sekarang kamu tidurlah. Bye...” David mengibaskan


tangan perpisahan padanya, dan memberi kecupan jarak jauh, membuat Alana


mbergidik jijik melihatnya.


Dasar nyebelin!!! Aku muak harus berada di dekatnya, aku


ingin segera menemukan ibu aku dan pergi dari sini. Tapi koper aku...Eh.. Iya


koper aku, kenapa kau tidak tanya pada David tadi, sekarang giaman aku harus


tanya, jika David semakin membuat dia muak melihatnya, dia tidak pendiam seperti


yang aku bayangkan.


“Ehh.. iya jangan lupa, kalau suda bangun, kamu harus


bereskan kamar kmau itu. Masih berantakan, sebenarnya itu kamar buat tamu, dan


kadnag aku tidur di situ. Karena berantakan jadi kamu bersihkan,” ucap David, menunjukkan


setengah badanya, mentap wajah Alana yang terlihat sudah sangat marah.


Alana berdengus kesal, ia menghentakkan kakinya, dengan ke


dua tangan emngepal. Pandangan matanya memutar, mentap sekelilingnya, kamar


yang begitu berantakan.


“Kenapa kamar ini sangat berantakan, apa tidak ada yang membersihkannya.


Atau semua pada malas untuk bersih-bersih. Dan apa gunanya ada pembantu tidak


ada yang mau membersihkan kamar ini.” Umpat kesal Alana, yang mulai


membersihkan kamar itu, mesi ia merasa sangat malas untuk bersih-bersih, tapi


mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan dari pada ia harus tinggal di hotel yang


membuatnya kehilangan uang banyak nantinya.


Bagi Alana uang sangat penting, apalagi ia tidak mengharapka


uanga dari ayahnya, ia mencaoba untuk bisa mnanbusng sendiri. Jika papanya


mengirikan ia uang, itu juga ia simpan sendiri. Dan kelak akan mengembalikkannya


atu jika butuh juga ia pakai, tapi ia tetap mengembalikannya.


“Kenapa banyak buku juga berserakan di sini dan banyak


sekali lukisan, yang berserakan.” Decak kesal Alana, mengambil buku-buku yang


berserakan di lantai, dengan tumpukan canvas lukisan yang juga berantakan, di


lantai putih.


Alana terdiam, menemukan sebuah buku yang menurutnya sangat


menarik, dan langsung meletakkan di ranjangnya.


Hampir 2 jam membersihakn ruangan itu, semua sudah beres,


dan canvas lukisan sudah tertata sangat rapi, dan juga buku sudha ia letakkan


di rak buku samping ia berdiri.


“Akhirnya semua sudha beres,” ucap Alana mengibaskan


tanganya, mentap semua ruangan itu sudah bersih. Alana membaringkan tubuhnya di


ranjang, dengan ke dua tangan merentang ke samping dan mata perlahan terpejam,


menikmati rasa capek dan tulang0tukangnya yang ha,pir saja rontok.


Baru kali ini dia membereskan kamarnya sendiri tanpa bantuan


siapapun, tapi dnegan terpaksan harus menrrimanya. Lagian enurut dia sangat asyik


jika bersih-bersih sendiri. Saat kos nanti ia juga akan beres-beres snediir


tanoa banyuan siapa-siapa.


Alana yang semula hanya memejamkan matanya, hingga dia


tertidur lelap dnegan posisi kaki masih menganggtung di rnajang, dan masih


menampakkan ke lantai,


“Kak Joy!!”


“Alana aku benci dengan kamu, aku gak mau bertemu kamu lai. Aku


benci dan sangat benci dneganmu.”


“Kak Joy!! Apa salahku, kenapa kak Joy membenciku. Apa aku


melukai hatimu lagi, atau aku punay salah lain.”


“Kamu pikir sendiri, kamu sangat menijikkan sama dengan ibu


kamu.”


``````


“Kak Joy!!!” Teriak Alana lantang, dan beranjak bangun dari


tidurnya. Ia duduk di ranjangnya, mengusap wajahnya. Dengan napas masih


terenga-enga. “Aku hanya mimpi, kenqpaa itu terlihat begitu sangat nyata,


kenapa semua bisa terjadi kebetulan. Apa mimpi itu akan jadi kenyataan, tapi


kenapa..”


“Woyyy... kenapa kamu teriak-terika, memangnya di sini


pantai. Kalau kamu mau teriak-teriak lebih baik jangan di sini. Sana di


la[angan atau ke pantai sekalain nyebur.” Ucap David, berjalan membawa satu


gelas minuman dan satu piring roti panggang selai coklat, yang biasa Alana


suka.


Alana menggeram esal, ia mengegrtakkan rahangnaya, dengan


tatapan semakin tajam mentap David yang selalu tiba-tiba muncul dan hanya bikin


masalah dalam hidupnya.


Kruuukkk...


Alana mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa sangat lapar,


dari kemarin memang dia belum makan sama sekali, hanya banyak minum membuat


perutnya kembung sekarang.


Menatap di tangan David ada makanan, mata Aana berbinar


seketika, dan tersenyum dengan kepala sedikiy mendongak mentap David.


“Itu makanan buat aku?” tanya Alana memastkan.


“Emmmm.. memangnya ini untuk kamu?”


“Teru kalaunbukan untuk aku, kenapa kamu bawa makan itu


masuk ke kamarku.” Umoat kesal Alana.


“Aku hanyamemebrri tahu kamu, jika makanan ini pasti enak.” Ucap


David, sembari mencium aroma roti yang menusuk ke penciumannya.


“Buaknya kamu jarang sekali makan roti selai coklat?”


“Kata siapa? Memangnya kamu tahu kebiasaan aku di sini?”


tanya David , dengan tatapan menggoda.


“Tapi jika kamu mau, bayar aku sekarang?”


Mata Alana terbelelalka seketika, “Terus kalau kau tinggal


di sini, makanan yang nanggung itunkamu. Lagian tiket oesawat aku yang beikan. Dan


sekarang kamu beraninya mau bohongi aku, memanfaatkan aku lagi.. Dan ingat ya..


aku itu...Emm”


David yangmerasa tekinganya sangat gerah mendengar celoteh


Alana, ia membungakm mulut alana, memasukan royti dinpiring ke mulutnya.


“Sudah makan, jangan banyak bicara lagi. Nanti pacar aku mau


datang ke rumah, jadi ingat kamu jangan bikin ualah, atau mengintip lagi apa


yang aku lakuin.” Ucap David duduk di ranjang samping alana.


“memangnya kamu mau melakukan apa?” tanya Alana sambil menikmati


roti selai yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya.


“Apa saja yang pentinh buat hiburan”


‘Awas saja jika kamu mesum di rumah kamu ini, aku gak suka


melihat wanita dengan pakaian kurang bahan itu di sini. Melihatnya saj ameraa


sanagt jijik.”


“Memangnya kamu, pakaian selalu seperti ini,” umpat David,


menarik lengan kaos panjang Alana.


“Tapi ini jauh lebih baik, karena ini juga bis


amneghangatkan tubuh. Dannjauh dari tatapan kotor laki-laki mesum seperti kamu.”


“memangnay kamu menarik, meskipun kamu membuak semuanya,


akunjuga tidak tertarik.”


Umpat kesla David, dengan tangan mencoba meraih roti selai


di sampingnya, dengan sigap langsung di ambil oleh Alana.


“kalau mau makan buat sendiri,” ucap Alana.


“Itu buatan kau, jadi kamu yang harusnya buat sendiri.”


David mencoba untuk meraih roti itu, namun Alana menyembunyikannya di belakamg


punggungnya. Menghindari tangan David yang ingin mengambilnya.


“Tapi kamu sudah memberikannya padaku, jadi ini sudah jadi


milikku sekarang.” Ucap alana.


“Satu saja!!’ ucap David, dengan wajah memohonnya.


“kembalikan uang tiket aku,”


“Iya aku kembalikan tapi tidak sekarang, aku ga punya uang.”


“Teru kapan kamu mau mengembalikan uang kamu,”


“Nanti jika kau sudah dewasa dan cari uang sednrii.”


Alana mengernyitkan wajahnya, mentap semakin kesal pada


David. “Maksud kamu, aku butuh uang itu sekarang.”


“Tapi aku gak punya uang!!” ucap david denagn nada semakin


meninggi. Ia menundukkan kepalanya dengan ke dua tangan di tekuk, siku tangan


di pahanya dan badan sedikit menunduk,


Mendengar ucapan David yang sepertinya serius, Alana


terdiam, menatap wajah David yang menunduk. Dengan tangan terangkat, ingin


sekali menepuk pundak David namun ia ragu, jika David akan marah nanti dengannya.


“Baiklah, aku merelakan uang au itu hilang.” Ucap Alana.


David langsungnmembalikkan badanya, menatap ke arah Alana , dengan


pandangan mata sudah berbinar, ia memegang ke dua tanganya.


 “kamu serius?” tanya


David memastikan.


“Iya, aku serius.”


“Iya, serius,” ucap Alana terpaksa, dengan wajah sekaan


memang tidak rela, tapi mau bagaimana lagi, ia juga tidak bisa melihat david


terlihat sedih seperti itu.


“Baiklah, kalau kamu serius, lebih baik sekarang kamu mandi


jangan tanyakan lagi soal uang ya.” Ucap David, menepuk-nepuk bahu Alana , dan


bergegas pergi dari akmar Alanna, dengan perasaan gembiranya, sudha berhasil


embohongi Alana.


Lagian uang apa pentingnya


hanya segitu, buanya papa dia sangat kaya, perusahannya terbesar di London, dan


hanya tiket pesawat saja dia merasa kehilangan uang tarusan juta.


David terus menggerutu gak jelas, dan tak perdulikan lagi


soal roti, ia lebih memilih pergi dar samping Alana dan segera bersiap menemui


pacarnya.


Alana yang melihat David sudah menjauh, seketika langsung membaringkan


tubuhnya lagi di ranjangnya. Dengan pandangan mata tertuju pada tap-atap langit


di atasnya.


Itu anak kenapa ya, orang taunya bukanya orang kaya, kenapa


uang saja dia tidak punya. Apa mereka meang tidak aku.. Ahh.. lupain saja


lagian gak penting bahas dia.