
Alana, kamu ngapain di sini?” David yang naru bangun,
seketika terbangun mentap Alana tidur di sofa, kamarnya.
“Apa sihh!!” Alana menarik selimut mulinya, menutupi sekujur
tubuhnya.
“Kamu pergi, aku masih ngantuk. Jangan ganggu kau.” Lanjut Alana,
yang langsung beranjak tidur lagi. Tanpa perdulikan David yang sudha mentap
tajam ke arahnya.
“Bangun!! Ini kamar aku, kamu pergi tidur di luar sana,”
“Kamu belum memberi tahuku, di mana kamar aku.”
David manarik napasnya panjang, menelan ludahnya kasar,
mencoba untuk sabar mengahdapi gadis di depannya itu.
“kamu bangun, pindah k ekamar kamu sekarang,” David menarik
tangan Alana untuk bangun, tapi gadis itu seakan masih sangat lemas, lunglai
tanpa tulang.
“Baiklah!! Tapi jangan seret aku, aku bisa jalan sendiri.” Gumam
Alana, yang masih memejamkan matanya, yang masih sangat lengaket dan susah
sekali terbuka sempurna.
David mengikuti langkah Alana yang terlihat seperti orang
mabuk, ia berjalan tanpa arah.
Kenapa dia merepotkanku, dia benar-benmar membuat aku merasa
snagat mauk. Kenaoa aku tidak meninggalkannya. Dan sekarang aku harus berada di
sini dengannya.
David memegang tangan Alana, mengangkat tubuhnya, membawa
dia seakan membawa satu karung beras di pundaknya, berjalan dengan kangakh epat
menuju kamar yang lumayan jauh darinya.
“Turunkan aku!! Kamun mau nagapin?”
“Mau godain kamu!!”
Aku gak mau!!”
“Ehh.. aku itu hanya ingin pindahin kamu, ke kamar kamu. Siapa
juga yang mau godain kamu. Lagian aku sudah gak perduli lagi dengangadis bekas
orang, aku snagat tidak tertarik.” Ucap David, melemparkan tubuh Alanan di atas
ranjang, dan bergegas pergi.
“Hehh.. berhenti!!” bentak Alana.
David perlahan menoleh ke belakang, melihat Alana yang sudha
berdiri mentap tajam ke arahnmya.
“Apa yang kamu bilang tadi!” tanya Alana dengan tatapan
semakin menajam, dengan hembusan napas berat terdengar jelas.
“Kenapa? Memangnya kamu bukan bekas, suka dnegan kakak
sendiri?”
“Jaga mulut kamu, lebih baik bekas hanyanuntuk satu rang,
dari pada bekas puluhan orang, gak tahu malu.” Sindir Alana, melangkahkan
kakinya mendekati David, dengan tangan menunjuk ke dahi.
“dan kamundnegar ya, aku tidak seperti wanita murahan yang
jadi pavcar kamu, memakai baju yang kekurangan bahan, apa dia gak punya uang
untuk beli baju, atau kamu gak mau membelikanya baju.” Ucap Alana, tersenyum,
dengan melemparkan pandnagan berlawanan arah.
“Oya, aku tahu sih.. pakai baju seksi, biar bisa di pegang
sana sini” lanjut alana. Semakin membuat
david mulai muntap, dia mendenguskan napas kesalnya, seakan aliran darahnya
sudah mulai naik ke kepalanya,membuat kepalanya terasa sangay panas, ingin
sekali membungkam mulut gadis di depannya itu.
“Apa yang kamu katakan, sama seja dnegan seorang wnaita yang
ada di depan aku. Dia sangat munafik, bahkan dia juga pernah melakukannya, tapi
kenapa dia masih saja menutupinya, dan sok suci.” Sindir David tajam. Dan langsung
membungkam mulut Alana, perkataan david tida banyak, namuan langsung menusuk ke
hatinya, seakan hatnya langsing di tubuhi sebuah duri.
Puk! Puk!
“Kapan-kapan kalau kamu mau bole di coba, datanglah ke
kamarku,” bisik David, dan spontan Alana ingin menampa pipi David, dengan sigap
laki-laki itu memegang tangan Alana, dan meletakkan kelmabi ke bawah. “Jnagan
pernah menamparku, bukanya kmau sendiri sama dnegan aku, jadi jangan
permasalahkan itu, lagi. Sekarang kamu tidurlah. Bye...” David mengibaskan
tangan perpisahan padanya, dan memberi kecupan jarak jauh, membuat Alana
mbergidik jijik melihatnya.
Dasar nyebelin!!! Aku muak harus berada di dekatnya, aku
ingin segera menemukan ibu aku dan pergi dari sini. Tapi koper aku...Eh.. Iya
koper aku, kenapa kau tidak tanya pada David tadi, sekarang giaman aku harus
tanya, jika David semakin membuat dia muak melihatnya, dia tidak pendiam seperti
yang aku bayangkan.
“Ehh.. iya jangan lupa, kalau suda bangun, kamu harus
bereskan kamar kmau itu. Masih berantakan, sebenarnya itu kamar buat tamu, dan
kadnag aku tidur di situ. Karena berantakan jadi kamu bersihkan,” ucap David, menunjukkan
setengah badanya, mentap wajah Alana yang terlihat sudah sangat marah.
Alana berdengus kesal, ia menghentakkan kakinya, dengan ke
dua tangan emngepal. Pandangan matanya memutar, mentap sekelilingnya, kamar
yang begitu berantakan.
“Kenapa kamar ini sangat berantakan, apa tidak ada yang membersihkannya.
Atau semua pada malas untuk bersih-bersih. Dan apa gunanya ada pembantu tidak
ada yang mau membersihkan kamar ini.” Umpat kesal Alana, yang mulai
membersihkan kamar itu, mesi ia merasa sangat malas untuk bersih-bersih, tapi
mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan dari pada ia harus tinggal di hotel yang
membuatnya kehilangan uang banyak nantinya.
Bagi Alana uang sangat penting, apalagi ia tidak mengharapka
uanga dari ayahnya, ia mencaoba untuk bisa mnanbusng sendiri. Jika papanya
mengirikan ia uang, itu juga ia simpan sendiri. Dan kelak akan mengembalikkannya
atu jika butuh juga ia pakai, tapi ia tetap mengembalikannya.
“Kenapa banyak buku juga berserakan di sini dan banyak
sekali lukisan, yang berserakan.” Decak kesal Alana, mengambil buku-buku yang
berserakan di lantai, dengan tumpukan canvas lukisan yang juga berantakan, di
lantai putih.
Alana terdiam, menemukan sebuah buku yang menurutnya sangat
menarik, dan langsung meletakkan di ranjangnya.
Hampir 2 jam membersihakn ruangan itu, semua sudah beres,
dan canvas lukisan sudah tertata sangat rapi, dan juga buku sudha ia letakkan
di rak buku samping ia berdiri.
“Akhirnya semua sudha beres,” ucap Alana mengibaskan
tanganya, mentap semua ruangan itu sudah bersih. Alana membaringkan tubuhnya di
ranjang, dengan ke dua tangan merentang ke samping dan mata perlahan terpejam,
menikmati rasa capek dan tulang0tukangnya yang ha,pir saja rontok.
Baru kali ini dia membereskan kamarnya sendiri tanpa bantuan
siapapun, tapi dnegan terpaksan harus menrrimanya. Lagian enurut dia sangat asyik
jika bersih-bersih sendiri. Saat kos nanti ia juga akan beres-beres snediir
tanoa banyuan siapa-siapa.
Alana yang semula hanya memejamkan matanya, hingga dia
tertidur lelap dnegan posisi kaki masih menganggtung di rnajang, dan masih
menampakkan ke lantai,
“Kak Joy!!”
“Alana aku benci dengan kamu, aku gak mau bertemu kamu lai. Aku
benci dan sangat benci dneganmu.”
“Kak Joy!! Apa salahku, kenapa kak Joy membenciku. Apa aku
melukai hatimu lagi, atau aku punay salah lain.”
“Kamu pikir sendiri, kamu sangat menijikkan sama dengan ibu
kamu.”
``````
“Kak Joy!!!” Teriak Alana lantang, dan beranjak bangun dari
tidurnya. Ia duduk di ranjangnya, mengusap wajahnya. Dengan napas masih
terenga-enga. “Aku hanya mimpi, kenqpaa itu terlihat begitu sangat nyata,
kenapa semua bisa terjadi kebetulan. Apa mimpi itu akan jadi kenyataan, tapi
kenapa..”
“Woyyy... kenapa kamu teriak-terika, memangnya di sini
pantai. Kalau kamu mau teriak-teriak lebih baik jangan di sini. Sana di
la[angan atau ke pantai sekalain nyebur.” Ucap David, berjalan membawa satu
gelas minuman dan satu piring roti panggang selai coklat, yang biasa Alana
suka.
Alana menggeram esal, ia mengegrtakkan rahangnaya, dengan
tatapan semakin tajam mentap David yang selalu tiba-tiba muncul dan hanya bikin
masalah dalam hidupnya.
Kruuukkk...
Alana mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa sangat lapar,
dari kemarin memang dia belum makan sama sekali, hanya banyak minum membuat
perutnya kembung sekarang.
Menatap di tangan David ada makanan, mata Aana berbinar
seketika, dan tersenyum dengan kepala sedikiy mendongak mentap David.
“Itu makanan buat aku?” tanya Alana memastkan.
“Emmmm.. memangnya ini untuk kamu?”
“Teru kalaunbukan untuk aku, kenapa kamu bawa makan itu
masuk ke kamarku.” Umoat kesal Alana.
“Aku hanyamemebrri tahu kamu, jika makanan ini pasti enak.” Ucap
David, sembari mencium aroma roti yang menusuk ke penciumannya.
“Buaknya kamu jarang sekali makan roti selai coklat?”
“Kata siapa? Memangnya kamu tahu kebiasaan aku di sini?”
tanya David , dengan tatapan menggoda.
“Tapi jika kamu mau, bayar aku sekarang?”
Mata Alana terbelelalka seketika, “Terus kalau kau tinggal
di sini, makanan yang nanggung itunkamu. Lagian tiket oesawat aku yang beikan. Dan
sekarang kamu beraninya mau bohongi aku, memanfaatkan aku lagi.. Dan ingat ya..
aku itu...Emm”
David yangmerasa tekinganya sangat gerah mendengar celoteh
Alana, ia membungakm mulut alana, memasukan royti dinpiring ke mulutnya.
“Sudah makan, jangan banyak bicara lagi. Nanti pacar aku mau
datang ke rumah, jadi ingat kamu jangan bikin ualah, atau mengintip lagi apa
yang aku lakuin.” Ucap David duduk di ranjang samping alana.
“memangnya kamu mau melakukan apa?” tanya Alana sambil menikmati
roti selai yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya.
“Apa saja yang pentinh buat hiburan”
‘Awas saja jika kamu mesum di rumah kamu ini, aku gak suka
melihat wanita dengan pakaian kurang bahan itu di sini. Melihatnya saj ameraa
sanagt jijik.”
“Memangnya kamu, pakaian selalu seperti ini,” umpat David,
menarik lengan kaos panjang Alana.
“Tapi ini jauh lebih baik, karena ini juga bis
amneghangatkan tubuh. Dannjauh dari tatapan kotor laki-laki mesum seperti kamu.”
“memangnay kamu menarik, meskipun kamu membuak semuanya,
akunjuga tidak tertarik.”
Umpat kesla David, dengan tangan mencoba meraih roti selai
di sampingnya, dengan sigap langsung di ambil oleh Alana.
“kalau mau makan buat sendiri,” ucap Alana.
“Itu buatan kau, jadi kamu yang harusnya buat sendiri.”
David mencoba untuk meraih roti itu, namun Alana menyembunyikannya di belakamg
punggungnya. Menghindari tangan David yang ingin mengambilnya.
“Tapi kamu sudah memberikannya padaku, jadi ini sudah jadi
milikku sekarang.” Ucap alana.
“Satu saja!!’ ucap David, dengan wajah memohonnya.
“kembalikan uang tiket aku,”
“Iya aku kembalikan tapi tidak sekarang, aku ga punya uang.”
“Teru kapan kamu mau mengembalikan uang kamu,”
“Nanti jika kau sudah dewasa dan cari uang sednrii.”
Alana mengernyitkan wajahnya, mentap semakin kesal pada
David. “Maksud kamu, aku butuh uang itu sekarang.”
“Tapi aku gak punya uang!!” ucap david denagn nada semakin
meninggi. Ia menundukkan kepalanya dengan ke dua tangan di tekuk, siku tangan
di pahanya dan badan sedikit menunduk,
Mendengar ucapan David yang sepertinya serius, Alana
terdiam, menatap wajah David yang menunduk. Dengan tangan terangkat, ingin
sekali menepuk pundak David namun ia ragu, jika David akan marah nanti dengannya.
“Baiklah, aku merelakan uang au itu hilang.” Ucap Alana.
David langsungnmembalikkan badanya, menatap ke arah Alana , dengan
pandangan mata sudah berbinar, ia memegang ke dua tanganya.
“kamu serius?” tanya
David memastikan.
“Iya, aku serius.”
“Iya, serius,” ucap Alana terpaksa, dengan wajah sekaan
memang tidak rela, tapi mau bagaimana lagi, ia juga tidak bisa melihat david
terlihat sedih seperti itu.
“Baiklah, kalau kamu serius, lebih baik sekarang kamu mandi
jangan tanyakan lagi soal uang ya.” Ucap David, menepuk-nepuk bahu Alana , dan
bergegas pergi dari akmar Alanna, dengan perasaan gembiranya, sudha berhasil
embohongi Alana.
Lagian uang apa pentingnya
hanya segitu, buanya papa dia sangat kaya, perusahannya terbesar di London, dan
hanya tiket pesawat saja dia merasa kehilangan uang tarusan juta.
David terus menggerutu gak jelas, dan tak perdulikan lagi
soal roti, ia lebih memilih pergi dar samping Alana dan segera bersiap menemui
pacarnya.
Alana yang melihat David sudah menjauh, seketika langsung membaringkan
tubuhnya lagi di ranjangnya. Dengan pandangan mata tertuju pada tap-atap langit
di atasnya.
Itu anak kenapa ya, orang taunya bukanya orang kaya, kenapa
uang saja dia tidak punya. Apa mereka meang tidak aku.. Ahh.. lupain saja
lagian gak penting bahas dia.